
Hari ini aku sedikit malas mengerjakan pekerjaanku. Entah kenapa, hatiku merasa gelisah. Ya, aku jadi teringat Kakak perempuanku yang seminggu lalu menelfonku dengan suara yang sengau, putus putus, dan berakhir tidak jelas apa yang di katakannya.
Oh, ya. Perkenalkan, namaku Hana, aku umur 20 tahun bulan lalu. Aku bekerja di sebuah Warung Makan di Kota B. Sedangkan Kakak perempuanku, bernama Ranti, dia juga bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga di Kota T.
Selesai mencuci piring, aku duduk termenung. Sampai sampai orang yang mau membeli pun teriak.
" Mbak, Mbak, bungkus satu" Teriaknya..
Kurasakan tepukan di pundaku, " Hana, ada yang beli" Kata bu Nani.
Aku terkesiap dan langsung berdiri, " Tengah hari bolong malah melamun " Ucapnya. Aku hanya nyengir kuda. Kulihat teman temanku yang lain sedang sibuk dengan kerjaan masing masing.
Setelah membungkus satu porsi nasi dengan minumnya es teh aku kembali duduk, punggungku tegang kepalaku sedikit pusing.
* I weell always love you, kekasihku, dalam hidupku, hanya dirimu satu * Tiba tiba kantong celanaku bergetar, lebih tepatnya telepon genggamku. Dengan musik yang kupilih menjadi nada dering chat masuk, dan itu lagu favoritku.
Aku mengambil ponsel ku dan melihat siapa yang mengirim pesan kepadaku, di situ tertera nama Kakaku yang seminggu lalu mènelfhonku.
" Kak Ranti " gumamku, nyaris tak terdengar. Aku membukanya dan degg... detak jantungku berdebar tidak karuan..
" Hana, kakak, harus dirawat tapi menunggu keputusan besok " Tulisnya.
" Emangnya sakit apa Kak..? " Aku membalas chatnya setelah beberapa menit terdiam.
" Kurang tau, belum ada keputusan sakit apa dari dokternya," Balasnya.
" Tolong temenin Kakak ya, soalnya takut lama di rawatnya " Lanjutnya.
" Tapi, aku kesana sama siapa Kak..? "
" Naik bus saja, dek. Nanti ongkosnya di ganti " Balas kakakku lagi.
__ADS_1
Bukan soal ongkosnya, tapi, aku tidak terbiasa pergi jauh jauh, bahkan tidak mengerti harus naik bus jurusan mana. Aku orang rumahan yang tidak pernah bepergian kemana mana, yang ku tau hanya kebun dan sawah, karena memang orang tuaku seorang petani dan tidak pernah pergi kemana mana, walaupun hanya sekedar berwisata, itu tidak pernah..
Aku menjadi gugup dan bingung, pesan dari kakakku tidak di balas lagi.
Malam harinya, aku putuskan untuk mengemas baju dan keperluan lainnya yang sekiranya di butuhkan ketika nanti di Rumah Sakit. Baju, handuk, perlengkapan mandi jg aku masukan ke dalam tas besar yang biasa aku pakai untuk pergi merantau.
" Kak, mau kemana..? " Tiba tiba Intan mendekatiku. Oh ya, aku di sini tinggal bersama ketiga temanku, ada Intan, Marni dan Juju. Dengan mereka juga aku bekerja, dan ada satu lagi Ibu Nani yang menjadi Juru Masak.
" Oh, iya Tan, aku harus nemenin Kakakku yang di Kota T, dia harus di rawat. Air mataku luruh tak terbendung lagi, Intan juga ikut menangis.
" Sakit apa kak..? " Tanya Intan.
" Kurang tau, belum pasti, karena belum ada keputusan sakitnya apa " Jawabku sambil mengusap air mata yang terus keluar .
Entah kenapa, ada kesedihan yang mendalam dengan rencana kepergianku.
" Heii, kenapa, kok pada nangis " Tanya Juju.
" Siapa yang nangis ..? " Marni menimpali dari kamar mandi.
" [ Mpok, aku besok mau ke Kota J, aku harus menemani Kakakku, dia mau dirawat ] " Tulisku. Kemudian aku mengirimnya..
" [ Sakit apa Na.]." Balasnya.
" [ Kurang tau pasti Mpok, Kakakku sakit apa, tapi harus dirawat karena tidak bisa mengunyah makanan ] "
" [ Ya sudah, kesana sama siapa..]"
"[ Gak tau Mpok, besok di kabarin lagi sama Kakakku] "
Aku mematikan data ponselku, kurebahkan tubuh ini di atas kasur lantai yang sudah menipis, ada rasa nyaman juga lega. Seharian berjibaku di Warung yang sangat ramai, bahkan kami harus bangun dari pagi buta untuk bergantian mandi karena kamar mandi hanya ada satu untuk dipakai berempat.
__ADS_1
Setelah shalat subuh kita berangkat untuk mempersiapkan penjualan, ada yng bersih bersih , ada yang cuci piring dan juga memasak, setiap hari pekerjaanku seperti itu. Karena terlalu ramai pengunjung, sering juga gidak kepegang semua dan akhirnya mereka menunggu lama.
Warung Makan, yang berada di pinggir sebuah Proyek besar, yang karyawannya lebih dari ratusan orang, membutuhkan Rumah Makan yang banyak. Di dalam Proyek juga terdapat Kantin, hanya saja kebanyakan orang lebih suka makan di Warung Luar Proyek, seperti halnya dengan Warung Mpok Heni, tempatku bekerja. Mereka berbondong bondong menghampiri warungnya ketika waktu makan tiba, bahkan hanya sekedar minum kopi atau juga es.
Warung di sini, bukan hanya punya Mpok Heni saja, tapi di sepanjang luar Proyek terdapat banyak Warung. Lebih tepatnya Warung di atas aliran pembuangan air yang terhubung ke Proyek, mereka membuat bangunan yang menyerupai Rumah Makan lengkap dengan dapur, kamar tidur juga kamar mandi.
" Tan, Intan.." Aku mengguncang lengan Intan, untuk membangunkannya. Tepat pukul tiga lewat tigapuluh menit, aku sudah terbiasa untuk bangun, kemudian mandi. Tapi untuk sekarang, aku bangunin Intan terlebih dahulu, aku nanti saja kalau teman temanku sudah pada berangkat.
Intan perlahan membuka mata dan menguceknya. " Jam berapa Kak..? " Tanya Intan.
" Sudah jam setengah empat, Tan" . Jawabku. Aku kembali merebahkan tubuhku setelah Intan ke Kamar Mandi.
Satu persatu temanku bergantian mandi dan di lanjutkan Shalat subuh ketika adzan tiba." Ka Hana gak masuk hari ini..?" Tanya Marni.
" Enggak Mar, nanti nunggu kabar dulu " Jawabku. Aku menyambar handuk, kemudian berlalu ke Kamar Mandi.
Kurang lebih sepuluh menit aku mandi kemudian berwudhu. " Kak, Kita berangkat dulu ya" Kata Intan.
" Iya, hati hati ya.." Ucapku. Mereka kemudian memelukku, padahal aku masih mengenakan handuk dan masih basah oleh air wudhu.
" Ya sudah, hati hati di jalan ya Na " Ucap Juju. Juju emang tidak pernah memanggil aku Kakak, mungkin usianya gk beda jauh dari aku, beda dengan Intan juga Marni.
" Siap " Ucapku. Aku menutup pintu, setelah ke tiga temanku berangkat. Kesedihan kembali menghampiriku, aku harus berpisah bersama teman temanku. Selesai shalat subuh aku kembali merebahkan tubuhku dan memainkan ponselku sambil menunggu kabar dari Kakakku.
Selesai sarapan aku bingung mau ngapain, akhirnya aku menonton televisi. Tepat pukul delapan suara dering ponselku berbunyi, menandai kalau ada pesan masuk.
Benar saja, pesan dari Kakakku. " Na, tidak jadi hari ini, masih belum ada keputusan dari Dokternya ". Isi pesan dari Kakakku membuatku menarik nafas dalam dalam, huffftt...
Sebenarnya aku tidak ingin pergi, karena aku tidak mengerti harus ngapain nantinya di sana. Tapi mau bagaimana lagi, hanya aku yang di harapkan, karena, Kakak perempuanku yang satu sudah berkeluarga dan punya anak sekolah, jadi tidak bisa untuk di tinggal.
Akhirnya aku menyusul teman temanku ke Warung. Dari pada berdiam diri di rumah. Hingga esoknya masih belum ada kabar, jadi aku memutuskan untuk tetap bekerja.
__ADS_1
Tepat pukul sebelas siang, musik pesan masukku berbunyi. Dan, aku tak bisa menahan air mataku ketika membaca pesan itu...
Bersambung..