
Setelah sarapan, aku kembali berbincang, dan bercanda dan tiba tiba ada panggilan untukku.
" Keluarga, Ibu Ranti..! " Panggilan dari ruang ICU itu terdengar.
Aku segera beranjak dari dudukku dan menghampiri Suster yang sedang menungguku di pintu masuk.
" Mbak, keluarganya Ibu Ranti? " Tanyanya.
" Iya Sus, " Jawabku.
" Mbak Fhotocopy lagi Jaminannya, yang di sini sudah habis, " Ucap Susternya. Dia memberikan satu bundel berkas Jaminannya. Yang isinya adalah, fhotocopy KTP, Jaminan Kesehatan, Surat Keterangan dari Kepolisian bahwa nama yang tertera di Jaminan Kesehatannya adalah nama yang sama dengan yang di KTP. Ada juga Fhotocopy Kartu Keluarga dan beberapa lembar berkas lagi. Semuanya disatukan dalam satu bundel.
" Baik Sus, " Ucapku. Aku mengambilnya dan segera pergi ke tempat Fhotocopy yang lumayan jauh dari sini. Tempat Fhotocopy yang aku tahu berada di seberang IGD, aku harus menyebrang di jalanan yang besar itu. Walaupun ada Zebracros, tapi aku sering ketakutan. Aku selalu menunggu sampai jalanan benar benar sepi dari pengguna jalan. Padahal, Jalan ini Jalan besar yang akan macet ketika jam pulang dan pergi Kantor. Sering kali, aku meminta tolong kepada Security yang berada di depan Parkiran itu untuk membantu aku menyebrang.
" Permisi, Bang Fhotocopy ini sebanyak dua puluh bundel, " Ucapku ketika sudah sampai di tempat Fhotocopy.
Kemudian, orang segera memisahkan berkas itu, dan memotocopynya satu persatu. Setelah selesai Fhotocopy, aku kembali menyebrang. Kali ini, aku ikut nyebrang dengan penyebrang lain yang akan ke Rumah Sakit.
" Huufft, aman. " Ucapku setelah Jalan itu aku sebrangi. Entah kenapa, aku ini penakut sekali, padahal kalau melihat orang lain menyebrang, walaupun banyak kendaraan dia pasti bisa, tapi tidak denganku yang selalu ragu untuk melangkah.
Dalam perjalanan menuju ICU, aku terus melihat ke kanan juga ke kiri, siapa tahu ada Dr. Afandi yang kebetulan lewat, sungguh aku sangat merindukannya. Aku sangat membutuhkannya, mungkin kalau ada dia, aku bisa sedikit lebih tenang. Huhuhu.., tapi nihil, tidak ada dimanapun sampai aku sampai ke ICU.
Aku kebingungan ketika akan memberikan Fhotocopy Jaminannya. Akhirnya, aku memutuskan untuk meminta tolong kepda Securitynya.
" Permisi Pak, boleh minta tolong untuk memberikan ini ke dalam, " Ucapku. Terlihat dia sedang mencatat data pendamping Pasien yang menunggu Pasiennya di ICU.
" Iya, sebentar dulu ya Mbak, " Jawabnya.
Aku terus memperhatikan dia yang sedang menulis, tapi lama sekali. " Pak, minta tolong Pak, anterin ini dulu. " Karena kaki ini sudah pegal, akhirnya aku kembali meminta tolong. Lama sekali dia menulis.
" Iya Mbak, sebentar, " Jawabnya lagi.
" Oh Mbak juga masih memakai Kartu Tunggu Gedung A ya, ? Tanyanya. Dia memperhatikan Kartu yang menggantung di leherku.
" Iya Pak, "..
" Ya sudah, sekarang kan di ICU, jadi Kartu Tunggunya ganti sama yang di ICU. Yang itu saya tahan dulu, nanti kalau mau kembali ke Gedung A, silahkan Mbak ambil di sini, " Jelasnya.
" Oh, ya sudah, " Jawabku. Kemudian aku melepaskan Kartu Tunggu yang dari Gedung A , dan menggantinya dengan Kartu Tunggu ICU yang dia kasih ke aku.
__ADS_1
Setelah itu dia mencatat, nama aku, nama pasien, dan nomor telefhon aku. Dan setelah itu dia mengantarkan Fhotocopy jaminan Kak Ranti ke dalam.
Sedangkan aku memilih kembali duduk di ruang tunggu. Aku mengecek poncelku, siapa tahu ada pesan dari Dokter Gantengku, tapi nihil tetap malam sebelum dia menghilang itu pesan terakhirnya.
" Dokteer.." Gumamku. Aku menghela nafas kasar, kemana kau Dokter, kamu yang meminta aku jangan pergi, tapi kenapa kamu yang pergi. " Aku terus bergumam, air mataku hampir saja luruh, tapi aku tahan.
Sebentar, kok sepertinya ada yang memperhatikan aku? Kemudian aku melirik dengan ekor mataku. Ternyata benar, Security itu sedang memperhatikan aku dengan terus menatap aku.
" Astagfirullah, " Gumamku. Kemudian aku mengganti posisi dudukku dengan membelakanginya.
Hari berlalu, sampailah di esok hari. Aku ke Gedung A, berniat untuk mengambil baju untuk ganti. Tapi aku kaget ketika melihat barang barangku. Barang barangku sudah ada di pojok dekat kamar mandi.
" Mbak, sekarang di mana? Kok barang barangnya tidak di bawa? " Tanya seorang OB, dia menghampiriku yang sedang berjongkok mengecek barangku. Aku baru ingat, kalau di antara baju baju yang di simpan di lemari, ada dompet Kak Ranti. Tapi setelah di cek, Alhamdulillah masih ada dan isinya juga masih utuh.
" Saya di ICU Bu, " Jawabku.
" Sekarang bawa saja dulu ke ICU barang barangnya, karena tempatnya mau ada yang isi, " Ucapnya.
" Iya Bu, terima kasih " Jawabku. Kemudian Ibu itu berlalu dari hadapanku. Aku menghela nafas kasar, bagaimana aku bisa membawannya langsung. Akhirnya aku membawannya menjadi tiga kali.
Capek juga rasanya, tiga kali sudah sku bolak balik, keringetku bercucuran dan aku langsung menjatuhkan badanku ke bantal.
" Dari Gedung A, Bu." Jawabku.
" Ini barang Kakak semua, " Tanyanya.
" Iya, tapi kebanyakan punya Kak Ranti, "...
" Aku tidak tahu, kalau sudah di sini, barang barang juga di bawa kesini hhee, " Lanjutku lagi.
" Ohh, dari kemarin barang barang Kakak masih di Gedung A? "..
" Hehe, iya Bu, "
" Ya iyalah, kan ibaratnya pasiennya itu sudah keluar dari Gedung A, ya barang barang nya juga ikut keluar dong Kak hahaa, " Mama nya Elsa tertawa melihat kebodohanku.
" Hahahahha... " Aku juga tertawa lepas, ada ada saja memang aku ini.
Setelah melepas rasa lelah, aku ke depan dan duduk di bangku. Aku terus memainkan ponselku walaupun tidak tahu apa yang harus aku mainkan.
Tiba tiba ponselku bergetar, tanda ada pesan masuk. Aku segera membukanya siapa tahu orang yang aku tunggu tunggu itu mengirim pesan, tapi aku salah, ternyata itu dari nomor baru dan tidak ada namanya.
__ADS_1
" [ Mbak Hana, jangan melamun terus ] " Itulah isi pesannya.
Haaahhh..., siapa? Sepertinya orang dekat sini deh, tapi siapa? Oh iya, mungkin Security itu yang mengirim pesan. Karena hanya dia yang tahu nomor aku.
" [ Tidak kok, Maaf aku bukan orang Jawa, ] " Aku membalas pesannya. Karena yang aku tahu, yang di panggil Mbak itu orang Jawa.
" [ Oh, kirain orang Jawa ] " Dia kembali membalas pesannya. Benar saja, ternyata dia, Security yang bernama Nana.
Akhirnya aku tidak membalas pesannya lagi, walaupun dia sering banget mengirim pesan selama dia tugas, tapi aku merasa malas untuk berinteraksi dengannya.
Bahkan ketika dia mau pulang, dia selalu mengirim pesan dulu dan berpamitan untuk pulang.
Kenapa juga orang itu, jangan sampai aku termakan omongannya. Aku tidak ingin terjatuh lagi seperti ini.
Memang benar kata Kak Ranti waktu itu, kita boleh mengenalnya, tapi tidak boleh jatuh terlalu dalam. Apa lagi orang itu baru kita kenal, bahkan kita tidak pernak bertemu sama sekali. Seperti halnya dengan Dr. Afandi, aku baru mengenalnya beberapa hari, tapi aku sudah berani melangkah, padahal aku ini belum kenal sama sekali.
Entah, aku mau menyebutnya dengan takdir atau hanya kebetulan. Karena hati ini tidak bisa di pungkiri ketika pandangan pertama kami bertemu, aku sudah jatuh cinta.
Kurang lebih satu bulan mengenalnya, merasakan kasih sayangnya juga aku merasa di cintainya walaupun sering di warnai keributan kecil.
" [ Mbak, jangan melamun terus ] " Lagi lagi Pak Nana mengirim pesan kepadaku. Tapi, aku tetap mengabaikannya.
Drrrttt... Drrtttt ddrrrtt....
Ponselku bergetar kembali, tapi aku tetap mengacuhkannya. Aku merasa terganggu dengan adanya nomor Pak Nana itu. Aku takut juga dia sudah punya istri, apa jadinya nanti kalau ketahuan istrinya.
Drrrtt, drrttt.., drrrtttt.....
Drtttt.... Drrttt... Drrrtt...
Sepertinya banyak pesan yang masuk ke ponselku. Kemudian aku melihat ke tempat Pak Nana duduk. Ia, dia sedang menunduk sepertinya dia sedang memainkan ponselnya yang fia simpan di kolong meja.
" Hhuuuuffttt... " Aku merasa kesal sekali.
Sebentar, tapi kok ada pesan dari nomor baru lagi, nomor siapa ini? Apa jangan jangan?..
Kira kira, nomor siapa ya..??
**Bersambung...
Terima kasih yang sudah mampir, tetap beri dukungannya ya, jangan Lupa, Like, Komen, dan juga Vote aku yah🙏🙏**
__ADS_1