TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG

TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG
Dokter Cinta


__ADS_3

Mentari sore sangat indah, semburat jingga memancarkan sinarnya. Aku duduk melamun, entah apa yang aku pikirkan sampai aku tidak tahu kalau sang pujaan hati sudah ada di sampingku. Aku terlonjak ketika ada yang menepuk pelan pundaku.


 


" Dekk..! " Aku terlonjak. " Hayoo, ngelamunin apa? " Tanyanya.


" Astagfirullah " Ucapku.


" Sudah sembuh belum? " Tanyany.


" Sudah meningan Dokter "..


" Sembuh Dokter, Dokter Cintanya datang. " Celetuk Kak Ranti. Aku melirik Kak Ranti. " Kaakkk " Rengekku. Kak Ranti hanya cekikikan.


" Mbak Ranti, saya pinjam Hana dulu ya, tidak jauh kok di depan ruangan. " Kata Dokter Afandi.


" Jangan di bawa jauh jauh Dokter, nanti Dokter nangis seperti tadi pagi " Kak Ranti, kenapa dia jadi usil seperti ini. Wajah Dokter Afandi menjadi merah, begitu pun wajahku.


" Maaf Dokter, bercanda. " Ucap Kak Ranti. Dr. Afandi tersenyum ramah.


" Tidak apa apa Mbak, saya senang kalau kalian happy, pokoknya bawa bahagia terus ya hatinya, agar cepat sembuh. "


" Terimakasih Dokter " Ucap Kak Ranti.


Setelah itu, Dr. Afandi menuntunku dan mengajak duduk di bangku yang tersedia di depan ruang rawat.


" Dokter sudah pulang, atau bolos? " Tanyaku.


" Sudah pulang Dek, masa bolos, kan dari pagi aku disini. "..


" Oh Iya, emang benar tadi nangis. " Aku tersenyum manis kearahnya.


" Hmmm. " dia mencubit pipiku.


" Nih, gara gara di cubit Dokter, jadi aku sakit deh. "


" Aku benar benar takut Dek, melihat kamu seperti itu. Panik banget, tidak tahu juga air mata aku keluar tidak bilang bilang " Ucapnya sendu.


" Jadi terharu deh. "..


" Kalau boleh tau, kenapa sih Dek?. Kata Dr. Elvira katanya kamu kurang tidur? Apa benar?..


" Kurang tau juga, mungkin juga sih, soalnya semalam aku tidak bisa tidur. "..


" Kenapa?. "..


" Tidak Tau, gelisah aja pokoknya " Pikiran ku kembali menerawang kejadian kemarin sore sampai malam, di tambah aku tidak bisa tidur ketika teringat Almarhumah Ibu Susi ketika membuka tirai pembatas, itu yang membuat aku tidak bisa tidur.


" Dekk, apa gara gara kemarin sore? " Orang satu ini memang sangat peka dengan apa yang sedang dipikirkan olek aku.


" Entahlah Dokter. " Rasa syok masih aja ada dalam ingatanku.


" Maafin aku sayang, aku kasar sama kamu. Aku janji tidak akan ulangi lagi. " Raut wajahnya begitu khawatir bercampur sedih. Air matanya menggenang.


" Jangan nangis Dokter. " Aku menghapus air matanya yang sebentar lagi akan meluncur ke daratan. Aihh, kenapa juga pakai nangis segala sih. Dokter satu ini aneh..!!


" Aku emang lemah Dek, kalau sudah menyangkut dengan perempuan. Aku hanya tidak ingin mengecewakannya. Begitu juga kepada Momyku, aku tidak bisa membantah sedikit pun, kecuali kalau sudah menyangkut Carisa aku tidak peduli lagi." Jelasnya. Orang itu lagi yang dia sebut, apa emang Carisa sudah lama hadir di kehidupannya?.


" Sudah makan belum Dek?. " Tanyanya. Aku tau dia mengalihkan pembicaraan agar tidak menyebut nama Carisa jadi pertanyaanku lagi.


" Sudah. " Jawabku. Sebenarnya aku berbohong, aku cuma tidak ingin terus merepotkan dia. Lagian nanti makanan aku tambah bertumpuk kalau terus dibelikan.


" Hmm, tadinya mau aku ajak makan, atau mau beli cemilan tidak? " Tanyanya. Aku tau pasti dia sebenarnya tidak nyaman duduk di depan ruangan seperti ini. Karena suasana masih ramai oleh Dokter juga Suster yang berlalu lalang di depan kita.


" Kenapa? Kok seperti tidak nyaman ya? " Tanya ku.


" Heee. " Dia garuk garuk kepala yang tidak gatal.


" Ya sudah, tapi jangan jauh jauh ya. " Ucapku.


Dokter Afandi ke ruangan untuk izin sama Kak Ranti.


" Di bolehin tidak? " Tanyaku. Dia tersenyum lebar, seperti sedang mendapatkan jacpot. Kemudian mengangguk.

__ADS_1


" Ayok . " Dia meraih tanganku dan kita jalan begandengan seperti biasa. Dia lebih memilih menuruni tangga dibandingkan lewat Lift.


" Capek tidak Dek? Aku gendong ya. "..


Pukk..!! Aku menepuk lengannya.


" Gaya aja mau gendong aku, seperti iya aja. Aku kan berat " Baru saja aku berhenti berbicara, tubuhku sudah melayang..


" Aaaaaaa " Aku berteriak, tapi cepat cepat dia menutup mulutku. " Ssttt, Dek, nanti orang orang pada melihat kita."..


" Dokter turun aja. " Aku berbisik di telinganya.


" Tidak, nanti kalau sudah sampai bawah ." Jawabnya Tegas. Ya Allah, apaan kali, aku benar benar malu. Tapi anehnya kenapa tidak ada sat


u orang pun yang lewat tangga ini. Ini sangat sepi sekali.


" Pegangan yang benar Dek.! " Entahlah bagaimana rasanya, aku benar benar malu.


" Sudah sampai " Ucapnya. Dia menurunkan aku dari gendongannya. Kulihat wajahnya, tersenyum bahagia. Tapi keringat di wajahnya bercucuran. Aku mengusapnya dengan telapak tangan.


" Kan aku sudah bilang, tidak usah di gendong, aku itu berat. " Ucapku. Bagaimana tidak capek Dari lantai tiga sampai Basesmen dia menggendong aku.


" Tidak apa apa sayang. " Dia menggenggam tanganku dan kita berjalan menuju kantin.


" Makan apa Dek? "


" Aku mau bakso yang pedas " Ucap Ku.


" Ya sudah, tapi jangan pedas pedas ya.! " Dia membelai rambutku dengan lembut. Serr.. Hati ini terasa dingin. Aku takut diperlakukn seperti ini membuat aku jatuh terlalu dalam.


****************


Tidak lama kemudian, pesanan kita datang. Aku segera menambahkan bumbu bumbu pelengkapnya, termasuk saos dan sambal. Baru saja menuangkan sambal satu sendok Dr. Afandi mencekal tanganku ketika mau mengambil lagi.


" Stop Dek.!! "


" Yaahhh..!! " Aku cemberut.


" Ya sudah, Selamat makan Dokter " Ucapku. Aku cepat cepat memakan bakso itu. Rasanya sudah sampai di tnggorokan.


" Dekk, pelan pelan nanti tersedak. " Ucapnya. Aku yang sedang asyik makan menoleh. " Ya ampun Dek..!! Pelan pelan sayang, tidak akan ada yang ambil. Atau kalau kurang, bisa nambah lagi. " Dia mengambil tisu kemudian mengelap sekitar mulutku yang berantakan. Keringat di wajah ku, ikut bercucuran. Tapi rasanya sakit kepalaku hilang dan merasa ringan setelah makan pedas ini.


Tidak menghabiskan waktu lama, bakso satu porsi sudah habis aku makan. ' Alhamdulillah ' Gumamku. Aku melirik ke arah Dr. Afandi. Dia sedang memperhatikanku. Aku menunduk malu, tapi aku kaget ketika satu mankok bakso yang sudah di beri sambal masih bertegger di meja. Belum ada bekas di makan sama sekali.


" Dokter, apa belum makan?. " Tanyaku heran.


" Nungguin kamu Dek " Jawabnya. " Hahhh " Aku melotot.


" Awas matanya loncat Dek " Ucapnya lagi. Kemudian dia mengisyaratkan, kalau dia ingin di suapi. Aku menepuk keningku, aku lupa kalau makan dia maunya di suapin.


Aku menarik mangkuk itu, kemudian mengaduknya agar tercampur rata. Setelah itu aku menyuapinya dengan telaten. ' Seperti bayi aja ini ' Ucapku dalam hati. Takutnya dia marah kalau aku ungkapkan. Hhee..


Tepat ketika aku mau menyuapinya, dia memegang tanganku kemudian menyuapinya ke aku. Hampir saja aku tersedak karena kaget.


" Habisnya tadi aku mau nyuapin kamu, kamu malah tidak ingat aku huhu " Ucapnya. Aku menatapnya. Ingin ketawa ketika melihat nya cemberut. Tapi aku takut tersedak lagi, karena sepotong bakso di mulut ku belum aku kunyah semua.


**********************


Baru saja aku menghabiskan minumanku. Ponsel ku bergetar, tanda adanya pesan masuk. Aku merogoh saku celana ku dan memeriksa siapa yang mengirim pesan. ' Kak Ranti ' Gumamku. Aku segera membukanya, karena takut penting.


" [ Dek, Bu Fatma sudah lagi di jalan, sebentar lagi sampai ]. " Seperti itulah isi pesannya.


" [ Ya, sudah nanti aku jemput kalau sudah sampai. Aku lagi makan di Kantin, di Baseman ] "..


" [ Iya , nanti katanya mau nelfon kamu Dek, kalau sudah sampai ] "..


Baru saja selesai mengirim, tiba tiba Dr. Afandi membuat aku kaget.


" Hayo, lagi berkirim pesan sama siapa ? " Katanya.


" Dokter..!! " Aku benar benar kaget.


" Maaf sayang, hehe..! " Dia nyengir seperti tidak punya dosa.

__ADS_1


" Kalau aku jantungan bagaimana? " Tanya ku.


Pukkk.... Dia menepuk pundakku.


" Dari siapa Dek? " Tanyanya.


" Ini dari Kak Ranti, tadi majikannya mau brrkunjung kesini. Dia minta aku yang jemput "..


" Ya sudah, sudah dulu yuk "..


" Dekk...! " Rengeknya.


" Dokterku, yang paling ganteng, aku kan baru meningan, jadi aku harus banyak istirahat " Ucapku.


" Ini sudah mau masuk magrib sayang " Lanjutku.


" Ya sudah, aku langsung pulang, atau nunggu majikan Mbak Ranti datang? " Tanyanya.


" Ya, kalau mau menunggu ya lebih baik ." Jawabku.


" Oke, kita tunggu saja dulu sampai majikan Mbak Ranti sampai "


Beberapa menit kemudian, adzan magrib berkumandang. Tapi, Bu Fatma belum ada menelfhonku. Akhirnya, aku mengirim pesan ke Kak Ranti.


" [ Kak, Bu Fatma sudah ada kabar lagi? ] " Tanya ku. Lama tidak di balas, mungkin Kak Ranti sedang shalat, atau berwudhu.


" [ Lagi shalat dulu Dek, di mesjid dekat sini ] " Setelah sepuluh menit aku menunggu, baru dia balas.


" [ Oke, aku langsung tunggu di bawah aja ] "


" [ Iya ] "..


Aku memasukan ponsel ku ke saku celana. Dr. Afandi masih saja senderan di bahu ku. Dia terus menggenggam tangan ku seperti tidak ingin berpisah.


" Dek, sudah sampai mana majikannya Mbak Ranti? " Tanyanya.


" Lagi shalat dulu di Mesjid depan " Jawab ku.


Tidak ada lagi obrolan di antara kita. Kita hanyut dalam pikiran masing masing. Pengunjung Kantin banyak berlalu lalang, dari mulai Dokter, Perawat, juga pengunjung lainnya. Para pendamping pasien juga terus berdatangan. Banyak dari mereka yang membawa termos air panas untuk mengisinya.


Tidak lama kemudian, ponsel ku berbunyi. Tanda panggilan masuk. Benar saja, ketika aku ambil dari saku celana ku, ada panggilan masuk dari Bu Fatma.


" Hallo, Assalamu'alaikum "..


" ............


" Oh iya Bu, saya sudah menunggu di Gedung A "..


" ...........


" Iya, Ibu langsung saja ke Gedung A, saya menunggu di Lobbi. "..


" ..............


" Oke, Wa'alaikum Salam ."..


Panggilan berakhir, aku segera mengajak Dr. Afandi untuk naik ke Lobi.


" Dek, jangan lupa obatnya di minum lagi ya. Pokoknya harus bisa tidur malam ini, jangan memikirkan hal yang aneh aneh. Berpikir positif aja." Kalau sudah memberi nasehat seperti ini, keluarlah sikap dewasanya. Tapi kalau ĺagi merengek, benar benar jauh dari kata dewasa. Dia seperti bayi wkwkwk.


" Aku pulang dulu Sayang. " Dia melepaskan tangan ku yang dari tadi di genggamnya. Aku hanya mengangguk untuk menanggapi nya.


" Daahhhh, jangan nangis Sayang " Dia mencubit pipiku. Senang banget dah dia. Dia melambaikan tangannya dan berjalan keluar Lobi.


Sekarang, tinggal aku sendiri mematung di depan kaca. Sampai akhirnya Bu Fatma tiba. Beliau celingukan mencari aku.


" Buuu..!! " Aku melambaikan tangan. Memberi tahu kalau aku ada di dekatnya.


**Bersambung......


Haii teman teman, apa kabarnya? Semoga semuanya selalu diberikan kesehatan ya, Aamiin..


Ikutin terus kisahnya ya, dan jangan lupa Likenya Juga votenya. Dan terus dukung aku ya, boleh krisannya juga, karena saya masih belajar. Terimakasih**..

__ADS_1


__ADS_2