
"Heii boyyy kau mau berdebat terus diatas atau turun untuk makan?" teriak Dady Felix.
Mendengar teriakan dari Dady Felix membuat ferdo dan Risa memberhentikan perdebatan nya dan segera turun kebawah yang didahului oleh ferdo. Risa dibelakang ferdo hanya menatap punggung ferdo dan terus mengumpat ferdo dalam hatinya.
--------------------------------------------------
Risa yang sudah duduk di kursi makan berhadapan dengan ferdo. Risa yang masih kesal dengan ferdo hanya melotot kan matanya kepada ferdo, ferdo yang melihat Risa melotot kearah nya hanya tersenyum dengan menendang kaki Risa dari bawah meja.
"Dasar laki-laki bukannya minta maaf malah main tendang-tendang aja" batin Risa.
"Hahaha rasain itu" batin ferdo.
Risa terus saja melotot ke arah ferdo dengan ferdo yang terus menendang kan kakinya. Tanpa mereka sadari semua keluarga mereka yang berada dimeja makan melihat mereka berdua.
"Kalian berdua itu kenapa?" tanya momy Helena tapi tidak ada jawaban dari Risa dan ferdo karna mereka masih tidak menyadari orang sekitarnya.
"Kakak kodokkk" teriak helen yang duduk disamping ferdo.
"Apaaa!!!" teriak ferdo yang kaget karna mendengar kan suara adiknya yang menggema ditelinga nya.
"Kenapa kalian melihat ku begitu?" tanya ferdo.
"Kak kau ini kenapa sejak tadi bukanya makan malah memandang risa terus!" tanya Helen.
"Tidakpapa" Jawab ferdo singkat.
"Risa kau kenapa juga matamu dari tadi melotot terus sampai mau lepas dari kandangnya gitu" ujar Helen.
"Ahh tidakpapa kok" ujar Risa kemudian menyantap makanan nya yang sudah ia ambil tadi.
Selesai makan mereka seperti biasa berkumpul di ruang tengah untuk bercanda gurau ataupun sekedar berbagi kesibukan sehari-hari nya.
"Boy bagaimana dengan rencana mu untuk menjebak orang yang sudah mengganggu Risa?" tanya Dady Felix.
"Semua sudah disusun rapi dad besok kami bertiga akan menjalankan nya" jawab ferdo.
"Boy hati-hati lah dalam bertindak jika orang itu masih mau berubah dan tidak lagi mengganggu keluarga kita kau jangan bunuh dia" ujar momy Helena yang memperingatkan putranya.
"Kita lihat saja besok mom" ujar ferdo.
"Yasudah terserah kau saja. Nak bagaimana apa kau sudah mempertimbangkan masalah yang momy bicara kan?" tanya momy Helena kepada risa.
__ADS_1
"Sudah mom, Seperti yang Risa bicarakan jika Risa akan menikah dengan ferdo jika pelaku itu sudah ditemukan" ujar Risa.
"Kakak ipar kau tenang saja secepatnya aku akan buat orang itu jera" sambung Dion.
"Semoga saja semua masalah ini cepat selesai aku kasihan dengan nenek mu nak" ujar momy Helena.
"Iya mom Risa juga sebenarnya ingin cepat menikah tapi jika masalah ini tidak selesai pasti akan semakin bertambah lagi nantinya" ujar Risa.
"Kau benar nak, kita berdoa saja kepada Tuhan agar memberikan kemudahan untuk keluarga kita" ujar momy Helena.
"Mom Risa mau keatas dulu, mau istirahat sekali melihat nenek" Pamit Risa yang diangguki oleh momy Helena.
Risa segera menaiki tangga untuk menuju kamar neneknya dan kamar nya. Sedangkan ferdo juga bangkit dari tempat nya untuk menelfon Hans.
"Bagaimana apa semua tidak diketahui oleh orang itu?" tanya Dion yang muncul dari belakang ferdo.
"Aman, besok kau hanya cukup berakting saja jalankan sesuai rencana kita" ujar ferdo.
"Siappp percayakan padaku, aku juga ingin sekali melihat kau segera menikah dengan kakak ipar ku yang cantik itu" ujar Dion.
"Jangan memujinya didepanku!" bentak ferdo yang kesal karna diam-diam Dion mengagumi Risa.
"Sebaiknya kita istirahat saja agar besok kita mempunyai tenaga yang cukup untuk berakting dengan siluman ular itu" ujar Dion dengan melangkah pergi meninggalkan ferdo yang masih di halaman belakang.
"Akan aku habisi semua nya hingga sampai akar-akarnya!" batin ferdo dengan mengepalkan kedua tangannya.
Ferdo segera berjalan menuju kamar nya yang kebetulan bersampingan dengan kamar Risa. Melangkah melewati kamar Risa tak sengaja ia mendengar tangisan Risa yang berada dalam kamar nya.
Karna rasa penasaran ferdo memutar ganggang pintu kamar Risa untuk melihat sekilas apa itu benar suara tangisan Risa.
"Ada apa dengan nya kenapa menangis?" batin ferdo. Membuka pintu kamar Risa dan berjalan mendekati risa yang menangis di atas ranjang dengan memeluk kedua lututnya.
"Kau kenapa? apa kau sakit?" tanya ferdo yang membuat Risa kaget karna tiba-tiba saja ferdo bisa berada disini.
"Kaa... kauu, kau disini?" tanya Risa.
"Kenapa menangis dimalam hari? apa kau sakit?" tanya ferdo.
"Tiii... tidak aku tidak apa-apa" jawab Risa.
"Kau bohong, bicara lah kepada ku kau itu calon istri ku aku juga berhak tau tentang masalah mu risaa!!!" ujar ferdo dengan nada yang sedikit keras.
__ADS_1
"Hiks hiks hiks.... Nenek doo" ujar Risa disela tangisannya.
"Nenek kenapa? katakan padaku!" tanya ferdo.
"Nee.... nenek diaa bilangg... hiks hiks hiks" Risa yang tak sanggup melanjutkan kata-katanya hanya bisa menangis.
Melihat ris ayang menangis membuat ferdo merasa iba. Ferdo menggeser posisi nya agar bisa lebih dekat dengan Risa.
"Menangislah tapi saat kau sudah puas menangis bicarakan padaku apa yang nenek katakan padamu" ujar ferdo yang menarik Risa kedalam pelukannya.
"Hiks hiks hiks apa nenek akan pergi sebelum aku menikah dengan mu?" tanya Risa, ferdo segera melepaskan pelukannya dan menatap dalam kearah Risa.
"Apa yang kau bicarakan? Nenek akan melihat kita menikah jangan pernah berfikir seperti itu!" ujar ferdo.
"Tapi nenek bilang jika dia tidak akan bisa menunggu lebih lama lagi hiks hiks hiks..." ujar Risa.
Flashback on
Risa yang ingin masuk kedalam kamar neneknya tak sengaja mendengar ucapan neneknya lagi yang membuat nya semakin sedih.
"Bu ibu harus kuat sampai risa menikah, Risa akan segera menikah" ujar Bi Ina.
"Tidak naa, ak... aku suu.. dah lelah" ujar nenek ayu.
"Jangan bicara seperti itu Bu, ibu itu wanita kuat" ujar Bi Ina yang mencoba memberikan semangat untuk Nenek ayu agar sembuh dari sakitnya ya walaupun harapan itu sangat kecil karna nenek ayu yang sudah tua dan menderita komplikasi membuat keadaan nya semakin memburuk setiap hari nya.
Risa yang tak tahan lagi segera masuk kedalam kamar nenek ayu hingga membuat bi Ina dan nenek ayu kaget karna sejak kapan Risa ada di depan pintu.
"Nenek jangan bicara seperti itu, Risa tidak ingin nenek pergi" ujar Risa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Saa kau keluar lah biar nenekmu istirahat" ujar Bi Ina yang menyuruh Risa untuk keluar dari kamar nenek ayu.
"Tapi bii...."
"Keee... keluarlah nak, Ne.. nenek tid...dak apa-apa" ujar nenek ayu dengan suara lemahnya.
"Nenek harus kuat, nenek pasti sembuh, Risa akan terus sama nenek hiks hiks hiks" ujar Risa kemudian memberikan ciuman kepada nenek ayu dan segera berjalan keluar agar neneknya dapat beristirahat.
"Maafkan nenek nak, jika nanti nenek tidak bisa menemani mu disaat kamu menikah" batin nenek ayu yang menatap punggung Risa.
Flashback off
__ADS_1