
Tidak lupa, Kak Ranti juga membaca Al Qur'an, walaupun dengan suara bergumam. Karena lidahnya kelu, jadi terkadang Kak Ranti juga hanya membacanya di dalam hati.
Tasbih berwarna hijau, juga tidak lepas dari tangannya, jarinya terus berjalan memisah misahkan biji tasbihnya. ' Sungguh mulianya dirimu Kak..! ' Ucapku dalam hati. Aku menatapnya sendu..!
Malam ini aku terlelap dalam kegundahan. Pikiranku melayang, dimana besok adalah hari dimana Kak Ranti akan melakukan Operasi dan semuanya itu seperti mimpi. Padahal hari itu hari yang di tunggu sejak lama.
Aku mersa terganggu ketika silau cahaya lampu menerpa wajahku. Kemudian aku membuka mataku dan menguceknya, mataku menyipit siapa yang datang. Dan ternyata seorang Suster datang menghampiri Kak Ranti. Aku bangun dari tidurku..
" Maaf mengganggu tidurnya." Ucap Suster itu.
Terlihat Kak Ranti membuka matanya, mungkin dia juga merasa terganggu oleh sinsr lampu.
" Oh iya, Mbak Ranti, mulai saat ini, jam dua kosong kosong. Mbak Ranti mulai puasa ya, sampai besok waktunya Operasi tidak boleh makan dan minum apapun. Kalau untuk sekarang, boleh minum air putih dulu, masih ada lima menit. " Ucap Suster itu
Setelah Suster keluar, Kak Ranti minum lewat NGT, dan kita kembali terlelap, sampai akhirnya aku terbangun jam empat lewat lima belas menit.
Segalanya aku persiapkan, dari mulai semua fhoto Rontgen, dan semua hasil pemeriksaan yang di terima aku satukan dalam satu plastik besar. Dan ketika matahari menampakan sinarnya, aku segera membeli sarapan.
Sarapan kali ini, lebih tidak selera lagi. Perasaanku bercampur aduk, antara takut, cemas khawatir menjadi satu. Rasanya lebih takut ketika Dr. Afandi meninggalkanku. Atau karena rasa itu bercampur menjadi satu.
*****************
Hari ini, hari rabu, tanggal 17 oktober 2012. Tepat pukul delapan pagi, Dr. Dafa masuk keruangan. Jantungku berdetak lebih kencang. Dug dug dug.., Aku benar benar tegang menghadapi ini, tapi tidak dengan Kak Ranti, dia tersenyum ketika Dr. Dafa menyapanya. Tapi aku juga tidak tahu bagaimana kondisi dalam jiwanya.
" Bagaimana, Mbak Ranti, sudah siap? " Tanya Dr. Dafa.
" Sudah Dok." Jawab Kak Ranti antusias.
" Ya sudah, kita berangkat..! " Ucap Dr. Dafa dengan semangat.
Bu Tini, dan juga Suster Laras ikut mengantarkan Kak Ranti menuju Ruang Operasi. Jaraknya lumayan, membutuhkan kurang lebih lima menit untuk sampai ke Ruang Operasi.
Aku mengikuti langkah Dokter juga Suster yang mendorong Kak Ranti memakai kursi roda. Pikiranku benar benar sudah kacau, sedangkan Bang Bagas juga Bang Ilham belum sampai.
Dr. Dafa memasuki Intalasi Bedah Pusat. Dan kita mengikutinya dari belakang. Sesampainya di dalam, aku termangu ketika melihat ada beberapa pasien juga yang sedang menunggu antrian untuk di Operasi.
" Mbak, ganti dulu bajunya ya, " Suster itu memberikan baju khusus untuk pasien yang akan di Operasi.
Aku menerimanya, dan membantu Kak Ranti ganti baju di Ruangan ganti. Setelah itu, Dr. Dafa menyuruhku untuk berpamitan dengan Kak Ranti.
" Mbak, pamitan dulu sama Ibunya, berikan do'a juga semangat untuk ibunya. " Ucap Dr. Dafa. " Itu Ibunya Kan? " Lanjutnya.
" Bukan Dokter, itu Kakak saya. " Jawabku. Aku melangkah menghampiri Kak Ranti yang sudah duduk di brankar , aku mengulurkan tanganku untuk bersalaman. Habis kata kataku, aku tidak bisa berkata apapun, yang ada hanya ketegangan juga kesedihan. Apalagi aku sudah tidak bisa untuk merangkulnya lagi karena Kak Ranti sudah memasuki area kuning dan aku tidak boleh melewati batas kuning itu.
__ADS_1
Lambaian tangan mengiringinya yang sudah di dorong menuju Ruang Operasi. Pintu tertutup dan aku kebingungan harus kemana.
Drrt, drrrtt.. Ponselku bergetar. ' Bang Bagas ' Gumamku. Aku duduk di bangku tunggu, kemudian membuka pesan itu.
" [ Dek, kamu di mana? ] " Tanya Bang Bagas.
" [ Di Ruang Operasi Bang, ] " Aku membalasnya. Kemudian aku memberikan arah menuju Ruang tunggu Operasi.
Beberapa saat kemudian, Bang Bagas kembali mengirim pesan kepadaku.
" [ Dek, kamu di mana? Abang sudah sampai ] " ..
" [ Aku di Ruang Operasi Bang, ] ".
" [ Di sebelah mana Dek? ] " Akupun kembali menjelaskannya.
" Mbak, Mbak mengantar berdua dengan Ibu Ini, " Tunjuk seorang Suster kepada seorang Ibu parubaya yang sedang mengantar suanminya. Dia menepuk pundakku pelan.
" Tidak Sus, saya mengantar Kakak saya, " Jawabku.
" Kakaknya, yang mana? "...
" Tadi sudah masuk Sus." ..
Tringg.. Triingg...
Ponselku berdering, aku melihatnya ternyata Bang Bagas.
" Hallo Bang, " Ucapku setelah menerima panggilannya.
" Iya Dek, kamu dimana sih? Abang sudah nyari nyari. " Ucapnya dengan nada gusar.
" Iya Bang, sebentar aku keluar. " Ucapku. Aku menarik handle pintu itu dan keluar ruangan, berbarengan dengan Bang Bagas yang sedang turun di tangga samping Ruangan ini. Ingin aku terbahak, tapi ini bukan waktunya. Memang ini kekonyolanku yang sangat awam di tambah dengan rasa kacau..
" Bang.! " Aku melambaikan tangan dan tersenyum.
" Kamu ini, Abang dari tadi nyariin Dek, " Dia menoyor kepalaku.
" Iya Bang, aku bingung tadi dari dalam juga di suruh menunggu di luar. " Ucapku.
Aku berjalan menuju bangku yang masih kosong. Dan duduk menunggu Kak Ranti selesai. Sudah banyak orang yang sedang menunggu keluarganya yang sedang di Operasi.
" Bang Ilham belum sampai Dek? " Tanya Bang Bagas.
" Belum, tadi katanya baru naik Bis.. " Jawabku. Tidak lama kemudian, Bang Ilham menelfhon Bang Bagas dia menanyakan di mana tempat Operasinya. Akhirnya Bang Bagas menjemputnya. Dia membawa banyak makanan, termasuk jajanan, karena memang Bang Ilham punya warung sembako.
__ADS_1
Setelah berharap cemas, deg degan, khawatir dan bercampur aduk perasaanku. Keluarlah satu pasien, seorang Bapak Bapak. Aku menghela nafas kasar. Perasaan sangat lama menunggu Kak Ranti keluar ruangan.
Sekitar jam sepuluh tiga puluh, setelah beberapa orang keluar dari ruang Operasi. Mungkin mereka hanya Operasi kecil, jadi cepat selesai.
" Keluarganya Nona Ranti.! " Suara dari dalam itu. Aku beranjak dan melangkah menuju Ruangan tadi. Seorang Security membukakan pintu, dan aku masuk ke dalamnya.
Terlihat Dokter dengan pakaian sterilnya sedang berdiri di batas kuning tadi. Aku menghampirinya dan ternyata Dokter itu adalah Dr. Dafa.
" Oh ya Mbak, Mbak Ranti sudah di Bedah, dan sebentar lagi selesai. Dan ini hasil thimomanya " Ucapnya. Dia memperlihatkan, sebuah pelastik putih yang di dalamnya ada sebuah gumpalan seperti daging yang masih berlumuran cairan merah, bentuknya lumayan besar, kurang lebih setengah kepalan tangan orang dewasa.
" Dan ini akan di kirim ke Departemen Patologi Anatomi sama Dokternya dan hasilnya seminggu kemudian. " Lanjutnya.
" Oh iya Dokter. " Jawabku. Aku mengangguk, padahal aku tidak paham dengan apa yang Dokter Dafa jelaskan. Ada sedikit kelegaan dalam hatiku. Ketika mengetahui kalau Kak Ranti sudah berhasil di Operasinya.
Setelah Dr. Dafa kembali ke Ruang Operasi, aku juga kembali keluar dan kembali duduk menunggu.
" Apa kata Dokternya Dek? " Tanya Bang Ilham.
" Dokter memberitahu kalau Kak Ranti sudah di Operasi dan sebentar lagi seleai. " Ucapku. Akhirnya kita kembali menunggu. Banyak orang berlalu lalang, ada juga yang sama cemasnya dengaku. Aku yang tidak pernah dalam situasi seperti ini, menjadi sering panik ketika keluarga pasien lain di panggil.
Aku sangat takut terjadi apa apa di dalam. Karena, Kak Ranti tak kunjung keluar. Oh iya, kata Dokternya kemarin aku harus siap, takutnya Kak Ranti mengalami pendarahan, tapi dari tadi tidak ada pemberitahuan.
Dengan kerisauan ini, aku melupakan Dr. Afandi. Iya, Dr. Afandi dimana? Apa dia juga ada di dalam, menjadi Tim Bedah? Ya Allah, dimana dia. Aku merindukannya.
" Dokter, katanya aku tidak boleh pergi! Tapi kenapa sekarang kamu yang pergi? Kamu pergi tanpa pamit..!! Kenapa??.."
Air mata ini berdesakan keluar, dadaku sesak menahan tangis. ' Andai kamu ada disampingku, setidaknya kamu memberi kabar walaupun menjadi Tim Bedah, mungkin aku tak serapuh ini.'
' Dokter, aku butuh kamu, butuh genggaman tanganmu. ' Pikiranku terus meracau, terus memanggilnya walaupun aku tidak yakin dia akan datang.
Aku menutup wajahku dengan telapak tanganku, karena takut menjadi pertanyaan Abang Abangku. Badanku sampai bergetar menahan tangis ini. Akhirnya aku izin ke Toilet. Dan aku menumpahkan tangisku di dalam.
Kepalaku rasanya sangat pusing, kemudian aku mengambil air wudhu agar perasaanku terasa lebih lega.
Setelah merasa lega, aku keluar dari Toilet dan berjalan menuju Ruang Tunggu. Bang Bagas juga Bang Ilham masih setia duduk di bangku yang tadi, berarti Kak Ranti belum keluar.
Akhirnya, setelah beberapa menit duduk, waktu itu sekitar jam sebelas lewat tiga puluh menit, Dr. Dafa kembali memanggil.
" Keluarga Nona Ranti..! " Pagigilnya.
**Bersambung...
Jangan Lupa dukungannya ya, tetap Like, dan juga Vote..
Terimakasih**...
__ADS_1