
Kurang lebih dua minggu setelah kembalinya Vante juga setelah Kori yang mengakui perasaannya, Jeni masih belum bisa memutuskan apapun. Itu kenapa hari ini dia memutuskan untuk memenuhi Irene. Meskipu telah menjadi kakak iparnya, ia tetap sahabat yang selalu ia percaya.
Kebetulan Juan sedang bekerja dan Jeni juga sedang tidak memiliki jadwal. Sedangkan di lain sisi, Irene juga sudah sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga. Apalagi setelah kehamilannya itu yang sudah menginjak trimester kedua. Setidaknya sikap over protektif sang kakak sudah berpindah kepada istrinya kini.
“Vante kembali? Kau baru mengatakannya padaku?” tanya Irene yang tak percaya.
“Ya … aku memang belum ada kesempatan untuk menceritakannya padamu. Kau juga tahu kan aku sedang sibuk beberapa hari ini. Kau sendiri juga sedang hamil besar seperti ini,” ucap Jeni.
“Jangan mencari alasan. Aku hanya sedang hamil dan bukannya tuli. Aku masih bisa mendengar dengan baik ceritamu.” Irene menatap dengan mata tajam.
“Hehehe. Iya maafkan aku. Aku hanya benar-benar sibuk dengan dua pria itu. Selain Vante, sebenarnya ada satu pria yang juga sedang mendekatiku. Namanya Kori. Bisa dibilang aku sedang galau memutuskan antara mereka.” Jeni mengujngkapkan.
“Apa yang membuatmu galau? Apa kau tertarik dengan pria bernama Kori ini?” tanya Irene penasaran. “Dan kalau dipikir lagi, kau sungguh keterlaluan. Ada seorang pria lain dan kau masih diam. Alasan apalagi yang akan kau berikan padaku kali ini?” tanya Irene yang berkacak pinggang.
“Iya. Itu masih perkenalan yang sangat singkat. Aku juga masih belum lama mengenalnya. Hanya saja memang beberapa hari yang lalu, ia sudah mengungkapkan perasaannya.” Jeni terlihat berhati-hati.
“Dia sudah mengatakan perasaannya? Bukankah itu cukup cepat? Dia tampan? Kaya? Baik?” tanya Irene terus menerus.
“Bukan itu masalahnya. Sejak apa yang terjadi padaku dan Vante, sulit rasanya untuk percaya pada lelaki. Ada ketakutan mereka akan membohongi aku lagi,” ucap Jeni kemudian.
“Ah benar juga. Kau pasri sedikit traumatis juga dengan apa yang terjadi. Kalau boleh tahu, bagaimana dengan Vante sekarang?” tanya Irene kemudian.
“Ya sejauh apa yang aku lihat, dia baik-baik saja. Dia juga mengatakan padaku saat ini sedang sibuk menjalankan sebuah perusahaan baru yang bergerak di bidang pengembangan game online. Sebenarnya dia juga sudah pernah mengungkapkan keinginannya untuk kembali menjalani hubungan bersamaku,” ucap Jeni.
__ADS_1
“Lalu … mana di antara dua itu yang kau cintai? Jawab aku dengan jujur!” Irene mencoba menekan.
Kali ini Jeni terdiam. Dia memang tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Ia memikirkan dengan hati-hati dan jelas. Di dalam lubuk hati terdalam, dia punya jawaban. Hanya saja, dia tidak yakin apa itu benar dan salah.
“Apa kau mencintai keduanya? Kori dan Vante?” tanya Irene lagi.
“Kalau bolah jujur, aku masih mencintai Vante, tapi Kori adalah pilihan yang lebih masuk akal bagiku.” Jeni menerawang jauh.
“Jangan konyol! Kalau hatimu memang sudah memilih, maka kau bisa mengikutinya. Asal kau tahu, sebuah rumah tangga itu memang dibangun berdasarkan komitmen, tapi tetap saja kau butuh dasar cinta untuk melakukannya. Bagaimanapun rumah tangga itu bukan hubungan bisnis yang menuntut keuntungan satu sama lain.” Irene mencoba menjelaskan.
“Kori terlalu baik. Aku tidak tahu bagaimana cara untuk menolaknya.” Jeni menggenggam tangannya sendiri.
“Sejak kapan kau jadi begitu tak enakan? Setahu aku, bukan pertama kalinya kau menolak pria. Masih teringat jelas bagiku saat kau menolak Hope. Kau juga beberapa kali menolak penggemar yang mengatakan ingin dekat denganmu. Lalu apa yang berbeda dengan Kori? Apa dia memang seistimewa itu?” tanya Irene lagi.
Irene yang kesal justru memukul lengan Jeni. Mereka tertawa bersama sepanjang sore itu. Menonton film dan juga makan dan minum bersama. Mengulang kembali masa-masa persahabatan mereka.
Di lain sisi, Kori berjalan dengan santai dengan celana jins dan juga kaos hitam berbalut jaket jins. Rambutnya yang sedikit gondrong dibiarkan tergerai. Sedangkan kedua tangannya tersimpan di dalam saku celalanya. Ia memenuhi panggilan sang ibu yang ingin menemuinya.
Kori membuka pintu ruang kerja ibunya. Di mana sang ibu sedang merokok dengan riasan tebal. Pakaiannya yang selalu terkesan elegan dan mahal dari ujung kepala hingga kaki. Anna menatap kedatangan putranya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Jadi mau sampai kapan?” tanya sang ibu dengan angkuh.
“Apa maksud Ibu?” tanya Kori yang kemudian duduk di sebuah kursi di hadapan Anna.
__ADS_1
“Mau sampai kapan kau mencoba membalas dendam dengan caramu? Ibu sama sekali tidak melihat ada kemajuan di sana.” Anna menyesap rokoknya lagi.
“Bu, aku sedang berusaha. Beri aku waktu lebih lama. Lagipula, kita sama sekali tidak memiliki keharusan untuk segera melakukannya kan?” tanya Kori yang segera protes.
“Tidak ada keharusan? Hmh, aku rasa kau terlalu lama bermain-main. Dengarkan aku, Kori. Apa kau merasa senang melihat pembunuh ayahmu berkeliaran dengan mudah dan kehidupan yang nyaman? Apa kau merasa menjadi pahlawan hanya dengan berebut seorang gadis yang bahkan tak berharga seperti itu?” tanya Anna mulai kesal.
“Bu, Jeni sangat berharga. Bahkan sekarang saja, aku bisa melihat bagaimana Vante begitu kesal saat aku dekat dengan Jeni.”
“Apa gadis ini sudah menerima cintamu?” tanya Anna dengan santainya.
“Hmh, untuk itu memang belum, tapi aku yakin akan bisa melakukannya.” Kori menunjukan keseriusannya.
“Hmh, aku tidak bisa menunggu lebih lama. Kalau kau masih gagal juga dengan rencanamu itu, maka aku akan menggunakan rencanaku sendiri!” ucap Anna dengan jelas.
“Tapi, Bu …!”
“Tidak ada tapi lagi. Satu minggu. Aku akan memberimu waktu satu minggu dan kalau kau masih tidak menunjukkan pergerakan apapun, maka kau tahu apa yang akan terjadi!” Anna menatap putranya itu dengan serius.
Tidak punya pilihan lain, Kori pergi meninggalkan ruangan sang ibu. Ia melenggang ke arah kamarnya sendiri yang temaram. Merebahkan tubuhnya di sana dengan matanya menatap langit-langit kamar.
Kori sendiri sebenarnya juga bingung mengenai langkah apa yang harus dilakukan. Mencoba mendekati Jeni secara halus rupanya belum juga berhasil. Padahal setelah kejadian menolong Jeni dari pencopetan itu, ia juga sudah berusaha ‘menyelamatkan’ Jeni dari berbagai kemalangan lainnya yang telah ia buat sendiri.
“Bagaimanapun caranya aku mendekati Jeni, kalau Vante masih terus berada di sekitar kami, itu pasti tidak akan berhasil. Maka, pilihannya hanya dua. Antara aku harus membuat Jeni membenci Vante atau aku harus membuat Vante pergi untuk selamanya. Aku harus membuktikan pada diriku sendiri dan juga Ibu bahwa aku bisa melakukannya!”
__ADS_1