Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia

Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia
Rencana Jahat


__ADS_3

Kori sudah berada di rumahnya lagi setelah pertemuan dengan Jeni dan Vante. Kori berbalik menatap jajaran foto yang ada di atas meja dalam kamarnya. Berisi beberapa foto kebersamaan Vante dan Jeni lima tahun yang lalu. Ia mengambil salah satunya dan tertawa penuh cemooh. Perlahan dia merobek foto itu tepat di tengah. Seolah memisahkan sosok Vante dan Jeni di sana.


Mengangkat teleponnya, Kori menelpon seseorang untuk segera datang ke kamarnya. Dia memang sudah merencanakan sesuatu. Belum hal besar, karena dia merasa memang belum perlu bertindak sejauh itu. Seorang pria datang dengan celana dan jaket bomber hitam. Kori menyampaikan keinginannya di sana.


Keesokan harinya, Jeni sedang berjalan kaki menuju halte bis. Walaupun bisa dibilang cukup terkenal, ia masih suka menaiki kendaraan umum untuk pergi kemanapun. Termasuk hari ini saat dia berada dalam perjalanan menuju sebuah tempat casting. Ia berencana akan mencari peran untuk pentas teater yang akan datang.


Seperti biasa, Jeni mendengarkan musik dari headset. Kebanyakan musik klasik dan juga jazz. Perjalanannya tak jauh hanya sekitar 20 menit saja. Lokasinya juga pernah ia datangi sebelumnya. Berada di agensi yang sama di mana ia mendapatkan perannya bulan lalu.


Malangnya, baru saja turun dari bis, ponsel yang ia pegang dengan cepat dicuri oleh seorang pria. Tentu saja Jeni terkejut dan reflek mencoba mengejar pria tersebut dan berteriak. Tentu saja kakinya tak akan sanggup mengejar pria itu. Langkahnya berhenti begitu saja dengan nafas terengah-engah.


"Ya ampun. Bagaimana ini? Aku tidak terlalu peduli ponselnya, tapi semua nomor penting ada di sana. Apa yang harus aku lakukan?”


Jeni hampir menangis di sana. Ia hanya bisa berjongkok di tepian jalan itu. Ponselnya hilang itu juga berarti dia tidak bisa menghubungi siapapun. Belum lagi Jeni juga harus segera mengikuti casting yang telah dijadwalkan. Jeni memilih untuk berdiri.


“Kori?” tanya Jeni yang bingung.


“Hah, kau mencari ini?” tanya Kori menyodorkan ponselnya.


“Owh ya ampun. Kau menemukannya? Bagaimana bisa?” tanya Jeni yang segera merebut ponselnya.


“Aku sebetulnya sedang lewat saja di sini dan aku melihatmu berlari sambil berteriak. Aku segera turun dan membantumu mengejar pencopet itu. Beruntung aku menemukannya. Aku juga sudah menghubungi polisi untuk membawanya ke kantor polisi,” jelas Kori panjang lebar.

__ADS_1


“Astaga. Aku sangat amat bersyukur. Aku sudah mencoba mengejarnya, tapi pria itu lari cepat sekali. Banyak orang yang sepertinya juga berusaha mengejarnya, tapi tidak berhasil. Kau benar-benar penyelamatku.” Jeni menggenggam kedua tangan Kori dengan reflek.


“Eh, maaf.” Jeni segera menyadari perbuatannya.


“Tidak masalah. Kau boleh terus memegangnya kalau kau ingin. Hehehe.” Kori tersenyum tampan.


“Apa yang bisa aku berikan untukmu dalam rangka mengungkapan terima kasihku?” tanya Jeni kemudian.


“Hm … sebenarnya aku tidak mengharapkan apapun, tapi kalau kau memaksa, aku punya satu permintaan sederhana.” Kori tersenyum hangat.


“Ah, ya. Apa itu?” tanya Jeni serius.


“Aku ingin kita makan malam berdua. kau tahu kan, makan malam romantis tanpa gangguan seperti yang lalu. Kau berdandan cantik dan aku akan menjemputmu. Aku juga akan berdandan tampan dan membawamu ke restoran yang mewah.” Kori terlihat begitu bersemangat.


“Baiklah. Aku akan menghubungimu lagi nanti. Lalu … sedang apa kau di sini?” tanya Kori lagi.


“Ah, ya ampun. Aku sedang dalam perjalananku menuju lokasi casting. A-aku harus pergi sekarang.”


Jeni berlari kecil meninggalkan Kori begitu saja. Kori hanya bisa tersenyum penuh arti melihat gadis itu berlari sedemikian rupa. Keduanya memilih untuk berpisah di sana.


Sedangkan di rumah Vante, pria itu hanya bisa uring-uringan seharian karena apa yang telah terjadi pada Kori dan Jeni. Ia sama sekali tak menyangka kalau dua manusia itu ternyata cukup dekat. Bahkan keduanya menghabiskan waktu untuk makan pagi bersama.

__ADS_1


“Kori memang sialan! Kenapa dari sekian banyaknya wanita di dunia ini, ia harus tertarik pada Jeni?” tanya Vante kesal.


Anton dan Billy yang sedari tadi berdiri di dalam ruangan itu mau tak mau tersenyum. Mereka sebelumnya memang tidak pernah bertemu dengan Vante. Sekarang saat akhirnya mereka bisa menemuinya, ternyata pria itu cukup bucin pada seorang wanita.


“Tuan, hmh, maaf mengganggu. Aku bukannya ingin mencampuri masalah pribadi, Tuan. Hanya saja kalau benar apa yang kita bicarakan sebelumnya. Kori adalah putra dari Darco. Bukankah … kau seharusnya sedikit khawatir dengan kedekatan Jeni dan Kori?” tanya Anton.


“Ya, kami juga bukan bermaksud untuk membuat hatimu semakin panas, tapi … ada kemungkinan usaha Kori mendekati Jeni itu menyimpan maksud. Ya kami memahami Tuan saat ini sedang gundah gulana, tapi kita perlu memikirkan setiap kemungkinan. Jangan sampai rasa cemburu Anda ini, membuat Jeni dalam bahaya,” kata Billy kali ini.


Vante tentu saja berpikir. Cinta memang faktanya membuatnya bodoh dan dia mengakuinya. Apa yang Anton dan Billy katakan ada benarnya. Apakah Kori ternyata mendekati Jeni untuk balas dendam? Maka bukankah itu akan menjadi momen yang membahayakan bagi Jeni?


“Aku harus memikirkan sesuatu. Aku harus memikirkan cara untuk memisahkan mereka. Hanya saja, aku tidak yakin apakah menceritakan semua kisahnya adalah jalan yang terbaik,” ucap Vante lirih.


“Hm, maaf kalau sekali lagi memberi saran. Kami pikir tidak ada salahnya untuk berkata jujur. Bukankah lebih baik daripada terlambat?” tanya Anton kali ini.


“Aku akan mempertimbangkannya nanti,” ucap Vante singkat.


Vante belum bisa memutuskan untuk saat ini. Apalagi dia juga sudah memiliki janji untuk makan malam dengan Maria. Ya, sekali-kali ia memang ingin membawa wanita yang sudah dianggap ibunya itu untuk pergi makan malam di restoran mewah. Apalagi ia juga sudah bekerja sangat keras untuk dirinya selama ini.


Malam harinya, setelah bersiap dengan sangat tampan dan cantik, Kori membawa Jeni pergi ke sebuah restoran mewah. Kori dengan setelan jas berwarna hitam dan Jeni dengan gaun terusan berwarna kuning yang begitu membuat kulitnya makin bercahaya.


Tidak lama berselang, Vante datang bersama Maria. Wanita paruh baya itu mengenakan gaun selutut berwarna hitam dengan bros cantik di dadanya. Sedangkan Vante tampak begitu tampan dengan rambutnya yang ditata rapi dan juga jas navy bermotif kotak.

__ADS_1


Kedua pasangan itu menentukan tempat duduk. Kebetulan sekali mereka mendapatkan meja yang tak jauh berjarak. Kori yang mengamati seluruh penjuru ruangan, menatap kehadiran Vante dengan senyum miring mengembang di wajahnya.


Di lain sisi Vante yang tak sengaja bertatap mata dengan Kori juga terkejut. Walau hanya tampak bagian punggungnya saja, tapi Vante segera menyadari bahwa itu adalah Jeni yang sedang duduk di sana. Vante dengan cepat menjadi begitu kesal dan Maria yang seolah memahami hanya tersenyum sambil menggenggam lengan Vante lembut.


__ADS_2