
POV HANA..
Lamunanku di buyarkan oleh suara dering ponselku. " Bu Fatma " Gumamku. Aku segera mengangkatnya.
" Hallo Assalamu'alaikum, " Ucapku.
" Wa'alaikum salam, " Ucap Bu Fatma di seberang sana.
" Mbak, saya nanti kesitu ya, sore sore,, "..
" Ohh, iya Ibu. Saya tunggu ya, "..
" Mbak Hana masih di temanin Abangnya? "..
" Sudah tidak Bu, Abang saya sudah pada pulang di hari ke tiga, "..
" Berarti sendirian dong, "..
" Iya Bu, "..
" Ya sudah, hati hati ya. Kalau ada apa apa langsung telefhon saya aja, "..
" Iya, baik Bu, terimakasih, " ..
Panggilan berakhir setelah Bu Fatma menutupnya. Aku pun kembali duduk.
Drrttt... Ddrrrrttt... Suara ponselku bergetar.
" Kak Hana apa kabarnya? " Ternyata Intan yang mengirim pesan.
" Alhamdulillah baik Tan, kalian bagaimana kabarnya di sana? "..
" Baik juga Kak, apa sudah pulang dari Rumah Sakitnya? "..
" Belum Tan, ini masih di ICU Kakakku nya, "..
" Kirain aku sudah pulang, "..
" Iya belum Tan, ini baru di Operasi, "..
" Di Operasi juga? "..
" Iya, "..
" Ya sudah Kak, hati hati ya, aku ada yang beli dulu, "..
" Siap Tan, "..
Ada sedikit kelegaan dalam hati ku, Intan orangnya ramah dan selalu menanyakan kabarku. Dia yang sering aku hubungi juga.
Siang berlalu, dan sore pun tiba. Aku sudah mandi dan di lanjutkan shalat ashar.
Ketika sedang duduk di ruang tunggu, terlihat Bu Fatma beserta teman dan kedua anaknya sedang menaiki tangga dan mereka melihatku. Kemudian aku bangun dan menghampirinya.
" Bagaimana kabarnya Mbak? " Tanya Bu Fatma.
__ADS_1
" Alhamdulillah baik Bu, "..
" Duduk aja dulu Bu, jam besuknya belum di buka, " Ucapku. Aku memepersilahkannya duduk di bangku ruang tunggu.
" Hasil Lab nya sudah ada belum Mbak? " Tanya Bu Fatma.
" Belum ada Bu, " Aku memang belum menerima hasil Labnya dan Dokter juga belum menyuruh aku untuk mengambilnya.
" Terus bagaimana keadaannya sekarang? "..
" Masih seperti kemarin kemarin Bu, tiduran terus, "..
" Mbak Hana sudah pernah masuk, "..
" Sudah, cuma Kak Rantinya masih lemas. Peralatan semuanya masih menempel sama Ventilator juga masih terpasang, " Ucapku lesu.
Waktu berjalan cepat, adzan magrib berkumandang. Selesai shalat magrib, aku dan bu Fatma segera menghampiri ruangan kaca. Bu Fatma sangat antusias dan bu Fatma juga mengambil fhoto Kak Ranti. Tapi, tidak lama kemudian gorden jendelanya di tutup. Ternyata memang tidak diperbolehkan untuk mengambil gambar atau memfhoto. Karena itu melanggar kode etik Rumah Sakit.
Setelah jam besuk selesai, aku keluar ruang kaca, dan bu Fatma mengikutiku di belakang. Bu Fatma terus berbincang dengan temannya, tapi aku hampir saja menambrak seseorang.
" Hati hati Mbak, " Ucapnya.
" Dokter Elvira, " Ucapku. " Maaf, "..
" Tidak apa apa Mbak, "..
" Dokter, pesanku tolong di baca, " Ucapku pelan.
" Oke, nanti ya, maaf sekarang saya lagi buru buru, "..
" Mbak, kita pulang dulu ya, takut kemalaman, " Ucap Bu Fatma setelah aku menghampirinya.
" Oh baik Bu, " Aku tidak bisa mencegahnya untuk pulang meninggalkan aku di sini. Walau hati ini kembali bersedih, aku bisa apa. Beliau juga mempunyai keluarga dan pekerjaan.
" Ya sudah, kita pamit ya Mbak, kalau ada apa apa hubungi kita aja, " Ucap Temannya Bu Fatma.
Mataku menatap lurus kedepan menyaksikan kepergian mereka yang hilang ketika anak tangga sudah tidak terlihat lagi. Mata ku kembali memanas, air matanya berdesakan ingin keluar. Aku mengusapnya kasar ketika mereka memaksanya keluar.
Drrrrttt... Drrttt...
" [ Mbak, jangan nangis, tenang ada aku yang bisa menemani, ] " Pesan masuk dari nomor yang belum aku simpan dan beri nama. Tapi ada beberapa pesan sebelumnya yang di kirim, dan aku ketahui itu adalah pesan dari Pak Nana. Security yang jaga di depan ICU. Dia bagian jaga malam dan kadang di lanjut pagi sampai sore. Kenapa aku mengetahuinya? Karena aku pernah melihatnya ketika habis jaga malam di ICU dan siangnya dia ada di IGD.
Aku mengabaikannya dan aku memilih ke belakang, lebih baik aku tidur dari pada kepalaku kembali pusing.
" Kak, yang tadi itu keluarganya? " Tanya Mama Elsa. Dia sedang bebincang dengan suaminya juga anak pertamanya.
" Iya Bu, beliau majikannya Kakak saya, " Aku mengiyakan. Karena beliau sudah aku anggap keluargaku, karena kebaikan beliau yang bisa melebihi keluargaku. Beliau tidak lepas tangan dengan pekerjanya. Padahal seringkali, seorang ART itu di anggap sepele dan derajatnya rendah. Tapi, keluarga Bu Fatma sangat menghargai ARTnya yang sudah membantu meringankan tugasnya di dalam rumah.
" Ohh, itu majikannya. Memangnya Kakaknya kerja apa? "..
" Jadi ART bu, " Jawabku. Kemudian aku duduk di tempatku.
" Sungguh baiknya Kak, "..
" Benar Bu, mereka baik sekali. Mereka yang membantu Kak Ranti pulang pergi ke Rumah Sakit sebelum di bawa ke sini, "..
__ADS_1
" Memang sebelumnya di Rumah Sakit mana? "
" Di Daerah Kota T bu, pernah ke dua Rumah Sakit, di sana beberapa kali pemeriksaan, "..
Aku melanjutkan perbincanganku sampai kurang jam sembilan. Seterusnya aku memilih tidur dari pada harus teringat lagi kejadian tadi pagi.
Di keheningan malam, aku terbangun. Aku kembali teringat kejadian pagi kemarin yang membuatku terisak. Sungguh aku tidak menyangka akan terjadi hal seperti itu. Aku melihat ponselku yang sedang di isi dayanya. Baru jam tiga pagi. Kemudian aku membuka pesan masuk yang terlihat sudah ada beberapa pesan masuk.
Yang aku pikirkan sekarang adalah pesan dari Dr. Elvira. Semalam aku kembali mengirim pesan lagi kepadanya. Tapi benar benar tidak ada pesan masuk dari Dr. Elvira. Kemudian aku melihat ada pesan dari Kak Arkan, Pak Nana dan beberapa pesan dari Kak Fitri juga Intan.
Aku tidak ingin membaca pesan dari Kak Arkan dulu, takutnya dia terus mendesakku lagi. Ingin aku blokir, tapi aku tidak ingin memperpanjang masalah lagi.
Terdengar suara sholawatan dari mesjid yang berada di lingkungan Rumah Sakit. Aku baru tersadar ternyata dari tadi aku memikirkan yang tidak berguna. Aku segera bangun untuk mandi dan tidak lama terdengar adzan subuh.
Riuh kembali terdengar setelah panggilanNya berkumandang. Para pendamping pasien, keluarga yang sedang menunggu keadaan keluarganya yang sedang berjuang untuk kembali sehat, mulai bangun dari tidur lelapnya. Mereka akan memulai aktifitas paginya dengan harapan hari ini akan menjadi lebih baik dan harapan akan keluarganya untuk sembuh.
Aku menunaikan kewajibanku setelah selesai mandi. Terasa segar ketika tubuh ini di siram air dingin. Pikiran pun kembali fresh.
Mentari pagi mulai menampakkan sinarnya, semua orang sudah kembali ke aktifitasnya masing masing. Termasuk aku, pagi tadi sudah membeli sarapan bareng Ibu Lina dan sudah berbincang juga bercanda dengan orang orang yang sudah beberapa hari aku kenal
Sebenarnya aku orang yang sulit bergaul, tapi aku masih bisa ramah kepada orang lain. Dan, ketika orang itu sudah terbiasa bareng denganku aku akan akrab dengan sendirinya.
'Alhamdulillah, sekarang aku merasa bebanku hilang, setelah aku berbincang dan bercanda bersama orang orang yang mungkin juga sama penatnya denganku.
Terlihat dari ekor mataku, kalau Pak Nana terus memperhatikan aku, dan itu membuat aku risih. Akhirnya aku beranjak ke belakang untuk menghindarinya.
' kenapa sih dia terus memperhatikan aku, aku takut dia sudah punya istri, ' Omelku pada diri sendiri.
Aku menghentakkan kakiku dan baru saja aku mau duduk, tiba tiba ada pesan masuk.
" [ Mbak Hana, kenapa malah ke dalam, ] " Benar saja kan, orang itu benar dari tadi memperhatikanku yang terus tertawa lepas hmm, '..
" [ Ohh, tidak apa apa, aku cuma tidak suka ada orang yang suka curi curi pandang, ] " Aku membalasnya dengan sindiran karena kesal.
" [ Hhee, maaf ya. Kalau merasa terganggu. Boleh gak saya kenalan, ] " Ihh benar benar membuat aku tambah kesal.
" [ Kan sudah kenal nama saya ] "..
" [ Hehe iya, tpi boleh kan kenal lebih dekat lagi ] "
Aku menepuk keningku, rempong sekali Security satu ini. Kepalaku tambah pening, kenapa banyak sekali lelaki yang ingin dekat denganku. Aku tidak masalah kalau hanya sekedar dekat, tapi tidak harus sampai mengenal lebih dekat lagi. Karena, di tempat aku bekerja juga kebanyakan laki laki yang datang ke Warung, tapi aku bisa akrab kepada mereka seperti teman biasa. Tapi kalau harus melibatkan hati aku menyerah.
Dua orang saja yang dekat denganku membuat kepalaku sakit. Tidak, sebenarnya di tempat kerjaku juga aku sedikit bermasalah dengan seorang laki laki. Iya, dia Mas Ali yang sudah aku repotkan untuk mengantarku ke tempat Kak Ranti. Aku seperti mempunyai hutang budi kepadanya. Karena, tanpa Mas Ali aku tidak akan sampai ke tempat Kak Ranti.
Dia yang menemaniku, membayarkan ongkos Bus dan dia juga pasti harus mengeluarkan uangnya untuk membayar ongkosnya pulang ke tempat kerjanya. Bahkan dia masih tetap memberikan bekal uang untukku.
' Mas Ali, maafkan aku, aku tidak bermaksud memanfaatkanmu, mungkin ini sudah jalan kita. Aku yang salah di sini, aku yang memberikan harapan kepadamu, tapi ternyata aku tidak bisa membalas mencintamu, maafkan aku, ' Lagi lagi aku terisak, hanya gara gara laki laki.
" [ Mohon maaf ] " Biarkan sajalah aku dianggap sombong atau apapun. Aku hanya tidak ingin menambah beban pikiran aku.
Triinggg.. Triiinnggg... Suara panggilan masuk di ponselku. Aku mengambilnya, ternyata dari Kak Arkan. Dan aku membiarkannya.
Panggilan demi panggilan tidak aku hiraukan, mungkin sampai sepuluh kali. Sampai akhirnya dia mengirim pesan..
" [ Dek, tolong diangkat ] " ...
__ADS_1
Bersambung....