
Tentu saja Vante sudah mencari tahu. Semua tentang Jeni. Kegiatannya kini, di mana ia tinggal, dengan siapa saja dia dekat, dan lain sebagainya. Salah satu alasannya masih berharap hingga kini adalah karena Vante tahu bahwa Jeni sedang tidak dekat dengan pria manapun, meskipun banyak pria yang mendekatinya.
Hal pertama yang Vante lakukan meskipun lelah adalah pergi ke tempat latihan Jeni. Dia tahu gadis itu akan segera memiliki penampilan terbarunya dalam sebuah judul teater yang akan datang. Bertempat di sebuah teater yang memang cukup klasik di pusat negara mereka dengan kapasitas penontong hingga hampir lima ribu orang sekali penampilan.
Duduk di salah satu titik buta, tak akan ada yang bisa melihat wajah Vante. Ia tersenyum begitu lebar saat akhirnya melihat Jeni setelah sekian lama. Banyak sekali yang berubah dengan wanita itu melalui fisiknya. Apalagi dengan dandanan panggung antagonis sesuai dengan peran yang ia lakukan kini.
Vante menikmati sekali menonton latihan akhir dari sang wanita. Tak menunggu lama, sebelum sesi latihan usai, ia dengan cepat menuju belakang panggung dan meninggalkan satu buket bunga yang paling besar di sana. Begitu Vante melihat, ternyata tak hanya buket bunga darinya saja yang ada di sana, tapi ada punya beberapa pria lainnya.
Vante memiliki ide dan tersenyum girang. Ia mengambil tiga buket bunga yang ada di sana dan menggantinya dengan miliknya sendiri. Vante membawa tiga buket bunga itu keluar ruangan dan membuangnya ke dalam tong sampah.
Sekali, dua kali, dan terus dia melakukan hal yang sama. Sesekali ia titipkan melalui kurir dan sesekali ia lakukan sendiri. Vante belum berani mengekspos dirinya pada Jeni. Entah kenapa dia jadi tak memiliki keberanian untuk melakukannya. Mungkin memang hanya ingin mengawasi dulu untuk sesaat.
Seminggu berada di teater itu dan menjadi penonton setia, Vante bahkan hafal dengan beberapa adegan juga naskah yang Jeni bayangkan. Namun walaupun begitu sering melihat penampilan itu, Vante juga masih tersenyum begitu lebar setiap kali Jeni menunjukkan dirinya.
Hingga suatu hari, Vante merasa tak bisa menunggu lagi. Dia memutuskan untuk menemui Jeni secara langsung. Mengenai responnya nanti, ia akan memikirkannya belakangan. Kali ini bukan bunga, melainkan sebuah cincin yang tersimpan rapi di dalam kotak yang akan ia bawa untuk menemui sang pujaan hati.
Vante mengawasi dari dalam mobilnya saat pengunjung sudah berlalu pergi. Semua artis pasti akan keluar paling terakhir setelah sesi evaluasi dan lain sebagainya. Vante juga sudah hafal dengan itu. Hingga akhirnya Vante bisa melihat satu per satu pemain teater itu meninggalkan gedung melalui pintu belakang.
Vante bisa melihat Jeni mulai berjalan, tapi rupanya sebelum Vante, ada seorang pria yang mendekat padanya dan dengan sok akrab mencium pipi kiri dan kanannya. Mereka kemudian berjalan menuju sebuah mobil sedan mewah yang tak jauh terparkir dari sana. Vante mengenali pria itu kini. Pria dengan rambut pirang yang ia lihat sebelumnya, JK.
__ADS_1
“Apa? Dia pria itu kan? Kenapa mereka bisa saling mengenal? Kenapa Jeni pergi begitu saja dengan pria itu?” tanya Vante yang mendadak kesal.
Ia secara reflek mengikuti dua orang tersebut yang ternyata berhenti di sebuah kedai burger yang memang cukup terkenal di wilayah itu. Tampak nyaman satu sama lain mereka terlihat berbincang kecil dan tertawa satu sama lain. Vante mengikuti dan memilih kursi yang tepat berada di belakang Jeni. Vante coba mendengarkan semua percakapan keduanya.
Di lain sisi, Jeni hanya tersenyum ramah saja. Pria dihadapannya sekarang ini memang sudah beberapa kali ia temui. Ia memperkenalkan diri sebagai Kori. Seorang pebisnis muda yang mengaku menyukai penampilannya. Jeni percaya saja karena pria itu memang terlihat baik dan juga cukup tampan.
Kori punya badan yang cukup kekar walau tersembunyi di balik pakaiannya yang rapi. Selain itu ia juga punya dua pesona yang menarik di wajahnya. Ia punya sisi seksi yang terlihat membahayakan, tapi juga punya sisi imut yang menggemaskan. Pada intinya, di mata Jeni, Kori terlihat seperti pria yang baik.
“Akhirnya setelah sekian lama, kamu mau juga makan malam denganku. Aku senang sekali, Jeni,” ucap Kori dengan matanya yang berbinar.
“Ya, aku minta maaf sudah menolak ajakanmu beberapa kali. Kau tahu kan aku perlu sedikit berhati-hati dengan pria asing sepertimu,” ucap Jeni tersenyum.
“Ya itu benar, tapi aku harap kita bisa berteman setelah ini,” ucap Jeni ramah.
“Aku pikir sebelumnya, kau menolakku karena memang sudah memiliki pasangan. Kalau sudah begitu, aku tidak mungkin akan melangkah lebih jauh. Lalu kau bilang kau sedang tidak memiliki siapapun di sisimu. Itu kenapa aku memilih untuk terus maju,” ucap Kori lagi.
“Hehehe. Kau ini cukup percaya diri ya,” ucap Jeni.
“Hahaha. Kenapa tidak? Aku masih muda dan sendiri. Aku juga cukup sukses dengan pekerjaanku. Aku juga memiliki satu ibu yang sangat baik padaku dan hidup dengan sehat. Apa yang harus membuatku merasa tak nyaman?” tanya Kori.
__ADS_1
‘Ah, kau beruntung setidaknya masih memiliki satu orang tua. Mungkin kau mengetahuinya, tapi aku hanya punya satu kakak laki-laki,” ucap Jeni.
“Ya, aku pernah mendengarnya dan karena itu aku menyinggung ibuku. Aku hgarap suatu saat kau bisa datang ke rumah kami dan berkenalan dengannya. Dia pasti akan memperlakukanmu dengan baik seperti anak sendiri. Percaya saja padaku,” ucap Kori tersenyum.
“Ya ampun. Kamu memang berbeda,” ucap Jeni.
“Ah ya, dan aku terus terang aku tidak menyangka aktris sepertimu bisa menikmati makanan seperti ini di tempat semacam ini,” ucap Kori lagi.
“Memangnya kenapa? Apa ada yang salah dengan tempat ini?” tanya Jeni menatap ke sekitar.
“Ya tentu saja tidak ada. Hanya saja aku pikir wanita sepertimu akan lebih menyukai tempat yang mewah dan elegan seperti restoran?” tanya Kori lagi.
“Ah, itu berlebihan. Burger adalah salah satu makanan favoritku. Bagiku dulu menu ini bahkan sangat mewah,” ucap jeni.
“Aku rasa aku makin menyukaimu setelah kini,” ucap Kori dan keduanya tertawa.
Mereka menikmati makan malam mereka dengan nyaman dengan tidak menyadari bahwa ada seseorang yang begitu fokus dengan perbincangan keduanya dari sisi yang lain. Ia hanya bisa begitu kesal, tapi juga memikirkan kemungkinan terburuk. Bagaimana bisa dari sekian banyak pria, justru pria yang tinggal di rumah Darco lah yang berhasil mendekati Jeni.
“Sialan! Siapa pria ini sebenarnya? Dan apa maksudnya mendekati Jeni seperti ini?” tanya Vante lirih pada dirinya sendiri.
__ADS_1