Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia

Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia
Mencari Kebenaran


__ADS_3

Satu minggu setelah hari yang mengerikan itu, Jeni akhirnya memilih untuk kembali ke Vegasa. Sebelumnya dengan dalih menjual apartemen, ia terus mengulur waktu untuk kembali. Sungguh ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat akhirnya bisa bertatap muka lagi dengan Vante.


Jeni memilih untuk diam. Ia tidak ingin menceritakan apa yang terjadi pada Juan atau Irene. Setelah beberapa hari, Jeni sepakat untuk kembali dan memperhatikan apa yang terjadi. Ia hanya tak ingin kalah saat baru memulai. Ia ingin memperhatikan dulu apa yang akan terjadi kemudian.


Seiring waktu juga, ia mulai coba membiasakan diri untuk membalas pesan atau menerima telepon Vante seperti sebelumnya. Walaupun tetap saja begitu melihat wajah atau mendengar suara suaminya itu, ia akan teringat lagi dengan foto-foto yang ia dapatkan sebelumnya.


Seiring waktu, ia coba menghadapinya dengan kepala dingin. banyak hal yang cukup janggal dari dikirimnya foto itu. Apalagi rumah mereka bukan area sembarangan di mana orang asing akan dengan mudah masuk. Maka apa latar belakang di balik dikirimnya foto itu sebenarnya.


“Pasti ada sesuatu yang terjadi tanpa aku tahu. Vante bukan tipe pria yang gegabah seperti itu. Tidur bersama wanita lain di rumah keluarga kami. Bahkan hingga fotonya tersebar dan sampai di ponselku. Kalau memang dia punya niatan untuk berselingkuh, aku yakin dia bisa melakukannya lebih baik dari ini. Apa ini hanya jebakan?”


Di lain sisi, Vante harus lebih berhati-hati. Apalagi ia juga belum menemukan bukti apapun yang bisa mendukung kecurigaannya selama ini. Masalahnya di lain sisi, ia juga bisa merasakan ada yang berbeda dari sikap Jeni. Entah apa itu dan apakah ada hubungannya dengan Rosa atau tidak.


Vante menepati janjinya untuk menjemput sang istri di bandara. Jeni tersenyum hangat dan berlari kecil menuju sang suami. Sedangkan Vant dengan segera memeluk sang istri dan mendekapnya. Pria itu mencium singkat pipi sang istri dan berlalu membawa koper yang cukup banyak itu.


“Akhirnya kamu datang juga. Aku sangat merindukanmu, Jeni.” Vante angkat bicara.


“Ah, benarkah? Aku rasa begitu melihat bagaimana tubuhmu semakin kurus saja sekarang.” Jeni memperhatikan.


‘Ya. Banyak yang aku pikirkan. Rasanya semakin sulit saat kau tidak ada di sisiku. Hm … apa kita akan makan siang bersama dulu setelah ini? Aku arsa banyak yang harus kita bicarakan kan?” tanya Vante bersemangat.

__ADS_1


“Ya terserah kau saja. Aku belum terlalu lapar, tapi aku memang ingin makan.” Jeni tersenyum kecil.


Di restoran itu, keduanya makan dengan nyaman. Semua berangsur berjalan seperti biasa seolah tidak ada yang terjadi. Mereka membicarakan juga mengenai apartemen Jeni yang akhirnya berhasil terjual. Jeni juga menceritakan bagaimana dia cukup puas dengan hasilnya.


Vante juga bercerita tentang pekerjaannya yang kembali akan padat belakangan karena mereka sedang mempersiapkan game baru yang akan diluncurkan dalam tiga bulan. Ia juga mengatakan di masa seperti itu, mungkin akan sering pulang terlambat karena berbagai alasan.


Baru saja mulai mencair suasana itu, keduanya dikejutkan oleh suara yang jelas tak asing. Vante dan Jeni serempak menoleh dan mereka bisa melihat Rosa berdiri di sana dengan celana cutbray hitam dengan tank top seksi berwarna senada. Baik vante dan Jeni dikejutkan dengan cara yang berbeda.


“Aku tidak menyangka akan bertemu kalian di sini. Hm, aku sedang cuti sekarang dan memutuskan untuk makan siang bersama teman-temanku di sini.” Rosa menjelaskan dirinya.


“Ah, begitu. Lalu … di mana teman-temanmu?” tanya Jeni memperhatikn sekitar.


“Kalau begitu, kenapa tidak kau duduk dulu di sini sambil menunggu?” tanya Jeni menawarkan.


“Hah? Apa tidak akan mengganggu kalian?” tanya Rosa tak enak.


“Benar kata Rosa. Ia pasti sedang menunggu temannya kan. Biarkan saja dia menunggu mereka di meja yang sudah disiapkan.” Vante dengan cepat menengahi.


“Aku rasa itu bukan masalah besar. restoran ini tidak seluas itu. Kalau ada teman yang datang, pasti akan terlihat dengan sangat jelas dari sini. Duduklah di sini, Rosa. Kau kan sekretaris sekaligus teman suamiku. Apa salahnya kita duduk bersama?”

__ADS_1


Jeni dengan sengaja tersenyum dengan tangannya merangkul mesra lengan Vante. pria itu entah kenapa mendadak tegang apalagi melihat perubahan sikap Jeni yang drastis. Mau tak mau Rosa juga tak bisa mengelak dan ia duduk di sana.


“Bukankah Vante baik sekali padamu? Di hari aku kembali dari Boranesia, ia memberimu cuti. Padahal seharusnya kehadiranmu sangat dibutuhkan di kantor kan di saat seperti ini? Maksudku, bosmu sedang tidak ada di tempat, bukankah sekretaris yang harus turun tangan untuk menggantikan perannya sementara? Kau pasti anak buah kesayangan suamiku,” ucap Jeni dengan senyum ramah.


“Ah, tidak begitu. Ini hanya kebetulan saja karena aku masih memiliki banyak sisa hari cuti. Aku sudah menyiapkannya jauh-jauh hari.” Entah kenapa Rosa jadi merasa sedikit terintimidasi.


“Owh begitu. Kalau dipikir lagi, Nona Rosa ini cantik sekali. Aku juga sangat yakin berpendidikan tinggi. Aku juga mendengar kau datang dari keluarga yang sangat berada. Kenapa dari sekian banyaknya kesempatan emas, kau malah tertarik menjadi anak buah suamiku di perusahaan baru yang masih berkembang? Aku yakin dengan harta dan tahta ayahmu, ia bisa menjadikanmu pemilik perusahaan.” Jeni bicara dengan santai.


“Jeni, kenapa kau tanya begitu?” tanya Vante yang cepat menengahi.


“Apa salahnya pertanyaanku? Aku toh tidak sedang menghinanya atau apa. Aku hanya murni ingin tahu dan penasaran mengenai motivasinya. Apakah kau keberatan menjawabnya, Nona Rosa?” tanya Jeni santai.


“Ah, tidak tidak, Nyonya Jeni. Aku tidak keberatan. Satu-satunya alasanku adalah karena aku ingin sekali belajar dan menggali kemampuanku. Kau benar, bahwa aku bisa saja mendapat kesempatan bekerja yang lebih baik di tempat lain atas bantuan ayahku, tapi aku sama sekali tidak ingin melakukannya. Waktu itu aku kebetulan tahu bahwa Tuan vante mencari seorang sekretaris. Oleh karena itu, aku melamar. Tidak ada alasan khusus lainnya.” Rosa dengan cepat berkilah.


“Ah, begitu. Aku pikir … itu karena kau tertarik pada suamiku. Ya siapa juga yang tidak? Seorang pemimpin perusahaan yang tampan dan mapan juga sendiri. Terlihat seperti target yang sangat menggiurkan kan?” tanya Jeni memancing.


“Jeni, apa yang kau katakan? Aku ini suamimu!” Vante dengan cepat berbisik.


“Kenapa, Vante? Apa kau ingin melindungi sekretarismu ini? Bukankah sudah menjadi rahasia umum di perusahaan kalau Nona Rosa memang menyukaimu? Ah, bahkan aku mendengar langsung darimu beberapa waktu yang lalu kan? Apa sekarang … kau masih menyukai suamiku?” tanya Jeni dengan tatapan penuh percaya diri.

__ADS_1


__ADS_2