
Jeni sedang menikmati pagi liburnya di rumah. Baru selesai mandi mengenakan pakaian tidur yang nyaman dengan rambut yang basah, Jeni menyeduh kopi panas untuk dinikmati di ruang keluarganya. Menyalakan TV, tapi tidak menontonnya. Hanya perlu suara untuk membuatnya merasa tidak terlalu kesepian.
Apartemen yang ukurannya sudah jauh lebih baik ini terasa begitu sunyi tanpa teman lain. Irene satu-satunya sahabatnya kini telah menjadi seorang istri. Biasanya Jeni akan didampingi oleh penata rias dan rambut bernama Paula dan asistennya bernama Omara. Keduanya sering muncul hanya ketika hari kerja saja, tapi tidak selain itu.
Jeni sesekali meminum kopi di dalam cangkir yang menghangatkan tangannya. Hingga ia bisa mendengar bel apartemennya berbunyi. mengernyitkan dahi dan bertanya di dalam hati siapa yang datang pagi-pagi begini. Jaeni mendekat ke arah pintu dan membukanya tanpa ragu.
Ia begitu terkejut melihat sebuah rangkaian bunga yang besar dan juga boneka hampir setinggi setengah tubuh pria dewasa. Menutupi seluruh wajah orang yang sedang berdiri di sana. Garis senyumnya sedikit terangkat melihat bunga yang indah dan boneka yang lucu.
“Wow, ini besar sekali. Dari siapa ini sebenarnya?” ucap Jeni spontan.
“Dariku,” ucap Vante yang tersenyum ramah.
Diam membeku. Entah harus merespon apa, tapi tangan Jeni mendadak begitu lemas. Sudah terlalu lama ia tidak melihat pria yang kini berdiri di hadapannya. Ia tidak tahu harus merespon apa dan bagaimana, tapi yang jelas perasaannya segera bercampur aduk.
“Jeni, bagaimana kabarmu?” tanya Vante dengan lembutnya.
PLAK.
Satu tamparan keras melayang di wajah tampan Vante. Cukup keras hingga membuat pipi itu dengan segera memerah dan terasa panas. Vante menerimanya begitu saja karena ia yakin bahkan yang lebih buruk dari tamparan itu akan segera datang.
“Jeni, aku tahu banyak sekali kemarahan yang terpendam di dalam dirimu dan kau sangat boleh meluapkannya padaku. Setidaknya biarkan aku masuk dan coba untuk menjelaskan diriku padamu,” ucap Vante masih mencoba bersikap tenang.
“Kenapa aku harus melakukannya pada pria jahat sepertimu? Sejak awal, kau sudah banyak berbohong padaku. Kau berbohong dengan namamu dan kisah hidupmu. Kau juga mengingkari kata-kata yang kau buat sendiri. Bukankah akan dengan mudah bagimu untuk berbohong kali ini?” tanya Jeni dengan nada suara penuh kekecewaan.
__ADS_1
“Jeni, aku tahu aku bersalah dan aku minta maaf untuk semua itu, tapi aku masih ingin menjelaskan semuanya padamu.Tolong kasih aku kesempatan untuk menjelaskan,” ucap Vante lagi.
PLAK.
Sekali lagi tamparan itu terdengar nyaring. Setelah melakukannya untuk kedua kali, entah kenapa Jeni mempersilahkan Vante untuk masuk ke dalam apartemennya. Duduk mereka masih begitu berjarak dan saling berhadapan terbatas oleh meja yang ada id tengah.
“Apartemenmu cukup luas dan nyaman juga. Aku senang kau akhirnya hidup dengan lebih baik,” ucap Vante.
“Cukup, Vante. Aku ingatkan lagi mempersilahkan masuk untuk menjelaskan semuanya. Jadi, lebih baik lakukan itu sekarang!” ucap Jeni yang masih kesal.
“Baiklah. Sebelumnya aku yakin kau sebenarnya sudah mendengar semua penjelasanku saat kita berada di rumah sakit. Anggap saja itu adalah masa lalu yang sudah lewat. Sekarang aku adalah Vante dengan kehidupanku yang baru,” ucap Vante mengawali.
Jeni masih mengawasi dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
“Semuanya terdengar mengerikan!” kata Jeni terlihat acuh.
“Ya, dan karena itu aku merasa perlu membersihkan diriku sendiri dari masa lalu. Aku pergi dengan identitasku yang sebenarnya. Namaku adalah Vante. Lengkapnya Tej Vante Kalanath. Aku masih memiliki seorang paman bernama Sanchez. Ia juga yang banyak membantuku hingga akhirnya aku kini adalah seorang pebisnis yang memiliki sebuah perusahaan baru di bidang pengembangan game online.” Vante menjelaskan panjang lebar.
“Apa kemudian kau merasa bersih sekarang setelah merubah nama dan pekerjaanmu? Apa lalu kemudian kau merasa benar dengan semua tindakan buruk di masa lalu?” tanya Jeni sinis.
“Tentu tidak. Aku masih memikirkannya setiap hari, setiap malam. Aku merasa bersalah terutama pada keluarga mereka yang ditinggalkan. Meskipun mereka semua yang mati di tanganku adalah penjahat, tapi aku tetap saja tidak punya hak untuk menghabisi nyawa mereka. Aku hidup dengan menanggung rasa bersalah dan itu kenapa aku berusaha untuk selalu melindungi keluarga mereka yang tersisa,” ucap Vante lagi.
“Apa maksudmu?” tanya Jeni masih ingin tahu.
__ADS_1
“Selain bisnis, aku memiliki sebuah organisasi nirlaba yang merawat keluarga korban pembunuhan. Aku memberikan pelayanan baik secara finansial maupun psikologis untuk mereka. Aku memberikannya secara cuma-cuma hingga mereka sanggup kembali ke kehidupan normal tanpa bantuan organisasi kami lagi.” Vante menjelaskan panjang lebar.
Tidak banyak yang bisa Jeni bantah untuk itu, jadi dia menanyakan hal lainnya.
“Lalu apa hubungannya dengan kedatanganmu kini? Apa kau merasa sudah menjadi pahlawan dan ingin menunjukkannya padaku?”
“Tentu saja tidak. Aku datang untuk memenuhi janjiku kepadamu. Ini memang sangat terlambat dari yang aku perkirakan. Ternyata membangun sebuah bisnis tidak pernah semudah itu. Jatuh dan bangun harus aku lalui hingga berada di titik ini. Aku tahu itu sama sekali bukan alasan, tapi setidaknya aku kembali kini,” ucap Vante lagi.
“Bagaimana kalau kau terlambat? Bagaimana kalau aku sudah tidak lagi mengharapkan kedatanganmu?” tanya Jeni yang masih kesal.
“Ya, bagaimanapun aku tetap akan meminta maaf untuk itu, tapi bukan berarti aku akan menyerah. Aku harap bisa bersamamu membuka lembaran yang baru.” vante terlihat begitu tulus.
“Kau sepertinya terlalu percaya diri. Kau pikir dengan statusmu yang baru ini aku akan luluh begitu saja?” tanya Jeni kesal.
“Tentu saja tidak. Aku juga sudah mengira tidak akan mudah bagimu untuk memaafkanku, tapi melihat bagaimana kau memberiku kesempatan untuk menjelaskan, sudah berarti banyak bagiku.” Vante tersenyum dengan tulus.
“Jangan salah paham. Aku hanya tidak suka kau mengganggu tetanggaku yang lain. Itu kenapa aku memintamu masuk,” ucap Jeni mengalihkan pandangannya.
Tak lama bel apartemen itu berbunyi lagi. Entah siapa kali ini, tapi Jeni berjalan untuk membukakan pintu. Sosok yang cukup mengejutkan berdiri di sana. Itu adalah Kori yang sedang berdiri dengan setelan olahraga yang santai. Ia tersenyum manis dan menggemaskan.
“Kori …?”
“Hei, aku datang untuk membawamu pergi sarapan. Kau pasti belum makan kan?” tebak Kori ramah.
__ADS_1
“Y-ya sih, tapi ….” Jeni meirik ke belakang.