
Terlihat masih banyak orang di ruang tunggu, suasana masih ramai dan banyak pengunjung. " Kok tumben masih ramai, " Ucapku pelan. Kemudian aku mengambil ponselku dari kantong celana. " Haahh, kok baru jam sembilan siihh, katanya sudah malam, tapi kenapa di bawah tadi tidak ada orang sama sekali? Terus..?! Pasti Dr Dafa membohongiku, " Aku bermonolog
Aku langsung masuk ke ruang tunggu yang di belakang, aku tidak memperdulikan kalau Kak Arkan masih ada di depan. Yang aku inginkan sekarang adalah, terlepas dari semua beban ini.
Huuffttt, kenapa bebanku semakin bertambah, apalagi dengan hadirnya Kak Arkan. ' Aku harus bagaimana ya Allah ', Ucapku di dalam hati.
Sepertinya, lebih baik aku tidur saja. Agar semua beban ini tidak terus berada di kepalaku.
***************
POV Dr. Dafa.
Hari ini, jadwalku sebagai Dokter Spesialis Bedah Thorax lumayan padat. Dari mulai pagi sampai sore hari jadwalku penuh. Sampai mau sejenak istirahat pun aku sangat kesusahan.
Dari mulai, Operasi di pagi hari, pemeriksaan, diskusi untuk perencanaan Operasi dan lain lain.
Oh iya, aku juga di sibukan dengan bolak balik ke ruang ICU untuk mengontrol sahabat yang sudah aku anggap keluargaku. Dia adalah Dr. Afandi.
Flashback..
Tiga tahun lalu, aku bertemu dengannya ketika sedang mengadakan seminar. Dan ternyata dia adalah pasien istriku Meyra. Dari situ, kami menjalin silaturahmi dan bersahabat, sampai akhirnya aku tahu kalau dia terlahir dari keluarga yang broken home.
Sungguh di luar dugaan, ternyata Fandi juga sudah menjadi sahabat istriku Meyra dan sudah satu tahun menjalani terapi.
Istriku adalah Dokter Psikolog di Rumah Sakit yang sama denganku. Dan Fandi bergabung dengan tim kami setelah beberapa bulan Dokternya menyatakan sembuh total. Meyra adalah sebagai, Kakak, Dokter, dan sahabat untuknya. Tanpa Meyra, Fandi sering kali teringat dengan kejadian kejadian yang telah menimpanya di masa lalu. Bahkan yang paling patal adalah, ketika di khianati kekasihnya.
Sudah dua tahun ini, Dokter Psikiaternya menyatakan sembuh total. Tapi tetap dengan pengawasan Meyra.
Fandi sering kali menjadi bahan ledekan oleh tim ku. Karena hanya dia saja yg belum menikah. Tapi Fandi menanggapinya hanya dengan senyuman.
Oh ya, selama dua tahun ini, Fandi sangat jarang pulang ke rumah orang tuanya. Di karenakan dia telah nyaman dengan dirinya sendiri. Dia menyendiri di Apartemennya. Tapi, setiap hari sabtu dan minggu, kami sebagai teman seperjuangannya kalau ada waktu lung, kita akan main ke Apartemennya. Dan dia juga sangat terlihat bahagia.
***************
Satu bulan yang lalu, aktifiitasku seperti biasa. Dan hari itu ada seorang pasien Myasthania grafis dengan adanya massa mediastinum di rongga dadanya.
Pagi itu, kami satu tim masuk keruangan bagian THT, di Gedung A lantai tujuh Dan yang pertama masuk adalah Fandi. Awalnya biasa saja, Tapi hari ke hari dia sering senyum senyum sendiri.
" Hei Fan, kenapa lu kok senyum senum senyum sendiri, lu kesambet ya, " Ucapku. Kala itu dia baru saja mengambil hasil Fhoto rontgen Pasien baru itu yang bernama Ranti Septiani.
Pasien ini, datang berdua bersama adiknya. Katanya sih dia dari luar kota. " Apa si lu Daf, ngagetin gua aja, " Jawabnya. Terlihat kebahagian dalam dirinya dan dia masih tetap tersenyum.
Baru kali ini sejak bertemu pertama kali melihatnya tersenyum bahagia.
" Lu lagi bahagia gak mau bagi bagi nih, giliran lu lagi galau aja datangnya ke gua, "..
" Hehehe, " Terlihat senyumnya yang mengembang, membuat aku geli seketika.
" Fan, lu normal kan? Jangan bikin gua takut deh, "..
" Sudahlah jangan ganggu, gua lagi bahagia? " Ucapnya. Dan dia berlalu begitu saja ketika sudah memberikan hasil Rontgennya.
" Heii lu mau kemana? "..
" Gua mau makan siang dulu lah, lu gak tau kalau ini sudah jam berapa? " Seketika aku langsung melihat jam yang melingkar di tanganku. Ternyata iya, ini sudah waktunya Istirahat dan makan siang.
' Tumben banget anak itu, biasanya juga bawa bekal dari rumah, ' Ucapku.
Setelah itu, aku beniat makan siang bareng istriku. Hari ini jadwalnya dia ke Cafe yang berada di Rofftop Gedung A.
Ketika baru masuk ke Gedung A, aku melihat Fandi bergandengan tangan dengan seorang perempuan. ' Siapa Dia? ' Aku mengucek mataku. Ternyata benar, kalau itu Fandi dan siapa perempuan itu? Tapi sepertinya wajahnya aku pernah melihatnya? Tapi di mana Ya, " Hati ku terus ber tanya tanya.
Dari pada bikin penasaran, akhirnya aku mengikutinya dengan berjalan pelan dari belakang. Mereka terlihat akrab dan Fandi terlihat tidak mau melepas genggamannya walaupun si perempuan terkadang terlihat tidak nyaman ketika mereka berpapasan dengan dokter atau suster.
Aku terus mengikutinya dan ternyata mereka menuju ke Kantin yang berada di Baseman. Terlihat Fandi sedang memesan makanan dan perempuannya di suruh duduk menunggu di kursi.
Dan, apa yang terjadi ketika makanan sudah siap di meja. Ternyata Fandi meminta di suapin dan Fandi juga menyuapin si perempuan itu.
" Astagaaa.., " hampir saja aku berteriak kalau saja ponselku tidak bergetar.
Ku lihat ponselku, ternyata dari istriku Meyra. Aku segera mengangkatnya.
" Hallo Yang, "..
" Kamu di mana Yang, perutku sudah bunyi terus nih, " Rengekan Meyra membuat aku merasa bersalah.
" Oh iya, sory Yang, aku segera ke sana, "..
__ADS_1
Setelah menutup telfon, aku segera masuk ke dalam Lift khusus menuju Rofftop
***************
Sesampainya di sana, Meyra terlihat sedang duduk dengan wajah di tekuk, tangan di lipat dan bibirnya di maju majuin. Sangat gemas melihatnya, aku segera menghampirinya dan mengecupnya. Tapi dia malah membelakangiku.
" Maaf Yang, " Aku duduk di sampingnya. Dan aku punya ide, untuk menghiburnya.
Aku segera menyiapkan makanan yang sudah terhidang di Meja. Sepertinya makanan ini baru saja datang karena masih mengeluarkan asap.
" Sayang, sini deh, " Ucapku. Kemudian Meyra membalikan badannya. Beruntungnya aku, punya istri kalau ngambek tidak harus membujuknya lama lama, dia sangat manja dan sering kali ngambek padahal hanya masalah sepele. Tapi dengan sedikit bujukan jg dia akan kembali ceria. Dan beda lagi, kalau sedang bekerja dia akan menjadi pekerja yang propseional. Dia akan Tegas dan bijaksana.
" Ayo kita makan, " Ucapku. Kemudian, aku menyuapi meyra. Dia terheran, karena biasanya yg sering menyuapi itu Meyra.
" Ayo sayang, buka mulutnya. Pegel nih tanganku, " Ucapku. Meyra pun langsung mengambil suapan itu dan terlihat rona wajahnya yang merona merah. Sungguh gemas melihatnya.
" Kenapa kamu Yang, ada angin apa nih? " tanyanya.
" Sudah makan saja dulu, nanti aku cerita sama kamu, " Ucapku.
Akhirnya aku dan Meyra melanjutkan makanku dengan saling menyuapi. Tapi di dalam hati geli ingin ketawa ngakak.
" Yang, kamu ada apa sih, dari tadi mesem mesem terus, " Aku segera menghabiskan minumku dalam sekali tegukkan. Nanti bisa kacau kalau rengekan itu kembali terulang.
" Emm ini Yang, aku memperlihatkan ponselku yang tadi sempat merekamnya beberapa detik saja.
" Ini apa? "
" Lihat saja Yang, "..
Kemudian di memutar video itu. " Siapa ini? " sebentar, " terlihat Meyra menzoom kameranya.
" Ini Fandi Yang? " Dengan mata terbelalak, raut wajahnya sangat sulit di artikan.
" Kenapa? " Tanyaku.
" Jangan bilang ini Fandi Yang, " Dia kembali merengek.
" Iya, itu emang Fandi, " Meyra langsung membuang nafas kasar.
" Kenapa? " Padahal tidak ada yang salah, tapi kok Meyra nampak tidak suka. Dugaanku benar benar salah, ternyata Meyra tidak ingin tertawa sama sekali.
Benar juga, karena menurut dokter yang menangani Fandi, Fandi tidak bisa hatinya terguncang, takutnya Ahh, mungkin iya perasaan Meyra juga sama dengan perasaanku.
Sejak hari itu, Fandi menjadi sangat rajin dan terlihat begitu bahagia. Berangkat juga sangat pagi dari Apartemennya. Tapi aku dengan Meyra begitu was was. Khawatir kejadian itu terulang kembali.
Sampai akhirnya, aku mengetahui kalau perempuan yang bersama Fandi waktu itu adalah, pendamping Pasien yang bernama Ranti itu. Dan Fandi bilang, kalau itu adalah adiknya.
Sungguh di luar dugaanku, Fandi benar benar menyukai perempuan itu. Sampai Fandi juga selalu menitifkan perempuan itu kepada Dr. Elvira yang menjadi Dokter jaga di ruangan itu.
Beberapa hari berlalu, Fandi terlihat semakin bahagia dan semangatnya membara dalam bekerja. Tapi, beberapa hari kemudian, raut mukanya kembali di tekuk. Dan akhirnya ketakutan Meyra pun terjadi.
Kala itu, aku sedang menemani Meyra di ruang kerjanya. Tiba tiba Fandi menelfon dan minta tolong untuk mengantarkan dia pulang.
Aku saling pandang bersama Meyra. " Ada apa kira kira yang? " Tanyaku. Wajah Meyra terlihat menegang.
Setelah menunggu Meyra menyelesaikan tugasnya. Akhirnya kita turun ke bawah dengan langkah cepat menuju Parkiran yang jaraknya lumayan jauh.
Bukan terbelalak lagi ketika aku melihat keadaan Fandi. Terlihat dia sedang berduaan dengan perempuan itu, yang aku ketahui namanya adalah Hana.
" Lu kenapa Fan? " Tanyaku panik. Terlihat wajahnya biru biru bahkan ada yang sudah pakai perban.
" Bantuin gua bawa mobil Daf, Hana tidak mengijinkan gua nyetir sendiri, " Ucapnya. Dalam keadaan seperti ini juga dia masih membela perempuan itu, seistimewa apa sih perempuan itu? " Aku benar benar geram. Sampai akhirnya, dengan celetukan Meyra, perempuan itu pamit pulang. Mungkin dia merasa sakit hati, karena Fandi memanggilnya juga dia tidak menoleh lagi.
Mulai malam itu, kondisi Fandi tidak stabil, dia marah marah, meronta ronta sampai mengamuk menyalahkan Meyra. Dia terus mengirim pesan kepada perempuan itu dan memanggilnya. Tapi tidak ada balasan dan akhirnya ponselnya dia lempar ke luar jendela sampai hancur.
Kepalaku merasa pening menghadapi ulah Fandi, dia kembali seperti dulu, kembali depresi. Aku semakin geram dengan perempuan itu. Tapi untuk memenuhi profesional kerjaku aku tetap menjadi ramah terhadapnya.
Dengan terpaksa, Meyra mengikat tangannya dan memberinya obat penenang. Setelah Fandi tertidur, akhirnya aku bisa sedikit bernafas lega. Aku membawanya pulang ke rumahku. Karena takut nantinya kembali terbangun dan kembali mengamuk.
*****************
Malam berlalu, dan pagi kembali menyambut. Aku terkejut ketika bangun Meyra sudah tidak ada di pelukanku. Aku kembali teringat kejadian semalam. " Apa jangan jangan Meyra tidur di ruangan Fandi, " Ucapku.
Aku langsung berlari ke kamar dimana Fandi berada. Benar saja, emosiku hampir saja tersulut ketika melihat Meyra yang tidur menelungkup di sisi ranjang Fandi. Tapi aku ingat lagi, kalau keadaan Fandi sedang tidak baik baik saja.
" Lu terlalu nyusahin gua lho, sampai bini gua juga tidur di samping Lu " Celotehku. Tapi, ke dua orang itu tidak ada yang terbangun. Ku lihat lagi, wajah Fandi yang terlihat biru karena memar.
" Apa yang ada di pikiran Lu Fan, sampai sampai Lu nyakitin diri sendiri. Belum tentu dia orang yang Tuhan pilih untukmu Fan, "..
__ADS_1
" Lihat, pengorbanan Meyra Fan, dia sampai rela tidur seperti ini. Padahal gua tidak pernah ngebiarin dia seperti ini, "
Sebentar, kok Fandi terlihat meneteskan air mata? Apa dia mendengar ucapan gua?..
" Faaannn, Faandiiii..., " Aku mengguncang guncang kakinya. Tapi Fandi tetap diam, aku semakin penasaran dan menghampirinya ke sisi kanan. Terlihat buliran air mata membasahi pipinya, tapi matanya tetap terpejam.
" Fandiiii...!! ".. Terlihat, Meyra terbangun karena kaget.
" Yang, " Ucapnya. Wajah cantiknya terlihat kusut, matanya cekung akibat tidak bisa tidur.
" Yang, sory, semalam jam dua Fandi kembali berontak Yang. Tadinya aku ingin ke Toilet, tapi aku kaget ketika melihat layar kalau Fandi sedang berontak dan membenturkan kepalanya. Sampai aku lupa mau ke Toilet juga, " Jelasnya. Aku memang memasang CCTV di kamar Fandi agar memudahkan kami untuk mengontrolnya.
" Kenapa kamu tidak membangunkan aku Mey, " Ucapku datar. Mataku masih tertuju ke arah Fandi. Entah rasa apa yang Meyra punya, sampai Fandi berontak dia tangani sendiri.
" Jangan salah paham dulu Yang, aku sengaja agar kamu bisa istirahat. Bukankah besok kamu akan kerja pagi, "..
" Tapi, aku merasa tidak di hargai sebagai suami Mey, kamu itu kalau Fandi, ahh sudahlah.. " Aku benar benar tidak ingin ada konflik dengan Meyra. Karena selama ini pun aku fine fine saja. Tapi kenapa kali ini, seperti ada yang menusuk nusuk hatiku, ketika melihat Meyra sedang tidur dekat dengan Fandi, apa dia lupa kalau dia juga punya kamar sendiri.
Aku berlalu dari hadapan Meyra, dan aku juga menutup pintu dengan kencang, agar Meyra tahu kalau aku kesal dengannya.
" Yaaangg, tunggu..! " Teriak Meyra dari dalam. Aku tidak menghiraukannya dan aku langsung masuk ke kamar dan langsung mengambil handuk untuk mandi.
Guyuran sower sedikit menyegarkan pikiranku. Apa aku cemburu? Iya sebenarnya sih tidak masalah karena dia juga istriku.
" Yang, buka pintunya..! " Teriaknya dari luar, gedoran pintu terus menemani acara mandiku, tapi aku tetap tidak menghiraukannya sampai aku selesai mandi.
Setelah selesai mandi, aku segera keluar. Dan terlihat Meyra sudah di depanku. Dia langsung memelukku tapi aku sedikit mendorongnya.
" Yang, maafin aku, " Ucapnya. Airmatanya sudah menganak sungai membasahi pipinya.
Aku terus melangkah menuju ruang wadrobe, dan aku mengambil semua pakaianku. Biasanya setelah mandi, semua ini sudah tinggal memakainya. Tapi saat ini Meyra hanya mengikutiku dari belakang.
" Apa kamu tidak ingin menyiapkan aku sarapan? "..
" Kan ada Bi Odah, " Dengan seenaknya dia menjawab seperti itu. Emosiku semakin memuncak, padahal biasanya dia yang akan menyiapkan semuanya.
" Apakah sepatal itu keadaan sahabatmu itu, sampai kau lupa akan kewajibanmu, " Ucapku tegas. Meyra tidak bergeming, hanya air mata yang terus mengalir deras.
Melihat itu, aku langsung mengambil tas kerjaku dan meninggalkannya tanpa kata.
Sesampainya d ruang kerjaku. Aku langsung beranjak lagi untuk ke Gedung A, jaraknya lumayan jauh bisa lima menitan lebih bisa sampai di sana.
Dengan senyuman khas ku. Aku menyapa pasien Ranti Septiani. Dan terlihat pendampingnya yang tak lain adalah adiknya sedang duduk termenung. Aku mengepalkan tanganku, karena gara gara dia aku jadi ribut dengan istriku.
Tapi aku balik lagi, kembali mengeskpressikan dengan senyumanku. Dan tiba tiba ponselku bergetar, aku berpamitan dan akupun mengambil ponselku. Ternyata Meyra yang memanggil, aku membiarkannya dan ponselku terus berbunyi sampai akhirnya masuk satu pesan.
" [ Yang, maafkan aku, tolong jangan marah. Tubuh Fandi dingin semua dan dia sesak Yang, aku mau membawa dia ke IGD, ] "
Aku merasa lemas, sekesal apapun aku harus menurunkan egoku.
" [ Ya, aku tunggu di IGD ] "..
...****************...
Setelah beberapa menit menunggu, aku melihat mobil istriku masuk ke halaman IGD. Kemudian keluar Pak Waryo, sopir keluarga kami. Tidak lama kemudian, keluar juga Meyra dari jok belakang. Aku menghampirinya dan terlihat Fandi, duduk lemas dengan wajah yang pucat.
Aku langsung memanggil perawat untuk membawa blankar. Dan setelah pemeriksaan, Fandi dinyatakan keritis. Fandi di bawa ke ruang ICU untuk pemeriksaan lebih intensif lagi.
" Yang, tadi Fandi sempat sadar, dia bilang. " Jangan bilang ke Hana sampai aku sembuh total, " Ucapnya. Dan dia juga minta tolong bilangin ke Hana kalau dia tetap mencintainya, " Ucap Meyra.
Di situ aku benar benar bingung, kenapa sampai seperti ini. " Fandi, lu kuat, sory tadi gua sudah marah sama lu. Dan tenang, gua gak bakal bilang sama Hana lu itu. Oh ya, tapi tadi dia sedang termenung tuh di ruangan, mungkin dia menyesal udah membuat lu seperti ini, "..
" Yang, jangan berbicara tentang Hana di dekat Fandi, lihat dia mengeluarkan air mata, " Bisik Meyra.
Benar saja, terlihat air mata Fandi mengalir di pipinya.
" Sory Fan, sekarang lu harus kuat ya, cepat sembuh, agar bisa cepat bertemu dengan Hana, " Ucapku. Aku tidak ingin banyak berbicara lagi, karena takut memperburuk keadaannya.
Flashback Off..
Hari ini, dengan tergesa gesa aku keluar dari ruang ICU. Selain habis memeriksa keadaan Pasien ku, aku juga memeriksa kondisi Afandi yang kian hari kian melemah. Aku ingin membawa Hana agar dia bisa cepat sadar dari koma nya. Tapi, Meyra tidak mengijinkan.
" Fan, lho gak mau bangun? Lihat tuh Hana nyariin lho, " Ucapku tadi. Terlihat air matanya mengalir dengan cepat, detak jantungnya tak beraturan.
Aku benar benar bingung, apa aku tidak harus bilang dulu sama istriku atau bagaimana Huufffttt...
Ketika kekalutan sedang melanda, tiba tiba ada yang memanggilku. ' Suara itu, ' Gumamku. Aku mencoba tidak menghiraukannya. Tapi ternyata dia mengejarku.
Bersambungg....
__ADS_1