
"Aku sudah memutuskan. Kita laporkan saja Randy dan Rosa ke polisi. Ayah dan anak itu harus mendapatkan pelajaran." Vante akhirnya memutuskan.
"Apa kau sudah bicara dengan Jeni? Apa dia sudah setuju dengan ini?" tanya Sanchez memastikan.
"Aku akan menanggung semua akibatnya. Lagipula Jeni sepertinya sudah menyerahkan keputusannya padaku. Kami sudah bicara." Vante bicara.
"Baiklah kalau itu keputusanmu." Sanchez menanggapi.
Vante pada akhirnya menemukan keberanian untuk melaporkan Randy dan usaha haramnya itu. Tentu saja sejurus kemudian kepolisian segera mengungkap kejahatan dan menangkap sosok Randy. Beritanya begitu luas tersebar di publik karena sosok Randy yang dikenal sebagai seorang pengusaha sukses.
Begitu berita itu tersebar, tentu saja nama Vante dengan cepat terseret. Termasuk kehidupan rumah tangganya yang cepat tersorot. Gagal fokus, semua orang kini mengenal sosok Vante dan Jeni sejak itu. Bukannya menurun, karir keduanya justru melonjak.
Karena keberaniannya, Vante mendulang banyak pendukung. Bisnisnya justru lebih dikenal oleh banyak orang. Banyak orang yang mendadak ingin menanam saham di perusahaannya. Vante yang menerima banyak suntikan dana akhirnya harus bekerja lebih keras untuk menghasilkan game terbaru.
Di lain sisi, pamor Jeni juga melonjak. Apalagi setelah dia membintangi dua iklan yang juga sudah keluar di pasaran. Banyak film dan acara yang mendadak meminta Jeni untuk menjadi artis mereka. Tentu saja Jeni kini tak bisa bekerja sendiri. Ia akhirnya bertemu dengan Kimi dan Lili yang bekerja sebagai manajer juga asistennya.
Awalnya semua berjalan dengan lancar, hingga akhirnya satu per satu musuh mulai bermunculan. Benar apa yang dikatakan oleh Sanchez. Banyak pelanggan yang marah atas laporannya dan mereka tidak tinggal diam. Selalu ada saja usaha mereka untuk menjegal Vante juga Jeni mulai dari cara yang halus, sampai kasar.
Terakhir kali, Vante juga bertemu dengan Rosa di kantor. Bersamaan dengan dia yang memang sengaja ingin memecat Rosa sekaligus. Tentu saja semua orang terkejut dengan berita itu dan Rosa menjadi sangat malu dengan apa yang terjadi. Dia dengan cepat menjadi bahan gunjingan.
__ADS_1
"Kau melaporkan ayahku ke polisi? Apa masalahmu sebenarnya? Kenapa kau bertindak sejauh ini?" tanya Rosa kesal.
"Maaf, tapi semua ini karena kalian sendiri. Aku tahu semua yang terjadi pada kita malam itu hanyalah rekayasamu saja dan juga ayahmu. Aku memang tidak tahu caranya jadi aku mencari tahu. Aku segera sadar bahwa itu adalah karena obat yang kau berikan padaku entah bagaimana caranya malam itu. Aku mencari tahu mebuh lanjut dan ini yang aku temukan. Aku tidak punya cara lain selain melaporkan ayahmu ke polisi untuk menjadi pelajaran." Vante bicara dengan santai.
"Kau … pria sialan! Ayahku sama sekali tidak melakukan apapun selain berusaha untuk membahagiakan aku. Ia mungkin melakukannya dengam cara yang salah, tapi kau seharusnya tidak bertindak sejauh ini." Rosa terlihat begitu kesal.
"Jadi kau mengakui semua perbuatanmu? Sungguh tidak sia-sia aku melangkah sejauh ini." Vante akhirnya merasa lega.
"Ap-apa? Kamu menjebakku?" tanya Rosa yang makin emosi.
"Tidak perlu alasan lain lagi. Kau seharusnya beruntung karena aku tidak melaporkanmu juga ke polisi. Sementara waktu ini aku akan menggunakan pengakuanmu sebagai jaminan. Kalau suatu saat nanti kau bertindak di luar jalur, maka aku tidak akan segan untuk menjebloskanmu juga ke penjara!" Vante menentukan sikap.
"Untuk saat ini, kau seharusnya sadar diri untuk segera mengundurkan diri dari perusahaan ini. Aku tidak ingin mendengar apapun lagi darimu." Vante menatap tajam.
Rosa yang kesal memilih untuk pergi dari sana. Benar apa yang Vante katakan. Beruntung ia tidak menyusul sang ayah masuk ke penjara. Tentu saja di dalam lubuk hati terdalam ia begitu marah. Mengemasi semua barangnya dari meja yang selama ini ia gunakan untuk bekerja.
"Aku akan membalaskan dendam. Aku harus memikirkan cara untuk mengeluarkan ayah dari penjara. Setelah itu aku harus memikirkan cara untuk membalas dendam." Rosa kesal sekali.
Tempat yang pertama ia tuju adalah penjara. Rosa ingin bertemu dengan ayahnya. Bertemu dengan ayahnya yang mengenakan seragam penjara sungguh membuatnya merasakan banyak hal di dalam dirinya. Antara sedih, marah, benci, iba, dan lain sebagainya.
__ADS_1
"Ayah, apa yang harus aku lakukan. Aku marah sekali pada diriku sendiri juga pada Vante." Rosa mulai menangis.
"Bukan salahmu, Rosa. Ini murni salah ayah karena tidak berhati-hati. Selama ada orang lain di luar sana yang mengetahui apa yang ayah lakukan, itu berarti ayah yang memang gagal dalam menjalankan misi." Randy menggenggam tangan sang putri.
"Ayah, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak bisa melakukan apapun tanpamu. Aku sudah tidak lagi bekerja di peruasahaan Vante. Aku harus kemana? Aku harus bagaimana?" tanya Rosa bersedih.
"Tetaplah berada di rumah. Tidak perlu melakukan apapun. Ayah masih bisa mengendalikan semuanya dari dalam sini. Masalah Vante juga, aku pasti akan menyelesaikannya dengan caraku. Kau lebih baik lupakan perasaanmu padanya. Kali ini aku tidak akan menahan diri." Randy mengepalkan tangannya penuh emosi.
"Iya, Yah. Aku sudah tidak lagi mencintainya. Sebaliknya, aku sangat membencinya karena semua yang terjadi. Aku tidak bisa diam saja kali ini, Yah. Ikutkan aku juga dalam rencana balas dendam itu." Rosa terus memohon.
"Baiklah putriku. Jangan terlalu dipikirkan. Kembali dan beristirahatlah." Randy berusaha menenangkan.
Setelah cukup lama bicara, Randy melihat sang putri berlalu pergi. Tepat saat itu, seorang petugas sipir mendekatinya. Randy mengambil ponsel yang petugas itu serahkan dan mulai menelpon seseorang. Ia mengetukkan jarinya menunggu telepon itu diangkat.
"Halo, aku ingin kau mencari tahu mengenai Vante. Aku ingin tahu semua tentang dia bahkan hingga ke akar. Siapa dia, siapa keluarganya, apa saja yang ia bisa lakukan, dan apa yang sudah pernah ia lakukan." Suara Randy terdengar begitu tegas.
"Jangan lupa laporkan segera padaku dalam dua hari. Selain itu, kau bantu juga bereskan mengenai obat itu. Yakinkan para pelanggan bahwa pasokan mereka akan baik-baik saja. Katakan juga pada mereka bahwa aku akan memasok lebih banyak bagi siapa saja yang bisa membantuku menyingkirkan Vante segera." Randy memberi instruksi jelas.
Randy menutup teleponnya setelah ia yang ada di seberang mengerti jelas dengan apa yang ia perintahkan. Pria paruh baya itu tersenyum miring membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan.
__ADS_1
"Kau pikir bisa lolos dariku begitu saja, Vante? Aku akan memastikan kau menanggung akibat dari perbuatanmu itu. Kau sudah menghancurkan putriku dan juga mengganggu bisnisku. Aku juga akan membuatmu hancur perlahan, Vante."