TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG

TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG
Pesan Mengejutkan


__ADS_3

Setelah selesai aku kembali ke Ruangan, cacing di dalam perutku sudah berdemo dari tadi, mudah mudahan saja petugas resepsionisnya tidak mendengar cacing cacing yang terus terusan berdemo.


Tapi, ketika melihat bubur yang sudah dingin, nafsu makanku kembali hilang..


" Kok di lihatin aja buburnya Dek? " Tanya Kak Ranti.


" Hmmm.., udah dingin Kak, " Jawabku lesu.


" Dari tadi kan di suruh makan dulu, " Ucapnya. Aku hanya garuk garuk kepala yang tidak gatal. Dan aku juga terpaksa memakan bubur itu agar tidak mubazir.


Setelah menghabiskan buburnya, aku izin mau membeli popok. Aku takut malam nanti Kak Ranti kembali BAB seperti malam tadi. Dan setelah minum obat yang di berikan Suster, Kak Ranti sudah tidak terus terusan BAB lagi, hanya baru satu kali dan mudah mudahan kembali normal.


Di luar, cuaca sangat terik, tentu saja karena waktu sudah menunjukan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit. Sebentar lagi tengah hari.


Aku menyusuri jalan menuju Pasar, lumayan jauh kalau dari Gedung A, beda halnya ketika sedang di ICU. Mungkin juga karena sekarang aku sendirian, jadi perjalanan terasa lambat. Karena kalau di ICU aku pasti bersama Mama Elsa atau Bu Lina.


Setelah beberapa menit akhirnya sampai juga di Pasar. Aku menuju agen yang menjual berbagai macam keperluan sembako. Di sini juga menjual berbagai macam popok dan juga sabun.


" Permisi, Ci beli popok ukuran M dewasa, " Ucapku.


" Merek apa Mbak? " Tanyanya. Aku kebingungan, karena belum pernah membelinya. " Apa saja deh Ci yang harga terjangkau, " Ucapku akhirnya.


" Ini, isi 10 harga tiga puluh lima ribu, dan ini isi 10 juga harganya tiga puluh ribu saja, " Si Cicinya memberikan dua pilihan.


" Yang tiga puluh ribu aja Ci, " Ucapku.


" Sama apa lagi? " ..


" Sama sabun mandi satu, sama tisu basah Ci, "..


" Apalagi? "..


" Sudah Ci, "..


Setelah mambayarnya aku menyudahi acara belanjanya. Karena aku merasa laper mata kalau sudah sampai Pasar. Apapun di sukai, tapi beruntung masih bisa menahannya agar tidak membeli yang tidak di butuhkan.


Ketika lagi di ICU juga, aku terpaksa membeli tas selempang karena, tas yang aku bawa robek dan tidak bisa di gunakan lagi setelah aku paksa memasukan baju dan keperluanku ke dalam tas itu, akhirnya dia menyerah menemaniku hhee..


...****************...


Aku bergegas meninggalkan Pasar, dan aku mampir di Stand untuk membeli makan. Sekaligus aku juga membeli dua porsi untuk makan sore. Cuaca sudah sangat terik karena sudah tengah hari, sebentar lagi pasti terdengar adzan zuhur. Aku menyeka keringat yang menetes di wajahku..


" Mmm, panas banget ya Allah, " Ucapku pelan. Aku melihat tukang es kelapa muda di seberang jalan, membuatku menelan ludah. Pasti segar kalau diminum lagi cuaca seperti ini pikirku.

__ADS_1


Tapi, aku kembali berpikir untuk tidak jajan sesuka hati, entah pikiran dari mana itu. Padahal sekalipun aku tidak memakai uang Kak Ranti, aku juga masih punya pegangan karena Kak Ranti selalu melarang aku menggunakan uangku untuk semua keperluan di sini. Tapi aku tetap mengurungkan keinginanku dan menahannya sampai ke Ruangan Kak Ranti.


Aku langsung mengambil gelas pelastik dan menungkan air sampai penuh. Tanpa bas basi air itu habis dalam sekejap, Glek glek glek... Suara air melewati tenggorokanku.


Alhamdulillah, " Ucapku.


" Haus banget Dek?! " Aku terperanjat kaget. Sepertinya aku tidak menyadari kalau Kak Ranti memperhatikanku dari tadi. Aku tersenyum menanggapinya.


" Panas banget Kakk, " Ucapku. Untung saja di dalam ruangan ini memakai AC, seketika juga keringatku hilang.


Aku memakaikan popoknya ke Kak Ranti, setelah aku mengganti celananya karena kembali BAB. Syukurlah, aku sudah membeli popok dan BAB nya juga sudah jarang.


Aktivitasku dari siang sampai malam, sama seperti hari hari sebelumnya. Sangat membosankan memang, tapi harus bagaimana lagi, harus tetap sabar menunggu. Kadang, aku juga tidur di siang hari sambil duduk dan menelungkup ke ranjangnya Kak Ranti. Sesekali juga aku memutar lagu sambil mengikutinya. Dan aku juga selalu memutar lagu shalawatan setiap hari untu mengurangi rasa jenuhku. Ponselku biar tidak mahal tapi penuh dengan lagu lagu favoritku.


...****************...


Keesokan Paginya, setelah sarapan, Kak Ranti di jadwalkan untuk ke Gedung Radioterapi untuk konsultasi dengan Dokternya juga untuk fhoto . Kak Ranti di dorong dengan ranjangnya. Tak lupa semua hasil Rontgen dan CT Scan dari awal juga di bawa. Aku mengekor di belakang mengikuti Kak Ranti yang di dorong oleh petugas ruangan dan juga seorang Suster. Suster Irma juga membawa map yang sangat tebal, dan yang aku tau adalah rekam medik Kak Ranti.


Aku kebingungan ketika jalannya menembus dari Gedung A ke Gedung Radioterapi. Ternyata Gedung ini sangat dekat kalau lewat belakang. Sama seperti kemarin aku kesana, Kak Ranti juga daftar dulu untuk ke Poli nya. Pendaftarannya sama di tempat kemarin. Kak Ranti juga di fhoto untuk identitasnya nanti.


Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya Kak Ranti di Panggil dari Poli. Di situ kita bertemu dengan Dokter Randhika, Dokter Spesialis Onkologi.


Setelah berkenalan dan menanyakan data diri, Dr. Randhika kembali menjelaskan apa itu Sinar, Dr. Randika juga menjelaskan apa saja efek sampingnya. Dan Sinar juga memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk jenis Kanker Kak Ranti, paling sedikit harus menjalani dua puluh lima kali Sinarnya, dan jika setelah Sinar masih ada bagian yang tersisa maka Kak Ranti juga harus Kemoterapi.


' Kau begitu kuat Kak, kau juga tidak banyak mengeluh. Tidak sepertiku, yang sedikit sedikit mengeluh, ' Ucapku di dalam hati.


Setelah selesai berkonsultasi, akhirnya Kak Ranti kembali ke Ruangan.


" Mudah"an tidak sampai Kemo, " Ucapnya setelah kita saling diam dengan pemikiran masing masing.


" Iya, " Jawabku pendek.


Aku tau, Kak Ranti pasti khawatir dengan banyak hal. Tapi, Kak Ranti tidak mau bercerita denganku apa yang mengganjal dalam hatinya.


" Udah yang penting sekarang ikuti aja dulu prosedurnya Kak, apa yang di katakan Dokter itu yang terbaik, " Ucapku.


" Oh iya, Alhamdulillah Kak, lehernya tidak jadi di bolongin, kan kemarin waktu di ICU kita sudah tanda tangan, " Ucapku lagi.


" Emang iya? "..


" Heem, " Aku mengangguk.


Aku meneruskan tidur setelah makan siang, karena membosankan dan di luar juga hujan lebat.

__ADS_1


...****************...


Keesokan harinya, pagi sekali sekitar jam enam lewat, Dokter Bedah Toraxnya datang ke ruangan,. Akupun bertanya..


" Dok, untuk hasil PA nya bagaimana? ( Patologi Anatomi ) "..


" Oh iya, lagi di ambilin sama teman saya, " Jawabnya.


" Iya Dok, saya ingin tau hasil dan penjelasannya, " Ucapku lagi. Setelah aku bertanya, Dr. Dafa pamit, aku masih ingat kata Mama nya Elsa kalau dia sudah mengambil hasil PA nya, akupun bertanya, " Kok Dr. Bedahnya tidak memberitahu aku ya atau memberikan surat pengantarnya? " Tanyaku bingung.


Akupun kebingungan, ketika Dr. Dafa menyuruh aku mengambilnya setelah satu minggu, tapi tidak ada kabar lagi.


Entah apa yang membuat aku mengayunkan langkahku, tiba tiba saja aku bangun dari duduk ku kemudian mengejar Dr. Dafa.


" Dokteeerr..! " Panggilku. Dr.Dafa menengok ke arahku. " Ada apa Mbak? " Tanyanya. Aku menghampirinya segera, Dr. Dafa juga berhenti.


" Emmm.. Anu Dok, emm, bagaimana keadaan Dr. Afandi? " Tanyaku dengan gugup. Jantungku bertalu talu. Terlihat Dr. Dafa berfikir dan sepertinya diapun terkejut dengan pertanyaanku. Jantungku benar benar sudah dag dig dug tidak karuan. Apa yang akan dia katakan sekarang..


" Ohh maaf Mbak Hana, keadaannya baik baik saja, tapi sedang dalam masa pemulihan, " Jawabnya setelah beberapa detik terdiam, wajahnya terlihat tegang.


" Apakah saya bisa menjenguknya? " Tanyaku lagi.


" Belum ada yang bisa menjenguk Mbak, " Wajahnya sudah tidak setegang tadi.


" Ya sudah ya, saya masih ada pasien di Ruangan 525, " Ucapnya. Kemudian berlalu begitu saja tanpa mendengarkan dulu jawabanku.


Aku mematung, dengan pandangan mengikuti langkahnya Dr. Dafa, dan tidak lama kemudian tidak terlihat lagi setelah masuk ke ruangan itu.


Aku menghela nafas dengan kasar, kemudian aku kembali ke ruangan.


" Dari mana Dek? Sepertinya ada pesan masuk deh, ponselnya tadi bunyi, " Ucapnya.


Tanpa menjawab, aku langsung mengambil ponselku yang masih tersambung dengan pengisi daya. Setelah menyimpan chargerannya, baru aku membuka ponselku.


" [ Dek, ada Kak Arkan ke rumah, ] ".. Satu pesan masuk dari Kak Fitri.


Degg..


Beberapa hari ini aku sudah merasa aman tidak terganggu olehnya, tapi, kenapa malah ada kabar lagi?. Aku malas membalasnya, dan baru saja aku mematikan powernya, getaran kembali datang di ponselku. Mau tidak mau aku kembali melihatnya, masih dari Kak Fitri..


" [ Dek, harus sabar ya, jauh jauh hari Kakak sudah bilang sama Emak juga Bapak, kalau Adek belum ingin menikah dulu, tapi.. Tadi mereka datang dengan membawa banyak hantaran...] " Pesan dari Kak Fitri terputus. Maklum ponsel jaman dulu kalau menulis pesan tidak bisa panjang.


**Bersambung..

__ADS_1


Terimakasih teman" yang selalu menunggu kelanjutannya, dan mohon maaf untuk keterlambatan Update nya🙏🙏**..


__ADS_2