
Hatiku panik, apa dia keterusan sakitnya atau bagaimana?.
" Permisi...! " Suara dari balik tirai.
" Iya.." Sahut Kak Ranti. Kemudian dia menyibakan tirai itu dan masuk kedalam. Aku tertegun melihat siapa yang datang.
' Dr. Dafa. ' Ucapku dalam hati. Kemana Dr. Afandi? Apa dia yang menggantikan? Atau memang semua ada bagiannya.
" Apa kabarnya hari ini Mbak Ranti? " Tanya Dr. Dafa.
" Oh ya, sebentar lagi kita akan menjelaskan tentang bagaimana nanti Operasinya ya, nanti setelah teman saya datang."..
" Siap Dokter.." Jawab Kak Ranti.
" Boleh pinjam hasil Rontgennya? "..
" Iya boleh." Kak Ranti memberikan semua hasil pemeriksaan. Aku hanya diam menyimak, terlihat Dr. Dafa meliriku tapi hanya sebentar. Aku mencoba, menetralkan ekspresiku.
" Permisi..! " Beberapa orang Dokter menyembul dari balik tirai.
" Apa kabarnya Mbak Ranti? " Tanya Dokter yang waktu di Caffe bertemu. Aku lupa siapa namanya.
" Alhamdulillah baik..! " Jawab Kak Ranti.
" Oke, Mbak Ranti, mm.. Sekarang kita mulai ya, untuk kita menjelaskan bagaimana nanti prosedur operasinya." Ucap Dr. Dafa memulai pembicaraan setelah keempat temannya datang.
" Pertama, Mbak Ranti nanti akan berpuasa beberapa jam untuk pembiusan, karena Operasinya termasuk Operasi besar, maka Mbak Ranti akan di bius total. Nah, Nanti juga Mbak Hana sebagai pendamping, harus siap di luar ya, sekiranya nanti Mbak Ranti kekurangan darah dan harus tranfunsi, Mbak Hana harus segera mencari darah ke Bank Darah. Karena, Operasinya berisiko pendarahan...
" Kemudian, nanti juga Mbak Ranti memerlukan Ruang Intensive Care Unit atau ICU untuk pemulihan pasca Operasi. Dan kemungkinan juga Mbak Ranti bisa gagal nafas, karena Massa mediastinum itu berada di antara paru paru juga jantung, makanya harus masuk ICU terlebih dahulu.
" Tapi, dengan adanya Myasthania Gravis ini, walaupun sudah di angkat Thimomanya. Kemungkinan kesembuhan pasien hanya dua puluh lima persen...
" Jeddeeeeeerrr..." Apa..?? Apa tidak salah dengar? Aku kembali menegang. Apalagi Kak Ranti yang akan menjalaninya. Begitu kuatkah penyakit myasthania Gravis itu, sehingga menyebabkan penderitanya harus seperti ini.
Setelah beberapa pertanyaan yang terlontar dari Kak Ranti dan juga kembali di jelaskan lagi oleh Dokternya. Akhirnya Tim Dokter Bedahnya berpamitan.
" Sampai sini dulu ya, terimakasih atas waktunya. " Ucap Dr. Dafa.
" Terima kasih Dokter." Ucapku juga Kak Ranti berbarengan.
Beberapa hari sebelumnya aku menanyakan kapan Operasinya. Dr. Afandi, menjawab akan di laksanakan hari Jum'at. Tapi tidak jadi, ini sangat membosankan untukku. Apalagi sekarang Dr. Afandi tidak ada, mau bertanya juga aku segan.
Setelah Tim Dokter Bedah Thorax keluar ruangan, aku berpamitan untuk membeli makan sekalian aku membeli air.
Aku keluar Gedung A disambut oleh Mentari pagi yang sangat cerah, berbanding terbalik dengan hatiku yang entah seperti apa. Aku merasa risau, khawatir akan keadaan Dr. Afandi.
Air embun menetes di dedauan yang tidak sengaja aku tabrak. Aku terus berjalan menyusuri trotoar. Orang berlalu lalang kesana kemari, ada yang menjinjing termos air panas ada juga yang menjinjing plastik berisi makanan.
Aku berjalan menuju Warung Nasi Padang dan aku akan membeli beberapa lauk untuk nanti siang dan sore agar tidak harus naik turun.
" Permisi Bu.. " ucapku.
" Iya Neng, mau sarapan? "..
" Di bungkus saja Bu, tapi lauknya di pisah ya. "
" Siap Neng, apa aja."..
" Nasi satu, sama sayur daun singkong, sama pepes ikan, peyek udangnya dua. " Ucapku.
" Ada lagi? " Tanyanya.
__ADS_1
" Sudah Bu." Jawabku.
Selesai membeli nasi, aku menghampiri Tukang Bubur. Aku akan sarapan bubur dulu untuk pagi ini.
" Permisi Bu, buburnya setengah saja ya. " Ucapku.
" Siap Neng. " Jawab tukang bubur.
" Lengkap semua kan? " Tanyanya.
" iya Bu..! " Jawabku.
' Ya Ampun. ' Gumamku. Aku lupa membeli air. Akhirnya aku kembali ke Stand penjual air di dekat Warung Nasi tadi.
Setelah membeli air, aku kembali ke Gedung A. Perasaanku seperti hampa, baru tidak melihat Dr. Afandi pagi ini saja pikiranku sudah kemana mana. Apalagi ketika Meysa berucap kemarin.
Aku juga lupa, kalau pagi ini aku belum mengecek ponselku yang masih aku isi dayanya. Aku berjalan cepat, ingin segera sampai keruangan untuk mengecek ponselku. Aku merasa kehilangan, padahal baru satu hari dia tidak datang. Biasanya di pagi buta dia sudah datang ke ruangan untuk menanyakan kabar Kak Ranti, bahkan setelah dekat ini dia selalu datang pagi dan sore untuk mengajak aku makan.
' Sungguh kenangan yang tidak akan bisa untuk di lupakan. Kamu begitu romantis, begitu sayangnya sama aku. Hatiku merasa bahagia setelah kehadiranmu. Mudah mudahan kamu baik baik saja'
************
" Kak, kapan makanannya datang? " Tanyaku. Ketika masuk ruangan, kuliaht botol tempat makan Kak Ranti sudah kosong. Berapa lama aku di luar, sampai Kak Ranti makan saja sudah habis, biasanya memakan waktu setengah jam untuk menghabiskan satu porsi.
" Iya, waktu kamu keluar, makanan sampai dan ternyata sudah hangat jadi langsung Kakak makan. "..
" Ohh, aku makan dulu ya Kak, mau tidak? "..
" Ya sudah, makan dulu, habisin.." Jawabnya.
Kemudian aku mengambil bubur tadi dan segera aku memakannya.
" Sedikit banget buburnya Dek.? " Celetuk Kak Ranti.
" Emang kemarin makan apa sih, kamu kebanyakan makan sambal kali.."..
" Hehe..! Aku makan bakso.."..
" Jangan makan pedas banyak banyak lah Dek, itu juga sambalnya jangan di makan. " Ucap Kak Ranti.
" Kalau tidak pakai sambal tidak enak Kak, aku malah tidak selera makannya. " Aku memelas.
" Ya, dari pada kamu sakit perut lagi Dek, buang cepat. "..
' Huufftt, kena omel dah, kenapa aku tadi bilang ya, kalau malam sakit perut. Huuuffttt..'
Aku membuang sambal itu ke keresek. Kemudian aku melanjutkan makan buburnya.
" Kamu beli obat Dek? " Tanya Kak Ranti.
" Tidak Kak. "..
" Kenapa tidak? Terus bagaimana, sekarang masih sakit tidak perutnya? ".
" Tidak sih cuma mulut aku pahit rasanya, makan juga tidak ada rasa Kak..! "
Aku terpaksa menghabiskan bubur itu, kalau tidak nanti pasti kena omel lagi.
Selesai makan, aku mengecek ponselku. Tidak ada pesan yang masuk, atau panggilan tidak terjawab dari siapapun. Aku menghela nafas pelan. Kemudian aku membuka percakapan dengan Dr. Afandi, dan aku mulai mengetik pesan.
" [ Pagi Dokter, apa kabarnya? ] " Aku mengklik tanda kirim.
Status terkirim, beberapa menit tidak ada jawaban. Bahkan sampai aku bosan memainkan permainan di ponselku.
__ADS_1
Aku mulai resah lagi, satu pesan tidak dijawab rasanya aku kelimpungan. Pantas saja dia selalu meminta aku untuk membalas pesannya, seperti ini rasanya.
' Kemana kamu Dokter..??? Aku kangen..?? ' Ucapku dalam hati.
Aku beranjak dari tempat dudukku. Kemudian aku menuju luar ruangan. Aku mencoba menelfhonnya, baru saja tersambung, tapi operator yang menjawab.
" Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. " Luruh sudah, tubuhku merosot ke bawah. Aku duduk di lantai sambil terus memegang ponsel, berharap nomornya aktif. Lesu badanku.!!
' Kemana kamu Dokter? Maaf semalam aku mendiamkanmu, karena memang Meyra membuat aku tersinggung. Dokter..!! ' Aku benar benar ingin berteriak. Tapi itu tidak mungkin.
Aku kembali masuk ke ruangan setelahnya aku mencuci wajahku di kamar mandi. Aku pura pura habis dari kamar mandi agar Kak Ranti tidak tahu kalau aku habis nangis.
Aku bingung mau apa lagi hari ini, waktu berjalan begitu lambat. Aku hanya memutar lagu favorit aku yang membuat aku tambah galau.
Sore hari tiba, aku di kejutkan dengan Bang Bagas yang tiba tiba datang.
" Hallo Dek." Ucap Bang Bagas di sebrang telfon. Yang aku kira kalau yang memanggil itu adalah Dokter Afandi, tapi nihil, sampai sore juga nomor Dr. Afandi belum aktif.
" Iya, Hallo Bang.! "...
" Abang sudah sampai, " ..
" Sampai kemana Bang? " Tanyaku.
" Iya Abang sudah sampai Parkiran. Nanti tunggu dekat Lift, Abang tidak tahu ruangannya. "..
" Oh Abang sudah sampai di sini? Ya sudah, aku tuggu..! " Panggilan berakhir.
" Kak, Bang Bagas sudah sampai Parkiran.." Aku memeberitahu Kak Ranti.
" Beneran? " Kak Ranti begitu antusias.
" Aku keluar dulu ya, nunggu di dekat Lift, dia tidak tahu ruangannya. " Ucapku.
" Ya sudah, "..
Aku keluar ruangan dan berjalan menuju Lift yang hanya terhalang empat ruangan dari ruangan yang Kak Ranti tempati.
Lift terlihat sedang naik, berarti Bang Bagas belum naik. Aku terus menunggu sampai Lift itu kembali turun. Dan benar saja, tidak lama kemudian Bang Bagas keluar dari Lift.
Aku mengulurkan tanganku untuk bersalaman, " Apa kabarnya Bang? " Tanyaku. Setelah kami berjalan menuju ruangan.
Bang Bagas masuk kemudian bersalaman dengan Kak Ranti.
" Jam berapa dari sana? " Tanya Kak Ranti.
" Jam empat.." Jawab Bang Bagas.
Bang Bagas membawakan aku makanan ringan juga gorengan yang dulu waktu di tempat Bang Bagas aku membelinya. Gorengannya sangat enak dan harganya murah meriah.
" Operasinýa kapan? " Tanya Bang Bagas.
" Tidak Tahu, dari kemarin bilangnya hari jum'at, tapi tidak tahu juga, "..
" Ya sudah, nanti tinggal bilang saja. Nanti Abang kesini."..
Tidak terasa, waktu dua jam sudah kita habiskan hanya untuk berbincang bincang, Bang Bagas pamit pulang, aku kemvali merasa kehilangan.
Sepi, itu yang aku rasakan. Nomor Dr. Afandi masih tidak aktif. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur. Berharap besok ada kabar baik.
**Bersambung...
Alhamdulillah, bisa update dua bab hari ini. Karena kemarin tidak Update jadi hari saya usahain Update dua bab..
__ADS_1
Jangn lupa Like, juga Votenya ya, boleh kasih hadiah juga , terimakasih🙏🙏**