Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia

Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia
Film Pertama


__ADS_3

Tentu saja Jeni merasa grogi karena bahkan sebelumnya, ia tidak pernah berkumpul dengan sebanyak ini orang di sebuah acara yang penting baginya. Apalagi ini berhubungan sekali dengan pekerjaannya yang mungkin akan datang.


Jeni terlihat anggun dengan gaun hitam selutut yang menunjukkan punggungnya yang indah. Sedangkan vante tak kalah tampan dengan celana kain hitam dan kemeja putih dengan lengan yang digulung. Acara menonton bersama itu akan segera dimulai.


Melihat dari para tamu undangan juga media yang ada di sana saja, Jeni dengan segera belajar bahwa industri hiburan ini memang berada di level yang berbeda dari yang pernah ia ketahui sebelumnya.


Saling bergandengan tangan, Jeni menikmati film yang mereka tonton. Sedangkan di lain sisi, Vante rasanya lebih menikmati menatap istri yang ada di sisinya. Keduanya fokus hingga film itu akhirnya usai juga. Acara selanjutnya adalah pesta di mana Vante tak bisa melewatkan kesempatan.


Acara semacam itu memang bukan selera Vante. Ia lebih memilih banyak bekerja daripada menghadiri acara yang baginya tak terlalu penting itu. Sekarang, ia memiliki Jeni yang berkecimpung di dunia hiburan. Tentu saja kini Vante mau tak mau harus ikut terjun juga.


“Aku memang tidak banyak mengenal orang-orang ini, tapi setidaknya aku mengenal sutradaranya. Kebetulan kami sempat berdiskusi mengenai seni dan film sebelumnya. Bagaimanapun game juga butuh sebuah cerita untuk dibangun sebelum benar-benar dibuat.” Vante tersenyum membawa Jeni mendekat.


Vante menepuk pundak sang sutradara yang bernama Yuan itu. Beberapa tahun lebih tua darinya, Yuan memang adalah salah satu produser terkenal di Vegasa. Vante dengan cepat mengenalkan sang istri, Jeni, pada sutradara itu.


“Sebenarnya aku tidak mengharapkan apapun saat mengundangmu. Aku pikir kau tidak akan suka datang ke acara seperti ini. Tidak menyangka kau justru datang membawa seorang istri. Aku rasa aku memang tidak mengenalmu dengan baik,” ucap Yuan ramah.


“Istriku ini adalah seorang aktris juga di Boranesia. Aku memang sengaja membawanya datang ke sini karena aku pikir dia bisa belajar banyak tentang industri hiburan di negara ini.” Vante memberi penjelasan.

__ADS_1


“Ah, istrimu ini memang terlihat cukup cantik dan tidak terlalu mengejutkan kalau dia ternyata juga punya pengalaman sebagai seorang aktris. Kalau boleh tahu, apa saja pengalamanmu, Nyonya?” tanya Yuan.


“Sebetulnya aku juga bukan aktris yang sangat terkenal di Boranesia. Aku selama ini lebih aktif tampil di teater atau drama panggung. Kebanyakan memang masih sebagai pemeran pembantu saja. Kau pasti tahu kan industri hiburan itu tidak mudah ditembus hanya dengan bakat dan wajah cantik saja.” Jeni terlihat merendah.


“Ya, aku mengerti maksudmu. Jadi, kau memulai akting secara otodidak atau kau memang pernah mempelajarinya?” tanya uan lagi.


“Aku adalah seorang lulusan jurusan akting di kampusku dulu. Kemampuan akting bisa dikatakan ada karena bakat dan minat juga didukung oleh ilmu yang mumpuni. Aku tidak berniat membanggakan diri, tapi itulah yang terjadi.” Jeni tersenyum tulus.


“Wow. Itu sebenarnya cukup luar biasa. Aku akan memberikan kartu namaku, meskipun Vante pasti mengetahui nomorku. Aku akan mengabarimu ketika aku membutuhkan artis untuk proyek terbaruku bulan depan. Tentu saja, aku tidak memiliki jaminan kau akan lolos, tapi setidaknya aku akan memprioritaskanmu, Nyonya.” Yuan membungkukkan badan.


“Hm, jangan salah paham, Tuan Yuan. Aku senang sekali punya kesempatan itu, tapi aku harap kau memang mempertimbangkanku karena kemampuanku. Suamiku ini memang laki-laki yang cukup berkuasa, tapi aku jelas bisa melakukan semuanya sendiri tanpa dia.” Jeni memperjelas maksudnya.


“Begitulah istriku. Dia tidak ingin bergantung padaku. Aku menghargai itu dan aku juga berharap kau menghargai pendapatnya nanti. Terima kasih banyak atas perhatiannya.” Vante berjabat tangan.


Vante dan Jeni bersalaman dengan Yuan. Sutradara itu memilih untuk pergi meninggalkan sepasang suami istri yang sedang menikmati cocktail di tangannya. vante cukup terkejut atas pernyataan terakhir Jeni pada Yuan. Wanitanya itu memang sedikit berbeda.


“Kau bisa tahu bahwa Tuan Yuan bukan tipe pria yang akan memanfaatkan relasi atau posisi untuk melakukan hal-hal yang tidak semestinya. Aku pun juga tidak sedang berusaha mendorongmu untuk masuk ke dunia hiburan di Vegasa. Hanya saja terkadang bantuan semacam itu diperlukan dan bukan berarti itu adalah sesuatu yang salah.” Vante coba merangkul sang istri.

__ADS_1


“Aku hanya tidak suka pada efek samping yang mungkin ditimbulkan. Kau benar, pada akhirnya kemampuanku lah yang akan membuatku dipertimbangkan. Hanya saja, kau bisa bayangkan bagaimana artis lain juga masyarakat akan beropini. Aku hanya tidak mau berurusan dengan hal-hal semacam itu.” Jeni menjelaskan.


“Ah, ya aku paham, tapi bukankah justru itu bisa menjadi kesempatan kau untuk menunjukkan dirimu? Maksudku semua orang bisa merubah opini setelah ia menonton karyamu. Hal ini mungkin bisa jadi kesempatan bagimu untuk mengeksplor kemampuan aktingmu. Hanya jangan terlalu batasi dirimu sendiri. Anggap saja hal semacam ini adalah kesempatan.” Vante tersenyum menatap sang istri.


“Ya, aku juga mengerti maksudmu. Aku hanya tidak mau melibatkan kau dan aku dalam masalah.” Jeni tersenyum datar.


“Jeni, Sayang, apapun yang terjadi, aku akan mendukungmu. Entah kau menajdi artis atau ibu rumah tangga sekalipun, aku akan menerimanya dengan lapang dada. Sebagai suami, tentu aku lah yang harus menerima segala konsekuensi atas apa yang terjadi padamu, jadi kau juga tidak perlu terlalu khawatir.” Vante menyudahi percakapan keduanya.


Vante mengatakan bahwa ia akan mengambil beberapa makanan ringan sedangkan Jeni duduk di salah satu kursi yang memang masih ada di dalam ruangan bioskop itu. Suasana ramai dan lalu lalang orang cukup padat. Jeni memperhatikan para pemain yang masih melayani pertanyaan dari para wartawan.


Tanpa sadar mata Jeni bertatapan dengan sang aktor utama. Tentu saja Jeni mengetahuinya karena ia sudah menonton filmnya. Seorang pria bernama Johan yang memiliki senyuman yang sangat ramah. Sangat berbeda dengan perannya di dalam film yang memang mengisahkan tentang seorang mantan militer yang membalas dendam.


Jeni yang dengan cepat menyadari segera mengalihkan pandangannya. Tentu saja ia tidak mau dibilang sedang merayu aktor lain. Tanpa ia sadari, ada dua kaki yang sudah berdiri di depannya. Jeni tentu saja mendongak dan aktor itu sudah berdiri di depannya dengan ukuran tangan.


“Halo, siapa namamu?” tanya Johan dengan senyum tampan.


“Ah, aku … hm, aku Jeni,” ucap Jeni balas menjabat tangan.

__ADS_1


“Kau datang ke pemutaran film perdanaku. Bagaimana itu menurutmu? Apa kau menyukainya?” tanya Johan ramah duduk di sisi Jeni dengan santainya.


__ADS_2