
Rosa mengadu pada ayahnya setelah apa yang dikatakan oleh vante padanya. Dia bahkan memasuki rumah megah itu dengan langkah kaki menghentak dan wajah yang ditekuk sempurna. Tentu saja sang ayah dengan cepat memfokuskan perhatian.
“Apa yang terjadi dengan putriku ini?” tanya Randy.
“Semua rencana Ayah gagal total. Aku sangat kesal sekali. Vante tahu kalau semua kejadian itu adalah rekayasa. Dia sekarang sedang berusaha mencari kebenarannya. Dia sedang berusaha mengungkap kejadiannya. Aku benci sekali pada Ayah. Seharusnya aku tidak percaya Ayah sejak awal.” Rosa berkeluh kesah.
“Hei, pelan-pelan saja. Jangan marah seperti itu dulu pada Ayah. Kita akan memikirkan cara.” Rancy coba menenangkan.
“Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan, Yah. Sejak awal aku sudah bilang pada Ayah untuk jangan melakukan rencana bodoh lagi pada Vante. Dia tidak akan terjebak dengan mudah. Dia terlalu pintar untuk ditipu seperti ini. Belum lagi wanita menyebalkan itu. Dia ternyata sama sekali tidak terintimidasi. Dia justru seperti menyalahkanku pada kasus ini.” Rosa masih terus meluapkan emosinya.
“Ya … jujur Ayah memang tidak menyangka dia ternyata sangat awas dan cerdik. Ayah justru jadi penasaran siapa pria itu sebenarnya. Ayah juga tidak mengerti kenapa respon si istri juga sedikit berbeda. Mereka jelas bukan pasangan biasa.” Randy terlihat melamun.
“Yah, fokus! Kenapa malah jadi membahas tentang mereka? Apa Ayah memang tak lagi sayang padaku?” tanya Rosa kesal.
“Hei, Rosa. Jangan bicara seperti itu. Kamu tenang saja. Vante tetap tidak akan tahu apa yang menjadi rahasia Ayah. Aya yang Ayah gunakan untuk membiusnya saat itu adalah zat yang sangat sulit ditemukan juga masih sangat jarang diketahui oleh orang lain. Sampai kapan pun mungkin mereka tidak akan bisa menemukannya. Vante tak punya alasan untuk mendorongmu jauh hingga saat itu. Kau tidak perlu khawatir. Kau mengerti kan?” tanya Randy mengusap kepala sang putri.
“Apa Ayah yakin? Aku benar-benar tidak ingin masuk ke penjara karena ini, Yah.” Rosa terlihat ketakutan.
“Tentu saja Ayah tidak akan pernah membiarkanmu terlibat dalam masalah, apalagi masuk penjara. Tenang saja. Ayah janji akan melindungimu. Dan terkait Vante … Ayah pikir sekarang kau harus mulai mempertimbangkan untuk berhenti mendapatkannya. Setelah apa yang terjadi, ia jelas tidak akan memilihmu.” Randy terlihat begitu tenang.
“Ayah, tapi aku-”
__ADS_1
“Jangan memaksakan diri lagi. Sudah tidak ada cara. Dia sudah tahu tentang kita dan apa yang kita lakukan. Sekeras apapun kau berusaha, ia mungkin tidak akan berpaling padamu. Kecuali kalau suatu saat ada keajaiban Vante yang berpaling dari istrinya sendiri.” Randy terlihat berpikir.
“Ayah, maka kita bisa lakukan itu kan?” tanya Rosa kembali bersemangat.
“Kau belum selesai dengan satu langkah yang berantakan ini. Jangan terlalu terburu-buru.” Randy coba mengingatkan.
Rosa terlihat cemberut sebagai jawaban. Bagaimanapun ia masih sangat menyukai Vante. Ia ingin mendapatkan pria itu bagaimanapun caranya. Dalam hatinya, ia berpikir mengenai cara yang bisa ia lakukan untuk menjalankan rencana yang telah disebutkan oleh ayahnya.
Randy menepuk pundak sang putri dan berusaha menenangkannya. Di dalam hatinya, pria itu hanya bisa tersenyum penuh kemenangan. Seolah menantang Vante untuk melihat sejauh mana kemampuan pria itu mengungkap semuanya.
Di rumah, Vante berusaha mendekati Jeni. Sudah sejak ia kembali, wanita itu sama sekali tak menggubrisnya. Bahkan meskipun tidur di satu ranjang, tapi jarak tersebut begitu nyata. Vante tahu wanitanya itu masih kesal. Hanya saja dia juga tak tahu bagaimana cara membuatnya luluh.
Tepat sebelum kembali pulang hari ini, Vante menelpon sang paman. Ia memang belum sempat bercerita mengenai apa yang terjadi padanya beberapa hari yang lalu itu. Walau sudah jelas sangat kejadiannya, tapi karena belum menemukan keseluruhan caranya, Vante belum bisa bergerak lebih lanjut.
“Paman, aku sungguh tidak tahu lagi harus dengan cara apa aku membujuk Jeni. Semua karena Rosa dan ayah sialannya itu!” Vante terlihat begitu murung.
“Jeni itu berbeda. Dia bukan wanita yang akan luluh karena hadiah seperti itu. Kau jelas harus menempuh cara lain. Apa kau sudah bicara dengannya?” tanya Sanchez di seberang.
“Entahlah. Dia lebih banyak diam, jadi aku juga memberinya waktu untuk itu. Aku pikir dia akan bicara padaku kalau ia merasa siap.” Vante bicara dengan polosnya.
“Apa? Wah … aku tidak percaya ini. Kau adalah seorang pemimpin perusahaan dan juga mantan mafia, tapi benar-benar bodoh berurusan dengan seorang wanita. Seharusnya aku tidak terkejut mengingat bagaimana kau butuh waktu lima tahun untuk bisa bicara lagi dengan Jeni sebelumnya.” Sanchez terdengar mencemooh.
__ADS_1
“Paman, bisakah kau memberiku saran saja dan bukan menghinaku?” tanya Vante kesal.
“Hahaha. Ya ya baiklah. Ya tentu saja kau harus mulai dengan bicara dengannya. Aku tidak tahu apa ini akan berhasil, tapi kau hanya perlu meminta maaf secara tulus dan membujuknya … di atas ranjang.” Sanchez berbisik lirih.
“Apa?!”
“Ouch, Vante! Kau membuat telingaku sakit.” Sanchez sampai harus mengusap telinganya.
“Paman, aku tidak yakin itu akan berhasil. Dia mungkin akan menamparku dan menendangku dari atas ranjang.” Vante tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Ya terserah kau saja. Aku tidak memintamu untuk melakukan apa yang aku suruh kan. Hanya saja kadang kau hanya memerlukan kehangatan di atas ranjang untuk menyelesaikan pertengkaran. Kalau kau tidak percaya, coba cari tahu sendiri.” Paman Sanchez menantang.
“Hmh, Paman benar-benar membuatku makin pusing saja. Aku akan memikirkannya nanti.” Vante akhirnya mengalah.
“Kau harus menuntaskan yang satu ini sebelum bisa fokus pada cara Rosa menjebakmu. Percayalah, begitu kau berbaikan dengan Rosa, kau pasti juga akan segera tahu bagaimana cara mereka membiusmu malam itu.” Sanchez terdengar yakin.
“Baiklah, Paman. Aku mengerti.” Vante merespon singkat.
“Lalu untuk masalah Rosa dan ayahnya, sementara aku akan coba membantu. Aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya mereka gunakan untuk membiusmu saat itu. Kau tidak perlu terlalu cemas. Bahkan seharusnya kau ceritakan padaku sejak awal. Kemungkinan untuk dibongkar juga pasti akan lebih cepat. Kalau sekarang semua bukti pasti juga sudah hilang. Kau ini benar-benar merepotkan saja.” Sanchez terdengar emosi dari seberang.
“Ya, Paman. Aku seharusnya memang menghubungimu lebih cepat. Aku minta maaf dan terima kasih juga atas semua yang kau lakukan.” Vante menutup teleponnya.
__ADS_1