
“Sebentar. Aku masih terlalu sulit untuk percaya,” kata Vee.
Sanchez membawa lebih banyak bukti. Dokumen kelahiran dan banyak sekali foto. Mulai foto pernikahan Boirez dan Clarissa, juga foto seorang bayi dan juga fotonya saat masih kecil. Satu hal yang pasti, ia punya tanda lahir yang sama persis dengan yang Vee miliki.
“Kita bahkan bisa melakukan tes DNA kalau kau ingin. Aku dan kau pasti menunjukkan hubungan kekeluargaan yang erat.”
“Tidak, tidak. Aku mengerti. Yang aku tidak mengerti hanya … kenapa Darco harus repot-repot mengurus dan membesarkanku kalau aku hanya anak dari musuh besarnya.” Vee memijat kepalanya sendiri.
“Aku juga tidak tahu mengenai itu. Aku mengira itu hanyalah caranya untuk memanfaatkanmu menjadi anak buahnya yang setia. Aku sama sekali tidak yakin kalau pria seperti Darco akan memberimu kasih sayang seperti seorang ayah kepada anak,” ucap Sanchez.
“Ya, dan bodohnya aku dengan mudah tertipu daya. Harusnya aku tahu pria seperti Darco tidak mungkin berbaik hati tanpa pamrih memungutku menjadi anaknya.” Vee mengepalkan tangannya.
“Lalu … apa yang akan kau lakukan setelah ini?” tanya Sanchez.
“Jadi, apa benar bahwa Darco yang membunuh orang tuaku?” tanya Vee ingin memastikan.
“Ya. Aku bisa mengkonfirmasinya. Aku bahkan punya beberapa bukti. Tapi, kau tahu kan ini tidak berada dalam ranah polisi. Bahkan hingga detik ini, aku mendekatinya secara perlahan. Aku harus menghancurkannya dengan bertahap. Itu alasan aku mulai dengan membuat bisnis ini,” ucap Sanchez.
“Kenapa kau tidak langsung membunuhnya ketika itu?” tanya Vee yang kesal.
“Terlalu banyak alasan. Maaf, aku terlalu terpukul saat kejadian itu. Aku terlalu larut dalam kesedihan. Karena kebakaran yang terjadi, rumah itu hancur berkeping-keping. Awalnya aku tidak bisa menemukan bukti apapun di sana. Aku bahkan tidak bisa melangkahkan kakiku di rumah itu. Setelah beberapa bulan kemudian, ketika pemerintah setempat memintaku untuk memutuskan apa yang harus aku lakukan dengan rumah itu. Baru aku tersadar bahwa aku harus melakukan sesuatu. Aku meminta anak buahku untuk mencari bukti sekecil apapun. Saat itu lah aku mengetahui bahwa pelakunya tak lain tak bukan adalah Darco.”
__ADS_1
“Wow, aku sungguh sangat amat bingung sekarang. Kau pasti tahu, aku datang untuk membunuhmu. Darco mengatakan bahwa kau lah musuh terbesarnya. Selain karena Clarissa, yang ternyata adalah ibuku, tentu itu juga karena persaingan bisnis ini,” ucap Vee.
“Ya, itu tidak sepenuhnya salah. Aku memang selalu menjadi musuhnya. Sekarang masalahnya adalah, kepada siapa kau akan memihak? Apakah kau akan melanjutkan posisimu sebagai anak buah Darco? Atau apakah kau akan membantuku untuk membalaskan dendam kedua orangtuamu?” tanya Sanchez.
Vee menghela nafas. Seolah mengerti bahwa keponakannya itu butuh waktu, ia meninggalkan Vee di ruangan kerja itu dengan dokumen yang berserakan di atas meja. Vee dengan tangan tertaut memperhatikan satu per satu lembaran tersebut.
Entah kenapa di titik ini, Vee bahkan sempat memikirkan mengenai Jeni. Kalau dipikir lagi, berada bersama sang paman, tentu akan lebih menguntungkan baginya. Apalagi kalau bicara mengenai masa depan baginya dan Jeni.
Vee jatuh tertidur dan dia bermimpi. Ingatannya mengenai malam mengerikan itu kembali terjadi. Ia yang masih berusia sangat muda sedang tidur di kamarnya sendiri saat itu. Tiba-tiba ia mendengar teriakan sang ibu. Begitu matanya terbuka dia bisa melihat cahaya kemerahan yang terasa panas dan sesak.
Vee yang masih kecil mulai berteriak memanggil nama ibunya. Saat itu lah seorang pria datang dan memukul kepalanya dengan cukup keras. Vee yang memang tak langsung pingsan, samar mendengar suara pria lainnya yang meminta pria lainnya untuk membawaku turun.
Di luar ruangan, Darco sedang berbincang dengan seorang dokter. Jelas sekali dokter itu mengatakan bahwa Darco mengalami amnesia. Selain karena benturan yang keras di kepala, itu juga karena adanya pengalaman traumatis yang ingin dia singkirkan secara tak sadar.
Vee terjaga dengan nafas terengah. Ya, Vee mengingatnya sekarang. Kalau sebelumnya ingatannya dimulai sejak dia berada di rumah Darco, maka kali ini ia mengingat semuanya. Kini ia menjadi sangat marah pada Darco. Vee kini telah memutuskan.
Setelah beristirahat seharian, ia memilih untuk pergi menemui Sanchez yang ada di ruang kerjanya. Pria itu terlihat sedikit sibuk memperhatikan beberapa dokumen yang ada di hadapannya. Vee yang masih babak belur memilih untuk berdiri di hadapan sang paman.
"Ah, sebelumnya, aku benar-benar minta maaf atas semua lukamu itu. Kau tahu kan kalau aku sama sekali tidak tahu kalau kau keponakanku. Tapi, kalau dipikir lagi aku lega bisa bertemu denganmu," ucap Sanchez.
"Aku mengerti. Tidak masalah. Dan aku juga perlu bicara. Aku sudah menentukan sikap dan kau tahu apa itu. Sekarang, apa rencana kita?" tanya Vee.
__ADS_1
"Pertama, kalau tidak keberatan, aku akan memanggilmu Vante. Itu adalah namamu yang sebenarnya. Dan mengenai rencana, aku sudah memikirkannya. Kau harus kembali ke rumah Darco dan memikirkan cara untuk menjebaknya. Kita bisa membuatnya terkepung di satu titik dan kita hanya perlu membalas dendam ketika itu."
Segera sebuah rencana meluncur di kepala Vante. Ia tahu apa yang akan dia lakukan sekarang. Maka tak membutuhkan waktu lama, ia memilih untuk kembali ke rumah Darco dengan luka memenuhi tubuhnya.
Begitu pria itu masuk ke dalam ruangan Darco dengan langkah terseok, pria itu menyambutnya dengan raut wajah khawatir.
"Kemana saja kau? Kenapa menghilang seperti itu? Apa Sanchez berhasil menangkapmu?" tanya Darco.
"Ya, Tuan. Maaf aku gagal. Sanchez berhasil menangkapku dan aku dihajar habis-habisan. Tapi, aku berhasil kabur hari ini dan kembali ke sini," kata Vante dengan tubuh penuh luka.
"Kau berhasil kabur dengan kondisi luka seperti itu?" tanya Darco lagi.
"Ya, aku menunggu mereka lengah. Akhirnya aku dapat kesempatan itu." Vante jatuh tersungkur.
"Baiklah. Sementara ini kau obati saja dulu luka itu. Biarkan aku atur strategi baru untuk menyerang Sanchez dan anteknya," kata Darco lagi.
Vante memilih untuk kembali ke kamarnya sendiri. Maria yang segera cepat menangkap pemandangan mengenaskan itu, memilih untuk segera mengambil kotak obat dan mengobati semua luka yang ada di tubuh Vante.
"Kau ini terlibat apa lagi?" tanya Maria kesal.
"Aku tahu kau khawatir. Aku juga tidak suka babak belur seperti ini. Tapi aku berjanji padamu ini akan menjadi akhir. Aku janji akan menemukan kebahagiaan setelah ini," ucap Vee dengan senyum lirih.
__ADS_1