
“Jadi akhirnya kau memilih pergi? Apa ini perpisahan?” tanya Juan yang terlihat bersedih.
Seolah memberi waktu, Irene mempersilahkan sang suami dan adiknya untuk berbincang. Ia memilih menghabiskan waktu untuk memasak di dapur. Walaupun masih berada di satu ruangan yang sama, setidaknya Irene bisa mengusahakan diri untuk tidak terlalu terlibat di sana.
“Kak, aku memang tidak tahu bagaimana perasaanmu saat ini. Masalahnya kini aku sudah menjadi istri seseorang. Aku tidak bisa lagi melakukan apapun sesuka hatiku. Vante memiliki sebuah perusahaan di sana di mana anak buahnya bergantung padanya. Tidak mungkin ia meninggalkan semuanya untuk berada di sini. Sedangkan aku yang hanya seorang aktris tak terkenal, sudah seharusnya mengikuti Vante kemanapun ia pergi kan?” tanya Jeni.
“Hei, kenapa harus bicara seperti itu? Kalaupun kau memutuskan untuk mengikuti suamimu, itu hanyalah bentuk pengabdianmu sebagai seorang istri. Bukan tentang siapa yang memiliki jabatan lebih tinggi dan lainnya. Kenapa kau harus membawa perihal itu? Sedangkan kamu adalah seorang aktris yang sangat berbakat.” Juan tidak suka dengan apa yang Jeni ucapkan.
“Hehehe. Ya ya baiklah. Itu salahku. Pada intinya, aku harus mengikuti suamiku kan.” Jeni membenahi ucapannya.
“Ya aku tidak punya alasan lagi untuk melarang. Kau memang sudah milik suamimu sekarang.” Juan masih terlihat lesu.
“Kak, perjalanan dari Vegasa ke Boranesia hanya perlu tiga jam dengan pesawat. Aku akan bisa sering datang. Apalagi nanti saat Irene melahirkan. Aku pasti akan datang untuk berkunjung. Tentu saja aku ingin bertemu keponakanku. Nanti juga kalau keponakanku sudah semakin besar, kalian bisa berkunjung ke Vegasa. Aku akan membawa kalian jalan-jalan nanti.” Jeni terlihat bersemangat.
“Iya. kau benar juga. Ya, aku harap kau mengerti. Bagaimanapun rasanya sedikit emosional. Kau itu selain adikku, juga sudah aku anggap seperti anakku sendiri juga sahabat karib. Meskipun sering kali kita bertengkar karena perbedaan pendapat, itu tidak akan menghapus fakta bahwa kau adalah satu-satunya orang yang paling dekat denganku. Kau adalah satu-satunya keluarga yang hidup bersamaku paling lama. Kau mengerti maksudku kan?” tanya Juan sendu.
“Ya, Kak. Aku sangat mengerti. Jarak ini benar-benar tidak akan mengubah apapun. Aku tetap adikmu dan kau tetap kakakku yang ke benci sekaligus sangat ku sayangi.” Jeni tersenyum lebar sekali.
Jeni memeluk sang kakak dengan erat. Pria itu membalas pelukan sang adik. Keduanya mengingat masa-masa bersama dulu. Berpelukan dalam suka dan duka. Pada akhirnya mereka harus merelakan untuk berpisah mulai kini. Juan akan mencoba untuk menerimanya sedangkan Jeni akan coba untuk terbiasa.
__ADS_1
“Kalau ada apa-apa, aku pasti akan menghubungimu. Teknologi saat ini sudah sangat canggih. Panggilan video juga sangat mudah dilakukan.” Jeni coba untuk menghibur.
“Benar juga. Kita bicara seolah akan berpisah selamanya saja. Hehehe. Lagipula setelah ini aku harus fokus pada anak yang ada di dalam kandungan Irene. Kalau dia lahir, aku rasa duniaku akan cepat beralih.” Juan mulai tersenyum.
“Ya itu benar. Kalian pasti akan sangat sibuk saat itu.” Jeni ikut tertawa kecil.
Setelah sesi berpamitan dengan dua orang terdekatnya usai, kini Jeni memilih untuk pulang ke apartemennya sendiri. Bagaimanapun, unit itu memiliki segi sentimental di dalam hidupnya. Ia membelinya sepenuhnya dengan uang hasil kerja kerasnya sendiri dan sekarang ia memutuskan untuk menjualnya.
Jeni merebahkan dirinya di sofa yang ada di ruang tengahnya. Di mana ia selalu menghabiskan waktu untuk menonton film. Jeni menatap ke sekeliling dan sekali lagi menghela nafasnya panjang. Ia memang harus mengemas pakaian dan juga barang pribadi lainnya yang ia perlukan di sana dalam beberapa hari.
Jeni memutuskan untuk mengambil teleponnya dan melakukan panggilan video kepada Vante. Pria itu mungkin sedang berada di rumah saat ini. Tidak lama benar vante mengangkat teleponnya dan dia memang berada di rumah. Baru saja keluar dari kamar mandi masih dengan rambut yang basah.
“Ya. Kau sendiri? Sepertinya sudah di apartemen ya?” tanya Vante memastikan.
“Iya. Aku baru tiba dari apartemen kakakku. Aku berpamitan sekaligus bicara sedikit tentang rencana kami di masa depan. Ah, dan aku juga sudah sampaikan padanya tentang aku yang melarangmu ikut datang ke sini. Dia mengerti.” Jeni dengan cepat menjelaskan.
“Terima kasih untuk itu. Jadi, kapan kau berencana kembali? Aku akan menjemputmu di bandara nanti.” Vante terlihat tidak sabar.
“Aku bahkan baru dua hari kembali kesini. Masih banyak hal yang harus aku lakukan. Aku masih perlu bertemu dengan beberapa orang yang berniat membeli apartemen ini.” Jeni menatap ke sekeliling.
__ADS_1
“Kenapa harus repot? Kau bisa meminta agen perumahan untuk menjual rumah itu kan?” tanya Vante.
“Ya … aku haya ingin memastikan rumah ini jatuh di tangan orang yang tepat, Vante. Aku harap kamu mengerti karena apartemen ini adalah hal yang aku beli dengan uangku sendiri.” Jeni bicara lirih.
“Kalau kau memang tidak ingin menjualnya, maka jangan lakukan. Anggap saja itu tabungan properti bagi kita. Kita punya rumah di sana dan di sini. Itu bagus kan.” Vante terlihat begitu santai bicara.
“Ya … memang mudah bagimu untuk mengatakannya, tapi aku ingin pakai uangnya untuk memulai karirku di Vegasa. Aku juga sedang memikirkan beberapa alternatif usaha. Ya meskipun aku juga belum tahu apa. Setidaknya aku sudah punya modalnya kan.” Jeni terlihat bersemangat.
“Kalau perlu modal, kau hanya perlu mengatakan padaku.” Vante bicara lagi.
“Sudah. Aku sama sekali tidak akan melakukannya. Ya aku tahu kita sudah menikah, tapi tetap saja aku ingin berusaha dengan caraku sendiri. Aku akan mencoba menjadi aktris juga di sana. Siapa tahu aku mendapat peran dan kesempatan yang lebih baik. Hanya saja tetap, aku akan melakukannya dengan caraku. Aku tidak mau kau mengenalkanku apda relasimu yang ini dan itu. Aku ingin menunjukkan pada diriku sendiri bahwa aku bisa melakukannya tanpa pengaruh suamiku. Bisa kah kau melakukannya untukku?” tanya Jeni tegas.
“Itu yang kau inginkan? Hm, baiklah. Aku akan menghargai keputusanmu. Kalau kau ingin menjadi artis di sini, atau kau ingin mencoba pekerjaan lainnya, aku akan sepenuhnya mendukungmu. Aku berjanji tidak akan ikut campur, kecuali kalau kau sudah melangkah dalam bahaya. Maka, aku akan menjadi orang pertama yang datang untuk menyelamatkanmu. Kau mengerti kan?” tanya Vante dengan kondisinya.
“Baiklah kalau begitu. Aku setuju. Kalau begitu, aku tutup dulu teleponnya ya. Aku harus mandi dulu.” Jeni tersenyum hangat.
“Mandi? Jangan tutup teleponnya kalau begitu. Letakkan saja ponselnya jadi aku bisa mengawasimu.” Senyum Vante penuh arti.
“Ck, jangan harap!” Jeni menutup teleponnya segera.
__ADS_1