Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia

Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia
Berseteru


__ADS_3

Jeni memilih untuk meninggalkan kecanggungan itu dan masuk ke dalam kamar dengan dalih berganti pakaian. Sedangkan di ruang keluarga itu telah saling tatap Kori dan Vante dengan begitu berbeda.


“Hai, aku Kori,” sapa pria itu dengan senyum kelincinya yang khas.


“Aku Vante,” balas pria itu cepat dengan jabatan tangannya.


“Jadi, apa kau sudah lama mengenal Jeni?” tanya Kori berusaha ramah.


“Owh ya, tentu saja. Aku sudah lama mengenalnya. Bahkan sebenarnya kami sangat dekat. Kau pasti mengerti maksudku kan?” tanya Vante tanpa senyum sedikit pun.


“Benarkah kalian sedekat itu? Maksudku kedekatan antara laki-laki dan perempuan begitu kan? Kalau memang iya, kenapa saat aku bertanya pada Jeni, dia bilang tidak sedang dekat dengan siapa pun?” tanya Kori dengan dahi berkerut.


“Ah, itu hanya kesalahpahaman saja. Kami memang selama ini menjalani hubungan jarak jauh dan itu menimbulkan sedikit konflik, tapi karena aku sudah datang sekarang, jadi semuanya pasti akan baik-baik saja,” ucap Vante cepat.


“Benarkah? Dia tidak mengakuimu. Aku pikir kemungkinannya hanya dua. Antara kalian memang sedang bertengkar atau memang Jeni tidak tertarik denganmu. Maka aku pikir sama sekali tidak ada salahnya kan untuk mencoba mendekati Jeni?,” tanya Kori begitu santai.


“Apa? Hahaha. Kau terlalu percaya diri bukan?” tanya Vante setengah mengejek.


“Dan kau pun begitu. Jeni tidak terikat dengan pria manapun untuk saat ini. Kita bisa bersaing dengan sehat kalau kau memang menginginkannya,” tawar Kori.


“Bersaing sehat? Aku bahkan tidak tahu apa tujuanmu mendekati Jeni. Aku tahu siapa kau!” Vante kali ini berusaha untuk lebih tegas.


“Benarkah? Apa kita saling mengenal?” tanya Kori polos.


Vante berusaha untuk tidak melanjutkan lebih jauh. Apalagi bertepatan dengan Jeni yang juga baru keluar dari kamarnya. Mengenakan setelan olahraga santai dengan rambut di ekor kuda.


“Kori, aku sudah siap. Apa kita bisa berangkat sekarang?” tanya Jeni tersenyum ramah.

__ADS_1


“Aku ikut!” Vante dengan cepat menengahi.


“Apa? Kau mau ikut? Mana bisa. Ini kan harusnya antara aku dan -”


“Sudah. Tidak masalah. kalau memang teman kamu ini mau ikut juga tidak akan menjadi masalah.” Kori segera menyela.


“Masalahnya Kori, aku kan jadi merasa tidak enak kepadamu,” ucap Jeni.


“Tidak masalah. Temanmu kan temanku juga,” ucap Kori cepat segera berlalu dari sana.


Entah apa yang meracuni otak Vante. Kenapa juga dia harus memasrahkan diri untuk ikut ke dalam acara sarapan bersama antara Kori dan Jeni. Situasinya mungkin akan menjadi canggung, tapi setidaknya ini adalah caranya untuk berjuang.


Mereka akhirnya berjalan kaki menuju sebuah arena olahraga cukup besar yang memang masih berada cukup dekat dengan wilayah apartemen Jeni. Selain itu di sana juga terdapat beberapa kedai makanan yang juga cukup enak dan nyaman juga.


Cepat semua mata tertuju pada Vante. Bagaimana tidak? Kori dan Jeni mengenakan pakaian yang santai untuk olahraga, sedangkan Vante mengenakan kemeja juga sepatu pantofel yang begitu mengkilap. Benar-benar sangat berbeda.


“Memangnya kau nyaman mengikuti kami dengan pakaian seperti itu? Kenapa harus memaksakan diri?” tanya Jeni yang lama-lama risih juga.


tentu saja jawaban itu hanya bisa membuat Jeni tertawa menggelengkan kepala sedangkan Kori juga menatapnya dengan penuh cemooh. Jelas dirinya memang cukup memalukan hari ini.


Setelah berolahraga santai, mereka menuju sebuah kedai makanan yang berada di tepian jalan. Lagi-lagi pemandangan kontras itu sepertinya menarik perhatian pada pelanggan yang lain. Bahkan penjualnya pun sempat menggoda Vante.


“Owh, Tuan, penampilanmu terlalu menyilaukan untuk kedaiku yang ala kadarnya ini,” ucap sang penjual.


“Setidaknya dengan adanya dia, kedai kita jadi dilirik oleh banyak orang. Lebih baik lagi kalau semakin banyak pelanggan yang datang untuk makan,” ucap seorang wanita yang juga rekan pemilik kedai.


Kembali tertawa kecil, Jeni dan Kori melihat interaksi yang lucu itu. Tentu sama sekali tidak ada yang menarik bagi Vante selain dua insan yang ada di hadapannya ini. Mereka tertawa bersama dan itu justru membuat Vante begitu cemburu.

__ADS_1


“Jeni, apa kau sudah mengenal Kori cukup lama?” tanya Vante ingin tahu.


“Hm, tidak juga. Kita cukup baru mengenal satu sama lain.” Jeni sedikit melirik ke arah Kori.


“Owh, lalu kenapa kau dengan senang hati menerima ajakannya untuk sarapan? Apa kau begitu percaya dengan pria ini?” tanya Vante lagi.


“Apa maksudmu, Vante? Lagipula aku bisa menjaga diriku sendiri dengan baik. Kau jelas bisa melihatnya kan? Lagipula apa kau pikir lebih baik dari Kori?” tanya Jeni yang mulai terpancing emosi.


Vante jadi terdiam. Ia tahu bukan saat yang tepat membuat Jeni marah. Bahkan pagi tadi saja ia belum dimaafkan. Sekarang sudah berulah lagi. Vante hanya kesal karena wajah Kori yang terus tersenyum itu rasanya memang mengundang keributan.


“Ah, biarkan saja. Maafkan aku,” ucap Vante akhirnya.


“Owh ya, Jeni. Karena kalian mengungkitnya, aku jadi ingat. Jeni, apakah pria ini orang spesial bagimu? Dia bilangs edang menjalani hubungan denganmu, apa itu benar?” tanya Kori dengan wajah polosnya.


“A-apa? Dia berkata seperti itu padamu? Ya ampun, Vante, tolong jangan bercanda. Jangan juga membuat Kori jadi salah paham begini. Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya, Kori. Aku harap kau tidak menjadi sungkan,” ucap Jeni cepat.


Entah kenapa Jeni memang sengaja melakukannya. Dia memang masih marah dan kecewa pada kehadiran Vante yang tiba-tiba. Selain itu juga karena bukannya justru bersikap baik, ia malah bertingkah menyebalkan di depan Kori.


Bukannya menaruh hati dan simpati pada Kori, ia hanya merasa tak enak kalau sikap Vante mendadak jadi kasar begitu. Kalau dipikir lagi, dia tidak pernah kembali setelah lima tahun. Lalu kenapa sekarang merasa menjadi paling memiliki.


“Aku lega kalau begitu. Setelah ini kau mau kemana?” tanya Kori dengan lembut.


“Aku sebenarnya tidak punya agenda apapun. Itu karena ini hari liburku dan aku rasa lebih baik kalau aku beristirahat di rumah. Hanya mungkin nanti siang aku ingin pergi ke sebuah toko buku untuk membeli novel. Aku perlu sedikit hiburan di apartemen,” ucap Jeni tersenyum.


“Toko buku? Aku bisa mengantarmu,” ucap Vante cepat.


“Kalau mau, aku juga bisa mengantarmu,” ucap Kori tak mau kalah.

__ADS_1


Jeni menatap dua pria itu bergantian. Entah situasi canggung macam apa lagi yang sudah ia ciptakan. Jeni yang merasa tidak enak pada Kori karena rencana sarapan berdua mereka rusak oleh kehadiran Vante. Jeni juga merasa kesal karena Vante terus menerus mengikutinya.


“Tidak perlu. Aku akan pergi sendiri,” jawab Jeni akhirnya.


__ADS_2