Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia

Terjebak Cinta Kaki Tangan Mafia
Kabar Gembira


__ADS_3

Jeni hari ini memiliki jadwal untuk audisi di salah satu rumah produksi film. Salah satu film horor membutuhkan aktris tambahan. Sama sekali bukan peran besar. Bahkan tidak banyak penampilannya. Hanya saja apa salahnya mencoba.


Saat masih sedang mengantri, ia mendapatkan telepon dari nomor yang tak dikenal. Betapa bahagianya saat ia diberi kabar lolos audisi iklan sebelumnya. Diminta untuk bertemu di esok hari untuk membahas mengenai kontrak dan juga persiapan proses syutingnya.


Masih tersenyum lebar, sebuah suara menyapanya.


"Jeni!"


Wanita itu dengan cepat melihat ke atas. Itu adalah Yuan yang juga berada di sana.


"Johan?"


Tentu saja dengan cepat semua mata tertuju pada Jeni dan Johan yang sedang berbincang. Yuan sekali lagi adalah seorang aktor besar. Tentu saja kehadirannya menarik perhatian.


"Sedang apa kau di sini, Jeni?" tanya Johan.


"Ah, ini. Aku sedang mengikuti sebuah audisi. Peran kecil di sebuah film," jawab Jeni sekenanya.


"Ah, apa itu film dengan judul last eye?" tanya Johan penuh semangat.


"Ya, itu filmnya. Apa kau tahu?" tanya Jeni santai.


"Tentu saja. Aku kebetulan terpilih menjadi bintang utamanya. Hm, itu masih dirahasiakan, tapi aku ada di sana." Johan mengedipkan matanya.


"Wah, kebetulan sekali. Selamat ya." Jeni bicara singkat.


"Ya tentu saja. Kebetulan hari ini aku juga akan memantau jalannya audisi. Sebelumnya aku juga melihat aktingmu. Aku rasa kau punya kesempatan yang besar untuk lolos. Aku akan menyemangatimu di dalam." Johan mengepalkan tangannya untuk memberi semangat.


Semua orang segera berbisik dengan kepergian Johan dari sana sekaligus menatap Jeni yang kembali duduk di kursinya. Benar saja, seluruh audisi hari itu berjalan dengan lancar. Ia menunjukkan yang terbaik untuk peran kecil adik Johan. Ia hanya bisa menunggu kabar baik setelahnya.


Jeni memilih untuk pulang dan melihat hari masih sore, ia mencoba untuk menyiapkan makanan bagi Vante. Pria itu masih berada di kantornya saat ini. Entah berapa lama hingga ia bisa mendengar suara langkah sepatu Vante yang begitu khas.

__ADS_1


"Kau sudah datang? Aku menyiapkan banyak makanan untukmu." Jeni tersenyum manis.


"Wah, tumben sekali. Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Vante ingin tahu.


"Apa aneh kalau seorang istri memasak untuk suaminya?" tanya Jeni balik.


"Ya kau benar juga." Vante mengecup sang istri dan kemudian duduk langsung di kursinya.


Mereka berdua makan dengan lahap sambil sesekali bertukar cerita. Jeni bercerita tentang pekerjaan barunya dengan sumringah dan begitu juga Vante yang bercerita tentang hasil temuannya dibantu sang paman.


"Aku mendapat pekerjaan baru sebagai bintang iklan." Jeni tersenyum girang.


"Wah, selamat. Aku lega sekali kau berhasil melakukannya." Vante menggenggam tangan sang istri.


"Ya. Mungkin masih akan ada yang datang setelah ini. Aku hanya berharap yang terbaik kedepannya." Jeni bersemangat.


"Tentu saja. Kau ini artis yang berbakat. Beruntungnya juga kau adalah istriku. Luar biasa." Vante tersenyum lagi. "Dan sebenarnya juga masih ada yang ingin aku katakan."


"Hm … aku tidak tahu apa akan nyaman membicarakan ini saat kita sedang makan malam. Aku ingin bicara tentang Rosa." Vante menunggu reaksi sang istri.


"Hm. Memangnya apa yang perlu kau bicarakan?" tanya Jeni ingin tahu.


"Aku dibantu paman sudah menemukan mengenai obat yang mungkin digunakan untukku malam itu. Hanya saja kami memang tidak punya bukti bahwa mereka pernah menggunakan obat itu untukku. Di lain sisi kami bisa melaporkan tentang perbuatan buruk mereka ke polisi. Hanya saja setelah itu, kita mungkin terlibat masalah dengan pelanggan mereka yang marah. Selama ini mereka menjual narkoba pada mereka dan mungkin setelah itu mereka akan mencari masalah dengan kita.” Vante menjelaskan panjang lebar.


“Maaf, tapi intinya apa?” tanya Jeni yang bingung.


“Intinya … mereka menjual narkoba yang langka dan juga mahal. Melaporkan mereka ke polisi akan menjadi bumerang bagi kita. Aku rasa aku harus bersiap dengan kemungkinan terburuk. Salah satunya adalah kembali menjadi mafia untuk melindungi keluarga kita.” Vante menjelaskan.


“Apa tidak ada cara lain?’ tanya Jeni lagi.


“Manusia secara naluriah selalu menindas manusia yang lebih lemah. Itu sudah hukum alam. Kalau kita hanya berlindung di balik orang lain apalagi penegak hukum, kita akan menghilang dari dunia ini." Vante menjelaskan.

__ADS_1


"Hmh. Entahlah. Aku ragu dengan itu. Rasanya begitu kontras. Di satu sisi aku punya kakak seorang penegak hukum sedangkan di sisi lain aku punya suami seorang mafia. Itu dua sisi koin yang berbeda." Jeni terlihat lesu.


"Ini hanya bentuk antisipatif saja. Kita hanya bersiap untuk kemungkinan terburuk." Vante bicara santai.


Pembicaraan mereka berakhir. Jeni memang takut mendengar kemungkinan yang terjadi meskipun dia juga ingin memberi pelajaran pada Rosa dan juga keluarganya. Hanya saja ia juga tidak siap kalau hidupnya yang tenang harus dirusak oleh orang-orang jahat di luar sana.


Keesokan harinya, Vante kembali bekerja sedangkan Jeni bertemu dengan agensi iklan yang menerimanya bekerja. Itu adalah sebuah iklan parfum yang akan tayang di TV. Jeni tentu saja bersemangat dengan pekerjaan pertamanya di dunia hiburan. Tidak disangka ia menemui orang yang dikenalnya di sana.


"Tuan Yuan, kau di sini?" tanya Jeni singkat.


"Ah, kau … istri Tuan Vante kan? Jeni ya?" tanya Tuan Yuan.


"Ya, itu aku. Apa yang Tuan lakukan di sini?" tanya Jeni mencoba ramah.


"Aku sedang menemui temanku di sini. Kami sedang membicarakan beberapa proyek saja. Kau sendiri sedang apa?" tanya Tuan Yuan.


"Ah, aku ada janji dengan orang iklan. Aku diterima untuk membintangi satu imlan parfum." Jeni menjelaskan.


"Ah, itu bagus. Temanku yang bekerja di sini sebenarnya juga sedang mencari artis untuk iklan terbarunya. Nanti kalau dia membuka audisi, aku akan memberitahumu juga ya." Tuan Yuan berbaik hati.


"Terima kasih, Tuan Yuan."


"Ah dan mengenai film yang aku ceritakan sebelumnya, aku serius dengan itu. Kami sedang merampungkan naskahnya saat ini. Aku berjanji akan menghubungimu saat waktu audisi tiba." Tuan Yuan tersenyum.


"Terima kasih banyak sekali lagi, Tuan Yuan."


Sepulangnya dari audisinya yang berjalan lancar, Jeni mencoba untuk menelpon sang kakak, Juan. Ia begitu senang saat sang kakak terlihat di layar. Apalagi kebetulan pria itu sedang berada di apartemennya. Jeni juga sempat bercerita tentang pekerjaan barunya.


"Selamat, Jeni. Kau memang aktris berbakat. Cepat atau lambat mereka pasti akan bisa melihat kemampuanmu." Juan tampak bangga.


"Bagaimana kabarmu, Irene? Apa kau baik-baik saja dengan calon keponakanku di sana?" tanya Jeni kali ini.

__ADS_1


"Ya, kami baik-baik saja." Irene mengusap perut besarnya.


__ADS_2