Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia

Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia
Mari Kembali


__ADS_3

Vante sebenarnya datang untuk mengamati kegiatan Jeni seperti biasanya. Ia tahu jenis sedang libur hari ini jadi dia pergi ke apartemen gadis itu. Vante mengamati dari kejauhan dengan motor besarnya yang terparkir di sebuah gang sempit.


Vante menyalakan rokoknya menunggu Jeni keluar dari rumah itu. Biasanya entah ia akan berbelanja atau mencari makanan bahkan membuang sampah, gadis itu pasti akan muncul. Vante mendadak awas begitu ada sebuah mobil yang terlihat tak asing berhenti di depan apartemen Jeni. itu adalah Hope yang jelas terlihat tampil tak biasa.


Benar saja kecurigaannya karena tak lama setelah itu terlihat Jeni keluar dari apartemennya. Gadis itu mengenakan pakaian yang cantik dan juga tersenyum sangat cerah. Entah kenapa dia merasa harus bergegas mengikuti keduanya. Menaiki motor hitamnya, ia memilih untuk pergi.


Perjalanan cukup jauh hingga Vante berada di sebuah pantai. Ia mengamati dari kejauhan semua pergerakan Hope dan Jeni yang terlihat akrab. Mereka terlihat bermain dan juga tertawa di pantai itu sepanjang hari. Entah kenapa Vante menyadari bahwa ia memiliki satu emosi baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, cemburu.


“Kalau dipikir lagi, aku tidak pernah bertindak sebodoh ini karena seorang perempuan. Hmh. Kau memang luar biasa hebat, Jeni. Kau satu-satunya perempuan yang bisa membuatku gila,” ucap Vante yang menertawakan dirinya sendiri.


Begitu melihat kesempatan saat Hope pergi meninggalkan Jeni, Vante langsung bergerak menghampiri. Memberinya satu wejangan panjang agar ia segera pulang dari sana. Sejujurnya Vante menyadari bahwa ia telah melewati batas.


“Padahal aku yang memintanya untuk tidak mencariku, tapi aku datang ke sini dan bertingkah seperti pria yang tak waras. Ada apa denganku?” tanya Vee yang berjalan.


Setelah memerintah Jeni dengan seenaknya, vante bahkan sempat mencium bibir gadis itu. Jujur dia sangat kesal melihat pemandangan kencan yang memuakkan itu dan memutuskan untuk memberi sedikit pelajaran pada Jeni. Gadis itu terdiam bahkan memandang dengan sedikit takut pada pria itu.


“Maaf, Jeni. Kau mungkin berpikir aku pria yang aneh. Aku yang memintamu untuk tidak mencariku selama aku menjalankan tugas, tapi aku juga yang datang berlari ke arahmu seperti ini. Mungkin sedikit membingungkan, tapi mungkin ini hanya aku yang sedikit obsesif saja. Aku harap kamu mengerti,” kata Vante lagi.


Jeni masih terlalu sulit untuk mencerna semuanya. Pikirannya mendadak tertuju pada sosok Vee yang entah datang dari mana. Jeni jadi bertanya apa selama ini pria itu memang mengawasinya dari jauh dan juga mengikutinya kemanapun? Entah apakah dia harus merasa bersyukur atau khawatir.

__ADS_1


Wanita biasa pasti sudah melapor pada polisi, atau setidaknya keluarga terdekat saat hal mengerikan semacam ini terjadi. tapi, tanpa Jeni sadari, itu juga sudah menjadi pembuktian. Bahwa pria misterius itu serius dengan perkataannya bahwa ia akan kembali saat tugasnya selesai. Dan terutama bahwa, ia memang jatuh cinta pada sosok Jeni.


“Hm, Hope, kalau tidak keberatan, apa kita bisa kembali setelah ini? Aku ingat kau mengatakan tentang bicara pada kakakku mengenai obsesinya. Kalau tidak keberatan, kau bisa antar aku menuju apartemen Kakak,” ucap Jeni pada Hope.


“Ya, tentu saja. Aku akan mengantarkanmu. Tapi … apa seharusnya kita tidak membicarakan hal yang lain dulu sebelum pergi?” tanya Hope penuh arti.


“Hmh, tentang itu. Aku mengerti maksudmu, Hope. tapi, maaf aku rasa tidak akan ada yang berubah. Aku sangat menyesal, tapi aku serius saat mengatakan tidak bisa menganggapmu lebih dari seorang kakak.” Jeni menekankan.


“Ah, begitu. Aku rasa aku tidak bisa memaksamu kan. Aku mengerti. Hm … setidaknya aku mencoba,” ucap Hope dengan senyum yang dipaksakan.


Hope sesuai janjinya akan mengantarkan Jeni ke apartemen milik Juan. Ia akan coba untuk membiasakan diri setelah ini. Toh dari awal, dia yang memang keras kepala. Padahal Jeni sudah memberi sinyal bahwa dirinya memang tak tertarik padanya sebagai seorang laki-laki.


“Sudah sampai. Kau bisa masuk. Aku akan pulang,” ucap Hope begitu berhenti di depan apartemen Juan.


“Kau tidak ikut?” tanya Jeni.


“Tidak. Ini harusnya memang menjadi momen antara kau dan kakakmu. Aku tidak akan mengganggu.” Hope menatap lurus ke depan.


Jeni segera turun dari mobil itu dan berpamitan. Hope memastikan adik sahabatnya itu masuk ke dalam apartemen. Mereka berpisah dari sana dengan rasa masing-masing. Jeni memandang mobil itu menjauh dan Hope memperhatikan sosok itu dari kaca spionnya.

__ADS_1


Jeni masuk ke dalam apartemen dan dengan cepat masuk ke dalam pintu. Jeni memang sudah mengetahui kode pintu milik sang kakak. Meskipun ia sudah lama sekali tidak datang berkunjung karena sibuk. Jeni memanggil nama kakaknya di kamar yang terlihat suram itu.


“Kak, ya ampun, kenapa gelap sekali,” ucap Jeni.


Gadis itu terkejut begitu ia menyalakan lampu. Kamar itu sangat berantakan. Bekas kemasan makanan sisa. pakaian kotor di mana-mana. Lantai yang bahkan berdebu. tapi, ia lebih terkejut lagi saat melihat ke arah jendela apartemen itu.


Jeni bisa melihat bagaimana dinding itu penuh sekali dengan foto juga beberapa coretan. Jeni bahkan hanya bisa menganga melihat pemandangan yang menyesakkan mata mata itu. Kakaknya jelas sudah terlalu terobsesi dengan semua ini.


Mendengar suara sang adik, Juan keluar dari kamarnya. Masih sangat berantakan, jelas sekali pria itu baru terjaga dari tidurnya. Jujur di dalam hati terdalam, Jeni merasa iba pada sang kakak dan kehidupannya yang memprihatinkan.


Jeni tanpa sadar mulai menangis. “Kak, sudah, Kak. Jangan dilanjutkan!”


Tentu saja Juan bingung dengan sikap sang adik. Pria itu bertanya ada apa dan Jeni hanya bisa menangis. Jeni mengatakan bahwa ia akan bicara setelah kondisi rumah itu terlihat lebih baik. Pada akhirnya, keduanya berlanjut dengan kegiatan membersihkan rumah.


Jeni sedang sibuk memilih barang-barang yang perlu dibuang, sedangkan Juan sedang mencuci peralatan makan yang kotor. Jeni sesekali masih menangis dan mengusap air matanya yang menetes. Saat itu lah Jeni mulai bicara.


“Kak, sampai kapan kau akan terus seperti ini?” tanya Jeni dengan suara terbata.


“Apa maksudmu sebenarnya? kau datang dan langsung menangis. Sekarang malah bicara yang tidak jelas,” ucap Juan yang merasa bingung.

__ADS_1


“Kak, apa kau tidak melihat semua kekacauan ini? Kau itu terlalu dibutakan oleh dendam. Kau terlalu sibuk mencari penjahat yang telah membunuh kedua orang tua kita. Sedangkan kau sendiri lupa pada apa yang sedang kau miliki. Aku dan juga dirimu sendiri,” kata Jeni panjang lebar.


__ADS_2