
Vante mengusap rambutnya kasar karena sama sekali tidak bisa mengingat kejadian semalam. Ia justru semakin pusing apalagi saat Rosa mulai menangis. Ia mengatakan begitu frustasi karena Vante seolah mengabaikan semuanya. Hal yang memang ia inginkan awalnya, tapi kini ia sesali.
“Rosa, kalau itu benar terjadi antara kita berdua, aku minta maaf sekali. Aku tidak biasanya semabuk itu saat minum. Hanya saja kau tahu kan statusku sekarang adalah seorang pria beristri. Apakah bisa kalau seandainya … kita anggap semua ini tidak pernah terjadi?” tanya Vante berhati-hati.
Rosa hanya bisa menatap dengan sendu. “Ya kalau dipikir lagi, aku juga salah karena bicara seperti itu kemarin. Semesta akhirnya memenuhi keinginanku yang salah itu. Aku paham kok. Aku juga sadar diri. Aku tidak akan bicara tentang ini pada siapapun, terutama Jeni.”
Vante menggenggam tangan Jeni. “Terima kasih banyak dan setelah hari ini, katakan apapun yang ingin kau katakan ya. Aku berjanji akan bertanggung jawab dengan apa yang terjadi di masa depan.”
Rosa menatap Vante sendu. “Apa kau … serius dengan yang kau ucapkan?”
“Iya. Selama kita bisa menjaga rahasia yang terjadi antara kita berdua, aku akan bisa melakukannya untukmu.” Vante bicara lagi.
Vante akhirnya melepas kepergian Rosa. Melihat wanita itu berlalu, Vante memilih untuk mandi. Saat air dingin itu mengguyur badannya, ia mulai memikirkan semuanya baik-baik. Vante benar-benar tak yakin kalau ia menyentuh Rosa semalam. Oleh karena itu, Vante memutuskan untuk mengawasi apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Kalau sampai semua ini hanya tipu daya dari Rosa, maka aku benar-benar tidak akan memaafkannya.” Vante dengan cepat bersikap.
Vante dengan cepat mengerahkan anak buahnya untuk mencari bukti-bukti bahwa ada hal yang salah di sana. Mulai mengecek kamera CCTV, botol whiskey yang Rosa bawa semalam, dan juga darah keperawanan yang ada di atas sprei.
Di Boranesia, Jeni sedang mengemas seluruh pakaiannya ke dalam koper. Ia juga berencana akan pergi menemui managernya untuk berpamitan. Meskipun selama ini bisa dikatakan ia tak terlalu dekat juga dan hanya berhubungan secara profesional saja. Lagipula sekali lagi ia hanya artis yang tak terlalu terkenal, sehingga lebih banyak menyelesaikan semuanya sendiri.
Ketika ia sedang sibuk, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Tidak ada nama pengirimnya dan berisi beberapa foto yang cukup mencurigakan. Tanpa curiga, Jeni mengunduhnya dan betapa terkejutnya ketika ia melihat apa yang ada di depannya.
Foto-foto kebersamaan Vante dan Rosa di atas ranjang. Sedang berpelukan tanpa sehelai benang pun. Keduanya terlihat terlelap dengan pakaian berserakan di sekitar mereka. Tentu saja Jeni yang begitu kalut, tidak tahu harus berbuat apa.
__ADS_1
“Padahal … baru saja menikah. Vante juga sudah berhasil membuat aku sepenuhnya percaya padanya. Kenapa ini harus terjadi sekarang? Kenapa Vente mengkhianatiku begitu cepat?” tanya Jeni yang masih terpukul.
Jeni membatalkan semua kegiatannya. Ia masih fokus untuk menangis dan menenangkan diri di kamarnya. Ia juga tak menjawab telepon dari Vante yang terus berdering dari pagi. Hingga akhirnya, tepat siang hari, Jeni mengangkat teleponnya.
“Jeni, dari mana saja kau? Kenapa tidak menjawab teleponku? Apa kau baik-baik saja?” tanya Vante terdengar begitu khawatir di seberang.
“Aku … aku hanya ketiduran saja sebelumnya. Aku terlalu letih saat membereskan pakaian,” ucap Jeni mencari alasan.
“Ah begitu. Syukurlah kalau begitu. Hm, jadi … apa kau sudah memikirkan kapan akan kembali?” tanya Vante penasaran.
“Memangnya kenapa?” tanya Jeni datar.
“Bagaimana kau bisa tanya seperti itu? Tentu saja karena aku merindukanmu.” Vante cepat merespon.
“Apa maksudnya itu?” tanya Vante yang jeli.
“Ah, tidak ada. Hm, aku rasa aku harus melanjutkan kegiatanku. Aku tutup dulu teleponnya ya,” ucap Jeni menutup teleponnya tanpa persetujuan.
Tentu saja Vante merasa awas dengan apa yang terjadi. Jeni biasanya adalah priabdi yang ceria dan manis bahkan saat sedang bicara di telepon. Entah kenapa, kali ini ia terdengar begitu enggan dan datar. Pasti ada hal buruk yang terjadi padanya.
Belum usai memikirkan tentang Jeni, seorang mengetuk pintu ruang kerjanya. Itu adalah anak buahnya yang bernama Charlie. Ia yang ia perintahkan untuk mencari tahu semua tentang yang terjadi semalam di rumah Vante.
“Tuan,” sapanya.
__ADS_1
“Apa kau menemukan sesuatu?” tanya Vante.
“Aku datang justru karena tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Botol itu bersih. Tidak ada obat-obatan yang dimasukkan ke sana. Melalui kamera CCTV di dalam rumah juga terlihat Nona Rosa memang selalu ada di dalam rumah. Melalui rekaman itu juga terlihat jelas bahwa Anda … bergandengan tangan bersama Nona Rosa ke dalam kamar. Sama sekali tidak ada yang mencurigakan, Tuan. Termasuk darah itu juga, itu memang milik Nona Rosa,” jelas Charlie.
“Apakah ini berarti kita menemukan jalan buntu?” tanya Vante yang bingung.
“Ya … satu hal yang memungkinkan adalah untuk mengecek kondisi Nona Rosa. Kita bisa mengetahui aktivitas seksualnya belakangan. Hanya saja … itu jelas akan menyinggungnya kalau kita memaksa melakukan otopsi.” Charlie menjawab.
“Itu jelas. Lagipula meskipun kita melakukan otopsi, kita mungkin tidak akan menemukan apapun karena semuanya sudah sangat terlambat. Bukti-bukti itu mungkin juga akan hilang segera.” Vante mengepalkan tangannya.
“Kami siap menunggu perintahmu, Tuan,” ucap Charlie.
“Bagaimana kalau kita memperluas penyelidikan? Maksudku kau bisa mulai dengan mencari tahu kegiatan ayah Rosa dan juga anak buahnya belakangan. Hal-hal yang mungkin menjurus pada kunci jawaban mengenai teka-teki semalam. Aku entah bagaimana masih yakin bahwa tidak ada yang benar-benar terjadi semalam selain sebuah jebakan yang dipersiapkan dengan sangat halus. Aku tidak bisa membiarkan Jeni mengetahuinya sebelum aku menemukan jawabannya.” Vante mencoba untuk bersikap tegas.
“Baik, Tuan,” jawab Charlie.
“Ah, dan Rosa tidak masuk hari ini kan? Siapkan anak buah juga untuk mengikutinya. Kapanpun dan dimanapun. Aku ingin tahu dia pergi ke mana dan menemui siapa. Bahkan kalau perlu lacak juga ponselnya dan juga transaksi keuangannya. Bahkan kalau bisa lakukan hal yang sama pada ayahnya.” Vante sekali lagi bicara.
“Baik, Tuan.”
Vante melihat Charlie meninggalkan ruangan. Ia yang masih dirundung emosi, hanya bisa menghentakkan kepalan tangannya di atas meja. Ia menyesal sekali karena bisa jatuh dalam perangkap bodoh dari seorang wanita. Vante terus menerus menyalahkannya dirinya sendiri dan berjanji akan mencari solusi.
“Pasti ada celah. Pasti ada kesalahan. Pasti ada ketidaksempurnaan. Aku hanya harus mencari tahu tentang itu.”
__ADS_1