Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia

Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia
Penyelamatan Heroik


__ADS_3

Vante segera membuka jasnya untuk menutup tubuh Jeni tepat setelah ia berhasil melumpuhkan Kori. Walau pria itu memang punya kemampuan bela diri yang mumpuni, tapi tetap saja masih tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengannya.


Tak lama, suara sirine polisi juga bergema jelas di sekitar bangunan hotel. Juan dan Hope yang emosi dengan segera menyusul ke kamar di mana Kori menahan Jeni. Keduanya melihat Kori sudah terkapar di lantai. Menahannya dengan cepat dengan tuduhan penculikan.


"Aku akan mengurusnya. Kau urus Jeni untukku. Cepat pergi dari sini." Juan memberi perintah.


Tanpa menunggu lama, Vante membawa Jeni menuju rumahnya sendiri. Dibantu oleh Maria merawat semua lukanya juga mengganti pakaiannya dengan yang baru. Dibantu juga oleh tenaga medis yang ahli memasang infus untuk mengganti nutrisi yang hilang beberapa hari ke belakang.


Vante yang sesekali memperhatikan kondisi Jeni akhirnya bisa bernafas dengan lega setelah gadis itu kini berada di rumahnya. Sementara itu, ia juga masih sering berhubungan dengan Juan untuk berbincang mengenai Kori yang ditahan polisi. Terakhir yang ia dengar, Anna dalam perjalanan ke sana untuk menyelamatkan putranya.


"Semua bukti yang kau berikan padaku ini, akan membantu kepolisian untuk menangkap Anna. Dia pikir datang kesini untuk menyelamatkan Kori, padahal dia datang untuk menyerahkan dirinya sendiri." Juan terdengar begitu puas di seberang.


"Aku lega mendengarnya. Bukankah … kau harusnya berterima kasih untuk itu? Setelah ini kamu mungkin akan mendapatkan kenaikan jabatan karena sudah berhasil menyelesaikan satu kasus besar." Vante dengan kesombongannya.


"Hahaha. Sejujurnya kau benar juga. Kalau bukan karena bantuanmu, aku tidak akan bisa melakukannya. Hanya saja aku masih heran, dari mana kau bisa mendapat semua dokumen ini? Kenapa rasanya begitu mudah padahal aku saja tak mencium adanya kejahatan prostitusi sebesar itu di kota ini?" tanya Juan penasaran.


"Anggap saja … aku masih punya kemampuan mafia yang dulu aku miliki. Kalau hanya untuk mencari data-data gelap semacam ini, sungguh akan mudah untukku." Vante percaya diri.


"Aku jadi berpikir lagi, kalau semua mafia di negara ini sepertimu, bukankah kita akan menemukan kedamaian dunia dengan mudah?" tanya Juan.


"Hahaha. Hanya dalam mimpimu, Juan. Dunia ini dirancang dengan tidak adil. Itu memang sudah suratan takdir. Ada yang memimpin dan ada yang dipimpin. Ada yang tertindas dan ada mereka yang menindas. Dunia akan selalu seperti ini." Vante bicara lagi.

__ADS_1


"Ya, itu masuk akal juga. Lalu bagaimana dengan Jeni? Apa dia baik-baik saja?" tanya Juan kini khawatir.


"Dokter sudah memeriksanya. Dia baik-baik saja. Masih tertidur hingga saat ini. Setidaknya ia bisa beristirahat dengan tenang." Vante melirik ke arah pintu kamarnya yang terbuka.


"Aku lega mendengarnya. Nanti setelah menangkap Anna, aku akan pergi menjenguknya. Di rumah sakit mana kau membawanya?" tanya Juan.


"Siapa yang bilang kami sedang berada di rumah sakit? Aku membawanya ke rumahku. Akan kukirimkan alamatnya nanti padamu." Vante menutup ponselnya.


Di rumah keluarga Darco, Anna sangat murka ketika ia mendengar dari anak buahnya bahwa Kori tertangkap oleh polisi. Tentu saja tanpa berpikir panjang, ia segera pergi ke kantor polisi untuk menyelamatkan sang putra. Berniat untuk membebaskannya dengan jaminan sebesar apapun.


"Nyonya, bukankah lebih baik kalau kita pergi dari sini? Polisi mungkin sudah mengetahui mengenai usaha Anda." Anak buahnya mencoba untuk meyakinkan.


"Dan meninggalkan Kori di penjara itu sendirian? Kau pasti bercanda!" Anna meraih tas jinjingnya dan segera beranjak.


"Vante sialan! Ini semua pasti terjadi karena dia."


Begitu tiba di kantor polisi, Juan sudah menunggu di meja kerjanya dengan santai. Sedangkan Anna datang menggebrak meja di hadapannya itu. Ia menyatakan keberatannya atas dipenjaranya sang putra kesayangan itu.


"Petugas, saya datang untuk membebaskan anak saya. Dia tidak menculik siapa-siapa!" Ucap Anna yang sudah mendengar sedikit.


"Maaf, Nyonya. Buktinya sudah sangat jelas. Kami semua melihatnya dan berada di tempat yang sama. Termasuk didalamnya adalah bukti rekaman kamera CCTV di tempat kejadian. Motifnya memang sedang kami gali untuk saat ini, walau kemungkinan besar adalah motif cinta. Ah tentu saja korbannya ada dan sedang dalam masa perawatan. Kalau dia sudah sadar nanti, kami akan minta keterangannya." Juan menjelaskan dengan begitu santai.

__ADS_1


"Tidak masuk akal! Aku bahkan tidak peduli kalau itu benar. Aku rasa kau saja yang berlebihan terlalu banyak ikut campur urusan seseorang. Bagaimanapun, aku bisa membebaskan anakku dengan jaminan. Lakukan saja itu sekarang. Katakan berapa biayanya dan aku akan membawa ia pulang." Anna terlihat tidak peduli.


"Maaf, itu tidak bisa dilakukan. Kasus putra Anda ini bisa dikatakan cukup fatal. Apalagi kita menemukan beberapa bekas narkoba di lokasi kejadian. Kasusnya mungkin akan berlipat dan begitu juga dengan proses penyidikannya. Bahkan sebenarnya, kami mempertimbangkan untuk mengundang Anda masuk juga ke ruang interogasi." Juan mulai bersiap.


"Aku? Kenapa? Aku tidak ada hubungannya dengan apa yang putraku lakukan." Anna dengan cepat mengelak bahkan berdiri seolah akan kabur.


"Nyonya Anna. Kami juga menemukan bukti bahwa kau terlibat dalam jaringan prostitusi terbesar di negara ini bahkan beberapa negara lainnya di luar. Jadi, mohon maaf untuk saat ini sepertinya Anda belum bisa pulang." Juan tersenyum begitu tipis.


"A-apa? Kalian ini bercanda!"


Anna berdiri, tapi tentu saja ia dicegat oleh dua orang polisi wanita juga beberapa anggota polisi lain yang berjaga di sekitar ruangan. Anna sama sekali tidak menyangka polisi sudah mengantongi informasi sejauh itu.


Anna menggeleng keras dan terus berkata tidak, tapi dua polwan itu tidak peduli dan bahkan berhasil membawanya masuk ke dalam ruang interogasi. Di dalam ruangan, Hope yang sedang bersama Kori hanya bisa tertawa melihat layar ponselnya di mana Juan memberi kabar bahwa Anna berhasil ditangkap juga.


"Ini sepertinya hari keberuntunganmu, Kori. Ibumu akan segera menemanimu di penjara. Ia baru saja datang untuk menyerahkan diri." Hope tersenyum miring.


"Apa maksudmu?" tanya Kori dengan tatapan tajam.


"Owh ayolah, seharusnya kau yang menjelaskannya kepada kami. Akan jauh lebih mudah kalau kau bekerja sama. Hukumanmu mungkin bisa lebih ringan." Hope tersenyum miring.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Kori lagi.

__ADS_1


"Ceritakan semuanya padaku tentang kejahatan yang ibumu lakukan. Maka, aku akan mengatakan pada jaksa bahwa kau kooperatif selama penyidikan. Masalah penculikan itu pun, kamu juga bisa menjadikan ibumu sebagai otak pelaku. Kau hanya terpaksa membantunya karena perintah orang tua. Sekali lagi, hukumanmu jelas akan diminimalisir." Hope memberi tawaran.


__ADS_2