Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia

Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia
Penyelidikan Lebih Lanjut


__ADS_3

Keesokan harinya, Juan sudah bersiap dengan pakaian bebasnya. Celana jins dan juga kaos berkerah dengan sweater menutup tubuhnya. Wajah pria itu tampan walau jelas terlihat gurat lelah yang sangat. Obsesi yang diluar kendali membuatnya tampak jauh lebih tua dari umur yang sebenarnya.


Kalau diperhatikan lebih dekat, ia punya wajah yang tampan dengan bibir yang tebal dan hidung yang mancung. Rahangnya juga terlihat tegas namun lembut bersamaan. Sudah beberapa wanita bahkan ada rekan kerjanya yang mendekatinya, tapi tentu saja ia sama sekali tidak pernah berpikir mengenai hubungan asmara.


Juan dan Hope kembali berpatroli. Sungguh semakin lama Hope semakin muak dengan kegiatan itu. Pekerjaan mereka sebenarnya adalah detektif dan intel. Kasus kriminal di kota mereka bisa dibilang walau tidak tinggi, tapi selalu ada saja. Pekerjaan mereka memang berat, tapi bekerja bersama Juan, membuat Hope bekerja lebih berat.


“Juan, apa tidak bisa kita sedikit lebih santai? Kita sudah keliling area ini sebanyak tiga kali. faktanya, tidak ada yang bisa kita temukan,” kata Hope.


“Kamu saja yang terlalu cepat putus asa. Coba kamu pikirkan lagi. Darco kehilangan pelabuhannya karena sudah kita grebek sebelumnya. Mereka pasti sibuk mencari lokasi lain untuk dijadikan titik jual beli mereka. Pelabuhan di kota ini tidak banyak, pasti kita bisa menemukannya kalau terus berkeliling.” Juan tak mau kalah.


“Aku mengerti mengenai obsesimu ini. Hanya saja, masih banyak hal yang harus kita pikirkan dan kerjakan, Juan. Kita tidak bisa terus menerus menentang arus. Saat bahkan pimpinan tertinggi sudah memberi instruksi untuk tidak lagi mengusik Darco. Selama ini kamu tahu sendiri kan usaha yang dia lakukan semuanya legal di mata hukum,” ucap Hope.


“Ya itu karena dia menyembunyikan semua usaha busuknya. Aku bahkan percaya dia menyuap para petinggi polisi untuk membantunya menjalankan aksi. Itu kenapa pimpinan tertinggi meminta kita berhenti untuk mengawasinya.Tapi, kau lebih tahu dari siapapun, aku tidak akan mudah tertipu,” ungkap Juan lagi.


“Kau ini keras kepala sekai!” kata Hope.


“Selangkah lagi. Pria bernama Vee itu adalah kaki tangan Darco. Ia salah satu orang kepercayaannya. Bagi kita mungkin akan sulit mengintai Darco. Jadi, kita hanya butuh Vee agar kita bisa semakin dekat dengan Darco dan mendapatkan bukti. Kau lihat sendiri kita sudah menangkap basah Vee waktu itu di dermaga,” ucap Juan.


“Ya, kita mungkin saksi mata, tapi tetap saja kita tak punya bukti apa-apa. Mereka berhasil kabur dan bukti berupa dokumen pun kita juga tidak punya. Apanya yang selangkah lagi?” tanya Hope yang bingung.

__ADS_1


“Hmh. Terserah kau saja. Aku tidak ingin berdebat denganmu,” ucap Juan.


“Aku juga tidak ingin berdebat denganmu. Tapi, aku rasa, kau mulai perlu memikirkan dirimu sendiri. Kau juga berhak bahagia. Kau juga bisa memiliki kehidupan yang aman dan tenang. Tanpa lagi bayang-bayang masa lalu,” kata Hope.


“Aku tidak bisa melakukannya, Hope. Sampai aku berhasil menangkap orang yang membunuh kedua orangtuaku, aku tidak akan bisa melakukannya,” ucap Juan.


“Tapi, Juan-”


“Entah kenapa aku sangat yakin, Darco ada hubungannya dengan kejadian itu. Aku terus menggali bukti-bukti sejak aku bekerja menjadi polisi. Kasus itu sendiri sepertinya ditutup dengan alasan sudah terlalu lama. Hanya saja bagiku mencurigakan karena dokumennya tidak ditemukan di manapun. Seolah kejadian itu sengaja ditutup oleh para petinggi kepolisian.”


“Hmh, kau mulai lagi dengan teorimu.”


“Hmh, khayalanmu rasanya semakin jauh saja.” Hope menggelengkan kepalanya.


“Apa kau tidak berpikir lagi mengenai kasus terbunuhnya Dom? Polisi yang selalu dielu-elukan oleh para senior itu tiba-tiba ditemukan meninggal di rumahnya karena luka tembak. Apa kau tidak memikirkan kemungkinan keterlibatan Darco di sana? Apa lagi kalau kau ingat lagi, waktunya bertepatan sekali dengan kita yang menggerebek pelabuhan itu. Aku yakin, Darco marah karena Dom seolah kecolongan dan membiarkan kita melakukannya. Padahal, kau juga tahu Darco sudah memberi banyak uang padanya. Kita bisa lihat dari kekayaannya yang tak masuk akal dengan posisi itu.” Juan menjabarkan.


“Tapi, kalau kita pikirkan lagi, apa kamu yakin orangtuamu menginginkan ini? Apa kamu kira orangtuamu akan senang kalau kau hidup terus dihantui rasa dendam?” tanya Hope.


“Tahu apa kau tentang orangtuaku?” tanya Juan sinis.

__ADS_1


“Aku memang tidak tahu banyak tentang mereka. Tapi, melihat apa yang sudah kau temukan. Mengenai keduanya yang turun dari mobil mereka karena ingin membantu wanita yang kesulitan. Aku rasa itu cukup menunjukkan semuanya. Aku percaya mereka tidak menyesal melakukannya karena mereka adalah orang-orang yang baik,” ucap Hope lagi.


“Sudahlah, Hope!”


“Apa kau benar-benar akan mengorbankan segalanya? Apa kau tidak pernah terpikirkan akibatnya pada Jeni yang terus kau kekang? Atau setidaknya dengan kehidupan pribadimu sendiri yang terus kau sepelekan?” tanya Hope lagi.


Juan memilih untuk mengabaikan pertanyaan itu. Kendaraan itu terus melaju. Mencari entah apa juga mereka tidak tahu. Juan kembali mengingat lagi kejadian mengerikan malam itu. Setelah kedatangan dua orang berpakaian polisi itu, kehidupan ia sekeluarga menjadi sangat buruk.


Juan masih mengingat dengan jelas bagaimana mereka terpaksa harus pindah ke rumah yang jauh lebih kecil agar bisa bertahan hidup. Neneknya yang renta harus bekerja. Sedangkan ia dan Jeni harus sekolah dalam keadaan yang memperihatinkan.


“Kakak, aku ingin sekali punya sepatu baru seperti teman-temanku yang lain.”


Juan masih ingat ketika adiknya berusia tujuh tahun dan tidak berhenti merengek karena dia harus masuk ke sekolah dasar dengans epatu lamanya. Sedangkan semua temannya mengenakan sepatu baru yang mengkilap.


“Jeni, kau kan tahu, kita harus pintar menyimpan uang. Paling penting adalah kamu harus sekolah dengan rajin. Kalau kau melakukannya, kita bisa jadi orang yang sukses dan punya banyak uang. Setelah itu, kau bisa membeli apapun yang kau inginkan.”


Mengenaskan memang karena setelah puluhan tahun, kehidupan mereka tidak bisa dibilang membaik. Jeni bahkan masih harus bekerja paruh waktu untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya. Sedangkan ia hanya polisi berpangkat rendahan dengan gaji pas-pasan.


Juan menghela nafasnya dalam diam. rasanya selama ini kehidupannya terus berkutat pada pengejarannya pada pelaku pembunuhan orangtuanya. Bahkan mungkin ia sudah lupa caranya untuk berhenti. Ia memilih untuk kembali fokus pada tujuan utamanya.

__ADS_1


__ADS_2