Terjebak Dalam Cinta Seorang Mafia

Terjebak Dalam Cinta Seorang Mafia
Episode 45


__ADS_3

"Berisik! Sekarang dimana ferdo! apa dia sekarang menjadi seorang pengecut hingga untuk keluar dalam markas nya saja tidak mau hahaha" ejek Naufal kepada Hans.


"Ferdo bukan pengecut! Pengecut yang sebenarnya adalah dirimu sendiri!" bentak Hans.


--------------------------------------------------


Naufal yang sudah sangat marah karna ucapan Hans segera saja dia menembak kan timah panas kearah Hans.


Dor Dor Dor


Dengan cepat Hans menghindari tembakan yang diberikan Naufal dan menembak balik kearah Naufal hingga mengenai tepat di kaki kirinya dan tangan kanan yang digunakan untuk memegang senjata nya.


Dor Dor


"Cihhh kemampuan mu hanya seujung kuku ku saja!" desis Hans yang melihat Naufal tersungkur ke lantai.


"Bre****k!!!" teriak Naufal yang sudah berlumuran darah dan berusaha bangun untuk mengambil pistol yang berada di depannya.


Kresssss


"Ahh lepaskan!!!" teriak Naufal yang merasakan sakit ditangan kirinya karna di injak oleh Hans dengan sepatu yang sudah terdapat beberapa paku yang menancap.


"Enak bukan?" ujar Hans sambil melepaskan sepatu dari kakinya


Dor


Tepat dibelakang Hans anak buah Naufal ingin menembak kearah Hans namun sudah di dului oleh ferdo yang menembak mati anak buah Naufal.


"Terima kasih" ujar Hans kepada ferdo.


"Kamu bawa dia ke dalam ruangan biar aku yang mengurus sisa-sisa sampah yang disini" perintah ferdo yang langsung di angguki oleh Hans.


Hans segera membawa Naufal yang sudah tidak sadar kan diri karna sudah kehilangan banyak darah dan ferdo keluar untuk menghabisi sisa-sisa anak buah Naufal yang masih terus menyerang anggotanya.


Bughh!


Bughh!!


Srettt!!!!


Dor Dor Dor Dor Dor


Dalam sekejap beberapa anak buah Naufal ma*i di tempat karna tembakan ferdo yang tepat di kepala Mereka.


"Kalian bersihkan mayat-mayat ini dan bawa rekan kalian yang terluka untuk diobati!" ujar ferdo sambil membersihkan bajunya yang terkena percikan darah.


"Baik master" ujar anak buah dari ferdo.


Ditempat lain Dion yang sedang membawa Hendra untuk menuju Meisya hanyalah tersenyum kecil karna dipastikan si tua Bangka ini akan melawannya dan meminta untuk putrinya dikeluarkan dari tempat itu.

__ADS_1


"Silahkan masuk tuan Hendra yang terhormat!" ujar sopan Dion.


Saat masuk kedalam ruangan itu betapa terkejutnya Hendra melihat putrinya sudah bergelantungan diatas kolam buaya dan lebih menyedihkan lagi bagaimana keadaan putrinya yang sudah penuh lebam dan tidak terurus.


"Sial turunkan putriku sekarang!" teriak Hendra namun tak ada sahutan dari Dion karna Dion sudah keluar dari ruangan itu dan mengunci pintu ruang itu.


"Nikmati lah pertunjukan yang akan diberikan kepada mu tuan Hendra" teriak Dion yang berada diatas ruangan itu.


Dor Dor Dor


Tuan Hendra yang ingin menembak Dion dari bawah hanya melongo karna ternyata kaca diatas tempat Dion berada adalah kaca anti peluru.


"Tembak lah sesukamu sampai peluru mu itu terbuang sia-sia" ujar Dion dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Dadyyy!!!" teriak Meisya yang sadar karna mendengar suara tembakan.


"Dady tolong aku! tolongg!!! aku tidak mau mati disini!" teriak Meisya dari atas.


"Tenanglah Dady akan membawa mu pergi dari sini!" ujar Hendra.


"Dalam mimpimu saja tuan Hendra hahaha" batin Dion yang melihat drama antara ayah dan anak.


Drt Drtt Drttt


"Ada apa bi?" tanya Dion yang menerima sambungan telefon dari pelayan mansion.


"Tuan disini diserang oleh beberapa orang dan banyak para maid disini terluka" ujar pelayan itu dengan suara bergetar karna ketakutan.


"Baik tuan" sambungan telefon pun berakhir.


Sedangkan Hans yang baru saja mengikat Naufal di kursi segera menyiramkan air kearah Naufal.


Byurrr


"Perih bre****k!!!" bentak Naufal yang merasakan perih disetiap lukanya.


"Perih? tenang saja sebentar lagi rasa perih dan sakit mu akan hilang bersamaan dengan hilangnya nyawa mu!" ujar Hans sambil menunggu ferdo datang untuk memberikan hadiah kepada Naufal.


"Jika kau bisa!" ujar Naufal yang Percaya diri jika dirinya tidak akan mudah dihabisi oleh ferdo dan Hans.


Tak Tak Tak


Langkah kaki terdengar dari luar membuat Naufal melihat sekilas kearah pintu untuk memastikan siapa yang datang.


"Dasar pengecut!!! kau datang disaat semua musuhmu sudah terluka!!!" bentak Naufal kepada ferdo yang baru saja masuk kedalam ruangan.


"Pengecut? Aku bukan pengecut! asal kau tau jika kau sendiri yang datang kesini namun tidak ku layani ya sudah itu resikomu! dan ingat semua anak buah mu sudah habis ditangan anggota ku!" ujar ferdo sambil duduk di kursi kesayangan nya yang sudah disediakan oleh Hans.


"Oh begitu! jika aku datang sendiri maka lepaskan aku sekarang juga!!!" ujar Naufal.

__ADS_1


"Siapapun yang sudah masuk kedalam sini dan mengganggu ketenangan ku tidak akan pernah bisa lepas dengan mudah!" ujar ferdo.


"Sialll!!!" umpat Naufal yang melihat aura pembunuh ferdo.


"Hans ambilkan air panas!" perintah ferdo.


"Ini master" tangan Hans membawa air yang dibutuhkan oleh ferdo.


"Celupkan tangan dia kedalam air itu!" perintah ferdo.


"Apa kau gila! tangan ku bisa melepuh!" teriak Naufal.


Tangan Hans mulai menarik tangan Naufal yang sudah banyak mengeluarkan darah dan langsung memasukkan kedalam wadah yang berisi air mendidih.


"Ahhhhh kalian an***g!!!" Naufal yang meringis kesakitan akibat tangannya yang melepuh ditambah lagi luka nya semakin mengeluarkan banyak darah.


"Siramkan air itu di bagian tubuhnya yang terluka!" titah ferdo yang langsung di lakukan oleh Hans.


"Perihhhh!!!! hentikan semua ini!" Naufal yang berusaha memberontak.


"Jika kau terus saja berteriak dan melotot padaku akan ku potong lidah mu dan mencongkel matamu!" ujar ferdo yang menatap tajam ke arah Naufal.


"Kau tak mungkin berani melakukan hal itu" Naufal yang tak percaya akan ucapan ferdo.


"Kau ternyata menantang ku! Hans bawakan aku pisau!" ujar ferdo sambil berjalan mendekati Naufal.


Setelah menerima pisau dari Hans, Ferdo dengan segera memotong lidah Naufal dengan sekali potongan.


Sretttt


"Ummm" Naufal yang tak bisa lagi untuk bicara hanya bergumam tidak jelas.


"Sial ternyata dia sangatlah kejam!" batin Naufal.


"Apa kau juga ingin matamu aku keluarkan dari tempat nya?" tanya ferdo yang langsung di jawab dengan gelengan kepala Naufal.


"Apa kau ingin keluar dari sini?" tanya ferdo yang langsung dianggukui oleh Naufal.


"Keluarlah pilih salah satu jalan yang ada disini dan ingat! teruslah berjalan kedepan jangan pernah berbalik!" ujar Ferdo.


Dengan segera Naufal berjalan dengan kaki pincang nya dan dengan tubuh yang sudah dipenuhi oleh darah.


"Permainan selesai" batin Hans yang melihat Naufal berjalan menuju pintu kematian nya.


"Akhirnya aku akan keluar dan selamat tinggal Hendra" batin Naufal yang merasa jika dirinya akan keluar namun betapa kagetnya saat didepan matanya ada alat pemotong raksasa yang siap menerima tubuhnya itu.


"Aaaaaaaa" teriak Naufal dari dalam sana.


"Ambil potongan tubuhnya" ujar ferdo.

__ADS_1


"Baik master" ujar Hans.


__ADS_2