
“Kau benar-benar pria yang licik! Meskipun terlambat, aku bersyukur aku mengetahui bagaimana dirimu yang asli!” ucap Vante dengan penuh amarah.
“Owh ayolah. Tidak perlu sok suci di hadapanku. Kita semua tahu bagaimana sepak terjangmu selama ini menjadi mafia. Kau pikir sudah berapa nyawa yang melayang di tanganmu itu?” tanya Darco dengan senyum dingin.
“Hmh, baiklah. Aku akan memutuskan. Aku akan menyelamatkan … mereka berdua!”
Vante dengan cepat membidik pria yang berada tepat di sisi Jeni. Ia juga dengan cepat berlari menuju mobil itu. Menendang dengan keras tubuh Darco hingga ia jatuh tersungkur. Menutup pintu mobil dan memastikan seorang anak buah Sanchez membawanya pergi.
Ia segera membalik tubuhnya dan berusaha melindungi dirinya sendiri dan serangan banyak anak buah Darco. Tendangan dan pukulan terus saja ia terima dan berikan. Satu per satu anak buah itu tersungkur. Vante harus cepat menyelamatkan pamannya. Apalagi saat ia melihat beberapa orang mulai berusaha membawa Sanchez pergi.
“Lepaskan pamanku!”
Pertikaian itu sama sekali tidak mereda hingga akhirnya semua orang terdiam saat mulai mendengar sayup-sayup suara sirine mobil polisi. Vante yang cepat kembali ke kesadarannya dengan segera berusaha merebut pamannya. Hingga sebuah peluru terdengar ditembakkan dan Vante dengan cepat mendorong tubuh Sanchez.
Sekali lagi sebuah peluru berhasil menembus lengan sang mafia. Vante dengan cepat berdiri dan meminta anak buah Sanchez untuk mundur sambil membawa pria itu. Vante yang merasa sedikit lega, kini berusaha mencari sosok Darco. ia terlihat berlari ke arah belakang gedung di mana helikopter pria itu sedang terparkir.
“Kau tidak bisa kabur dariku!”
Vante berlari dan bahkan sempat memungut satu buah pistol yang terjatuh di lantai. Ia dengan penuh konsentrasi mencoba untuk membidik Darco yang masih berlari. Vante menghirup nafas panjang dan menembakkan pelurunya. Peluru itu tepat mengenai punggung Darco.
Tidak puas sampai di situ, Vante berjalan lagi dan tembakan itu sekali lagi ia luncurkan. Darco jatuh tersungkur dengan dua luka di tubuhnya. Vante tidak bisa berlari lebih jauh lagi karena sebuah suara di belakangnya memintanya berhenti.
__ADS_1
“Jatuhkan senjatanya dan angkat tangan!”
Vante melemparkan senjatanya begitu saja dan mengangkat kedua tangannya. Segerombolan polisi segera mengamankan juga anak buah yang masih tersisa di sana. Seseorang juga dengan cepat menangkap tangan Vante dan memborgolnya. Pria itu kini berpindah di depan sang mafia.
“Kau … harus menjelaskan banyak hal pada kami di kantor polisi. Sekarang ikut kami,” ucap Juan yang terlihat bangga.
Vante memastikan pamannya, Sanchez, dan Jeni sudah dalam kondisi aman. Sementara itu, ia akan menghadapi Juan yang sejak dulu memang berobsesi padanya. Ia dimasukkan ke dalam mobil polisi, sedangkan Juan dan Hope memperhatikan tubuh Darco lebih dekat.
“Aku rasa dia tidak akan bisa bertahan,” ucap Hope.
Nafas Darco memang sudah terengah. Umurnya jelas tidak lama lagi. Ia justru tersenyum melihat Juan dan Hope yang berada di sisinya. Juan yang melihat wajah mafia itu hanya berlutut di sisinya dan bertanya.
“Satu pertanyaan sederhana, apa benar kau yang membunuh ayah dan ibuku?” tanya Juan.
“He-hei, Darco! Apa maksudmu! Hei, bangun! Kau belum menjelaskan apapun padaku. Kau bahkan tidak meminta maaf. Hei!” Juan terlihat mengangkat kerah sang mafia yang sudah tak bernyawa.
“Hei, Juan, berhenti. Dia sudah tak bernyawa,” ucap Hope berusaha membangunkan adiknya.
Juan yang masih begitu emosi karena seolah ia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan pada sosok Darco, kini berusaha kembali ke kantor polisi untuk bicara dengan Vante. Ia juga tidak menyangka bahkan setelah Darco meninggal, ia masih merasa tak puas.
“Apa yang masih mengganggu pikiranmu? Darco sudah tewas,” kata Hope yang berada di dalam mobil.
__ADS_1
“Entahlah. Aku hanya merasa aneh dengan diriku sendiri. benar katamu. Seharusnya aku bahagia. Hanya saja aku merasa kesal karena darco sama sekali tidak mengingat tentang orangtuaku. Dia sama sekali tidak merasa bersalah juga tidak menyesali perbuatannya bahkan di akhir kehidupannya,” ucap Juan yang masih kesal.
“Bukankah kau sudah sepakat untuk tidak lagi menaruh dendam? Lalu kenapa itu menjadi masalah? Bukannya aku tidak bersimpati padamu, tapi kau benar-benar harus menutup buku itu. Meninggalnya orang tuamu memang tragis, tapi itu adalah takdir hidup keluarga kalian. Kau hanya harus menerimanya dan melanjutkan hidup. Dengar, masalah sebenarnya adalah bukan pada Darco, tapi kau,” ucap Hope menyadarkan.
Juan merasakan bahwa ucapan Hope benar adanya. Apalagi setelah perbincangannya yang lama juga dengan Jeni sebelumnya. Seharusnya kini ia menjadi pribadi yang lebih menerima keadaan. Lagipula banyak hal yang memang harus dia pikirkan.
Sebuah telepon berbunyi dan itu adalah ponsel milik Hope. Ia mendapat kabar dari rumah sakit bahwa Jeni sedang tidak sadarkan diri kemungkinan karena benturan yang keras. Ia saat ini masih tak sadarkan diri dan berada di ruang ICU.
Alih-alih membawa Juan ke kantor polisi, Hope membawa Juan ke rumah sakit. Tanpa mengetahui kondisi yang sesungguhnya, Juan jadi bingung kenapa rekannya ini memutar arah.
“Kita mau kemana?” tanya Juan yang akhirnya menyadari.
“Jeni, dia ada di rumah sakit. Mereka bilang tidak bisa menghubungi nomormu, jadi mereka menghubungiku. Aku tidak tahu kenapa dia terluka dans eparah apa, tapi kamu harus berada di sana. Tentang pria bernama Vee itu, biar aku yang mengurusnya,” ucap Hope.
Pada titik ini, Juan tidak bisa lagi memikirkan apapun selain keselamatan adiknya. Ia segera turun begitu tiba di rumah sakit dan menemui resepsionis yang ada di sana. Mengatakan bahwa ia adalah wali Jeni yang sedang mendapatkan perawatan.
“Apa yang terjadi pada adikku sebenarnya? Kenapa dia bisa berada dalam kondisi seperti ini?” tanya Juan ingin tahu.
“Kami juga tidak tahu jalan ceritanya, tapi dua orang pria mengantarnya tadi dengan sebuah mobil SUV. Dua orang itu sepertinya sudah menghilang juga. Kalau dari luka yang dia dapat, adikmu sepertinya adalah korban kekerasan. Ada beberapa luka karena benda tumpul di sekujur tubuhnya. Salah satu yang fatal adalah yang berada di kepalanya. Dia mengalami gegar otak,” ucap dokter tersebut.
“Korban kekerasan? Siapa yang berani melakukan ini pada adikku?” tanya Juan emosional.
__ADS_1
“Kami tidak bisa membantu untuk yang itu, tapi kami akan terus mengupayakan kesembuhan bagi adik Anda,” ucap dokter yang kemudian berlalu pergi.