TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG

TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG
Trakeostomi


__ADS_3

Waktu besuk sudah di buka. Aku beranjak ke ruangan kaca untuk melihat keadaan Kak Ranti. Tapi ketika sampai di sana, Kak Ranti masih terlihat sama seperti tadi siang, masih terbaring lemah dengan berbagai macam alat medis terpasang di tubuhnya. Tapi, ikatan di tangannya sudah tidak ada.


Terlihat, seorang Suster sedang menulis di atas kertas yang sangat besar, dia menulis di depan ranjangnya Kak Ranti.


_____________________


Setelah, jam besuk selesai, aku kembali lagi keruang tunggu. Jam demi jam, orang yang besuk di ruang tunggu berkurang, sampai akhirnya aku kembali tidur beralaskan koran.


Pagi hari kembali hadir, setelah shalat subuh aku kembali ke Gedung A untuk mandi. Dan di lanjutkan dengan sarapan.


Ketika sedang duduk menunggu, tiba tiba ada panggilan.


" Keluarga Nona Ranti....! "


Aku beranjak dari duduk, kemudian menghampiri pintu masuk ke ruangan steril itu.


" Mbak, keluarganya Ibu Ranti? " tanya seorang Dokter.


" Iya, saya adiknya, " Jawabku.


" Apa ada keluarga yang lain? " Tanyanya lagi.


" Ada Dokter, " Aku kembali keluar dan memanggil Abang Abangku.


Sesampainya di ruangan. Dokter berbicara serius.


" Mohon maaf sebelumnya, saya mengganggu waktunya ya Pak, Bu.. " Ucap Dokter itu.


" Jadi, pasien Ranti Septiani ini setelah Operasi besarnya mengalami gagal napas, makanya harus di rawat intensif di ruang ICU agar semuanya terkontrol.


" Dan sekarang, pasien Ranti jalan nafasnya tersumbat, karena adanya produksi lendir yang berlebihan, sehingga kita harus melakukan trakeostomi.


" Trakeostomi adalah lubang yang di buat oleh ahli bedah melalui bagian depan leher dan masuk hingga tenggorokan ( trakea ) . Nah, setelah lubang itu di buat nanti Dokter akan menempelkan sebuah tabung trakeostominya ke dalam lubang tersebut agar tetap terbuka untuk bernafas. "...


" Karena ini ada resiko maka kita meminta persetujuan keluarga Pasien Ranti Septiani, bagaimana Bapak, Ibu? "..


" Ya sudah, bagaimana baiknya saja Dokter, kita dari keluarga mengikuti apa saja arahan yang Dokter lakukan. Soalnya kan kita tidak paham apa apa, Dokter yang lebih paham. Intinya semua yang terbaik untuk keluarga saya, saya serahkan kepada Dokter semuanya, " Jawab Bang Ilham.


" Baik, kalau seperti itu, kami minta tanda tangannya untuk persetujuan, "...


Dokter tersebut memberikan selembar kertas kepada Bang Ilham, tanpa di baca dulu Bang Ilham menandtanganinya,


" Satu lagi, boleh sama Ibunya, "


' Ya ampun Dokter, kenapa manggil aku Ibu terus, Emang wajahku sudah kelihatan tua ya, tapi Dokter afandi manggil aku Adek, ' Ucapku dalam hati.


Aku mengambil kertas itu dan membubuhkan tanda tanganku di bagian yang ke dua.

__ADS_1


" Ya sudah, terimakasih Pak, Ibu, " Ucapnya..


" Sama sama Dokter, terima kasih banyak..! "


Setelah itu, kita kembali keluar ruangan dan menunggu di ruang tunggu..


" Tadi surat apa? " Tanya Bang Ilham setelah kita duduk di bangku.


" Iya surat apa ya, lagian tidak di baca dulu Bang," Jawabku.


" Tadi kan bilangnya mau di bolongin lehernya, ya sudah mudah mudahan itu yang terbaik saja, ikutin saja apa kata Dokter, " Ucap Bang Ilham.


Hari ini, adalah hari ke tiga di mana Kak Ranti berada di ruang ICU, begitupun aku juga Abang Abangku. Dan setelah makan siang, Bang Ilham juga Bang Bagas pamit untuk pulang.


" Dek, kita pulang dulu ya, nanti sore, " Ucap Bang Ilham.


" Tapi bagaimana? Aku di sini sendirian dong, ' Ucapku sangat sedih. Air mata sepertinya sudah berdesakan ingin keluar, kemudian aku mengusapnya dengan kasar.


" Iya sendirian dulu, nanti Abang sesekali kesini lagi, banyak kerjaan yang terbengkalai Dek, lagian kita juga butuh biaya untuk pengobatan Kak Ranti kedepannya, " Lagi lagi Bang Ilham memberi aku pengertian.


" Ya sudah, " Ucapku lemah. Aku merasa keberatan untuk di tinggal mereka. Tapi mau bagaimana lagi, Kak Ranti belum ada kepastian untuk keluar ruang ICU.


" Tapi Bang, bantuin aku ke Loundry, baju kotor aku sudah numpuk di gedung A, " Ucapku.


Akhirnya Bang Bagas yang membantu aku membawakan pakaian kotorku juga Kak Ranti. Sedangkan Bang Ilham tetap menunggu di ruang tunggu.


Kemudian, aku dan Bang Bagas mengambil baju yang kotor dan membawanya ke Loundry.


*************


Sore hari tiba, Bang Bagas juga Bang Ilham pamit untuk pulang, dan di situ hampir saja aku menangis, karena memang aku tidak mau di tinggal, aku terus mengusap air mataku yang terus memaksa untuk keluar.


Sebelumnya Bang Ilham menitipkan aku ke Bapak Bapak yang waktu itu, juga ke beberapa orang yang sedang menunggu juga, yang awalnya sering berbincang dengan Bang Ilham.


Pulang sudah ke dua Abangku, dan aku duduk merenung sendirian. Isak tangisku belum reda dari tadi setelah Abang Abangku hilang dari pandanganku.


Sampai akhirnya jam besuk kembali tiba, seperti biasa orang orang yang sedang menunggu keluarganya itu akan berhamburan menunggu ruangan kaca. Begitu juga dengan aku, mataku tertuju kepada Kak Ranti, keadaannya tetap seperti tadi siang, belum ada perubahan, matanya masi tertutup rapat dan tidak ada pergerakan dari tubuhnya. Hanya bunyi monitor yang terdengar terus berdenting, yang memantau keadaannya.


Begitu juga dengan pasien lain, hanya ada satu pasien yang dekat sekali dengan kaca, dia sudah membuka matanya setelah tertidur beberapa hari. Terlihat lehernya terdapat bolongan, ' apa seperti itu Kak Ranti juga? ' Batinku.


Setelah jam besuk di tutup, aku kembali ke ruang tunggu. Dan malam ini, aku tidur di ruangan belakang bersama beberapa orang yang menunggu juga, tapi di ruangan ini kebanyakan perempuan.


Aku mulai menyesuaikan diri, berbaur dengan mereka yang juga sedang berjuang menunggu keluarganya untuk sembuh seperti sedia kala.


" Mbak, sedang menunggu siapa ya, " Obrolan pertamaku dengan seorang Ibu. Oh iya, aku Ingat, Ibu ini kan yang selalu khusyu berdo'a untuk anaknya kalau sedang di ruang tunggu.


" Saya sedang menunggu Kakak saya, " Jawabku.

__ADS_1


" Ibu sedang menunggu siapa? " Aku balik bertanya.


" Saya sedang menunggu anak saya, dia sakit Tumor di kepalanya, " Aku tertegun. Berarti memang ICU itu tempatnya orang sakit yang sudah gawat.


" Kalau Mbak, Kakaknya sakit apa? "


" Kakakku habis di Operasi Bu, "..


" Sama, anak saya juga habis di Operasi di bagian kepalanya, "..


" Anak Ibu umur berapa tahun? "..


" Baru umur sepuluh tahun, kelas lima SD dia, " ..


" Hahh..! " Aku merasa tidak percaya, anak umur sepuluh tahun sudah bisa terkena tumor. Apa memang aku saja yang tidak pernah tahu.


" Awalnya, dia sering mengeluh pusing, kalau pulang sekolah, sering sekali. Tapi kata Gurunya, kalau di kelas, dia tidak pernah mengeluh apapun. Sampai akhirnya anakku Elsa ini sering banget pingsan, dan akhirnya tidak sadarkan diri. Setelah di bawa ke IGD, ternyata Elsa ini ada tumor di otaknya, " Sebenarnya aku tidak terlalu paham apa yang di bicarskan Ibu ini.


" Ini habis Operasi, sudah mau seminggu di ICU, belum membuka matanya. Tapi kata Dokter perkembangannya bagus, itu hanya pengaruh obat saja, " Lanjutnya.


Aku hanya mengangguk saja, karena belum terlalu paham. Sampai skhirnya kami tertidur. Dan sekarang, aku tidak tidur di atas lantai lagi, karena waktu tadi ke Gedung A, aku membawa Bed Cover dan bantal, juga beberapa bajuku dan peralatan mandi, aku bawa ke sini.


Bed Cover sebagai alas untuk aku tidur, aku melipatnya dua kali, setidaknya cukup untuk tubuhku berbaring.


Sampai akhirnya, pagi menjelang dan mentari pagi menampakkan sinarnya. Aku di ajak membeli sarapan sama Ibu nya Elsa.


" Nyari sarapan yuk Kak, " Dia memanggilku Kakak, agar nanti kalau Elsa sudah bangun bisa berkenalan denganku dan memanggilku Kakak katanya.


" Kita mau makan dimana Kak? " Tanyanya.


" Aku makan di bungkus saja, Bu " Ucapku. Aku masih enggan untuk meninggalkan Kak Ranti sendirian, takutnya nanti ada panggilan dari Dokter. Tadi saja sebenarnya ragu untuk ikut membeli sarapan, tapi siapa lagi kalau bukan aku yang beli.


" Kenapa? Kakak tegang sekali? Bawa rileks saja Kak, "


" Iya, sebenarnya aku takut, Kakakku dari kemarin tidur terus, "..


" Iya itu mungkin karena pengaruh obat, berdo'a saja semoga lekas membaik dan kembali lagi kepada kita. Contohnya Elsa, dia sudah seminggu, tapi aku selalu mencoba untuk berbaik sangka sama Tuhan, " Ucapnya. Ia juga, kalau aku harus terus mendo'akan Kak Ranti agar segera di berikan kesembuhan.


Obroran selesai ketika kita sampai di warung nasi uduk. Aku hanya membeli satu porsi nasi uduk dan minumnya teh tawar panas.


Sekarang hatiku sedikit plong, setelah banyak teman yang sedang berjuang menunggu kesembuhan keluarganya. Mereka mengajakku berbincang dan juga berkenalan.


Setelah sarapan, aku kembali berbincang, dan bercanda dan tiba tiba ada panggilan untukku.


" Keluarga, Ibu Ranti..! " Panggilan dari ruang ICU itu terdengar.


Aku segera beranjak dari dudukku, dan menghampiri seorang Suster yang sedang menunggu di pintu masuk.

__ADS_1


__ADS_2