TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG

TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG
Siapakah Dia.??


__ADS_3

Aku berjalan kearah Lift dan menunggunya terbuka. Sedangkan Dr. Afandi keluar lewat sebelah kiri Lift. Lift terbuka, aku menunggu yang keluar dahulu. Tapi aku kaget ketika sudah didalam Lift, aku melihat keluar Lobi, postur tubuhnya menyerupai Dr. Afandi sedang bergandengan tangan dengan seorang perempuan, perempuan itu juga sama memakai pakaian Dokter. Aku mengucek ngucek mataku, tapi Lift keburu tertutup...


Siapakah Dia..??..


 


 


" Di dalam Lift aku terus menundukan kepalaku, aku memikirkan apa yang kulihat tadi,' Apa benar itu Dr. Afandi? ' Hatiku terus bertanya tanya. Sampai akhirnya ada orang yang menepuk pundakku.


" Mbak, Mbak mau kelantai berapa.? " Tanyanya.


" Haahh " Aku mengangkat kepalaku. " aku mau ke Lantai lima " Jawabku.


" Ini sudah lantai tujuh Mbak "..


" Astagfirullah, aku menepuk jidatku."


Orang itu keluar, setelah sampai Lantai tujuh aku segera mengklik tanda panah untuk turun dan mengklik angka lima. Orang orang yang mau turun ikut masuk bergantian, termasuk Dr. Kristin, Dr. THT.


Lift terbuka di Lantai lima, aku keluar dengan perasaan, entahlah.. Tapi aku segera memasang senyumku, agar Kak Ranti tidak bertanya tanya dengan raut mukaku.


Sesampainya di ruangan, Kak Ranti sedang memasukan makanannya ke selang. Aku mempercepat langkahku dan membantunya.


" Sudah lama datangnya Kak.? " Tanyaku.


" Baru sebentar Dek, habis Kakak dinginin dulu." Jawabnya. Kulihat botolnya, benar saja masih penuh.


Aku menaruh air minum diatas lemari, merapikannya dan membuang sampah.


Oh iya, aku lupa, Loundryanku pasti sudah selesai, tapi ini masih pagi. Aku berniat nanti agak siangan mengambilnya dan menaruh lagi pakaian kotorku.


Bete, ngapain ya, sarapan sudah, oh aku belum melihat isi godibag itu, aku mengambilnya dan membukanya. Pepes ikan, sayur kacang campur, sambal, dan perkedel. Air mineral dan satu kotak jus jambu. Ya sudah, ini untuk makan siangku.


Tringgg.., Suara pesan masuk. Aku mengambil ponselku kemudian membukanya. ' Bu Fatma '..


" [ Assalamu'alaikum Mbak..] "


" [ Wa'alaikumsalam ] "..


" [ Mbak, kapan jadwal Operasinya Mbak Ranti] ? " Tanyanya.


" [ Kurang tau Bu, belum ada kabar, tapi pemeriksaan sudah selesai semua ] ". Jawabku.


" [ Ohh, ya sudah di tunggu saja, ] "..


" [ Oh ya, kalau jam besuk dimulai jam berapa Mbak? "..


" [ Iya Bu..] "..


" [ Jam lima sampai jam delapan Bu ] "..


" [ Ya sudah, nanti InsyaAllah saya kesana ya, mudah mudahan waktunya tidak ada bentrok] "..


" [ Iya Bu..]..


*****************


" Kak, Bu Fatma katanya mau kesini." Kataku.


" Kapan? "..

__ADS_1


" Nanti malam katanya, kalau tidak ada halangan."..


" Oh ya sudah, nanti di jemput lagi aja seperti teman kamu " ..


" Iya Kak.."..


" Kak, aku mau ngambil Loundryan ya, bete disini."


" Ya sudah, beli tisu, tisunya sedikit lagi.."


" Oke, kalau ada apa apa telfon aja ya Kak." Kak Ranti mengangguk.


Aku keluar ruangan dengan tentengan keresek baju ditanganku. Aku menunggu Lift yang lagi naik. Lift terbuka, tampaklah orang orang di dalamnya, ada yang keluar ada juga yang masih di dalam dan Lift tertutup lagi. Aku mengklik tanda panah untuk turun.


" Mbak, Mbak yang tadi sama Dr. Afandi ya? " Tiba tiba seorang Suster yang keluar dari Lift tadi bertanya.


" Tadi kapan ya Sus, saya dari tadi di ruangan " Jawabku. Suster ini kepo banget sih.


" Maaf ya Suster, saya duluan " Ucapku. Aku masuk kedalam Lift dan Lift kembali tertutup rapat. Lift penyelamat..


Aku cuma mengambil bajuku dan membeli tisu, setelah itu aku kembali keruangan. Setibanya aku diruangan, ruangan kembali berisik. Kulihat seorang pasien yang wajahnya sangat besar penuh dengan luka, dia merintih kesakitan. Terdengar pengakuannya, kalau dia habis tabrakan.


" Mbak, punya carger seperti ini tidak? " Tanyanya. Seorang pendamping pasien yang di sebela pojok menghampiriku. Dia menunjukan lubang untuk mencarger di ponselnya. Aku yang sedang memakan buah kelengkeng menghentikan aktifitasku.


" Oh ada " Jawabku.


" Boleh pinjam sebentar Mbak? Punya saya ketinggalan di rumah.? " Ucapnya. 'Emangnya rumahnya dekat, padahal pasien ini sudah lumayan lama ada disini, terus tadinya pakai punya siapa' Aku bertanya tanya dalam hati.


Aku memberikan cargernya dan melanjutkan lagi aktifitasku. " Dek, kamu tidak makan? " Tanya Kak Ranti.


" Nanti ajalah Kak, habis shalat dzuhur " Jawabku.


" Kok perasaan lama banget ya Kak, bete banget diam begini tiap hari, rasanya lama banget."..


" Iya, mudah mudahan sebelum Idul Adha kita sudah pulang " Ucapku.


" Iya, nanti kita bikin satai bareng " Jawabnya.


" Oh ya, uang berapa lagi Dek?, Pokoknya, pakai uangnya punya Kakak saja, punya kamu disimpan saja dulu Dek". Kak Ranti selalu berpesan begitu. Dia tidak ingin uangku sampai kepakai untuk keperluan dirinya dan untuk makan aku harus pakai uangnya.


" Masih ada Kak, kan beberapa hari ini aku tidak beli makan, selalu di traktir ". Ucapku.


" Iya ya, padahal tidak enak loh, masa setiap hari dia beliin makan terus, coba kamu bilangin jangan beliin makan terus." Kak Ranti merasa tidak enak hati kalau setiap hari dia beliin makan untukku.


" Iya sih Kak, tapi aku bingung takutnya menyinggung dia, serba salah deh."..


Obrolan kita terhenti ketika ada petugas makanan datang membawa makan siang untuk Kak Ranti.


" Makan Siangnya Bu.." Ucapnya.


" Terimakasih"..


" Kok tumben jam segini sudah ada makan siang, emang sudah jam berapa Kak ? " Tanyaku.


" Baru jam dua belas lewat sepuluh menit "..


" Tapi, kapan adzan? " Aku merasa heran. Sudah lewat jam dua belas tapi belum terdengar adzan dzuhur.


" Hei, ini hari jum'at Dek..!! " Kak Ranti menepuk jidatnya. " Hahaha.." Aku tertawa pelan.


" Aku shalat aja dulu ya Kak " Ucapku.

__ADS_1


" Kakak juga bareng ke kamar mandinya, biar tidak bolak balik" Lanjutku.


Aku memapah Kak Ranti, Kak Ranti bukan seperti orang sakit pada umumnya. Dia bisa jalan sendiri, aku hanya membantu memegang botol infusnya. ' Semoga aja, pengobatannya berjalan dengan lancar, aku sudah pengen pulang ke kampung' Gumamku.


Kenapa setelah melihat orang gandengan tangan pagi tadi, rasanya entahlah, aku bingung, apa benar dia? Mau nanyain juga aku tidak ada hak, hubungan kita gimana gitu, bukannya aku tidak peka, tapi selama ini hanya perlakuannya yang romantis dan perhatian, tapi belum ada keputusan pacaran atau apa Hmmm.


*******


Selesai shalat dzuhur aku makan siang, begitu juga Kak Ranti. Sebenarnya gak ada selera makanku dengan pikiranku yang berkecamuk ini. Kak Ranti sudah selesai menghabiskan makanannya, tapi aku, masih ngunyah, rasanya lama banget dari tadi tidak habis habis.


Kenapa ya dia ini, diawal dia slalu kirim pesan, bahkan mau pulang aja selalu kirim pesan, tapi tiga hari ini benar benar gak pernah kirim pesan.


" Tidur sianglah Kak, bosen banget aku " Ucapku.


" Ya sudah tidur aja, gampang Kakak mah " Jawabnya. Baru saja aku memejamkan mata suara petir menggelegar.


Duuaaaarrrrrr...


" Astagfirullahhal'adzim " Aku terlonjak kaget. Badanku terhuyung karena pusing. Dan suara hujan pun turun dengan derasnya.


" Kak, kaget aku..!! " Ucapku.


" Iya , Kakak juga kaget ".. Jawabnya.


Ketika aku lagi minum, tiba tiba terjadi kegaduhan di sebrang bed Kak Ranti.


" Ibu, jangan di lepas terus ya selangnya, bagaimana ibu mau sembuh, bagaimana cara makan dan minum obatnya.." Suster terus membujuk pasien itu. Dia sudah beberapa kali mencabut selang NGT yang sudah dipasang.


" Aku tidak mau, aku tidak betah disini, bagaimana anakku dirumah " Jawabnya marah marah.


" Ibu harus sabar, kalau ingin cepat pulang kerumah, Ibu jangan mencabut selangnya terus, kalau di cabut bagaimana cara obat mau masuk." Suster itu sudah sedikit kesal, karena pasiennya tidak bisa diatur.


" Tapi bagaimana anak saya di rumah."


" Tenang ya, ibu minum obat dulu.." Sekesal kesalnya seorang Suster dia akan tetap membujuk para pasiennya.


Tidak terasa hari sudah sore, semburat jingga memancarkan sinarnya. Kulihat jam dinding menunjukan pukul tujuh belas lewat sepuluh menit.


Tring.... Suara pesan masuk dari ponselku. Sebelumnya, aku sudah mengganti nada deringku setelah aku merasa malu ketika Dr. Afandi memiscallku.


" [ Mbak, maaf ya, saya tidak jadi besuk hari ini, tadi kan hujan, jalanan yang menuju kesananya banjir, di tambah Boy tiba tiba demam] " Bu Fatma meminta maaf.


" [ Iya Bu, tidak apa apa, semoga Baby Boy cepat sembuh ya.] " Balasku


" [ Iya Mbak, tolong sampaikan salam kepada Mbak Ranti ya ] "..


" [ Oke siap Bu.] "..


*******


" Kak, Bu Fatma tidak jadi kesini, katanya banjir, sama Baby Boy demam."


" Ya Allah, kok bisa demam, semoga cepat sembuh " Kak Ranti merasa khawatir sama Baby Boy. Karena dari awal ngidam sampai melahirkan Kak Ranti yang selalu mendampingi Bu Fatma. Semua keperluaannya Kak Ranti yang selalu menyiapkan.


" Ya kita do'ain saja semoga cepat sembuh.." Ucapku. Kak Ranti mengangguk. Hari semakin gelap, adzan magrib telah berkumandang, aku segera menunaikan kewajibanku. Setelah shalat magrib, Dokter Elvira memanggilku...


Bersambung...


Ada apa ya, Dr. Elvira memanggil Hana..?? Ikutin terus ya...


**Jangan Lupa, Like dan Votenya ya...!!!!!

__ADS_1


Terimakasih**...


__ADS_2