
"Kau baru saja kembali dari Boranesia dan sudah membawa istri? Kenapa begitu tiba-tiba?" tanya Rosa.
"Apa hubungannya denganmu? Memangnya kau kekasihnya atau apa?" tanya Waren.
"Y-ya … setidaknya kita teman kan? Rekan kerja? Apa salahnya memberi kabar," ucap Rosa.
"Sudah jadi rahasia umum kalau kau menyukai Vante. Sekarang dia sudah menikah. Kenapa tidak membiarkannya hidup bahagia? Di lain sisi kau bisa memberiku kesempatan untuk mendekatimu. Kau tahu kan aku sama sekali tidak kalah kalau dibandingkan dengan Vante." Waren begitu percaya diri.
"Enak saja! Kau jelas berada di level yang jauh berbeda dengan Vante!" Rosa dengan cepat memprotes.
Vante hanya bisa tersenyum melihat pertengkaran itu. Memang benar sudah jadi rahasia umum bahwa dua sekretarisnya itu selalu terlibat dalam perkelahian yang tak tentu. Sedangkan Vante hanya penonton dengan kedua tangan berada di dalam saku celananya.
Rosa adalah sekretaris Vante. Ia bisa bekerja di sana karena koneksi ayahnya yang merupakan rekan bisnis juga. Lebih tepatnya ayah Rosa adalah pemilik saham terbanyak kedua setelah dirinya. Walaupun memang mereka sebenarnya sama sekali tak butuh pekerjaan itu, entah kenapa Rosa memaksakan diri untuk bekerja di perusahaan milik Vante.
Rosa adalah seorang gadis dengan penampilan super glamor. Make up yang selalu cetar juga pakaian dengan merek mewah yang melengkapi penampilan. Wajahnya juga cantik dan memiliki kesan seksi dengan bibir yang penuh juga hidung yang mancung dan mata yang besar. Tidak lupa kepercayaan dirinya yang selalu tinggi.
Sudah menjadi rahasia umum kalau satu-satunya alasan Rosa bekerja di sana adalah untuk pernikahan. Entah antara ayahnya yang dengan sengaja menjodohkan Rosa dengan Vante, atau justru Rosa yang memang ingin mendekatkan diri pada Vante. Satu hal yang pasti tujuan akhir mereka adalah sama.
Di lain sisi, Waren juga adalah sekretaris Vante. Hanya saja dia bergabung di sana karena kemampuannya yang memang layak untuk dipertimbangkan. Ia juga berasal dari keluarga yang cukup berada meskipun tetap saja ada level yang berbeda dari Vante dan Rosa.
Waren juga adalah seorang pria yang tampan apalagi dengan pengalamannya sebelumnya sebagai model selama masa sekolah dan kuliahnya untuk menyambung hidup. Banyak yang jatuh hati padanya, tapi ia sudah jatuh hati pada Rosa. Sayang di lain sisi, Rosa justru jatuh hati pada Vante.
Vante memilih pergi untuk menemui Jeni yang memang sedang berada di ruangannya. Sedangkan sebelumnya dia berada di ruang rapat di mana para petinggi perusahaan baru saja berkumpul untuk membahas rutin perkembangan perusahaan sekaligus Vante yang dengan bangga mengenalkan Jeni sebagai istrinya.
__ADS_1
Begitu Vante membuka pintu, Jeni dengan cepat ikut menatap ke arah datangnya suara. Jeni lega sekali karena sudah menunggu cukup lama di sana sedangkan perutnya sudah merasa lapar. Sebelum Vante datang yang ia lakukan hanyalah mencari informasi mengenai makanan khas negara tersebut yang bisa ia nikmati.
"Vante, akhirnya kau datang juga," ucap Jeni.
"Maaf ya. Aku pasti terlalu lama rapat tadi. Apa ada yang ingin kau lakukan sekarang?" tanya Vante dengan cepat.
"Sebenarnya aku lapar. Hehehe. Aku ingin mencoba makanan khas negara ini. Sekarang karena lapar, aku rasa aku bisa makan apa saja." Jeni tersenyum menunjukkan gigi ratanya.
"Kalau kau memang lapar, harusnya kau bisa meminta tolong pada OB di kantor ini untuk membelikanmu makanan. Kenapa memaksakan diri untuk menungguku?" tanya Vante bingung.
"Ya karena kau juga pasti lapar kan? Kita bisa pergi bersama setelah kau selesai rapat. Hm, apa kita bisa pergi sekarang? Atau masih ada hal lain yang harus kau selesaikan?" tanya Jeni sudah berharap.
"Ya aku sudah selesai. Aku akan membawamu makan apapun yang kau suka." Vante menggandeng tangan istrinya.
Mereka berjalan menuju lorong lift. Hanya saja begitu tiba di sana, Vante pamit untuk pergi sebentar ke kamar mandi. Vante meminta Jeni untuk menunggu sebentar di sana. Wanita itu hanya mengangguk dan kemudian sang suami meninggalkan kecupan di pipi sang istri.
"Kau si Jeni itu kan?" tanya Rosa dengan kedua tangan bersilang di depan dada.
"Ya, itu aku. Kau …?"
"Namaku Rosa. Kita belum sempat bertemu tadi. Hanya saja sebenarnya itu memang alasanku saja. Aku tidak ingin mengenalmu." Rosa acuh.
"Kenapa? Apa ada hal yang mengganggumu?" tanya Jeni yang bingung.
__ADS_1
"Jelas. Sangat ada. Kau merebut Vante dari aku. Aku benar-benar sangat kesal sekarang. Bahkan melihat dirimu saja sungguh membuatku sangat ingin … membunuhmu." Rosa begitu mengintimidasi.
"Maaf, tapi kalau kau benar menyukai Vante, bukankah kau harusnya tahu bahwa Vante selalu tertarik padaku. Sejak ia datang ke tempat ini bahkan seterusnya kini karena kami sudah menikah secara resmi." Jeni mencoba untuk tak gentar.
"Kamu bisa bersombong diri sekarang, tapi aku tidak yakin kehidupan kalian akan terus bahagia. Vante mungkin tidak mencintaiku dan bahkan sekarang telah menikah denganmu, tapi bukan berarti aku tidak punya cara untuk memilikinya." Rosa menatap tajam.
Jeni bahkan tak sanggup bicara. Ia begitu terkejut dan hal yang sangat mengganggunya adalah Rosa terlihat begitu percaya diri. Seolah ada yang memang sedang ia persiapkan untuk merebut Vante darinya. Ia bahkan hanya bisa menatap saat Rosa melewatinya dengan angkuh.
Jeni menatap kepergian wanita itu melihat bagaimana Rosa berpapasan dengan Vante dan mereka terlihat begitu akrab. Rosa sama sekali tak canggung mencium pipi kiri dan kanan Vante bergantian. Hal yang kemudian membuat Jeni merasa tak karuan. Vante sepertinya cepat menangkap perubahan sikap sang istri.
Begitu mereka masuk ke dalam lift, Vante segera meraih pinggang Jeni.
"Apa yang mengganggu pikiranmu?" tanya Vante.
"Tidak ada." Jeni dengan cepat mengelak.
"Apa ini karena Rosa? Apa yang dia katakan padamu?" tanya Vante cepat menebak.
"Eh, kau … tahu?" tanya Jeni.
"Aku menyadarinya, Jeni. Rosa itu memang sedikit salah paham tentang apa yang terjadi antara kami berdua. Aku menganggapnya jelas sebagai seorang rekan kerja, tapi sepertinya ia tidak memandang seperti itu." Vante menjelaskan.
"Jadi … menurutmu aku harus membiarkannya saja?" tanya Jeni ingin meminta pendapat.
__ADS_1
"Aku hanya meminta agar kau tak terlalu terganggu dengannya. Aku yakin cepat atau lambat ia juga akan bisa menerima kalau aku sudah menikah sekarang. Ia pasti akan berhenti melakukannya." Vante tersenyum mengecup pelipis Jeni.
Entah kenapa, Jeni tidak merasa demikian.