Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia

Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia
Di mana Dia?


__ADS_3

“Irene, aku seharian ini berusaha menghubungi Jeni, tapi kenapa dia tidak mengangkat teleponku ya? Bagaimana denganmu?” tanya Juan setelah meletakkan ponselnya.


“Aku juga belum menghubunginya hari ini. Setahuku dia kemarin memang pergi bersama pria yang baru dikenalnya itu. Kalau tidak salah, namanya Kori. Hanya saja memang setelah itu aku belum mendengar apapun tentangnya lagi.” Irene mengusap perutnya yang sesekali bergejolak.


“Aku sepertinya harus pergi dulu ke apartemen Jeni. Aku akan mengintip kamarnya. Kau tunggu di sini ya.” Juan mengambil jaketnya yang tergantung.


Belum sempat Juan meninggalkan ruangan, ada suara bel di depan pintu apartemen mereka. Juan yang memang sudah ada di depan pintu, dengan cepat membukanya dan melihat seorang pria paruh baya berdiri di sana. Juan tentu saja mengernyitkan dahi.


“Ada yang bisa kami bantu, Pak?” tanya Juan.


“Aku datang untuk mengirimkan ponsel ini.” Pria itu menyodorkan ponsel Jeni.


“Ini kan …?”


“Hm, ceritanya panjang, Pak. Kalau kau ingin mengetahuinya dengan lebih jelas, seorang pria bernama Vante sudah berpesan padaku agar kau menghubunginya melalui ponsel ini. Aku hanya seorang supir taksi online yang diminta untuk mengantar ponsel ini pada kalian.”


Pria itu memilih untuk pergi dari sana. meninggalkan Juan dan Irene yang masih saling bertatap. Cepat saja Juan memeriksa ponsel itu dan menghubungi Vante melalui buku telepon yang ada di dalamnya. Juan menunggu dengan khawatir hingga akhirnya nada dering itu berganti dengan suara sapaan di seberang.


“Ada apa ini, Vante?” tanya Juan ingin tahu.


“Ceritanya panjang, tapi aku akan coba untuk menyingkatnya. Jeni pergi dengan seorang pria bernama Kori. Pria itu adalah anak kandung darco bersama istri pertamanya yang bernama Anna. Akan terlalu rumit menjelaskan siapa mereka, tapi intinya mereka datang untuk membalas dendam. Menggunakan Jeni, Kori kini menculik adikmu. Aku sedang berusaha sekuat tenaga untuk mencari posisi mereka. Kau hanya perlu menunggu di rumah.” Vante menjelaskan dari seberang.

__ADS_1


“Bagaimana aku bisa tenang dengan cara seperti ini? Aku tahu adikku diculik dan aku diam saja menunggu di rumah?” tanya Juan tak percaya.


“Kalau kau ingin membantu, maka nanti saat aku mengatakan telah menemukan lokasi mereka, datanglah. Saat ini aku belum membutuhkannya karena Kori sepertinya benar-benar mencari tempat yang bagus untuk menyembunyikan Jeni. Tidak hanya kau yang kahwatir. Aku juga sangat khawatir.” Vante coba untuk menenangkan.


Juan sebenarnya masih tidak puas dengan jawaban Vante. Seolah ia mendadak merasa menyesal telah mengatakan akan merestui hubungan Vante dan Jeni sebelumnya. Kini bahkan sebelum mereka benar-benar bersama, Vante sudah menyebabkan Jeni tertimpa masalah lainnya.


Menunggu dengan penuh khawatir, Irene terus mendampingi Juan. “Aku tahu mudah mengatakannya, tapi bersabarlah untuk sementara. Coba percaya pada Vante. Ia pasti bisa menemukan keberadaan Jeni.”


“Irene, bagaimana aku hanya bisa diam? Rasanya aku tidak berguna kalau hanya duduk saja di sini.” Juan terlihat kalut.


Tak lama kemudian, Juan menghubungi Hope. Ia meminta bantuan pria itu untuk mencoba mencari sang adik. Entah bagaimana caranya. Ia hanya mengantongi cerita dari sang sopir juga nama pelaku. Walau tetap saja belum ada bukti yang bisa digunakan untuk bergerak.


Vante akhirnya berhasil sampai di lokasi hotel lama. Kecurigaannya segera terjawab begitu melihat beberapa orang dengan senjata lengkap berjaga di sekitar hotel itu. Pasti ada sosok Jeni dan Kori di dalamnya. Menunggu kesempatan untuk bergerak, Vante memperhatikan lokasi sekitar. Lagipula ia masih menunggu kedatangan beberapa orang lainnya.


“Jeni, kau masih sadar?” tanya Kori yang berjalan mendekat.


Tentu Jeni tak bisa merespon apapun kecuali tatapan melotot karena takut dan cemas.


“Aku membiarkan tanganmu terlepas, tapi kau dengan berani menamparku. Aku membiarkan bibirmu terbuka, tapi kau justru menggigitku. Sekarang, aku membiarkan kakimu terlepas. Aku yakin akan lebih nikmat rasanya.”


Jeni kembali bergejolak. Jelas ada yang ingin dia katakan meski tertahan. Kori yang tertawa mencibir membuka lakban di bibir sang wanita.

__ADS_1


“Jangan coba-coba, Kori! Apa yang mau kau lakukan padaku?” tanya Jeni penasaran.


Kori hanya bisa tersenyum miring.


“Aku tidak akan menjawabnya. Aku lebih senang kau mengetahuinya sendiri.”


Kori berjalan mendekat, tapi sama sekali Jeni tak bisa mengelak. Ia tak bisa pergi kemana-mana. Kori perlahan kembali memasangkan lakban di mulut Jeni. Sedangkan bibirnya mulai mencium leher dan kemudian menggeret wanita itu ke kamar mandi setelah melepaskan pengaitnya dari tiang ranjang.


“Setidaknya aku berbaik hati karena membiarkanmu melayaniku dalam kondisi tubuh yang bersih. Ikut aku ke kamar mandi dan aku akan memandikanmu di sana.”


Kori menggeret tubuh itu ke kamar mandi. Sengaja memojokkan tubuh Jeni ke pojok shower dan menyiram tubuh wanita itu. Membiarkan air mengalir membasahi tubuh gadis itu. Kori yang kesal segera merobek gaun yang sama yang dikenakannya untuk makan malam dua hari yang lalu.


Pakaian yang terkoyak itu dengan cepat berjatuhan di lantai. Menyisakan pakaian dalam berwarna hitam yang menutupi dua bagian kewanitaannya. Makin kencang Jeni mengelak. Ini adalah saat paling memalukan juga menegangkan dan menakutkan yang pernah ia alami selama hidupnya.


Jeni tentu saja tidak bisa berteriak. Ia hanya bisa menangis. Air matanya bahkan tersamarkan dengan deru air yang menerpa tubuhnya. Jeni berusaha berontak dengan kakinya yang masih terbebas. Mudah saja bagi Kori untuk menahan pergerakannya dengan mengikat kaki Jeni.


“Kau ini benar-benar keras kepala! Akan jauh lebih mudah bagimu untuk menurut padaku. Kau benar-benar ingin memilih kekerasan untuk ini?” tanya Kori yang begitu kesal.


Berusaha mempertahankan tubuhnya sendiri, Jeni berlutut di lantai. Kori yang sama sekali tak peduli, justru melepas pakaiannya dan ikut berjongkok di hadapan gadis itu. Ia kembali mencium leher dan dada Jeni dengan paksaan. Jeni hanya bisa berteriak di balik lakban yang membekap mulutnya.


Hingga tanpa diduga, ada seseorang yang seolah menarik tubuh Kori menjauh. Jeni yang membuka matanya bisa melihat Vante berada di kamar mandi itu dan memukul wajah Kori dengan sangat jelas. Jeni begitu lega dan menangis semakin keras. Akhirnya ada seseorang yang menyelematkannya.

__ADS_1


Di dalam kamar mandi itu, Vante melirik sekilas ke arah Jeni dan dengan cepat memukul dan menendang lagi Kori. Memastikan pria itu babak belur dengan tangannya. Begitu murka karena apa yang telah Kori lakukan pada Jeni.


__ADS_2