Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia

Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia
Memilih Pergi


__ADS_3

Juan sedang berada di kamar sang adik. Gadis itu sudah melewati masa kritis, tapi tetap saja belum juga sadar. Setelah penanganan insentif pada bagian kepalanya, Jeni dikabarkan akan sadar dalam dua atau tiga hari lagi. Juan begitu khawatir kalau adiknya tidak akan membuka matanya.


“Dokter sudah bilang dia akan baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir dan lebih baik kita doakan yang terbaik untuknya,” ucap Hope menepuk pundak sang sahabat.


“Dia … satu-satunya keluarga yang aku miliki. Aku sangat menyayanginya. Aku tidak akan sanggup kalau dia-”


“Jangan berpikir yang tidak-tidak. Lebih baik kau fokus saja pada apa yang terjadi padanya dan kenapa dia bisa seperti ini,” ucap Hope lagi.


“Apa … kau sudah mendapat informasi?” tanya Juan ingin tahu.


“Hal pertama yang aku lakukan adalah memeriksa CCTV di lokasi kampus Jeni. Setelah diikuti, dia memang diculik oleh sebuah mobil SUV. Kami sedang berusaha mencari siapa pemilik mobil itu. Berdasarkan hasil penelusuran, mobil itu terdaftar sebagai mobil perusahaan judi milik Darco,” ucap Hope.


“Maksudmu … Darco mengincar adikku? Apa mungkin dia ada di gudang itu sesaat sebelum kita datang?” tanya Juan yang masih bingung.”


“Aku rasa begitu. Tidak ada CCTV di area gudang juga di radius sekitar lima kilometer dari kejadian, tapi SUV itu memang terlihat di sekitar sana terakhir kali menurut beberapa saksi mata. Kalau untuk apa, terus terang aku tidak tahu.” Hope juga berhenti di sana.


“Kalau bukan untuk memancing kita, lalu untuk siapa Jeni diculik?” tanya Juan kemudian.


“Bagaimana dengan pria yang sedang kita tahan di kantor itu? Vee namanya kan? Ya kalau dipikir lagi, itu satu-satunya kemungkinan. Kau juga dengar kan apa yang Vee katakan sebelumnya. Darco juga membunuh orangtuanya, jadi dia juga punya dendam pada Darco. Aku tidak tahu juga, tapi mungkin saja Vee dan Jeni saling mengenal,” ucap Hope.


“Jangan asal bicara! Adikku ini tidak mungkin mengenal sosok penjahat seperti Vee!” ucap Juan kesal.


“Bagaimanapun, kau tidak bisa menutup mata. Kita akan menggali bukti lebih dalam. Sementara ini yang terbaik adalah penjelasan dari Jeni. Dia pasti tahu pasti apa yang terjadi padanya,” ucap Hope lagi.

__ADS_1


“Kau benar. Apapun itu setidaknya Jeni selamat. Butuh waktu untuk pulih, tapi dia pasti akan baik-baik saja,” ucap Juan lagi.


Saat Juan masih duduk di sisi sang adik dengan menggenggam tangannya, Hope menerima telepon. Entah apa yang dia bicarakan, tapi dia kembali dengan terburu-buru.


“Juan, ada masalah,” ucap Hope.


“Apa?”


“Kapten, ia melepaskan Vee,” ucap Hope yang cepat membuat Juan bereaksi.


Dia segera mengendarai mobilnya dengan sangat cepat menuju kantor polisi bersama Hope. Di saat yang tak jauh berbeda di mana Vante akhirnya menunjukkan diri setelah mengamati dari tadi. Perasaannya begitu campur aduk melihat Jeni berbaring tak berdaya.


“Jeni, ini aku Vee. Aku datang untuk menemuimu,” ucap Vante ketika itu.


“Pertama, aku bukan laki-laki yang baik. Aku adalah seorang kaki tangan mafia. Kakakmu, Juan, adalah polisi jujur yang selama ini berusaha menangkapku mati-matian. Awalnya aku tidak tahu kenapa, tapi sepertinya pada akhirnya aku tahu.”


“Kedua, mafia yang aku ikuti selama ini bernama Darco. Juan mengincarku karena Darco adalah laki-laki yang memerintahkan anak buahnya untuk mengejar seorang tawanan yang tak lain tak bukan adalah ibuku. Benar, mereka hanya hadir di saat yang tidak tepat dan bertemu dengan orang yang tidak tepat juga.”


“Ketiga, aku minta maaf, tapi aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan kematian kedua orangtuamu. Aku sendiri juga kehilangan orangtuaku. Darco membunuh mereka. Karena kebakaran besar, aku trauma dan hilang ingatan. Darco yang membesarkanku dan membuatku menjadi seorang penjahat.”


“Keempat, aku tidak bisa terus berada di sini. Pamanku menyarankan agar aku pergi untuk beberapa tahun. Kau mungkin mengira aku melarikan diri, tapi aku memang tidak bersalah dan waktu yang akan membuktikannya. Aku pergi untuk hari bahagia yang panjang bersamamu. Meskipun saat bangun nanti kau akan marah besar padaku, tapi aku mohon bersabarlah,” ucap Vante terkahir kali.


“Ah ya, dan satu lagi. Namaku bukan Vee atau pria misterius. Namaku adalah Vante. Nama itu adalah pemberian kedua orangtuaku. Ayahku bernama Boirez dan ibuku bernama Clarissa. Kalau kau tidak mengingat mengenai orangtuamu, maka akupun juga begitu. Ya … pada akhirnya aku mengingat mereka baru saja karena pamanku, Sanchez."

__ADS_1


Vante memilih untuk pergi setelah mengecup kening Jeni cukup lama. Setelah pria itu menghilang dari balik pintu, air mata menetes dari Jeni yang masih berbaring. Gadis itu mendengar semuanya, tapi tubuhnya memang belum bisa digerakkan sama sekali.


Begitu tiba di lur rumah sakit, Vante segera memasuki mobil Sanchez. Sesuai keinginan sang paman, ia terbang ke luar negeri.


“Aku janji akan kembali dengan menawarkan kehidupan yang lebih baik untukmu, Jeni. Aku harap kau akan menungguku,” ucap Sanchez dalam hatinya.


Di kantor polisi, Juan langsung menerobos masuk ke dalam ruangan sang kapten. pria itu dengan segera meminta penjelasan dari sang atasan mengenai dilepasnya Vante.


“Apa lagi yang kau harapkan? Vante sudah terbukti tidak bersalah dalam kasus ini,” ucap sang kapten.


“Tidak bersalah?” tanya Juan.


“Apa kau belum mendapat laporannya? Peluru yang membunuh Darco, tidak berasal dari pistol yang dipegang oleh Vante. Lalu untuk alasan apa lagi kita menahannya? Usaha ilegal yang ia lakukan? Jual beli senjata api? Semua itu dilakukan oleh Vee kan, tapi pria yang sudah kulepaskan itu bernama Vante. Mereka adalah dua orang yang berbeda,” ucap sang kapten dengan mudahnya.


“Apa? Ini sangat tidak masuk akal!” Juan bicara frustasi.


“Lagipula, Vante sudah bebas karena jaminan yang diberikan oleh pamannya pada kita. Kita tidak punya alasan lagi untuk menahannya lebih lama. Pria yang kau cari adalah Vee yang kehilangan semua ingatan masa lalunya. Dia adalah seorang pria yang sakit secara fisik dan mental,” ucap sang kapten lagi.


“Aku masih tidak mengerti. Ini benar-benar konyol,” ucap Juan.


“Lalu apa kau ingin membantahku dengan keputusan ini?” tanya sang kapten lagi.


“Juan, Kapten benar. Aku sudah menerima hasil olah TKP juga. Vante atau Vee memang tidak bersalah. Dia terlepas dari semua tuduhan karena Darco juga sudah tewas,” ucap Hope.

__ADS_1


“Belajar merelakan. Darco yang menjadi puncak kebencianmu selama ini sudah tewas,” ucap sang kapten sebelum Juan dan Hope pergi.


__ADS_2