Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia

Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia
Apa Dia Orangnya?


__ADS_3

Maria bisa melihat dengan jelas kemana arah mata Vante menuju. Melihat sesosok pria yang fotonya memang ada di meja kerjanya beberapa hari ke belakang. Itu adalah Kori yang merupakan Anak Darco dan Anna. Dia tampak sedang berbincang dengan seorang wanita.


“Apa itu adalah …?”


“Ya, Maria. itu adalah Jeni. Aku bahkan mengenalinya dari kejauhan!” Vante terlihat kesal.


“Bukankah kita di sini untuk makan malam? Bisakah kau sedikit tenang atau kau lebih memilih kita pulang saja?” tanya Maria lemah lembut.


“Tidak, Maria. Hmh, ini salahku. Aku yang membawamu kemari tentu saja aku akan memenuhi janjiku malam ini. Aku membawamu kesini untuk menikmati makanan enak dan berbincang denganmu. Bukan begitu?” tanya Vante dengan senyumnya dipaksakan.


“Ya. Itu lebih baik. Ayo kita duduk dulu. Lagipula … aku penasaran sekali dengan wanita yang berhasil membuatmu seperti ini.” Maria tersenyum hangat.


Di lain meja, Kori yang mengetahui kehadiran Vante juga begitu senang. Ia bisa mendapatkan dua hal sekaligus dalam sekali bergerak. Mendekati Jeni sekaligus membuat Vante jengkel. Lagipula ia memang punya kejutan untuk Jeni malam ini yang otomatis akan membuat Vante terkejut juga.


“Jadi, apa kau berhasil dengan casting hari ini? Tidak ada masalah kan?” tanya Kori perhatian.


“Ya, syukurnya. Aku memang terlambat, tapi mereka memberiku kesempatan setelah aku menceritakan apa yang terjadi. Aku mengikuti castingnya dan mereka hanya mengatakan akan memberiku kabar dalam dua hari,” ucap Jeni sambil menyuap makanannya ke dalam mulut.


“Syukurlah kalau begitu. Aku juga ikut senang mendengarnya. Aku pikir juga karena suasana hatimu sedang bagus malam ini, aku menyiapkan sebuah hadiah,” ucap Kori tiba-tiba.


“Apa? Mendadak sekali,” kata Jeni.


“Itu kenapa dinamakan hadiah. Kejutan. Hehehe.” Kori tertawa kecil.


Pria itu merogoh saku jasnya dan mengeluarkan satu kotak yang kecil. Ia membukanya perlahan dan Jeni bisa melihat sepasang antik yang sangat cantik dan berkilau. Kalau Jeni tidak salah itu adalah berlian asli di sana.


“Kori, bukankah ini terlalu berlebihan?” tanya Jeni tak percaya.

__ADS_1


“Aku sama sekali tidak berpikir demikian. Aku akan sangat senang kalau kau bisa memakai anting-anting ini saat tampil di atas panggung. Walaupun kecil, aku yakin itu akan bersinar saat kau gunakan.” Kori tersenyum sekali lagi.


“Tapi, Kori ….”


“Tidak ada maksud apapun dengan pemberian ini, Jeni. Kau tidak perlu terbebani. Ayolah, tanganku sudah letih menunggu.” Kori merajuk.


“Baiklah. Aku akan menerimanya. Dengan catatan, aku akan mencari cara untuk membalasmu suatu hari nanti,” ucap Jeni menyimpan kotak yang Kori berikan.


“Aku tidak akan memaksamu, tapi aku akan sangat tersanjung kalau kau mempertimbangkan perasaanku padamu. Aku tidak memaksa.” Kori tersenyum jahil.


“A-apa?” tanya Jeni tak percaya.


“Ayolah, Jeni. Kita berdua sudah sama-sama dewasa dan aku juga yakin kau mengetahuinya perasaanku padamu. Awalnya aku menyukaimu sebatas penggemar, tapi semakin kesini aku percaya rasa itu semakin berkembang. Aku mencintaimu, Jeni.” Kori menatap wanita itu dengan serius.


“Ini terlalu terburu-buru, Kori.”


“Ya, aku tahu. Hanya saja aku harap kau mengerti kalau aku belum bisa menjawab itu sekarang. Lagipula kau yang bilang bahwa pemberianmu ini tidak akan membebaniku,” ucap Jeni.


“Iya aku tahu. Ini tidak ada hubungannya dengan anting-anting itu. Ada atau tidak hadiah itu, toh aku akan tetap mengutarakan perasaanku padamu. Aku menyukaimu, Jeni.” Kori bicara lagi.


Kesempatan itu digunakan Kori untuk menggenggam tangan Jeni dan kemudian menciumnya. Tak lama kemudian, Jeni memilih untuk pergi ke toilet. Tidak disangka, Maria yang melihat itu juga ikut pergi ke toilet. Vante yang heran hanya bisa menatap saja.


Maria masuk ke dalam toilet, di mana Jeni sedang mencuci tangannya dan memperbaiki sedikit riasannya. Ia juga menatap kotak dengan anting di dalamnya. Maria melirik sekilas dan mulai bicara.


“Wah, anting yang sangat indah. Persis sepertimu, Nona Muda. Itu pasti pemberian seseorang yang spesial.” Maria berdiri di sisi Jeni.


“Ah, tidak begitu. Ini hanya dari seorang teman.” Jeni menjawab cepat.

__ADS_1


“Teman memberimu sepasang anting mahal? Kenapa aku tidak yakin,” ucap Maria memancing.


“Ini benar-benar dari seorang teman,” ucap Jeni lagi.


“Karena kau begitu bersikeras mengelak, maka aku percaya kau punya perasaan pada pria yang lain. Apa aku benar?” tanya Maria.


Kali ini Jeni terdiam. Ia jadi memikirkannya. Kori adalah pria yang baik dan juga dia selalu terbuka mengenai dirinya. Masalahnya menagapa ia selalu memikirkan Vante meskipun sekeras apapun dia berusaha menghindar.


Apalagi setelah Vante akhirnya menunjukkan dirinya lagi. Sungguh pertahanan hati Jeni goyah. Meskipun benar dia kesal dan juga marah, tapi itu juga tidak bisa menghapus perasaan rindunya pada pria itu. Bahkan Kori tak sanggup menggantikan posisinya.


“Aku yakin tebakanku benar. Nona muda, bertahanlah dengan kata hatimu. Percayalah bahwa ia akan membawamu kepada kebahagiaan.” Maria tersenyum ramah.


“Tapi bagaimana kalau pria yang aku sukai, justru membuatku dalam kesedihan dan kesengsaraan?” tanya Jeni dengan suara lirih.


“Hm … kau punya ketakutan seperti itu? Masalahnya, kita tidak akan pernah tahu sampai benar-benar mencoba kan? Apa kau sudah pernah melakukannya?” tanya Maria lagi.


“hm … entahlah. Aku juga tidak yakin.” Jeni terlihat lesu.


“Kalau begitu, jangan terlalu dipikirkan dan jalani saja dulu. Menurut pengamatanku, kau adalah gadis yang kuat. Kau pasti bisa menjalani kehidupanmu dengan bahagia. Ah dan tentu saja jangan pernah memaksakan perasaanmu. Itu sama sekali tidak akan berakhir baik." Maria memilih pergi dari sana setelah mengedipkan matanya.


Begitu kembali, Maria penuh senyum duduk di hadapan Vante yang membuatnya bertanya-tanya. Apalagi tak lama setelah itu Jeni juga keluar dari toilet dan segera duduk bersama Kori. Tak lama kemudian mereka pergi dari sana.


"Maria, apa yang terjadi di dalam sana? Kenapa kau lama sekali?" tanya Vante yang penasaran.


"Tidak ada. Hanya sedikit berbincang. Aku harap dia sadar setelah ini. Owh ya dan kau, aku sarankan untuk terus maju dan pantang mundur. Aku yakin Jeni masih memiliki perasaan padamu. Kau hanya perlu berjuang sedikit lebih keras. Kau mengerti kan?" Maria mengedipkan matanya kali ini.


Entah apa yang terjadi di dalam sana, tapi suasana hati Vante mendadak baik. Mereka melanjutkan makan malam dengan penuh gelak tawa sisa itu. Dalam hatinya Vante bertekad akan berjuang lebih keras untuk mendapatkan hati Jeni lagi.

__ADS_1


__ADS_2