Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia

Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia
Mengawasimu


__ADS_3

Vante tidak pernah menyangka ia akan terlibat semakin dalam di urusan dendam keluarganya ini, tapi dia sudah tak punya jalan untuk kembali. Ia harus menuntaskan semuanya dan hidup dengan aman dan tenang bersama seseorang yang kini menjadi mimpinya.


Rencana yang telah ia susun, tak bisa gegabah dilakukan. Kalau terburu-buru, Darco mungkin akan sangat curiga. Jadi Vante perlahan saja menjalani semuanya tanpa melibatkan Jeni terlalu dalam. Oleh karena itu, alih-alih menemuinya, dia memilih untuk mengawasinya dari jauh.


Vante sering kali berada di sekitaran minimarket juga apartemen Jeni. Walau hanya mengawasi dari kejauhan dan seringkali tak bisa melihat secara langsung gadis itu, ia masih terus di sana untuk menatapnya. Kalau beruntung, ia bisa melihat wajah Jeni yang menunjukkan emosi beraneka rupa.


“Jeni, bukankah kau pernah bercerita padaku tentang pria misterius itu? Apa yang terjadi dengan dia sekarang? Apa dia menghilang begitu saja?” tanya Irene saat mereka sedang lengang.


“Ah, ya dia bilang sedang melakukan pekerjaannya. Dia memang pamit untuk sementara waktu. Entah apa yang sedang ia lakukan sebenarnya,” ucap Jeni.


“Lalu kau membiarkannya begitu saja? Maksudku bagaimana kau bisa memastikan itu bukan janji palsu yang dia buat untuk pergi darimu saja?” tanya Irene yang masih skeptis.


“Kalau dipikir lagi, apa yang kau katakan benar. Kami bisa dibilang tak punya hubungan apapun. Dia masih bebas untuk pergi ke mana saja yang dia inginkan. Tapi … entah kenapa ada keyakinan yang sulit untuk aku ungkapkan. Sepertinya dia pria yang bisa aku percaya.” Jeni tersenyum tipis.


“Ah, kau sepertinya sudah benar-benar jatuh cinta pada pria itu ya?” tanya Irene menebak.


“Hehehe. Entahlah. Aku juga tidak tahu,” kata Jeni.


“Tapi kalau kakakmu mengetahui ini, apa dia akan baik-baik saja?” tanya Irene lagi.


“Kenapa aku harus tidak baik-baik saja?” Sebuah suara mendadak mengagetkan keduanya.


Jeni dan Irene yang memang sedang menata etalase di belakang mesin kasir jadi sontak menoleh. Menunjukkan sosok Juan dan Hope yang entah sudah berdiri sejak kapan di sana. Pintu mini market kebetulan memang sedang terbuka karena AC di tempat mereka sedang rusak.


“Ah, hehehe, bukan apa-apa. Maksudku tadi … kalau seandainya Jeni lulus kuliah dan pergi dari kota ini. Begitu,” ucap Irene kikuk.

__ADS_1


“Ck, aku tidak akan mengizinkannya! Aku tidak bisa mengawasi Jeni sepanjang waktu kalau dia jauh dariku. Jeni, jangan coba-coba memikirkan hal semacam itu! Membuang-buang waktu saja!” ucap Juan dengan kedua tangan di dalam saku celananya.


“Kakak, jangan mulai!” Jeni terlihat kesal.


“Kenapa? Aku memang tidak akan memberi izin. Banyak kesempatan di kota ini yang bisa kau lakukan. Kau masih ingin menjadi artis pun, kau bisa melakukannya di sini,” kata Juan.


“Kakak, tapi banyak tempat lain di mana aku bisa mengembangkan diri. Paling penting, tanpa Kakak! Daripada kau fokus mengurusku, kenapa kau tidak fokus mengurus kehidupan pribadimu sendiri? Contohnya menemukan pasangan? Kau mungkin tidak akan seprotektif ini kalau kau punya satu,” ucap Jeni tidak mau kalah.


“Kau in-”


“Sudah! Cukup kalian! Jangan berdebat lagi ya. Hm … karena Jeni dan Irene di sini sudah hampir selesai bekerja, kenapa kita tidak pergi makan saja bersama?” tanya Hope yang berusaha mencairkan suasana.


“Ah, iya iya. Aku setuju. Aku punya waktu untuk itu. Ayo kita lakukan itu bersama,” kata Irene mendukung.


Toko itu pun ditutup. Mereka memilih untuk pergi ke sebuah kedai pinggir jalan yang menjual berbagai jenis makanan di mana pelanggannya bisa mengambil menu dan membakarnya sendiri. Keempatnya meski masih kikuk, tapi berusaha sekali untuk mencairkan suasana.


“Hei, jangan terlalu tegang. Ayo kita makan dulu. Ini sudah matang,” ucap Hope.


“Iya benar. Ini masih panas dan pastinya enak sekali,” ucap Irene menambahkan.


“Kalian berdua ini sepertinya kompak sekali? Kenapa tidak menikah saja?” tanya Jeni yang kesal.


“Apa? Tidak tidak!” ucap Irene cepat.


“Eits, jangan mengarang. Kau tahu kan hatiku ini tertuju pada siapa?” tanya Hope cepat.

__ADS_1


Jeni hanya tersenyum saja. Ia melirik ke arah Juan yang sepertinya tak suka juga dengan ide itu meskipun ia diam. Jeni tahu bahwa sebenarnya di dalam hatinya, Juan menyukai Irene. Gadis yang polos dan baik hati itu, wajar sekali kalau banyak pria yang menyukai pesonanya.


Jeni tahu bahwa Juan hanya terlalu sibuk bekerja dan menjaganya. Itu kenapa dia terlalu sulit untuk mendekati apalagi mengungkapkan perasaannya pada Irene. Sungguh Jeni hanya ingin membantu. Ia ingin sang kakak juga menemukan kebahagiaannya.


Percakapan mereka berlanjut. Sedangkan di satu sudut, sepasang mata terus mengawasi mereka. Siapa lagi kalau bukan Vante yang terus mengawasi Jeni. Sedikit banyak dia juga jadi memahami bagaimana hubungan antara Jeni dan Juan. Pria yang berpotensi masuk daftar menjadi salah satu musuhnya.


Vante kembali menuju sebuah lokasi. Terletak di sebuah pergudangan yang tepat berada di tepian laut. Karena tidak bisa mencari dermaga yang baru, maka Vante memutuskan untuk membuat salah satunya. Kali ini Darco bahkan turun tangan sendiri untuk memantau lokasinya.


Vante yang datang dengan motor besarnya, bisa melihat Darco yang datang dengan sedan hitam mewahnya dan keluar dari kursi belakang. Mengenakan setelan jas berwarna coklat dengan topi vendora yang menutupi sebagian wajahnya.


“Ini sempurna, Vee. Bukan hanya tentang lokasi, tapi juga penyamarannya,” ucap Darco.


“Ya, tentu saja, Tuan. Aku mencoba mencari lokasi yang jauh lebih baik dari yang sebelumnya,” ucap Vante terdengar banga.


“Aku juga lega kau menunjukkan keahlianmu lagi. Aku tidak suka kau terlalu sibuk dengan hal yang tak semestinya,” kata Darco menepuk pundak Vante.


“Ya, Tuan.”


“Aku rasa, aku bisa kembali meminta bantuanmu untuk membunuh Sanchez sekali lagi. Kau masih akan melakukannya untukku kan?” tanya Darco.


“Tentu saja, Tuan. Aku akan melakukan apapun. Ini adalah bentuk pengabdianku padamu. Kau yang paling tahu bagaimana aku berterima kasih untuk semua yang kau lakukan padaku sejak aku datang ke rumahmu,” ucap Vante.


“Tiba-tiba sekali? Hahaha. Tapi, aku senang kau sadar benar dengan posisimu di sini. Aku membutuhkan orang sepertimu, Vee.” Darco menepuk pundak Vante. “Baiklah kalau begitu. kau bisa mulai bekerja lagi.”


Vante hanya bisa tersenyum menatap kepergian Darco. Di dalam hatinya, ia jelas menyimpan dendam yang begitu kuat. “Nikmatilah kepatuhanku ini untuk sementara waktu, karena ini tak akan berlangsung lama.”

__ADS_1


__ADS_2