
POV Hana
Entah jam berapa aku terbangun, suasana di luar masih gelap dan orang orang di sampingku masih tertidur pulas.
Aku mengambil ponselku dan menghidupkannya. Tapi, ternyata ponselku mati. Hufftt, ternyata aku lupa mengisi dayanya. Aku mencoba untuk memejamkan mataku lagi tapi tidak bisa. Oh, lebih baik aku shalat malam saja.
Aku bangun dan menuju Kamar mandi untuk mengambil air wudhu, walaupun sedikit takut, tapi aku paksakan.
Terlihat di ruang tunggu depan, Pak Nana sedang duduk sendirian. Semua orang yang berada di ruang tunggu depan tertidur pulas.
Aku melanjutkan langkahku dan masuk ke dalam toilet. Setelah selesai, aku kembali lagi dan mulai melaksanakan shalat malam.
^ AllahhuAkbar, Allahhuakbar, " Setelah beberapa rakaat aku melaksanakan shalat Tahajud, suara adzan subuh berkumandang.
...Terdengar suara bising orang yang terbangun dari tidurnya untuk menunaikan shalat subuh. Aku pun melanjutkan shalatku....
......................
Pagi tiba, mentari pagi menampakkan sinarnya cerah. Hati yang di landa kekalutan sudah merasakan sedikit ketenangan. Dan aku memutuskan untuk berbicara lagi dengan Kak Arkan, kalau dia masih ada di sini. Aku ingin menyelesaikan masalahku satu persatu agar pikiranku tidak kembali kalut.
" Kak, kenapa matanya bengkak? " Tanya Mama Elsa. Kala itu aku baru selesai mandi. Memang iya, mataku bengkak akibat menangis semalam. Bahkan terasa perih dan gak nyaman.
" Hehee..! " Aku hanya terkekeh kecil.
" Ada masalah apa? " Tanyanya lagi. Tapi aku menggeleng cepat, air mataku kembali ingin keluar. Tapi aku tahan.
" Ibu sudah sarapan belum? " Tanyaku. Aku sengaja mengalihkan pembicaraan.
" Sudah tadi di belikan suamiku, Kakak belum sarapan? "..
" Belum, nanti aku beli, " Jawabku. Sebenarnya aku merasa malas untuk beranjak dari tempat dudukku. Tapi perut ini terus berdemo minta di isi.
Ketika sedang duduk termenung, tiba tiba saja Kak Arkan menghampiriku. Dia membawa kantong plastik yang di dalamnya berisi nasi uduk.
" Assalamu'alaikum, sarapan dulu Dek.! " Ucapnya ramah. Kemudian dia duduk di depanku dan menaruh kantong plastiknya di depannya. Aku terus menunduk, enggan untuk mengangkat wajahku karena takut menjadi pertanyaan.
" Wa'alaikum salam, " Ucapku.
Kemudian dia menyiapkan makanannya dan dia memperhatikanku.
" Kenapa Dek, kok menunduk terus? " ..
" Semalam kemana? Aku menunggu kamu lama sekali, aku khawatir sama kamu Dek, kalau ada masalah ceritalah, " ..
" Tidak apa apa, " Ucapku.
" Ya sudah, sarapan aja dulu nanti kita bicara lagi, ".. Dengan terpaksa aku mengambil sendok dan menyuapkan nasi uduk itu. Aku bukan tidak menghargainya, tapi aku memang tidak selera makan.
Entah pikiranku kemana, aku sampai tidak sadar ketika sendok yang di tangan Kak Arkan ada di depanku.
" Ayo Dek, kok makannya lama banget. Jangan sambil melamun, " Ucapnya. Kulihat nasi uduk Kak Arkan sudah habis, tapi nasi uduk aku masih banyak tersisa. Aku mengangkat wajahku dan tepat sekali dengan pandangan Kak Arkan masuk ke pandanganku.
Beberapa menit aku masuk kedalam pandangannya , terlihat raut kesedihan di matanya. Entah sedih karena apa, atau karena aku tolak semalam. Matanya menatap dalam mataku seolah mencari cari apa yang aku sembunyikan. Tapi, aku tidak bisa terlalu lama bertatapan dan aku segera memalingkan wajahku.
Dia menghela nafas kasar, entah apa yang ada dipikirannya. Kemudian dia kembali menyuapi aku.
" Sudah Kak, " Ucapku. Rasanya nasi ini sudah tidak bisa lagi aku telan. Aku meminta menyudahinya.
" Sedikit lagi Dek, sayang mubazir, " Ucapnya. Aku menggeleng, nasi yang masih ada di mulutku saja belum bisa aku telan.
" Ya sudah, " Ucapnya lesu. Kemudian dia membereskan kertas nasinya dan membuangnya. Sementara aku terus termenung. Kak Arkan kembali lagi dan duduk diam di sampingku. Aku pura pura memainkan ponselku agar tidak salah tingkah.
" Kak, ke taman yuk ada yang ingin aku bicarakan, " Ucapku setelah sekian lama terdiam. Aku harus segera menyelesaikan dulu masalah ini dengan Kak Arkan.
" Kenapa tidak di sini saja, " Ucapnya.
" Tidak enak banyak orang, " Jawabku. Akhirnya setelah Kak Arkan mengiyakan, kita ke Taman belakang Dekat dengan Gedung PJT.
Aku duduk di kursi taman dan di ikuti Kak Arkan. Semilir angin pagi menyegarkan kulitku. Terlihat hanya ada beberapa orang yang sedang duduk di taman ini. Aku memejamkan mata sejenak, menikmati udara segar ini.
" Dekk.." Panggilan Kak Arkan memaksa aku untuk membuka mata.
" Hemmm, " Aku menjawabnya dengan deheman.
" Dekk..! "..
" Iya, " Jawabku. Mataku masih lurus ke depan.
" Sini lihat Kakak Dek, "..
" Apa? " Aku mengganti posisi dudukku menjadi menghadapnya.
" Semalam kemana? " Tanyanya.
" Aku tidak kemana mana, hanya ada keperluan, " Jawabku tenang.
" Dek, tolong ya, jangan pernah lepas tanda pengikat ini, " Tiba tiba Kak Arkan berucap. Kenapa aku sampai tidak menyadarinya. Kak Arkan benar benar memanfaatkan ketika aku sedang tidak fokus.
" Iihhh apa sihh, " Sontak aku mengibaskan tanganku yang sedang dia pegang. Tapi, ini sudah terlambat, sebuah cincin dengan design elegan sudah terpasang di jari manisku.
" Tolong Dekk, jangan di buka lagi, " Ucapnya memelas. Aku terus berusaha melepas cincin ini, tapi kenapa tidak bisa di buka dia menyangkut di di ruas jariku.
" Kak, tolong dibuka..! " Hampir saja aku berteriak karena kesal.
__ADS_1
" Apa salahnya, "..
" Ya jelas salah, kamu terlalu memaksa, " Ucapku sewot. Aku benar benar geram.
" Kenapa sih, orang tua kamu juga sudah menyetujui ini, bahkan aku hanya tinggal memasang ini, hanya sebagai tanda kalau kamu sudah ada ikatan dengan aku. Dan orang tua kamu juga sudah setuju kalau nanti setelah Kak Ranti selesai pengobatan kita akan melangsungkan pernikahan, " Kak Arkan tak kalah kesal. Dia juga tersulut emosi.
" Anda benar benar licik ya, " Ucapku sambil menunjuk wajahnya. Pikiranku benar benar kacau sampai aku melakukan itu. Dan itu membuat Kak Arkan kalap, hampir saja dia menamparku, tangannya sudah di udara, tapi dia segera menurunkan tangannya. Air mataku sundah menganak sungai tidak bisa lagi di bendung.
" Silahkan tampar, tampar saja. Karena memang aku orangnya tidak bisa di paksa, " Ucapku.
" Maaf Deekk, " Ucapnya lemah. Dia bersimpuh dan memegang tanganku. Tapi aku segera mengibaskannya.
" Maaf, aku memang salah. Tapi, aku tahu kalau kamu masih mencintai aku. Oke, aku akan memberi ruang untuk kamu memikirkan ini. Mungkin aku salah juga sudah menambah beban pikiranmu. Tapi, aku yakin kalau kamu masih mencintai aku, " Ucapnya. Kemudian dia bangun dan beranjak pergi tanpa pamit.
Tubuhku luruh, aku menangis tersedu sedu tanpa suara. Dada ini benar benar sesak seperti ada batu besar yang menghimpitnya.
Aku terus menangis, sampai kepalaku terasa pusing. Hampir saja aku ambruk ke rumput Karena memang yang aku pijak adalah rumput taman. Tapi tiba tiba, tangan kokoh seseorang menahan tubuhku. Dia memapahku ke kursi.
Aku benar benar lemas, dan aku masih terus terisak.
" Sebentar, " Ucapnya. Kemudian dia sedikit berlari dan tidak lama kemudian dia membawa segelas putih.
" Ini di minum, " Ucapnya. Aku ragu untuk meminumnya.
" Sudah tidak usah takut, " Ucapnya. Kemudian dia membantu aku untuk minum. beberapa tegukan air itu masuk ke perutku, perutku terasa hangat dan seperti kembali bertenaga.
" Coba, ambil napas dari hidung, kemudian keluarkan perlahan dari mulut, " Ucapnya. Kemudian aku mengikuti arahannya. Benar saja ada sesikit kelegaan di hatiku.
" Terimakasih, " Ucapku. Aku memaksa untuk melihat siapa orang ini, karena dari tadi aku terus menundukan wajahku.
Aku terus menatapnya, karena seperti pernah melihat orang ini, tapi dimana?
" Apa kita pernah bertemu? " Tanyanya.
" Tidak tahu, sepertinya iya, tapi di mana ya? "..
" Apa kamu yang menabrak saya waktu dekat Gedung A, " Tanyanya. Aku berpikir keras dan iya aku ingat.
" Oh iya ingat, maaf aku tidak sengaja, " Ucapku.
" Hmmm, " Dia berdehem, tapi matanya tertuju pada pandangan lurus ke depannya seperti ada yang sedang ia perhatikan. Tapi ketika aku mau melihat kebelakang dia mengalihkanku dan terus mengajak aku untuk berbicara.
" Oh ya, mohon maaf sebelumnya, kalau boleh tahu tadi itu siapa ya, kok sepertinya dia sangat kasar orangnya? "..
" Oh tidak, dia hanya merasa kesal saja, "..
" Ya sama saja, kalau saya tidak memperhatikannya kamu pasti sudah di tampar, "..
" Iya, barusan saya habis dari gedung PJT, dan melihat ada keributan. Kemudian saya memperhatikan dari jauh. Tapi ketika melihat dia sudah mengayunkan tangannya saya segera berlari dan memelototinya, "
" Wahh keren dong, " Ucapku.
" Apanya yang keren? "..
" Hhee, terima kasih, "
" Tidak usah berterimakasih, saya paling tidak suka dengan laki laki peng***t yang hanya bisa bermain kasar dengan perempuan, ".
" Terimakasih Dokter, "..
" Tidak usah terus berterimakasih, karena itu sudah kewajibanku menjaga perempuan dari kekerasan pisik. Dan satu lagi, saya tidak suka di panggil dokter kecuali kalau saya sedang tugas, panggil saja saya Arvi. Oh ya, nama saya Arvi Ardiyansyah.
" Itu sangat tidak sopan Dokter, "..
" Ya sudah aku panggil Om saja, "..
" Hahhh, emangnya aku sudah kelihatan seperti Om Om? "..
" Terus apa dong? Abang? Atau Kakak? "..
" Abang, iya panggil saya Abang saja. Kebetulan aku tidak punya Adek, "..
" Masa..?! "..
" Iya, saya anak tunggal. "..
" Oh ya, masih pusing tidak? "..
" Sedikit, "..
" Terimakasih banyak ya Abang, aku mau segera pulang, takut ada panggilan, "..
" Memangnya sekrang lagi di mana Dek? " Tanyanya. Hadeeh kenapa semua orang memanggil aku Adek sih, berasa jd anak SD lagi.
" " Aku lagi di ICU Bang, "..
" Haahhh, siapa yanh sakit? "..
" Kakak ku, habis di Operasi masuk ICU, "..
" Sudah berapa lama di ICU?..
" Sudah semingguan Bang, "..
__ADS_1
" Ya sudah bareng saja, aku sekalian mau menjenguk temanku dia lagi di ICU juga, "..
" Oh yaah, sakit apa? "..
" Kurang tahu juga, saya baru tahu kemarin kalau dia masuk ICU, "..
" Ya sudah yuu, " Dr. Arvi bangun dari duduknya dan membantuku berdiri.
" Pelan saja jalannya Dek, nanti aku belikan obat deh, "..
" Tidak usah Bang, aku punya kok soalnya kemarin kemarin juga aku sedang sakit kepala, "..
" Oh ya Bang, kan sekarang baru jam sepuluh. kan jam besuk pas jam dua belas, "..
" Abang mau masuk Dek, "..
" Ohh, ".. Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi, sampai di UBP.
" Aku lewat sini aja ya Bang, " Ucapku. Aku memilih naik tanggak belakang yang menghubungkan ke ruang tunggu belakang.
Baru saja kaki ini melangkah, tangan kokohnya menarik tanganku.
" Lewat depan saja Dek, "..
" Tidak mau Bang, " Bukan tanpa alasan aku tidak ingin lewat depan. Alasanku, karena aku malu dengan wajahku yang acak acakan. Mataku pasti masih bengkak dan hidungku juga merah karena menangis terus.
Tapi, lagi lagi tangan kokonya menarikku. " sudahlahh tidak usah malu malu, " Ucapnya.
Akhirnya aku tidak bisa menolak lagi, aku dibiarkan jalan di depan seperti tadi menuju ke sini. Satu persatu anak tangga aku lewati dan sampailah di atas, di ruang tunggu depan. Terlihat banyak orang berlalu lalang.
Dan Bang Arvi melangkah menuju ICU akupun ke ruang tunggu belakang.
" Kak, habis dari mana? " Tanya Mamanya Elsa.
" Habis dari bawah Bu, "..
" Kok seperti habis nangis, "..
" Hehehe.., "..
" Kenapa? Ada masalah? "..
" Biasa Bu anak muda hee,,".
" Sama siapa? Sama abang yang semalam bukan? "..
" Hehehee, " lagi lagi aku menanggapinya dengan kekehan kecil.
" Tapi sepertinya dia tadi kesini loh Dek, pas aku habis dari kamar mandi dia habis dari sini, " Ucap Mama Elsa sambil menunjuk tempat barang barangku. Deg.. Ngapain dia.
" Masa sih Bu, ngapain ya? "..
" Coba aja di lihat, "..
Kemudian aku memeriksa barang barangku. Aku bukan au'udzon kalau dia mengambil sesuatu tapi yang aku cari takutnya dia menyimpan sesuatu.
Semua aku periksa sampai setiap lipatan baju Kak Ranti juga aku periksa. Tapi nihil tidak ada sesuatu apapun. Sampai akhirnya aku melihat sesuatu di tumpukan mukenaku.
Dan ternyata itu adalah kotak cincin yang tadi dia kasih. Dan apa lagi ini? Ada sebuah amplop. Kemudian aku mencari cari lagi takutnya ada yang lain. Tapi setelah aku periksa semuanya, tidak ada.
Melihat kotak itu membuat aku kembali kesal, bisa bisanya dia mencari kesempatan dalam kesempitan. mataku langsung tertuju pada cincin tadi, aku berusaha membukanya tapi tetap tidak bisa. Kemudian aku menuju kamar mandi dan membawa sabun. Benar saja, setelah hampir beberapa menit aku berusaha melepaskannya, akhirnya cincin itu bisa terlepas. ' Kenapa sangat susah untuk di lepas sih ' Gumamku. Aku benar benar merasa jengkel.
Jari tanganku terasa sakit dan sedikit perih juga terasa panas. Mungkin akibat gesekan tadi, jariku jadi memerah.
Tokk, tokk, tokk... Tiba tiba pintu ada yang mengetuk.
Tokk, tokk, tokk...
" Sebentar, " Ucapku dari dalam. Aku segera mengantongi cincin itu dan membawa tempat sabun kemudian membuka pintu.
" Mbak, maaf mengganggu saya kebelet, " Ucap seorang ibu parubaya.
" Oh, silahkan Bu, " Ucapku. Kemudian aku keluar dan si Ibu itu masuk kedalam dengan terburu buru. Aku menengok kanan dan kiri, tapi kenapa pintu kamar mandi yang tiga lagi terbuka semua? Kenapa ibu itu malah mengetuk pintu yang jelas jelas ad orangnya.
Ya sudahlah mungkin ibu itu terlalu kebelet jadi dia gak tau ada kamar mandi yang kosong. Kebetulan kamar mandi yang aku pakai, pas banget di depan pintu keluar.
Aku kembali ke ruang tunggu dan menyimpan cincin itu di kotaknya. Setelah itu, aku berbincang dengan Bu Lina, dan bu Lina bilang kalau keadaan suaminya tambah drop. Aku hanya menguatkan dan mendo'akan, semoga suaminya pulih kembali.
Tidak terasa, adzan dzuhur sudah berkumandang, aku segera mengambil air wudhu dan menunaikan shalat. Dan setelah shalat, aku menuju ruang kaca untuk melihat perkembangan Kak Ranti.
Hari pengunjung ramai seperti biasa, aku bisa melihat betapa terlukanya mereka yang melihat keluarganya masih tertidur pulas, begitu juga aku. Aku merasa tambah sedih dengan keadan ini dan tidak terasa aku sudah terisak, air mataku luruh tanpa permisi.
' Sebentar, ' Ucapku dalam hati. Aku berdiri dari dudukku demi memastikan kalau orang yang ada di dalam sebelah pojok itu Dr. Arvi.
Benar saja, dia Dr. Arvi. Tapi siapa yang lagi dia jenguk. Ya sudahlah, aku tidak seharusnya terlalu kepo dengan orang yang baru aku kenal.
Jam besuk berakhir dan keadaan Kak Ranti masih seperti seminggu yang lalu, tidak ada perubahan. Dia masih menggunakan ventilator dan alat medis lainnya.
Aku keluar ruangan kaca dengan lesu. Langkahku terasa berat, dan aku kembali duduk di ruang tunggu.
**Bersambung...
Jangan lupa untuk Like dan Votenya ya teman teman, bantu aku untuk semangat. Terimakasih yang sudah setia membaca ceritaku🙏🙏❤❤**
__ADS_1