
Pasangan itu sedang berada di atas ranjang. Di mana Vante sedang memeluk sang istri dengan penuh kasih sayang. Kehidupan keduanya telah perlahan berubah kini.
"Aku mengamati semua yang terjadi. Randy sudah di penjara dan aku juga dengar kalau Rosa tidak lagi bekerja denganmu. Hmh, aku benar-benar khawatir sekarang," kata Jeni.
"Kita sudah pernah membicarakan ini. Aku hanya membutuhkan kau percaya padaku dan semua akan baik-baik saja." Vante coba menenangkan.
"Ya aku memang sudah mengatakan itu, tapi tetap saja aku merasa cemas." Jeni angkat bicara.
"Kau hanya perlu mendoakan dan mendukungku. Aku akan baik-baik saja. Ah, maksudku kita akan baik-baik saja." Vante bicara dengan santai.
Jeni hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah itu, keduanya memilih untuk memejamkan mata dan tertidur. Selebihnya mereka melakukan kegiatan seperti biasa.
__ADS_1
Jeni akhirnya mendapatkan telepon dari seseorang yang mengaku sebagai asisten Tuan Yuan. Ia benar-benar akan mengundang Jeni untuk melakukan audisi. Siapa sangka, ia kembali bertemu dengan Johan di kantor itu.
Johan memang sedang berada di rumah produksi yang sama berkaitan dengan pembacaan naskah film horor yang sedang ia kerjakan. Sedangkan Jeni akan audisi untuk sebuah film drama.
"Kamu menjalani audisi untuk Musim Semi yang Rindukan?" tanya Johan.
"Iya. Aku melakukannya. Apa jangan-jangan kau artis utama juga di sana?" tanya Jeni bercanda.
"Ah, begitu. Aku juga gagal untuk audisi film horor itu. Sepertinya akting ketakutanku kurang mantap." Jeni tersenyum.
"Tidak masalah. Lagipula sebenarnya … itu juga karena aku merasa sangat menyayangkan kalau bakatmu itu tertahan untuk menjadi pemeran pembantu di film horor seperti itu. Wajah cantik dan bakat alamiah seperti itu, aku rasa akan lebih baik kalau kau melakukan debutmu dengan drama." Johan memberi saran.
__ADS_1
"Sebentar. Kenapa terdengar seperti …?"
"Ya sebenarnya aku sedikit merayu waktu itu. Jangan salah paham. Kami benar-benar melihat potensi darimu. Itu kenapa aku meminta pada pemilik rumah produksi untuk menolakmu dan memberimu kesempatan yang lebih besar dengan film ini." Johan mengedipkan matanya.
"Wah. Aku tidak tahu harus kesal atau berterima kasih padamu kali ini. Hanya saja sungguh aku bisa melakukannya sendiri tanpa bantuanmu. Apapun itu aku juga akan menerima pekerjaan itu dan menjalaninya dengan sungguh-sungguh." Jeni tentu saja merasa tak enak.
"Aku tahu. Aku bisa melihat semangat itu di matamu. Entah atas bantuanku atau tidak, kau pasti akan mendapatkan pekerjaan itu. Aku hanya sedikit membantumu untuk mendapat kesempatan yang lebih baik saja. Aku harap kau tidak salah paham." Johan tersenyum hangat.
"Wah, lalu apa yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikanmu ini?" tanya Jeni ramah.
"Jangan sekarang. Kau kan belum mendapatkan peran itu. Bagaimana kalau kita mulai dengan kau ikuti audisi itu dengan baik dan dapatkan perannya. Ketika kau berhasil nanti, baru kau bisa membayarku. Mulai dengan … membelikanku makanan. Bagaimana menurutmu?" tanya Johan begitu santai.
__ADS_1
Jeni masih tertahan. Ia ingat satu hal bahwa tidak akan mudah melakukannya karena dirinya sudah memiliki suami yang cukup over protektif. Jelas makan bersama ini bukan ide yang bagus untuk berterima kasih, tapi Johan memang sudah membantunya dan ia harus membalasnya.