
“Aku punya satu tugas untukmu yang harus kau selesaikan,” perintah Darco dengan kedua tangannya bertengger di dalam saku celananya.
“Aku selalu siap menjalankan perintah, Tuan,” ucap Vante tegas.
Darco menyerahkan setumpuk dokumen di atas meja. Sebuah foto juga beberapa dokumen yang menyertai. Lembaran bukti kejahatan yang dilakukan oleh seorang perwira polisi. Vante segera mengenalinya sebagai seorang polisi bernama Paul.
“Kacang seharusnya tak pernah lupa pada kulitnya. Setelah semua yang aku berikan padanya bahkan uang juga mobil, ia justru tak bertanggung jawab. Dia yang membuat kedua polisi payah itu tahu tentang lokasi jual beli senjata itu. Aku tidak bisa lagi membiarkannya hidup. Dia harus pergi!” perintah Darco.
Ketika Vante bertekad untuk lepas dari semua yang ebrkaitan dengan nyawa manusia, sekali lagi Darco justru menjerumuskannya lebih dalam. Kali ini Vante tidak punya alasan untuk menolak. Ia harus menunjukkan bahwa ia masih setia dengan mafia yanga da di hadapannya ini.
“Baik, Tuan. Aku akan melakukannya.”
Berbekal senjata dengan peredam suara yang selalu menjadi andalan, Vante pergi ke rumah Paul. Ia sudah mengantongi alamat rumah yang berada di sebuah komplek perumahan mewah. Tidak heran polisi berpangkat tanggung itu bisa memiliki rumah di tempat semacam itu. Siapa lagi kalau bukan karena Darco.
“Polisi korup seperti ini toh tidak akan membawa kebaikan apapun pada lingkungan sekitarnya dan negara. Aku rasa tidak ada salahnya membunuh pria itu.”
Vante masuk saja dengan begitu santainya melalui halaman samping. Langsung menuju ke arah kolam renang dan membuka pintu belakang rumah yang tembus ke arah dapur. Mencoba mendengarkan arah suara pemilik rumah dan bergegas mendekatinya. Suara yang berasal dari lantai dua rumah mewah tersebut.
__ADS_1
Semakin dekat Vante bisa mendengar suara gemericik air dan siulan dari sang pemilik rumah. Tanpa ragu Vante memasuki sebuah kamar dan mengintip sedikit ke arah pintu kamar mandi yang tak terkunci rapat. Benar saja sang pemilik rumah sedang mandi dengan santainya tanpa mengetahui kehadirannya.
Pistol yang sudah disiapkan sedari tadi dikeluarkan dari saku dalam jaketnya, memastikan peredamnya sudah terpasang, menarik pelatuk, dan hanya dalam sekali tembakan dalam jarak tak lebih dari tiga meter. DOR. Peluru tersebut menembus tirai mandi dan persis mengenai kepala sang polisi. Tumbang dan bersimbah darah.
Vante segera pergi meninggalkan kamar tersebut. Siapa sangka, baru saja menuruni beberapa anak tangga, sebuah suara teriakan disusul tangisan pecah. Rupanya tak hanya polisi korup itu yang ada di rumah ini, tapi juga anak gadisnya yang dia tahu berusia 16 tahun.
Dari informasi yang sudah dia coba cari tahu sebelumnya, seharusnya gadis itu sedang berlibur bersama ibunya alias istri dari polisi tersebut. Tidak disangka dia harus melihat mayat ayahnya secepat ini. Sedikit penyesalan muncul di hati Vante. Dia langsung saja pergi dari rumah tersebut dengan sedikit berlari.
Setelah sekitar 15 menit pelarian, Vante kembali merasa tenang. Tentu saja itu hal yang sangat mudah bagi Vante. Sejujurnya bagi Vante pun polisi seperti Paul juga pantas mati. Entahlah, dia memang punya kebencian sendiri pada manusia-manusia jahat seperti mereka, padahal kalau diingat lagi dia juga bekerja pada salah satunya.
Satu kelemahan pria itu saat membunuh yaitu melihat mata korban. Rahasia besar yang hanya diketahui olehnya. Dia hanya takut akan berubah pikiran lalu urung membunuh dan pada akhirnya dia akan kalah. Vante juga lemah pada teriakan dan raungan kehilangan seperti bagaimana putri itu melihat jasad sang ayah tadi.
Entah kenapa mendengar membuatnya lemah. Seperti ada sebuah memori menyakitkan yang kembali. Tapi kini, ia sudah dengan pasti mengetahui apa itu. Ia juga adalah salah satu korban kekejaman manusia jahat lainnya.
Hanya saja semua perasaan puas dan lega itu kali ini berubah. Vante mulai bisa merasakan penyesalan. Biasanya setelah membunuh, ia tidak akan terlalu memikirkannya. Masalahnya kini, wajah Jeni terus terbayang. Seolah menghantuinya dengan rasa bersalah.
Di lain sisi, kasus penembakan itu dengan cepat ditangani oleh kepolisian. Di antara banyaknya anggota polisi yang memeriksa lokasi kejadian, ada Juan dan Hope yang juga sedang memeriksa. Mereka juga meminta saksi mata, yaitu putri Paul untuk bicara.
__ADS_1
Juan dan Hope juga ingin mendengar keterangannya, tapi bos mereka yang bernama Dandy dengan cepat menghalangi.
“Kenapa kalian di sini? Bukankah kalian harusnya fokus pada kasus pencurian yang sebelumnya aku perintahkan untuk kalian usut?” tanya Dandy yang mengenakan kemeja putih dan celana hitam itu.
“Tapi, Ketua. Kita harus mencari tahu lebih lanjut tentang ini. Ini mungkin ada kaitannya dengan kematian Dom sebelumnya. Mungkin juga ada hubungannya dengan Vee atau Darco. Kita kan tahu selama ini mereka selalu bersinggungan dengan hal-hal semacam ini,” ucap Juan cepat.
“Kau mulai lagi dengan obsesimu itu. Kita sama sekali belum memutuskan apapun. Kau harus ingat untuk bekerja dengan menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah. Kalau begini, kau bisa kehilangan penilaian objektif tentang kasus ini,” ucap Dandy kemudian.
“Ah, ya, maafkan aku tentang itu, Ketua. Tapi, tetap saja aku ingin mendengar keterangan gadis itu. Dia mungkin melihat pelakunya,” ucap Juan cepat.
“Jangan keras kepala! Aku aatsanmu di sini. Kau harusnya mengikuti semua saranku. Sudah lah! Aku tidak ingin berdebat denganmu. Hope, cepat bawa dia dari sini! Owh ya ampun, kau benar-benar membuatku pusing!” ucap Dandy dengan isyarat tangannya.
Juan tidak punya alasan lagi untuk bertahan. Bahkan sang bos sudah mengusirnya dan Hope juga menariknya dengan kuat untuk pergi dari sana. Berada di dalam mobil, Juan masih menatap kerumunan dengan garis kuning di sekitaran rumah itu. Juan yang kesal memukul setir mobilnya dengan keras.
“Juan, apa kau pikir, kau tidak terlalu berlebihan dengan ini? Apa yang Bos katakan benar. Kau mungkin terlalu terobsesi dengan ini. Bisa sangat mungkin, apa yang ada di dalam memang tidak ada hubungannya dengan Darco atau Vee,” ucap Hope coba menenangkan.
“Tidak! Aku yakin ini ada hubungannya. Kita hanya harus melihatnya lebih jauh. Aku bahkan curiga, bos kita sebenarnya bersekongkol dengan Darco. Firasatku sangat kuat tentang itu.” Juan menatap Hope. “Dan kau! Kau boleh memilih untuk terus berada di sisiku dan mendukungku atau pergi!”
__ADS_1