TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG

TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG
Gara Gara Bakso Pedas


__ADS_3

Sudahlah aku tidak ingin memikirkan yang sudah terjadi, bagaimana kedepannya, itu urusan nanti.


Aku memilih tidur, rasanya sangat pening kepalaku. Biarlah pikiran ini untuk istirahat sebentar saja.


 Aku menelungkupkan wajahku di pembaringan Kak Ranti. Sampai akhirnya aku tertidur.


" Dek, sudah sore.!! ". Kak Ranti membangunkan aku. Aku mengucek mata ku dan duduk tegak.


" Sudah jam berapa Ka? " Tanyaku.


" Jam tiga, kamu beli air Dek, lupa ya..! " Ya ampun, kenapa aku jadi lupa dengan kebutuhan Kak Ranti. Padahal yang harus di prioritaskan adalah Kak Ranti. Aku memang egois.


" Oh ya sudah, aku mandi aja dulu ya Kak, sambil nunggu waktu ashar. " Ucapku. Aku langsung ke Kamar Mandi berharap tidak ada pasien lain yang ingin ke Kamar Mandi.


" Alhamdulillah. " Aku mengucap hamdalah ketika suara adzan terdengar, bersyukur juga bisa mandi dengan santai. Selesai mandi, aku segera ke Mushola untuk menunaikan ibadah shalat ashar.


Ketika sedang sholat, aku terhuyung kedepan, dan hampir saja terjatuh. Kemudian aku kembali menegakkan badanku. Aku mengucap istighfar siapa yang berani mengganggu orang yang sedang shalat, karena memang terasa sekali kalau tadi ada orang yang menyenggol bahuku dengan kencang.


Aku kembali fokus , melanjutkan shalatku. Siapapun itu, aku berharap dia hanya tidak sengaja. Selesai shalat, aku cepat cepat keluar untuk membeli air mineral.


Jam empat sore, cuacanya sedikit mendung. Suasana di luar sudah seperti mau magrib saja. Aku sedikit takut dengan cuaca seperti ini. Angin berhembus menerbangkan anak rambutku. Aku berjalan menuju Stand yang berada di Luar Gedung.


Banyak orang berlalu lalang mempercepat langkahnya. Aku terheran, apa iya mereka takut kehujanan, padahal hujan itu belum turun.


" Bu, beli air mineralnya dua botol. " Ucapku.


" Yang mana Neng?. " Tanya nya.


" Yang besar Bu.."


" Apa lagi? "..


" Sudah Bu ini saja, jadi berapa? "...


" Jadi dua belas ribu Neng, rotinya tidak? "..


" Tidak Bu, terimakasih. " Aku memberikan uang dua puluh ribu.


Setelah mengambil uang kembalian, aku langsung bergegas pulang. Tapi, ketika sampai di Parkiran Gedung A, tanganku tiba tiba ada yang menarik.


" Suster..!! " Aku tidak tahu siapa dia. Dia memakai seragam Suster.


" Ada apa ya Suster? " Tanyaku heran, aku sedikit takut. Dia terus menarik tanganku mencari tempat yang sepi. Di pojok Parkiran dia menghentikan langkahnya.


" Kamu, ada hubungan apa dengan Dr. Afandi? " Tanyanya labgsung.


" Maksudnya bagaimana ya? " Tanyaku.


" Saya sering melihat kamu, bergandengan tangan dengan Dr. Afandi. Bahkan kamu juga sering makan bareng! "


" Lah, terus apa hubungannya dengan Suster? "


" Kamu tau tidak, kalau Dr. Afandi itu sebentar lagi mau menikah! " Ucapnya menyolot.


Deggghh, dadaku terasa sesak. Susah payah aku bernafas. Apa benar? Tapi siapa Suster ini? Hatiku terus bertanya tanya.


" Kamu harusnya, jangan mau di bohongin sama laki laki yang sudah mau menikah. Apalagi kamu, kenal juga baru sudah mau diajak kesana kemari. "


" Kamu itu tidak sepadan dengan dia, mana ada keluarganya mau menerima kamu. " Ucapnya ketus. Aku hanya diam, dan terus mencerna setiap perkataannya.


" Kamu tau tidak, kalau Dr. Afandi itu mau menikah sama siapa? Dia itu mau menikah dengan Dr. Carisa. Sesama Dokter loh. "


Apa? Dokter Carisa?? Aku terbelalak mendengarnya. Apa benar itu? Ini tidak mungkin. Ini bohong. Aku berucap dalam hati.

__ADS_1


Setelah itu, Suster Lia yang ku tahui namanya dari Nametag nya, itu langsung pergi meninggalkan aku. Aku luruh ke lantai Parkiran. Duduk termenung sambil berusaha menahan tangisku. Air mataku meluncur begitu saja membuat aku kalut.


Setelah beberapa menit, aku menetralkan perasaanku. Tidak mungkin aku ke ruangan dengan mata sembab. Aku benar benar tidak menyangka, tapi aku juga tidak boleh gegabah, takutnya itu hanya bohong. Takutnya dia hanyalah orang yang di suruh agar aku tidak melanjutkan hubungan ini.


Aku melangkah gontai meninggalkan Parkiran. Pikiranku terus berkecamuk. Kemudian aku mengantri di depan pintu Lift untuk menunggu Lift terbuka.


Suara hujan terdengar begitu deras ketika aku keluar dari Lift, di susul suara gemuruh angin yang terdengar sangat kencang. Aku melangkah terus menatap ke depan, aku sampai tidak menyadari keadaan Dr. Afandi yang sedang bersender di pagar pembatas.


" Dek..! " Panggilnya. Aku tidak menyahut dan bingung harus bagaimana. Apa benar, dia setega itu sama aku. Mataku memanas, bulir bulir air terus berdesakan untuk keluar. Aku mengusap mataku dengan kasar kemudian aku memilih melanjutkan langkahku tanpa menoleh.


" Kena hujan tidak Dek? " Tanya Kak Ranti. Aku manaruh botol minum itu di atas lemari.


" Tidak Kak, orang hujannya barusan pas aku keluar dari Lift. " Jawabku.


" Oh ya, itu barusan Dr. Afandi ada kesini, nanyain kamu. Mau ngajak kamu makan katanya. Kalau bisa jangan jauh jauh Dek, apalagi di luar sedang hujan. " Ucap Kak Ranti panjang lebar.


" Oh ya. ! " Aku menarik napas, dan pura pura tidak tahu. Tadi sebenarnya aku melihat dan mendengarnya memanggilku. Tapi kenapa, aku enggan melihatnya.


" Iya, barusan loh Dek, tidak lama kamu masuk.".


" Beneran deh, aku gak lihat Kak. " Ucapku. Aku mengambil gelas kecil yang di bawa dari rumah Bu Fatma, kemudian aku menuang air dari botol yang tadi aku beli dan meminumnya sekali teguk.


Rasanya tenggorokanku benar benar kering. Huuff...!!


Aku memutar lagu melayu favoritku, lagu yang sering aku putar ketika sedang bekerja dulu. Isi lagunya sangat menyentuh.


Ketika sedang mengikat rambut, tiba tiba Dr. Afandi menyembul dari balik tirai.


" Mbak Ranti, saya izin ya. "Dia memberikan kode. Tapi kenapa Kak Ranti mengerti apa kodw yang dia sebut.


" Ya sudah, tapi kalau bisa jangan keluar Gedung, lagian di luar juga hujan. "


" Iya, biasa Mbak, di Kantin bawah. " Ucapnya.


" Ya sudah..! "


" Dek, kamu kenapa? " Tanyanya ketika sudah berada di luar ruangan. Aku terdiam, rasanya lidah ini kelu untuk berucap.


" Dekk..! " Panggilnya lagi.


" Hmmm. " Akhirnya keluar juga suaraku walaupun hanya deheman.


" Ada apa sih Yang? Apa aku ada salah? " Tanya nya lagi.


" Kenapa tadi tidak nengok, waktu aku panggil.!. "


Aku menggeleng.


" Dek, jangan seperti ini lah. "


" Tidak apa apa Dokter. " Susah payah aku menjawab.


Ketika sedang menuruni tangga, aku melihat Suster yang tadi menghampiriku di Parkiran sedang berdiri di Lantai empat, dia terus melihat ke arahku. Tatapan tajamnya seperti menghunus menwmbus jantungku. Aku mengeratkan genggamanku yang membuat Dr. Afandi terlonjak.


" Ada apa sayang? " Aku balik menatap Suster itu. Tapi ketika aku mau sampai Lantai empat dia berlalu begitu saja.


" Dokter, kamu kenal tidak dengan Suster yang tadi berdiri disini?. " Tanyaku.


" Suster yang mana sayang? " Tanyanya.


" Itu, yang barusan pergi dari sini. "


" Yang mana sih, aku tidak kenal dengan Suster di Lantai ini. Aku seringnya di Lantai atas Dek. " Dia mengerutkan keningnya sampai terlihat berlipat.

__ADS_1


" Ya sudah. " Ucapku. Aku menghela nafas kasar. " Emangnya ada apa sih Dek? "..


" Emm, tidak, tidak apa apa.."


" Dek, ada masalah apa sih, dari tadi diam terus di tambah kamu nanya tentang suster itu.."


" Sudahlah, tidak ada apa apa. "


Setelah beberapa Lantai kita lewati, akhirnya sampai di Baseman. Di sini hujan tidak begitu terdengar.


" Mau makan apa dek.? "


" Samain aja Dokter. "


Dr. Afandi memilih bakso, lagi hujan seperti ini memang cocok memakan bakso.


Aku menuang tiga sendok makan sambel ke mangkuk baksoku, aku juga menambahkan saosnya. Hmmmp, melihat kuah bakso yang merah seperti itu membuat air liurku menetes.


" Ya ampun Dek, kok merah sekali? ! " Dr. Afandi terbelalak melihat kuah baksoku.


" Ya, dari tadi kemana aja. " Ucapku ketus. Ya ampun, kenapa aku sensitip sekali.


" Sayaang, kenapa hemmp..!! " Dia memutar badanku sampai menghadapnya. Dia menatapku dalam.


" Kenapa sayang? Jangan ada yang di sembunyiin dari aku.! Pleasee.!! "


" Aku tidak apa apa, ayok makan aja dulu. " Aku benar benar sudah tidak sabar ingin menyantap bakso yang sudah aku beri saos sama sambal itu.


Dr. Afandi menukar mangkuknya, seperti biasa kita makan bersama.


" Tuh kan, di bilang jangan pedas pedas Dek..! " Dr. Afandi mencolek pipiku yan memerah.


" Se haahhh... See haaahhh..." Aku benar benar kepedasan. Dr. Afandi panik mencari apa yang bisa meredakan rasa pedas dalam lidahku.


" Ini Dek, makan dulu ini. " Dia memberikan semangkuk es teler.


Setelah es teler habis, rasa pedas di lidahku berkurang. Hanya tinggal rasa panas di tenggorokanku.


" Mau seperti ini lagi hmm.?! ". Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku membuang tisu bekas mengelap cairan yag keluar dari hidungku.


" Dek, jorok iihhh. " Dia merasa geli kerana aku terus terusan mengelap hidungku. Satu rol tisu hampir aku habiskan, kenapa rasa pedas ini tidak hilang??.


Aku mengambil es batu dari gelas bekas es jeruk. Kemudian mengoleskannya di wajahku. Sedikit dingin rasanya.


" Ke IGD yuk Dek.! " Ucapnya. Aku reflek melempar es batu itu. Ternyata es batu nya mengenai hidungnya yang mancung.


" Ehh maaf Dokter. " Aku cepat cepat mengambil tisu, kemudian mengelapnya lembut.


" Maaf sayang, aku refleks loh. Lagian kenapa ngajak aku ke IGD. " Dia memegang tanganku yang sedang mengelap hidungnya.


" Aku takut kamu kenapa napa Dek, lihatlah tisu ini." Dia menunjuk gulungan tisu yang hampir penuh setengah meja.


" Hheee..!! " Aku nyengir kuda. Kemudian aku membereskan tisu itu.


" Mau nongkrong di mana Dek, ini baru jam setengah lima. " Ucanya setelah aku mrmbuang semua tisu kotor itu.


" Hujan Dokter ku..!! " Aku memencet hidungnya.


" Yaaang, aku tidak bisa bernapas." Ucapnya sengau. Aku melepaskan tanganku dari hidungnya.


" Dr. Afandi...! " Tiba tiba saja ada yang mamanggilnya..


**Bersambung...

__ADS_1


Jangan Lupa Like and komen, juga votenya ya..


Terimakasih yang setia mengikuti kisah Hana dan Dr. Afandi**.


__ADS_2