
Kori duduk di sisi sang gadis yang masih terpejam. Tangannya terulur menyentuh pipi Jeni yang bersih. Kori tersenyum penuh arti, walau semakin lama berubah menjadi seringai yang menakutkan.
“Kau yang membuat pilihan ini, Jeni. Padahal selama ini, aku sudah memberimu banyak hadiah juga perhatian dan bantuan. Kau … yang membuatku memilih jalan ini.” Tangan Kori berhenti mengusap pipi Jeni. “Lalu setelah ini, apa yang harus aku lakukan? Aku penasaran apa yang harus aku lakukan agar kau terlihat menyedihkan di depan Vante hingga pria itu bahkan tak akan sudi lagi untuk melihatmu apalagi menyentuhmu.”
Kori kembali menyeringai dan tertawa. Dalam pikirannya, Kori sudah menemukan sebuah cara. Hanya saja untuk saat ini, sedikit bermain-main dengan gadis itu akan menyenangkan. Apalagi momen kebersamaan seperti ini adalah yang sebenarnya sudah lama ia tunggu.
Kori menunggu. Bersandar di kepala ranjang bahkan menonton TV untuk mengusir kebosanan. Benar saja, tak lama kemudian gadis di sisinya itu mulai mengerang. Kepalanya mungkin masih sedikit pusing dan juga bingung karena ia sadar tak bisa menggerakkan tangannya.
“Kenapa ini? Aku di mana?” tanya Jeni lirih.
“Akhirnya kau bangun juga?” tanya Kori dengan suara khasnya.
“Kori? Ken-kenapa?” tanya Jeni yang bingung.
“Kenapa? Hehehe. Kenapa katamu? Kau pikir kenapa?” tanya Kori malah balik bertanya dengan tatapan mata masih tertuju pada layar TV.
“A-apa ini karena aku …? Tapi, Kori, aku pikir kamu pria yang baik. Kenapa harus dengan cara seperti ini? Kita bisa membicarakannya baik-baik.” Tentu saja Jeni menjadi sangat ketakutan.
"Ya itu satu alasan, tapi aku juga punya alasan lainnya. Lagipula bukankah kesempatanmu untuk bicara baik-baik sudah habis? Kau jelas-jelas menghabiskannya semalam." Kori masih terus menatap ke layar.
"Ko-kori, aku minta maaf kalau apa yang aku ucapkan padamu semalam membuatmu marah. Aku sama sekali tidak berniat menyakiti hatimu. Aku hanya mencoba jujur dengan perasaanku." Jeni terdengar memohon.
"Sudahlah. Aku juga sudah tak terlalu peduli dengan itu. Aku hanya berpikir kini perlu cara lain untuk mendekatimu. Itu saja." Kori bicara dengan santainya.
__ADS_1
"Kenapa kau begitu … bersikeras?" tanya Jeni berhati-hati.
"Hm … ini pertama kalinya kau diculik seperti ini kan? Bagaimana rasanya, Jeni? Apa ini menakutkan?" tanya Kori kali ini menatap Jeni dengan tegas.
"A-apa? Bagaimana kau tahu?" tanya Jeni yang bingung.
"Kalau kau pernah mendengar istilah buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ya mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan aku. Pria yang menculikmu lima tahun yang lalu itu. Ya dia adalah ayahku. Aku Kori adalah anak kandung Darco." Pria itu tersenyum mengerikan.
Jeni tentu saja tak percaya. Ia menggeleng kepalanya sendiri dan mulai menangis. Bagaimanapun penculikan itu menimbulkan trauma cukup dalam baginya. Sekarang ia mendapatkan pengalaman buruk lagi.
"Tapi kenapa?" tanya Jeni.
"Kamu masih tanya kenapa? Semuanya akan lebih mudah kalau kau menerimaku sejak awal, Jeni. Aku sudah cukup berbaik hati. Kau yang membuatku memilih jalan ini." Kori menatap tajam.
"Akhirnya kau mengerti juga." Kori tersenyum lagi. "Ya harus aku akui, awalnya aku berniat membalas dendam pada Vante dan kemudian aku mengenalmu. Aku secara baik hati berusaha ingin mengenalmu lebih jauh. Alih-alih melukainya, aku ingin membuat Vante merasakan kehilangan. Ya siapa sangka kau ini gadis yang sulit diajak bekerja sama."
"Kalau memang cara ini tidak berhasil, kenapa sekarang malah menculikku seperti ini?" tanya Jeni lagi.
"Memberimu pelajaran! Melakukannya tidak hanya akan meluapkan kemarahanku, tapi juga membuat Vante menderita." Kori tersenyum lagi penuh arti.
"Kori, padahal aku benar-benar percaya padamu. Aku tidak pernah menyangka kau akan setega ini." Jeni tertunduk lesu masih dengan tangan terikat.
Kori memilih untuk pergi dari sana. Ia mengatakan pada anak buahnya untuk menjaga dengan lebih baik. Termasuk pengamanan di sekitar hotel. Ia tidak mau Vante datang terburu-buru ke tempat itu. Butuh lebih banyak waktu untuk mempermainkan dua manusia itu.
__ADS_1
Di lain sisi, Vante kembali berada di rumahnya bersama Anton dan Billy. Pria itu menggebrak meja di hadapannya dengan cukup keras. Ia belum tahu banyak tentang Kori jadi saat ini sama sekali tidak tahu harus kemana. Jalan buntu bagi Vante.
"Aku ingin kalian fokus mencari tahu tentang Kori dan ibunya. Coba temukan semua sumber kekayaannya dan juga termasuk gedung atau bangunan apapun milik mereka. Kori mungkin menyembunyikan Jeni di salah satu tempat itu." Vante menatap ke arah Anton.
"Kau coba periksa kamera keamanan di sekitar lokasi kejadian. Periksa rekaman CCTV dan ikuti pergerakan mobil yang menculik Jeni hingga titik akhir. Kita hanya perlu mencocokkan dengan daftar bangunan yang dimiliki oleh Kori dan ibunya."
"Baiklah kalau begitu, Tuan. Kami akan segera melakukannya."
Keduanya segera beranjak dari sana. Sedangkan Vante ditinggalkan dengan kondisi gundah. Maria yang memang belum sempat bicara padanya mendekat. Ia bisa melihat dan mendengar bahwa ada hal buruk terjadi pada Jeni.
"Jadi … Kori menculik Jeni?" tanya Maria awalnya.
"Ya. Kemungkinan ia marah karena Jeni menolaknya. Sejak awal dia memang mendekati Jeni hanya untuk menyakitiku. Harusnya aku cepat menyadarinya. Hal ini seharusnya tidak terjadi. Maria, apa menurutmu kehadiranku di sekitar Jeni hanya membuatnya terjerumus dalam bahaya?" tanya Vante kali ini.
"Tentu saja tidak. Apapun yang terjadi di antara kalian, itu adalah murni cobaan dari Tuhan untuk menjadikan kalian pasangan yang lebih kuat." Maria coba menenangkan.
"Tapi, bukannya juga sangat mungkin kalau semua cobaan ini adalah cara Tuhan memberi tahu bahwa aku dan Jeni memang tidak akan pernah bersama? Lagipula, Tuhan juga tidak akan pernah berada di sisiku. Kau tahu kan aku hanya manusia penuh dosa." Vante terduduk kemas di kursinya.
"Jangan berburuk sangka pada Tuhan. Pikirkan semua kemungkinan baik yang akan terjadi kalau kau dan Jeni akhirnya bersama. Dan kalau dipikir lagi, Jeni mungkin adalah hadiah untukmu dari Tuhan. Seseorang yang akan membuatmu bertahan di sisi yang baik. Sekarang, kau hanya perlu menyelamatkannya." Maria tersenyum hangat.
"Tapi, bukankah lebih baik bagi kita berdua untuk hidup masing-masing dan tidak membahayakan satu sama lain? Tidak seperti sekarang. Aku membuat Jeni merasakan lagi pengalaman buruknya terdahulu. Parahnya aku bahkan tidak bisa berbuat apa-apa." Vante begitu kalut.
"Kau sedang mengusahakannya kan? Aku bisa melihat kau juga Anton dan Billy sedang bekerja keras di sini. Aku tidak bisa membantu, tapi aku harap kau bisa segera menemukan Jeni." Maria mencoba menepuk pundak Vante.
__ADS_1