
"Menurutmu … berapa lama lagi sampai Vante akan mendapatkan lokasi tempat ini?" tanya Kori yang menyodorkan satu nampan makanan pada Jeni.
Wanita itu tentu saja tidak menjawab. Ia bahkan memalingkan wajahnya. Kori sudah merubah posisinya. Kini tangan Jeni diikatkan pada tiang ranjang hotel itu. Ia bisa bergerak sedikit lebih leluasa daripada sebelumnya. Bahkan tali di kakinya juga terlepas. Itu kenapa ia bisa menendang makanan itu dengan mudah hingga berserakan ke lantai.
"Kau memang gadis keras kepala. Aku rasanya sudah letih berbaik hati padamu. Kau lebih suka aku menggunakan kekerasan padamu, maka aku akan melakukannya."
Tangan Kori meraih wajah Jeni dengan satu tangannya mengapit pipi wanita itu. Mau tak mau Jeni menatap wajah Kori kini. Dulunya pria itu menunjukkan wajah yang imut dan polos, tapi sekarang semua itu berubah. Menjadi sosok yang begitu mengintimidasi dengan tatapan mata yang tajam.
Kesal, Kori segera mencium bibir gadis itu secara paksa. Tentu saja Jeni berusaha untuk berontak. Menggunakan kakinya dia terus menendang juga kepalanya yang terus menerus menggeleng keras. Tentu saja Kori yang lebih kuat bisa mengantisipasi semua gerakan itu.
Kori menekan Jeni lebih keras dengan ciuman yang dipaksakan. Jeni tidak punya cara lain selain menggigit bibir pria itu. Kori mengaduh dan dengan segera mengalir darah segar dari bibirnya. Tidak terlalu banyak, tapi cukup perih juga. Kori yang kesal menampar keras wajah Jeni.
PLAK.
“Wanita sialan!”
Rasa yang awalnya dikira cinta itu kini berubah menjadi benci yang amat sangat. Kori yang kesal segera mencari lakban untuk menutup bibir Jeni. Wanita yang terlihat begitu marah itu, tidak bisa melakukan apapun selain menerima konsekuensinya. Kori yang kesal memilih untuk pergi dari sana.
__ADS_1
Di lain sisi, Anton dan Billy dalam waktu yang hampir bersamaan dengan cepat mendekat ke arah Vante. Keduanya hendak melaporkan temuan masing-masing yang sebelumnya diperintahkan oleh Vante.
“Tuan, kami sudah berhasil mempersempit lokasi pencarian. Berdasarkan lokasi terakhir di mana SUV itu terlihat, lalu dibandingkan dengan bangunan yang mungkin dimiliki atau disewa oleh Kori dan ibunya, maka ada dua lokasi ini. Itu adalah sebuah sauna dan lainnya adalah sebuah kedai ayam yang keduanya tutup dan berada di komplek yang sama.” Anton menjelaskan panjang lebar.
“Hanya saja, kita sudah mencoba untuk datang kedua lokasi itu dan keduanya kosong. Tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Jadi, kami memastikan mereka tidak ada di sana. Mungkin ini bisa menjadi petunjuk.” Billy menambahkan.
Tentu saja Vante yang sudah berekspektasi tinggi menjadi murka. Bukan jawaban seperti itu yang ia tunggu. Sekali lagi dia menggebrak meja kerja di hadapannya. Pria itu bahkan berdiri dari kursi kerjanya.
“Apa-apaan ini? Aku meminta kalian untuk segera menemukan lokasi Jeni. Bukannya justru melaporkan hasil yang nihil begini.” Vante terlihat kesal.
Anton dan Billy hanya bisa saling melirik dan menunduk. Meminta maaf secara lirih karena hanya sejauh itu yang mereka temukan.
Anton dan Billy mengangguk. Mereka bersiap pergi dari sana hingga Vante menahan keduanya.
“Bawa saja semua yang kalian temukan. Aku akan memastikan kalian melakukannya dengan benar!” Vante menatap dua anak buahnya dengan seksama.
Ruang kerja Vante seketika penuh dengan laptop juga beberapa dokumen. Mereka memperhatikan satu per satu lokasi yang sesuai dengan apa yang Vante perintahkan. Ada beberapa gedung dan bangunan yang memang sedang dijual dan juga terjual di wilayah itu. Vante memperhatikan daftarnya dan mendadak curiga akan sesuatu.
__ADS_1
“Bagaimana dengan hotel ini? Aku rasa itu cukup mencurigakan. Lokasinya dekat dengan dua bangunan sebelumnya dan dengan harga yang ditawarkan, siapapun yang membelinya akan sangat diuntungkan.” Vante memperhatikan.
Anton dengan cepat mencari beberapa hal melalui laptopnya. Dia segera menyadari bahwa hotel itu baru saja dibeli seminggu yang lalu. Begitu mencoba mencari tahu siapa pembelinya, Anton menemukan nama Anna di sana.
“Tuan, aku rasa kau benar.”
Anton menunjukkan layar laptopnya pada Vante. Tanpa menunggu lagi, dengan membawa anak buah yang lebih banyak, Vante pergi segera menuju hotel yang dimaksud. Memastikan semua anak buahnya mempersenjatai diri mereka dengan lengkap.
Di dalam perjalanan itu, Vante menyempatkan diri untuk menelpon seseorang. Ia jelas membutuhkan bantuan untuk menaklukkan Kori. Ia harus menjebloskan pria itu dan juga ibunya ke penjara. Kalau pun tidak dengan jalur hukum, maka Vante akan melakukannya dengan caranya sendiri.
Vante masih dengan setelan jas kotak-kotak coklat itu mengendarai motornya sendiri. Ya, ia membawa lagi motor besar yang dahulu selalu menemaninya kemanapun. Tidak pernah pergi kemana-mana, motor itu tersimpan rapi. Hanya sedikit modifikasi dan perbaikan di beberapa titik.
Perjalanan selama 30 menit itu, tiap detiknya selalu membuat Vante berdebar. Lingkungan itu bukan sebuah lingkungan modern seperti bagian kota lainnya. Lingkungan itu memang terkenal sebagai lingkungan kumuh dan kotor tempat berkumpulnya para penjahat dari segala jenis bentuk kejahatan. Entah apa juga yang diharapkan Kori dengan berada di sana.
“Tempat ini memang pilihan yang bagus untuk membangun bisnis. Tentu saja berlaku hanya untuk bisnis kotor seperti apa yang Anna jalankan selama ini. Hotel itu, kenapa aku tidak memikirkannya sejak awal. Tunggu sebentar lagi, Jeni, aku akan datang untuk menyelamatkanmu.” Vante menarik tuas gasnya lagi.
Di lain sisi, Jeni dengan tangan terikat dan bibir yang tertutup lakban. Ia bahkan tak bisa lagi bersuara, tapi terus antisipatif akan apa yang terjadi. Bahkan meskipun seluruh tubuhnya terasa sakit dan tangannya terasa kelu, ia terus membuka matanya. Jeni begitu takut kalau Kori akan melakukan hal buruk padanya.
__ADS_1
Jeni menatap ke sekitarnya. Bahkan ia sendiri tidak tahu sedang berada di mana. Mata Jeni terus basah karena air mata yang mengalir karena rasa takut dan sedih. Ia hanya berharap ada seseorang yang bisa membantunya keluar dari sana. Entah kenapa ia memikirkan Vante.
“Aku … apa yang harus aku lakukan. Aku tidak percaya Kori ternyata adalah seorang penjahat. Aku tidak bisa menghubungi siapapun sekarang. Kalaupun mereka menyadari bahwa aku menghilang, apa mereka bisa menemukanku di tempat ini?”