
“Aku tidak menyangka kau berhasil meyakinkan Jeni untuk menikah denganmu. Selamat ya. Aku janji akan terbang ke sana kalau harinya sudah dekat. Hanya saja aku masih sedikit kesal kenapa kau tidak menceritakan padaku mengenai Kori dan ibunya? Apa kau merasa bisa menangani semuanya sendiri sekarang?” tanya Paman Sanchez yang menelpon dari kejauhan.
“Aku hanya merasa belum perlu menceritakan tentang itu padamu. Buktinya toh sekarang keduanya berada di penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Kalau aku kesulitan, aku juga pasti akan memberitahumu, Paman.” Vante terlihat bersantai di salah satu kursinya.
“Jadi kau menyelesaikannya sendiri dengan caramu? Kau tahu kan pasti kalau cara yang kamu lakukan itu seolah mengulang lagi pekerjaan lamamu sebagai mafia. Aku sangat ingin tahu apa kamu menikmatinya? Apakah kau berpikir lagi untuk menjadi mafia?” tanya Sanchez di seberang.
“Kau memancingku atau apa? Aku tidak melakukan kejahatan di sini.” Vante membela diri.
“Benarkah? Merusak properti orang lain dengan puluhan anak buahmu itu juga tindakan main hakim sendiri. Apakah itu bukan kejahatan?” tanya Sanchez kembali memancing.
“Hmh, Paman. Aku tahu kau berusaha merayuku untuk kembali ke dunia itu, tapi aku hanya merasa tidak ingin melakukannya. Aku bukan penjahat lagi. Aku bukan lagi mafia. Kalaupun aku akan kembali ke dunia ini, maka aku akan berada di tengah kepolisian dan para mafia. Aku ingin dikatakan sebagai seorang … pahlawan?” tanya Vante juga tak yakin.
“Hahaha. Karena kau merasa pahlawan hanya bertahan dalam film-film laga saja, sekarang kau berharap menjadi salah satunya?” tanya Sanchez heran.
“Ya terserah apa katamu, tapi aku akan segera punya tanggung jawab yang lebih besar, Paman. Aku tidak mau menjerumuskan orang-orang yang aku sayang dalam bahaya lagi. Sudah cukup apa yang terjadi pada Jeni. Aku tidak mau hal yang sama terjadi lagi.” Vante terdengar bersungguh.
“Bagaimana kalau itu terjadi lagi? Maksudku … Darco punya banyak musuh dulu dan begitu juga kau. Meski pada akhirnya kau yang membunuh Darco, tapi banyak orang yang kini melihatmu sebagai pesaing utama mereka. Tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada Anna. Bagaimana kau akan menghadapi mereka?” tanya Sanchez kali ini.
__ADS_1
“Maka pertama, hal yang sangat ingin aku lakukan adalah meminta bantuanmu untuk memastikan bahwa tidak ada lagi orang yang ingin menghancurkanku. Aku ingin memastikan kehidupan keluargaku nanti baik-baik saja. Walaupun suatu saat aku akan terpaksa menggunakan kekuatanku, maka sekali lagi itu adalah kebaikan membasmi kejahatan dan bukan sebaliknya.” Vante menentukan sikap.
Di lain sisi, Vante sedang berada di apartemen Jeni bersama Juan dan Irene. Perut Irene juga sudah cukup besar. Kandungannya sudah berusia tujuh bulan. Sedangkan Jeni seperti biasa terlihat begitu cantik sedang memiliki beberapa desain undangan untuk pernikahannya.
Vante dan Juan sedang berada di balkon. Menikmati kopi panas mereka sambil merokok dan menikmati pemandangan. Walau sudah menerima sepenuhnya, tapi memang Juan sesekali terlihat salah tingkah saat berada di sekitar Vante.
“Kenapa kau terlihat tegang sekali? Aku yang akan menikah di sini dan bukannya kau!” Vante bicara dengan santai.
“Hm, ya itu memang benar. Hanya saja aku akui rasanya cukup aneh. Kau adalah seseorang yang dulu sangat ingin aku penjarakan. Sekarang kau justru akan menikah dengan adikku.” Juan menggaruk belakang lehernya lagi.
“Ya, aku percaya kau bisa melakukannya. Hanya saja aku juga takut kalau kehidupan adikku nanti akan sulit karena menikah denganmu. Apa yang terjadi padanya terakhir kali itu cukup menyita perhatianku. Ya meskipun kau bisa menyelamatkannya, tapi aku takut semakin lama Jeni akan semakin hancur.” Juan menyerukan kekhawatirannya.
“Jangan terlalu berlebihan. Justru dengan mengalami hal semacam ini, dia akan belajar untuk menjadi semakin kuat. Aku sudah bicara padanya dan dia baik-baik saja. Kau bisa bicara dengannya sendiri untuk membuktikan.” Vante bicara dengan santai.
Baru saja Vante diam, Jeni menuju keluar balkon dan langsung marah karena mencium aroma rokok yang sangat menyengat. Vante seperti katanya membiarkan Jeni dan Juan bicara bersama. Sedangkan Vante memilih masuk ke dalam apartemen dan memperhatikan undangan pilihan Jeni.
Di lain sisi, Jeni terlihat begitu ceria. Seolah sudah melupakan semua pengalaman pahit yang pernah dideritanya. Juan bagaimanapun akan selalu punya rasa takut itu melihat seorang gadis yang selama ini menjadi tanggung jawabnya, kini akan menikah dengan pria lainnya.
__ADS_1
“Ada apa, Kak? Jangan bilang Kakak ragu untuk melepaskan aku menikah dengan Vante karena masa lalunya atau pekerjaannya dan lain sebagainya.” Jeni dengan cepat mengamati.
“Kamu salah, Jeni. Aku begini justru karena cemas dengan masa depanmu. Kita tidak pernah tahu berapa banyak orang yang membenci calon suamimu itu. Aku hanya takut apa yang sudah terjadi padamu dua kali, akan terjadi lagi suatu saat nanti. Bukan hanya kau, tapi juga mungkin anak kalian nanti.” Juan berhati-hati.
“Kakak, aku sudah sangat memikirkannya sebelum menerima ajakan menikah dari Vante. Jujur rasanya memang sangat menakutkan berada di posisi yang lemah seperti saat itu. Alih-alih menghindari Vante, aku lebih suka menghadapinya. Justru semua kejadian itu menjadi motivasiku untuk berubah lebih kuat.” Jeni tersenyum begitu lebar.
“Kau terlihat begitu yakin. Memangnya apa yang kau lakukan untuk lebih kuat?” Juan terdengar mengejek.
“Sebenarnya dua bulan belakangan ini, aku sudah berlatih tinju. Selain itu aku juga sedang memilih jenis bela diri yang aku suka untuk aku pelajari juga. Awalnya memang sama sekali tidak mudah, tapi ini cukup menyenangkan, Kak. Tubuhku yang biasanya begitu lemas dan mudah letih, kini terasa begitu sehat. Ya bisa dibilang sekarang tujuan utamaku adalah sehat dan kuat adalah bonus.” Jeni terlihat bebrinar.
“Kamu … serius mengatakan ini? Kamu benar-benar berlatih tinju dan berniat berlatih bela diri juga?” tanya Juan penasaran.
“Ya, Kak. Sebenarnya kalau dipikir lagi, ini bagus untuk pekerjaanku. Aku juga jadi lebih sehat dan aku bahkan bisa mulai mempertimbangkan peran-peran yang memang membutuhkan banyak pergerakan. Faktanya olahraga itu baik untuk semua aspek kehidupanku.” Jeni tersenyum.
“Ah, ini benar-benar di luar ekspektasiku, tapi … kalau kau memang senang melakukannya, maka aku juga senang mendengarnya.” Juan tersenyum kaku.
“Ya, tenang saja, Kak. Kau tidak perlu terlalu khawatir tentangku. Lebih baik, kau mulai fokus pada kehamilan Irene yang sudah semakin besar. Fokus pada keluargamu sendiri. Aku sementara ini juga akan fokus pada pernikahan yang akan dilakukan akhir bulan depan. Aku hanya perlu doa dan dukungan darimu, Kakak.” Jeni memeluk kakak satu-satunya itu.
__ADS_1