
Aku teringat bagaimana tadi Dokter Afandi tidak mau kehilanganku sampai seperti itu. Akupun sama tidak mau kehilangannya, tapi apa daya ku jika nanti memang benar aku harus kehilangannya.
Malam semakin larut, ruangan ini semakin sunyi. Tidak ada pergerakan sama sekali dari orang yang berada di ruangan ini. Bed di samping Kak Ranti masih kosong, aku malah teringat ketika Almarhum Ibu Susi membuka tirai pembatas Bed kami.
' Astagfirullah, ya Allah kenapa susah banget untuk tidur ' Gumamku. Aku tidur gelisah malam ini, sampai aku tidak ingat lagi aku tertidur jam berapa.
Kak Ranti mengguncang guncang tubuhku, aku terkesiap. Ku kecek mataku sampai berkali kali.
" Sudah setengah enam Na.." Ucapan Kak Ranti menyadarkanku. Nyuutt., kepalaku berdenyut. Efek tidak bisa tidur kepalaku menjadi sakit.
" Kamu kenapa Na? "..
" Tidak apa apa Kak.! "
" Ya sudah aku ambil wudhu dulu " Aku beranjak ke Kamar Mandi. ' Kok kepalaku berdenyut hebat, jangan sampai sakit Ya Allah ' Aku berucap dalam hati.
Selesai gosok gigi dan cuci muka, aku lekas berwudhu. Aku berlari mengambil mukena. Di ruangan itu sepertinya sedang ada orang, tapi tak kuhiraukan. Aku takut matahari semakin naik..
Alhamdilillah, di Mushola masih ada beberapa orang yang sedang shalat. Aku segera menunaikan kewajibanku, aku memohon ampun, dan berdo'a yang terbaik untukku.
Selesai shalat, aku segera ke ruangan. Keningku begitu berat dan terus berdenyut.
" Dek, kamu kenapa? " Tanya Kak Ranti.
" Tidak tau Kak, pening sekali " Ucapku.
" Coba beli obat Dek, atau sarapan dulu. Ini tadi Dokter Cinta kamu titip ini " Kak Ranti memberikan godibag, yang isinya sudah pasti menu makanan. Aku menerimanya kemudin membukanya.
Aku memaksa untuk sarapan, padahal mulutku rasanya pait sekali. Lima suapan nasi itu masuk ke lambungku. Aku menyudahinya ketika kepala ini semakin berat.
Baru saja memejamkan mata, rombongan dari Dokter Bedah Torax masuk ke ruangan untuk bertemu Kak Ranti. Tapi aku tetap menelungkup dan aku benar benar tidur sepertinya. Setelah beberapa menit, ruangn kembali sepi.
" Dekkk..!! " Suara itu. Aku mendengar panggilan dengan suara khasnya Dokter Afandi. Tapi mata ini sangat berat. " Dekkk..! " Panggilnya lagi.
" Kenapa Mbak? " Suara Dr. Afandi begitu mengkhawatirkanku.
" Tidak tahu, tadi bangun pagi bilangnya sakit kepalanya " Ucap Kak Ranti.
" Dek..!! " Panggilnya lagi. " Apa sudah sarapan Mbak? " Tanyanya.
" Sudah tapi sedikit, dia langsung nelungkup begitu saja. Dokter, apa bisa beli obat di ruangan sini, takutnya dia keterusan " Kak Ranti pun begitu khawatir.
" Oh oke, saya saja yang beli obatnya. Tunggu ya..!! "..
" Dekk, kamu jangan sakit Dek..!." Kak Ranti terus saja berbicara. Pendengaranku sudah antara ingat dan tidak. Kepala ini benar benar berat, aku memang sering seperti ini kalau aku tidak bisa tidur pasti akan terjadi.
" Dekk, bangun dulu minum obatnya " Dr. Afandi mengguncang tubuhku.
Aku memaksakan untuk bangun, tapi kepala ini benar benar berat. Mataku juga susah untuk terbuka. " Aaaaa, ayok buka mulutnya " Ucap Dr. Afandi lembut. Dua tablet obat berbentuk bulat masuk ke mulutku. Kemudian Dr. Afandi membantuku minum air mineral.
" Terimakasih " Ucapku lemah. Aku kembali merebahkan tubuhku dan tidak ingat apa apa lagi.
__ADS_1
Sementara Kak Ranti terus mengguncang tubuhku. " Dekk, bangun Dek..!! Dekk..!! " Suara itu terdengar tapi aku tidak bisa bangun rasanya sangat berat.
" Dek, kamu baik baik saja kan " Suara Dokter Afandi juga terdengar sangat khawatir. Aku mencoba mengangkat tanganku untuk memberi isyarat kalau aku baik baik saja, tapi tanganku terasa di himpit batu besar. Aku mengangguk pelan itu yang kubisa.
*****************
Entah sudah berapa lama aku tertidur, kepalaku sudah terasa ringan tidak seperti tadi. Berarti obat yang tadi diberikan sudah bereaksi. Aku mengangkat kepalaku, ku lihat Kak Ranti sedang memasukan makanan cairnya ke dalam tube.
" Kak, sudah jam berapa? " Tanyaku. Kak Ranti hampir saja terlonjak. " Kamu sudah baikan Dek? " Tanyanya.
" Masih pusing Kak, tapi tidak berat seperti tadi " Ucapku.
" Tau tidak Dek, Dokter Afandi nyampe di tarik tarik sama Dr. Elvira gara gara dia tidak mau ninggalin kamu " Kak Ranti cekikikan.
" Ihhh, tidak profesional " Ucapku.
" Jangan jangan kamu itu masuk angin Dek..!! "..
" Tidak tau juga Kak, tapi malam memang aku tidak bisa tidur "..
Tiba tiba perut ku terasa mual dan mulas, seperti ingin mun*** dan ingin buang air. Aku segera berlari menuju kamar mandi. Benar saja, aku langsung mun*** kemudian buang air. Tubuh ku terasa dingin dengan becucuran keringat.
Setelah selesai, aku langsung cuci muka dan gosok gigi. Rasanya kepalaku semakin ringan, hanya tinggal sedikit pening.
Aku keluar Kamar Mandi ketika ada orang yang mengetuk pintu. Pasien yang di pojok sedang berdiri di depan pintu. Aku tersenyum ramah kepadanya.
Aku terus berjalan menuju Bed Kak ranti, tapi tepat depan pintu keluar aku terlonjak kaget ketika pintu tiba tiba terbuka.
" Dokteeer..!! " aku memegang d***ku. Detak jantungku bertalu talu karena kaget atau karena pujaan hati ada di depan mata wkwkwk..
" Dek ! Sudah sembuh " Tanyanya. Kemudian dia menempelkan telapak tangannya di keningku.
" Aku tidak panas Dokter "..
" Iya, takutnya kamu demam Dek, tapi wajah kamu pucat banget, sudah makan belum?..
" Belum, aku baru bangun "..
" Makan dulu ya, apa mau aku suapin? " Dia menyerahkan godibag yang berisi makanan. Padahal yang pagi juga belum dimakan semua.
" Tidak usah Dokter, Dokter kan lagi kerja "..
" Tidak apa apa kalau kamu mau, yang penting kamu makan yang banyak dan segera sembuh."..
" Sudah Dokter kerja aja dulu, harus profesional kalau kerja " Ucapku.
" Gemas deh " dia mencubit pipiku.
" Ya sudah, makan dulu terus minum obatnya, vitaminnya juga di minum jangan lupa. Semangat ya, jangan membuat aku khawatir " Nyess, dingin sekali ke hati. Perhatiannya, membuat aku berbunga bunga.
" Oke, terimakasih banyak Dokter " Aku tersenyum semanis mungkin wkwkwk. Dokter Afandi kembali mencubit pipi ku.
" Dokter yang ganteng dan baik hatiii " Ucapku..
__ADS_1
" Iya sayang, gemas sekali Dek..!! " Ya sudah, aku balik lagi ya.."..
" Siap Dokter, terimakasih banyak.."..
Dr. Afandi kembali keluar untuk melanjutkan aktifitasnya sedangkan aku masuk ke Bed Kak Ranti.
" Ini sudah jam berapa sih Kak? " Tanyaku. Aku menaruh godibagnya di atas Lemari.
" Sudah setengah dua Dek, kamu belum shalat, shalat dulu saja " Aku menepuk keningku. Akhirnya aku kembali ke Kamar Mandi berharap pasien yang tadi sudah keluar.
Alhamdulillah, ternyata Kamar Mandi sudah kosong, aku memasukinya kemudian berwudhu dan segera melaksanakan shalat dzuhur. Kali ini aku memilih shalat di ruangan saja, agar tidak harus memakan waktu lama.
Setelah selesai, aku melipat mukenaku dan menaruhnya di Lemari.
" Makan aja dulu Dek, agar minum obat dulu ". Kak Ranti memberikan dua macam obat. " Oh iya, ini vitaminnya juga jangan lupa diminum Dek " Kak Ranti begitu telaten.
" Kita besyukur saja Dek, Kita jauh dari keluarga. Tapi, ada orang yang baik hatinya ingin membantu kita. Kita terima saja, tapi bukan berarti kita memanfaatkan. Kakak tidak pernah melarang kamu kenal sama siapapun, yang penting kamu bisa jaga diri dengan baik dan intinya hati hati jangan sampai kamu terjerumus ke hal hal yang merugikan diri sendiri " Panjang lebar Kak Ranti memberikan petuah, aku mangut mangut sambil mengunyah.
Setengah porsi telah habis, aku langsung meminum obat juga vitaminnya. ' Iya benar, anggap saja ini adalah rezeki yang sudah tertulis untukku. Alhamdulillah, ketika aku sakit ada orang yang perhatian terhadapku. Kalau tidak ada, aku tidak tau harus bagaimana? Mungkin Bang Bagas yang harus menggantikan aku untuk mendampingi Kak Ranti. Tapi aku harus kemana? Tidak mungkin aku kembali ke Kota D sendirian, jalan pun tidak tahu.
' Terima kasih ya Allah, Engkau telah memberikan rizki yang teramat besar ' Ucapku dalam hati.
Rezeki itu bukan hanya soal materi, tapi kita dikelilingi orang baik juga itu namanya rezeki. Alhamdulillah...!!
Aku kembali tertidur setelah meminum obat. Tidurku terasa pulas sekali. Hingga akhirnya aku terbangun ketika mendengar Kak Ranti berbicara.
" Iya Bu, sekarang sudah meningan, sudah minum obat juga. " Ucapnya. Aku bangun dari tidurku dan duduk bersandar ke Lemari.
" Ya sudah, Ibu kesini saja. Nanti Hana jemput ke bawah "..
".............
" Iya Bu , terimakasih " Kak Ranti mengakhiri panggilannya.
" Dek, sudah bangun? Nanti Bu Fatma mau kesini " Kata Kak Ranti.
" Oh ya sudah, nanti aku jemput " Ucapku.
" Tapi, kamu sudah tidak apa apa? " Kekhawatirannya masih terlihat jelas.
" Sudah meningan Kak, apalagi habis tidur, kalau mandi di siram kepala juga sepertinya segar " Ucapku.
" Jangan mandi dulu Dek, baru juga meningan. "
" Hmmmm " Aku hanya berdehem. Padahal, aku ingin banget menyiram seluruh tubuhku.
**************
Mentari sore sangat indah, semburat jingga memancarkan sinarnya. Aku duduk melamun, entah apa yang aku pikirkan sampai aku tidak tahu kalau sang pujaan hati sudah ada di sampingku. Aku terlonjak ketika ada yang menepuk pelan pundaku.
**Bersambung...
Jangan lupa Likenya ya, dan di vote juga, Terima kasih🙏🙏🙏**
__ADS_1