
"Turunkan Meisya dan letakan dia didekat ayahnya, kita tak bisa melenyapkan nya sekarang karna ada masalah lain yang harus kita selesaikan" ujar ferdo dengan fikiran yang masih bingung, apakah Meisya hanya bersandiwara atau semua ucapan nya memang lah benar apa adanya?"
"Akhhhh, kenapa seperti ini" Dion yang mulai pusing jika memikirkan masalah yang malah menjadi rumit.
--------------------------------------------------
Di tempat ferdo hanya ada keheningan sedangkan di tempat Meisya dan Hendra hanya ada suara tangisan dari Meisya.
"Hiks hiks kenapa begini"
"Kenapa kalian mengambil nya"
"Aku ingin mati saja jika begini" ucapan yang terus diucapkan oleh Meisya ditengah tengah tangisannya.
"Diammmmm!!!" bentak ferdo kepada Meisya yang langsung membuat Meisya membeku.
"Sekarang ceritakan semuanya yang sebenarnya terjadi!!!" ujar ferdo yang menatap tajam kearah Meisya.
"Jika aku katakan yang sebenarnya tidak akan menjamin jika Naufal akan kembali kesini kan?" ujar Meisya juga menatap tajam kearah ferdo.
"Mungkin benar jika kau mengatakan semua nya itu tidak akan mengembalikan Naufal hidup lagi namun dengan kau mengatakan semua nya kau akan aku bebaskan dari sini" jelas ferdo.
"Tapi Dady..."
"Hanya kau yang akan ku bebaskan bukan dengan ayahmu!!" tegas ferdo.
"Cepat ceritakan!!!" bentak ferdo.
Flashback on.
Di mansion Naufal tepat didalam kamarnya ada seseorang wanita yang baru saja melakukan hubungan terlarang dengan nya.
"Tidurlah kau sangat lelah pasti" ujar Naufal kepada wanita itu.
"Aku ingin buang air kecil namun punya ku masih sangat sakit dan perih" ujar wanita itu.
"Tenanglah sayang nanti akan hilang rasa sakitnya karna itu wajar untuk seseorang yang baru pertama kali melakukan nya" jelas Naufal sambil mengusap kepala wanita itu.
"Apa kau akan menikah ku?" tanya wanita itu.
"Tentu! aku kan sudah menanam benih disini dan pastinya dia akan ada didalam sini" tangan Naufal mengusap pelan perut rata Wanita itu.
"Kapan kau menikah ku?" tanya wanita itu.
__ADS_1
"Setelah aku dan Dady mu menghabisi ferdo!" yah wanita yang bersamaan Naufal adalah Meisya anak dari tuan Hendra.
"Kau harus membantu ku dan Dady mu untuk menghabisi ferdo!" ujar Naufal.
Flashback off.
"Dan semenjak kejadian itu aku menuruti semua perkataan Dady dan aku melakukan itu dengan posisi tertekan karna pada saat aku dirumah Naufal Dady mencurigai ku dan saat aku menjalankan misi pertama mengikuti mu dari toko perhiasan di badanku ada alat penyadap suara yang dipasang oleh Dady ku!"
"Alat penyadap suara itu membuat Dady ku percaya jika aku tidak memiliki hubungan dengan Naufal, dan asal kalian tahu semua rencana yang aku lakukan itu semua adalah rencana Dady ku ya walaupun memang aku lah pemeran utama nya"
"Kejadian di cafe, hotel itu semua adalah rencana dari Dady dan Naufal! aku berfikir jika Naufal akan membawa ku pergi dari sini dan menikahi ku serta membesar kan anak kami bersama namun semua kenyataan nya hanya hayalan semata" jelas Meisya dengan pandangan kosong.
"Benar dugaan ku jika kau memang memiliki hubungan dengan laki-laki itu!!!" bentak Hendra dengan tangan yang menarik rambut Meisya.
"Akhhh sa... sakit dad" ujar Meisya yang kesakitan.
"Lepaskan tangan mu dari putri mu taun Hendra!" bentak ferdo.
"Kenapa aku malah jadi kasihan dengan wanita ini" batin Dion yang melihat Meisya.
"Aku tak Sudi memiliki cucu dari laki-laki itu!" ujar Hendra dengan penuh penekanan.
"Aku sebenarnya juga hanya memanfaatkan mu dan menjadikan mu alat sebagai bahan balas dendam ku haha"jelas Hendra yang membuat hati Meisya sakit, sungguh tak disangka jika pengorbanan nya untuk ayahnya bukan sesuai kenyataan.
"Dasar laki-laki bre****k!!! kau bahkan tak pantas dipanggil Dady oleh seorang anak!!!" ujar ferdo.
Dor
"Meisya!!!" teriak mereka yang berada disana saat melihat Meisya sudah tergeletak tak bernyawa.
"Sial dia malah memilih mengakhiri hidupnya dari pada hidup dengan anaknya" ujar ferdo kepada dirinya.
"Bodoh kenapa juga harus bunuh diri" ujar Dion yang menatap jenazah Meisya.
"Sungguh miris nasibmu" batin Hans.
"Mati lah lagi pula aku juga tak butuh dirimu!" ucapan Hendra yang langsung mendapat pukulan dari ferdo.
"Kau!!! dimana hati nurani mu sampai-sampai kau memanfaatkan anakmu sendiri haaa!!!" bentak ferdo dengan menatap tajam ke arah Hendra.
"Kau berkata seperti kau memiliki hati nurani saja haha, lihat putri ku mati gara-gara kau yang membunuh Naufal jika saja kau tak membunuh nya mungkin putriku masih hidup bersama dengan janin nya!!!" bentakan Hendra yang membuat ferdo membeku, benar yang dikatakan Hendra namun semua perbuatan Naufal juga salah.
"Ohh jadi aku yang salah? tapi semua kesalahan ini tidak sepenuhnya dari ku karna kau lah yang membuat nya lebih dulu!!!" bentak ferdo.
__ADS_1
"Hans bawa jenazah Meisya untuk di makamkan dengan layak" perintah ferdo kepada Hans.
"Baik master" Hans segera memanggil beberapa pengawal untuk mengangkat jenazah Meisya.
"Sekarang giliran mu tuan Hendra!!!" ujar ferdo saat semua pengawal sudah keluar dari sana.
"Kau ingin apa? membunuh ku? bunuh saja cepattt!!!" teriak Hendra yang menantang ferdo.
"Cih, tidak semudah itu! karna aku akan membuat mu tersiksa baru kau akan mati dengan sendirinya!!!" ujar ferdo.
Ferdo berjalan menjauhi Hendra dan menekan tombol remot yang sudah di bawanya.
Klik.
Tubuh Hendra seketika tertarik keatas dan berada tepat diatas kolam buaya, melihat kebawah membuat Hendra merinding di buatnya.
"Lepaskan aku!!!" teriak Hendra.
"Dalam mimpi mu sekarang rasakan ini!!!" tangan ferdo mengambil pistol dari saku nya dan mengarahkan tepat di tangan dan kaki Hendra.
Dor Dor.
Dua kali tembakan di loloskan ferdo dan mengenai tepat sasaran. Kini kaki dan tangan Hendra sudah berlumuran darah karna tembakan.
"Akhhhh" Hendra yang menahan sakit di bagian tubuhnya.
"Bagaimana enak bukan?" ujar ferdo.
"Nyalakan mesin nya Sekarang!!!" perintah ferdo kepada Dion.
Glek.
Tepat di samping kaki Hendra muncul mesin pemotong rumput yang siap memotong kakinya. Dalam hitungan detik kaki Hendra terpotong satu membuat nya bergelantungan dengan satu kaki saja hingga badannya sekarang benar-benar penuh dengan darah.
"Akhhh, sakit bre****k!!! cepat bunuh aku saja!!!" teriak Hendra.
"Kau sudah siap menjadi santapan buayaku seperti kaki mu itu?" tangan ferdo menunjukkan ke arah buaya yang merebutkan kaki Hendra.
Hendra yang melihatnya hanya menelan ludahnya, apakah dirinya akan mati dengan diterkam oleh buaya-buaya itu?.
"Lepaskan aku!!! aku tak ingin menjadi santapan buaya-buaya mu!!!"teriak Hendra.
Namun teriak Hendra sudah tak didengar oleh ferdo, tali yang mengikat kaki Hendra sedikit demi sedikit mulai turun dalam kolam buaya.
__ADS_1
"Permainan selesai" batin Dion yang akan melihat detik-detik terakhir Hendra menyusul Naufal.
Dalam hitungan menit tubuh Hendra sudah dibawah dan di rebutkan oleh buaya-buaya itu dengan kepala Hendra yang lebih dulu diterkam.