
" Ya sudah, jangan bergerak dulu Dokter, aku bisa sendiri, Dokter harus pemulihan dulu. "..
" Tidak Dek..! " Cupp.. Aku mengecup bi***nya. Entah keberanian dari mana, aku gemas sekali dengan tingkahnya.
" Lagi Dek..! "..
" Enak saja.." Aku mencebikan bibirku
" Aku telfon Daffa dulu yah..!! " Dia merogoh saku celananya. Kemudian dia mengutak atik ponselnya.
" Hallo, Bro..! " Dari seberang telfon terdengar suara seorang lelaki.
" Iya, Daff, gua bisa minta tolong tidak?. " Tanya Dr. Afandi.
" Tolong apa? Lo emang dimana? "..
" Gua di Parkiran IGD, lo di mana? "..
" Gua lagi nunggu Meyra, baru mau pulang, dia sakit perut. "..
" Oh ya sudah, Gua tunggu di Parkiran ya..! "..
Klik, panggilan di akhiri.
" Dek..! "..
" Hmmm.. "..
" Kamu belum makan malem loh Dek.! "
" Ya sudah tidak apa apa, nanti aku beli. " Ucapku.
" Beli di mana? Ini sudah malem loh. " ..
" Tenang saja, gampang nanti ke Kantin atau beli apa aja nanti lah. " Ucapku. Padahal, sebenarnya aku sudah tidak selera untuk makan. Memikirkan apa yang terjadi hari ini saja sudah membuat aku syok berat. Apalagi dengan kondisi Dr. Afandi sekarang, aku bingung harus bagaimana.
*************
Terlihat dari dalam, kalau ada dua orang yang sepertinya mau menghampiri mobil ini, sepertinya temannya Dr. Afandi sudah tahu semuanya dia parkir di mana.
Benar saja, ketika sudah dekat, yang perempuan itu Meyra yang tadi aku bertemu di Kantin. Entah kenapa, hati ini sedikit tersayat ketika melihat Meyra.
" Sayang, Daffa sudah sampai..! " Ucapnya. Dr. Afandi mengembalikan jok mobilnya seperti semula. Kemudian, dia memeluku erat seperti tidak ingin berpisah. Suhu badannya sudah tidak panas lagi, tapi wajahnya lebam sedikit bengkak.
" Maafin aku ya, kamu harus sembuh. " Ucapku. Dia melonggarkan pelukannya. " Ini bukan salah kamu Sayang, aku saja yang tidak bisa mengontrol emosiku. " Jawabnya.
" Ya sudah, mereka sudah sampai, aku pulang dulu.." Ucapku. Aku bergeser, dan Dr. Afandi membuka pintu mobil.
" Habis ngapain lo berdu..." Ucapan Dr. Daffa menggantung ketika melihat kondisi wajah Dr. Afandi.
" Fann, wajah lo kenapa? " Tanya Dr. Daffa panik.
" Ada apa Yang? " Meyra menimpali.
" Ya Tuhaan, Fandii.., Lo kenapa? " Pekik Meyra.
" Tidak kenapa napa, gua cuma kejedot. " Jawab Dr. Afandi. Dia mengeratkan genggamannya yang dari tadi tidak mau lepas. Aku menundukan kepala, merasa takut juga bersalah terus menghantui.
" Mbak, kamu apakan dia? " Tanya Meyra. " Apa yang terjadi sama kalian. "..
__ADS_1
" Sudahlah Mey, tidak apa apa. Sekarang gua cuma minta tolong anterin gua pulang.! " Dr. Afandi berusaha membelaku.
" Tapi, muka lo itu sampai bonyok Fan, lo tidak bisa bohong seperti ini, gua tau lo cuma buat nutupin kesalahan pacar lo doang kan? "
" Deggg...! " Dia menyebutku.
" Tidak Mey, sudahlah ini urusan gua. Please gua cuma minta tolong untuk antarin gua, karena Hana khawatir kalau gua pulang sendiri. " Jelas Dr. Afandi.
" Terus, kenapa bukan dia yang anterin lo? "
" Stop Mey, bukan salah Hana..! " Suara Dr. Afandi meninggi.
Melihat situasi seperti ini, aku merasa ketakutan. Aku melonggarkan genggamanku, tapi Dr. Afandi kembali mengeratkannya.
Dokter Daffa terlihat kaget, ketika Dr. Afandi membentak istrinya.
" Emosi lo sudah tidak terkontrol Fan.? " Ucap Daffa.
" Ya sudah, ayok cepat pulang, jangan disini terus. Nanti lo tambah sakit. " Sahut Dr. Daffa.
" Ya sudah, hati hati ya. Nanti kabarin aku kalau sudah sampai rumah. " Ucapku. Aku melonggarkan genggamanku. Mau tidak mau dia juga melepaskan genggamannya dengan tatapan tidak lepas dariku.
" Dr. Daffa, mohon maaf sudah merepotkan, saya permisi. "..
Dr. Daffa mengangguk, tapi tidak dengan Meyra. Dia terus menatapku sinis. Kenapa dia? Tadi waktu di Kantin dia baik baik saja, atau gara gara wajah Dr. Afandi seperti ini.
" Ya sudah, aku duluan ya " Ucapku tersenyum.
" Sudah sudah, kapan pulangnya kalau terus pamitan." Celetuk Meyra. Aku terkesiap, tajam juga mulutnya. Aku segera turun dari mobil dan berlalu tanpa meoleh lagi. Terdengar suara Dr. Afandi " Dek, kenapa lewat ke situ? " Teriaknya.
Aku tidak menghiraukan lagi teriakannya. Aku sengaja tidak membalikkan badanku, agar aku tidak ketahuan menangis.
Suasana jalan yang aku lewati sangat sepi, hanya ada satu atau dua orang yang lewat. Aku menuju Toilet yang ada di samping Gedung A.
Keluar dari Toilet, aku melihat ke dalam Lobi, ternyata di sini masih ramai orang berlalu lalang, ada yang keluar juga ada yang masuk. Aku mengantri di depan Lift, karena Lif sedang turun.
Drrrttt... Drrtttt...
Getar ponselku. Aku melihat siapa yang mengirim pesan. " Dr. Afandi. " Gumamku.
" [ Sayang, kamu sudah sampai ruangan belum? Aku sudah dalam perjalanan. Maafin aku ya, dan tolong kamu jangan dengarin apa kata Meyra tadi. Dia hanya merasa khawatir sama aku, dia tidak ingin aku kenapa napa. ] "..
' Meyra lagi. ' Ucapku dalam hati. Aku memasukanponselku ke dalam saku celanaku tanpa membalasnya. Sungguh hari ini membuat aku lelah. Aku melangkah dan memasuki Lift. Lift berjalan naik sampai akhirnya sampai di Lantai lima.
Suasana Lantai lima sangat ramai dengan pengunjung yang akan membesuk keluarganya. Aku mencoba untuk tersenyum walaupun pikiran masih tertuju Dr. Afandi.
Ketika aku masuk, pengunjung sangat ramai, hanya Bed Kak Ranti saja yang kosong. Aku mengintipnya dari tirai, ternyata Kak Ranti sedang membaca Al Qur'an.
" Assalamu'alaikum. " Ucapku. Aku senyum semanis mungkin, aku tidak ingin Kak Ranti melihat kesedihan dalam diriku.
" Wa'alaikum salam, kamu tidak shalat Dek? " Tanya Kak Ranti langsung.
" Oh iya, aku lagi ada tamu Kak. " Aku menghampirinya kemudian duduk di kursi. Kak Ranti menyudahi membaca Al Qur'annya. Kemudian dia cerita kalau tadi ada yang keritis dan di bawa ke ruang ICU.
" Yang di mana Kak? " Tanyaku.
" Itu yang Bed ke tiga dari sini. " Jawabnya.
" Itu kan pasien yang masuk beberapa hari lalu. " Ucapku.
__ADS_1
" Iya dia keritis, Kakak takut banget sebenarnya, soalnya di ruangan juga jadi gaduh sekali. Tapi Dr. Elvira datang, dia menemani Kakak."..
" Lah, tadi katanya ada Bu Tini yang menemani Kakak? " Tanyaku. Karena biasanya, Bu Tini akan setia menemani Kak Ranti ketika aku sedang Dr. Afandi.
" Iya Bu Tininya tadi izin shalat. Kan yan keritisnya pas lagi adzan isya. "..
" Ya Allah, maafin aku ya Kak. " Aku merasa bersalah, tapi ketika Dr. Afandi datang, aku juga bingung.
" Ya sudah tidak apa apa. " Itulah jawaban Kak Ranti, yang selalu bilang tidak apa apa. Padahal pasti dia merasa takut.
" Oh iya, aku bersih bersih dulu ya Kak. " Ucapku.
" Ya sudah, kamu sudah makan? " Tanya Kak Ranti. Aku berbalik, lagi lagi dia yang penuh perhatian sama aku.
" Sudah Kak. " Aku berbohong, tidak apa apa satu porsi bakso yang terakhir aku makan. Mudah mudahan perutku tidak sakit.
Aku kembali melanjutkan langkahku menuju Kamar Mandi. Aku hanya mencuci muka dan gosok gigi, juga mencuci kaki. Setelah itu aku kembali ke Kamar untuk bersiap tidur.
Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam, sasana rungan sudah hening dari pengunjung. Hanya beberapa pendamping pasien yang sedang berbincang dengan pasiennya.
Terlihat Kak Ranti sudah memejamkan matanya, dan dengkuran halus terdengar. Berarti Kak Ranti sudah tertidur lelap.
Aku membentangkan Bed Cover, kemudian aku merebahkan tubuhku diatasnya.
Drrrrttt... drrrttttt...
Ponselku kembali bergetar. Drrttt.. Drrrt....
Aku melihatnya, ternyata ada pesan dari nomor baru dan dari Dr. Afandi.
Aku membuka pesan yang dari nomor bsru.
" [ Jangan pernah dekatin lagi Fandi ya, karena kamu sudah membuat dia terluka ] "
Deggg.. Siapa ini? Jangan jangan Meyra.
Kemudian aku membuka pesan dari Dr. Afandi.
" [ Sayang, aku baru sampai, kamu lagi apa? Jangan lupa makan lagi ya. ] " Lagi lagi aku tidak membalas pesannya.
Betapa perhatiannya kamu Sayang, maafin aku, apa aku harus mundur? Aku merasa lelah. Kemudian aku mematikan ponselku dan menchargernya.
Aku kembali merebahkan tubuhku. Dan aku langsung tertidur.
Entah jam berapa, aku terbangun karena perutku sakit dan sangat sakit. Aku lari ke kamar mandi karena kebelet.
Selesai dari kamar mandi, perutku sangat panas. Apa karena bakso kemarin ya. Kulihat ponsel Kak Ranti. Baru jam tiga pagi, aku mencoba untuk tidur lagi tapi mataku tidak bisa terpejam. Akhirnya aku mengambil air wudhu dan shalat malam.
Aku tidak bisa tidur lagi sampai pagi, sampai aktivitas pagi kembali hadir. Antara menunggu, atau tidak, aku menunggu Dr. Afandi datang. Tapi, hari ini sudah sampai waktu jam setengah delapan dia belum ada keruangan.
Hatiku panik, apa dia keterusan sakitnya atau bagaimana?.
" Permisi...! " Suara dari balik tirai.
" Iya.." Sahut Kak Ranti. Kemudian dia menyibakan tirai itu dan masuk kedalam. Aku tertegun melihat siapa yang datang.
**Bersambung...
Jangan lupa Like dan votenya ya teman teman, terimakasih yang sudah setia mengikuti ceritanya🙏🙏**
__ADS_1