
Johan yang merupakan aktor utama film itu menghampiri Jeni yang sedang melamun sambil menatapnya. Walaupun itu terjadi secara tidak sengaja, tapi Johan mendekati Jeni untuk menyapanya. Jeni yang terkejut hanya berusaha merespon dengan sopan.
"Aku belum pernah melihatmu sebelumnya, tapi kau datang ke pemutaran film perdanaku. Bagaimana itu menurutmu? Apa kau menyukainya?” tanya Johan ramah duduk di sisi Jeni dengan santainya.
"Sejujurnya ini pertama kalinya aku menonton filmmu dan menurutku aktingmu sangat bagus. Aku baru datang ke negara ini, jadi maaf aku sebenarnya belum tahu banyak tentangmu." Jeni coba menjelaskan.
"Ah, benarkah? Aku justru sangat tersanjung karena ini. Kau punya kesempatan untuk pergi ke mana saja yang kau inginkan dan kau memilih untuk datang ke sini." Johan mencoba mengerti.
"Ya, aku menyukai film. Lebih tepatnya aku juga menyukai dunia seni peran. Sebelumnya kebetulan aku seorang artis juga. Ya hanya pemeran pembantu di beberapa pertunjukan panggung saja. Jelas sangat jauh dibandingkan dirimu." Jeni sekali lagi merendah.
"Ah, aku mengerti. Ini tentang koneksi. Kau sedang membangun relasi dengan datang kemari? Itu cukup cerdas. Apa aku bisa menonton pertunjukanmu? Entahlah mungkin kau punya rekaman atau mungkin aku bisa menontonnya secara online?" tanya Johan penasaran.
"Kau ingin melihatnya? Tentu saja itu bisa ditonton secara online."
Jeni sama sekali tak canggung. Ia menunjukkan ponselnya dan menunjukkan sebuah saluran yang bisa digunakan untuk menonton pertunjukan Jeni. Johan juga mengangguk tanda mengerti dan dengan segera mencari melalui ponselnya sendiri.
"Aku rasa ini bagus. Hm, tapi maaf aku tidak bisa terlalu lama menemanimu. Aku harus bertemu dengan tamu lainnya dan juga wartawan yang menunggu. Ah, dan ini kartu namaku." Johan menyerahkannya cepat.
"Ah, terima kasih. Ini kartu namaku." Jeni memberikan juga miliknya.
Merupakan hal yang biasa untuk saling bertukar kartu nama di Vegasa. Walaupun keputusan untuk menghubungi atau tidak selalu ada di akhir, tapi bertukar kartu nama dianggap sebagai salah satu bentuk kesopanan yang bisa mereka lakukan. Semua karena orang-orang Vegasa yang memang perlu membangun relasi dan koneksi.
__ADS_1
Begitu memasukkan kartu nama itu ke dalam tas, Jeni tersenyum pada sosok Johan yang kemudian berlalu. Johan punya kulit yang putih dan tinggi. Tubuhnya jelas cukup atletis. Kalau dari segi usia, ia memang terpaut cukup jauh darinya. Tentu saja Jeni sangat menghormatinya seperti bagaimana ia melihat Juan.
"Jeni, apa kau sudah selesai?" tanya sebuah suara yang tak lain tak bukan adalah Vante.
"Eh, kenapa lama sekali? Bukankah kau bilang akan mengambil cemilan untukku?" tanya Jeni yang sedikit kesal juga.
"Maaf. Aku rasa perutku sedikit bermasalah malam ini. Kalau kau tidak ada lagi yang ingin dilakukan, bisakah kita pergi saja? Ayo kita cari makan malam di luar," tawar Vante.
"Ya baiklah. Ayo kita makan. Aku juga sudah lapar." Jeni berdiri menerima genggaman tangan sang suami.
Mereka berdua melanjutkan makan malam dan kemudian pulang ke rumah. Masih hendak membuka pakaiannya, Jeni sudah dikejutkan dengan pelukan sang suami yang melingkar di perutnya. Wanita itu sudah hafal sekali dengan apa yang akan dilakukan suaminya.
"Kenapa?" tanya Jeni enggan.
"Apa kau akan mengabaikan aku lagi lain waktu?" tanya Jeni menggoda.
Vante dengan cepat menggeleng dan berkata tidak. Cukup sudah. Ia tak akan melakukan kesalahan yang sama. Ia begitu merindukan sang istri bahkan tak kuasa menahan hasrat untuk segera menciumi pundak dan leher yang mengundang manja itu.
Keesokan harinya, Vante berjalan masuk ke perusahaan dengan senyum yang sama sekali tak bisa ia tahan. Semua orang mendadak heran. Apalagi setelah beberapa hari ke belakang, wajah sang bos terus ditekuk. Seolah siapapun yang berani berurusan dengannya akan segera tamat riwayatnya.
Bahkan Vante melewati saja ketika Rosa dan Charlie menyapanya dengan sopan. Vante jelas sedang tak ingin berurusan dengan Rosa untuk sementara waktu. Ia masih menikmati kebahagiaannya setelah bisa kembali berhubungan baik dengan sang istri, Jeni.
__ADS_1
Masih aktif bekerja, Vante mendapat kunjungan dari pria yang memang ia tunggu kehadirannya. Itu adalah sang paman, Sanchez, yang datang dengan gagahnya. Ia melirik sebentar ke kanan dan kiri lalu menatap keponakannya yang sudah menunggu.
"Aku melihatnya di jalan masuk tadi. Itu sekretaris yang ada di depan itu kan? Apa kau tidak memecatnya?" tanya Sanchez.
"Itu karena aku belum punya alasan untuk memecatnya. Masalahnya, Paman, bukan itu fokus kita sekarang. Apa kau punya sesuatu yang perlu disampaikan?" tanya Vante cepat.
"Aku menemukannya. Aku tahu kemungkinan besar apa yang ada di dalam dirimu itu. Itu adalah sebuah obat psikotropika yang memang baru ditemukan sekaligus langka. AH-238. Itu adalah obat yang bisa membuat penggunanya berhalusinasi, tetapi masih bisa mengikuti perintah tanpa sadar." Sanchez menjelaskan hasil temuannya.
"Bagaimana kau menemukannya?" tanya Vante ingin tahu.
"Aku mencoba menelusuri bisnis yang Randy kelola. Aku menemukan bahwa mereka memiliki perputaran dana yang tak biasa di salah satu bank luar negeri. Akhirnya aku ketahui bahwa itu adalah dana mereka untuk jual beli narkoba jenis itu. Jujur aku sendiri juga baru mendengarnya. Pelanggan Randy juga berasal dari kalangan kelas atas saja, seperti politisi juga artis." Sanchez kembali menjelaskan.
"Tapi tetap saja aku tidak bisa membuktikan apapun. Zat itu pasti tidak akan terdeteksi lagi di tubuhku." Vante menemukan lagi jalan buntu.
"Aku berhasil mendapatkan sampelnya. Saat ini aku juga sedang mempelajari mengenai obat itu. Aku harap bisa menemukan sesuatu yang berarti dari situ." Sanchez bicara.
"Aku rasa … walaupun kau tidak menemukan apapun, aku tetap bisa melaporkan ini ke kepolisian. Alih-alih ditangkap karena menjebakku, ia bisa ditangkap untuk usaha ini. Hanya saja akibatnya mungkin akan lebih buruk dari yang kita kira." Vante mengaitkan kedua tangannya.
"Ya itu benar. Semua pelanggan yang berkaitan dengannya mungkin akan menaruh dendam kepadamu dan mencari cara untuk membalas. Kehidupanmu mungkin tidak akan sama lagi setelah itu. Perusahaanmu mungkin akan terganggu bahkan juga kehidupan pribadimu. Pilihan ada ditanganmu sekarang." Sanchez menyandarkan punggungnya.
"Hmh … aku juga tak yakin. Saat ini aku tidak peduli dengan diriku sendiri. Aku memikirkan mengenai Jeni. Aku tidak mungkin membiarkan dia jatuh ke dalam lubang yang sama." Vante terlihat bingung.
__ADS_1
"Kau masih punya waktu untuk memikirkannya. Satu hal yang pasti, ini berbahaya. Jangan tanya aku. Aku akan selalu siap untuk berdiri di sisimu. Hanya saja tentang Jeni, ini lain soal. Kau bisa bicara juga dengannya sebelum memutuskan apapun," ucap Sanchez.