TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG

TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG
Sarapan Bareng


__ADS_3

Aku gelisah tidak bisa tidur, surat surat pendek Al Qur'an aku dengarkan, tapi kenapa tetap susah untuk memejamkan mata.


 


Yang ada dalam pikiranku sekarang, kenapa harus Dokter Afandi, Dokter Ganteng yang selama ini mengisi hatiku.


Aku tidak bisa memungkiri, perasaanku juga semakin dalam. Aku harus jawab apa nanti, apa harus jawab iya, atau tidak..?? . Tapi, aku tidak percaya sih, masa iya Dokter Afandi suka sama aku. Aku terus bermonolog dalam hati.


Entah jam berapa aku tertidur, karena taunya sekarang aku terbangun, ternyata sudah jam lima lewat sepuluh menit, aku langsung mengambil mukenaku dan berlari ke mushola kecil di pojok ruangan lantai ini, aku bersujud berserah diri , berdo'a agar selalu di lancarkan segala urusanku dan di mudahkan untuk pengobatan Kak Ranti.


Selesai shalat aku ke kamar mandi ruangan untuk mencuci muka dan menggosok gigi, 'tak apalah pagi ini tidak mandi' gumamku.


Setengah enam tiba, Dr. Afandi sudah sampai di ruangan, kemeja berwarna navi dan celana bahan berwarna hitam, jas putih kebanggaannya disimpan di lengannya. Penampilannya hari ini benar benar membuatku meleleh..


" Apa kabarnya hari ini Mbak Ranti..? " Tanyanya.


" Alhamdulillah baik " Jawab Kak Ranti.


" Kemarin daftar Ecocardionya bisa tidak " Tanyanya lagi.


" Kemarin gimana Na, bisa tidak..? " Kak Ranti malah bertanya padaku.


" Kemarin berkasnya sudah di simpan di sana.? " Jawabku.


" Ya sudah ditunggu aja, mungkin nanti agak siangan tindakannya. " Ucapnya.


Selesai berbincang, Dr. Afandi pamit. Tapi baru lima menit, pesan masuk ke ponselku.


" [ Di tunggu di Lobi, secepatnya ] " Sebuah pesan seperti penekanan, mungkin agar aku mau bertemu.


" Na, kamu beli sarapan dulu aja, sekalian air sedikit lagi habis.." Kak Ranti menyuruhku.


" Tapi, sebentar lagi sarapan Kak Ranti sampai." Aku berusaha mengelak.


" Tidak apa apa, Kan biasanya juga di dinginin dulu " Ucap Kak Ranti.


Oh iya, ini baru jam enam lewat empatpuluh menit.


" Ya sudah ya Kak, aku beli sarapan dulu." Aku meninggalkan Kak Ranti dengan rasa bersalah, walaupun aku mau beli sarapan tapi aku juga akan bertemu Dr. Afandi.


Aku turun lewat Lift dan benar saja Dr. Afandi sedang menunggu di dekat pintu keluar dari Lobi.


" Dek, kesini yuk.." Ajaknya.


" Dokter.." Aku menatapnya. Tidak mungkin aku masuk ke Kaffe itu, apalagi nanti duduk bareng. Apa kata orang orang di dalam sana, di tambah pengunjung disana dari kalangan Dokter kebanyakan.


" Tidak apa apa, sayang " Ucapnya. Aku merasa lemas seketika ketika dia memanggil sayang, apa tidak salah dengar.


Karena aku hanya mematung, Dr. Afandi menarik lenganku dan menggandengnya. Apa apaan ini..? Spot jantungku terus berdetak tak karuan.


" Silahkan duduk My Princes " Ucapnya sambil menarik kursi. Sepertinya wajahku sudah pucat pasi, bahkan tanganku terasa membeku.


" Kenapa mukanya tegang begitu si, santai saja aku tidak akan gigit " Celetuknya.


" Heyy..!! " Aku refleks sedikit teriak kemudian menutup mulutku.


" Hheee, maaf bercanda " Dr. Afandi terkekeh.

__ADS_1


" Sayang, mau pesan apa..? " Tanyanya lembut. Aku menatapnya. " Ayolah, jangan malu malu " Lanjutnya.


" Air putih aja " Ucapku.


" Mana ada disini air putih, ini Kaffe sayang.." Ucapnya lugas.


" Masa tidak ada air putih..? " Ucapku lagi.


" Aku pesenin aja ya, jangan nolak.." Dr. Afandi pergi memesan, entah apa yang dia pesan.


Tiba tiba segerombolan Dokter masuk ke Kafe ini. " Pagi, Dokter Fandi.." Ucap salah seorang Dokter itu.


" Pagi juga Dokter.." Jawab Dr. Afandi sambil berlalu menghampiriku.


" Di tunggu ya, lagi di bikinin.."


" Dokter, sebenarnya tidak usah repot repot loh.."


" Aku tidak repot kok, justru aku senang berada dekat kamu Dek."


" Adek suka Vanila atau Coklat..? " Tanyanya.


" Mmm, coklat.." Ucapku.


" Berarti sehati nih, aku sudah bisa nebak rasa kesukaanmu.."


" Dokter bisa aja.."


" Jangan panggil aku Dokter dong Kalau lagi bareng kaya gini..!"


" Ya terus, panggil apa..? " Tanyaku, " aku bingung "..


" Sayang, kenapa..? " Tanyanya. Kemudian dia menoleh kearah yang aku lihat.


" Ohh, itu Dokter Vina, dia bagian bedah torax juga , cuma beda ruangan." Jelasnya.


" Dr. Vina, jangan dilihatinlah, nanti malu.." Ucapnya memohon.


" Cie cie Dr. Afandi " Ledek Dr. Vina. Seketika teman temannya menatap kami. Aku yang pemalu menunduk, mukaku sudah kaya kepiting rebus, antara malu dan takut.


" Pindah Dek sini " Ucapnya. Akhirnya aku pindah dan duduk bareng membelakangi Dr. Vina dan kawan kawan.


" Tidak usah takut ya, dia hanya meledek " Ucapnya lembut. " Adek tau tidak..? Cuma aku yang belum menikah di Tim aku. Beberapa Dokter cowok juga sudah pada nikah, apalagi Dokter ceweknya. Jadi aku sering di ledekin." Jelasnya lagi.


" Kamu tidak apa apa kan sayang, aku takut loh ngeliat wajah kamu tadi, maaf ya kamu jadi malu..?! " Ucapnya. Aku tidak bisa berkata apa apa.


" Benar benar minta maaf ya, nanti deh aku bawa ketempat yang lebih aman " Ucapnya merasa bersalah.


" Iya tidak apa apa Dokter.." Jawabku masih merasa malu, aku jadi tidak selera untuk melanjutkan sarapanku. Tapi aku tidak enak juga kalau tidak di habiskan.


" Dek..".


" Hmmm"


" Dek.. " Panggilnya lagi. Aku menoleh dan menatapnya. " Tidak apa apa Dokter, aku baik baik saja " Aku mencoba tersenyum walau sedikit. Sorot matanya terlihat banget merasa bersalah.


" Duluan Dokter.." Ucap Dr. Vina di ikuti kawan kawannya dari belakang. Dr. Afandi hanya mengangguk.

__ADS_1


" Maaf yaa " Dia meraih tangaku. Getaran apalagi ini , rasanya jantungku mau loncat, dia begitu romantis. Dia menatapku lekat, kemudian mengambil tisu dan mengelap ujung b****ku.


" Jangan kapok ya, nanti janji deh tidak disini. Tunggu ya, aku bayar dulu.." Dokter Afandi pergi ke kasir dan aku tetap duduk.


" Aku kerja dulu, baik baik di sana ya, jangan lupa balas pesanku " .Aku mengangguk dan tersenyum. Dr. Afandi meraih tanganku dan menuntunku keluar Kafe.


" Mau langsung ke ruangan, atau mau kemana.? " Tanyanya.


" Iya, aku mau beli dulu air mineral " Jawabku.


" Ya sudah, hati hati ya.."


" Siap, Dokter juga hati hati.." Ucapku tersenyum.


" Sip. " Dr. Afandi mengacungkan jempolnya.


Aku berjalan keluar Lobi sebelahnya aku mau beli air mineral sekalian dua botol biar tidak harus bolak balik. Aku mengambil napas dalam dalam dan membuangnya perlahan untuk menetralkan perasaanku. Rasanya pengen ketawa, tapi takut juga.


Aku sampai ke Ruangan, sudah jam tujuh lewat lima belas menit. Lama juga aku di luar takutnya Kak Ranti bertanya tanya.


" Kak, sudah ada makanan datang..? " Tanyaku.


" Sudah, malahan udah di makan, tadi Bu Tini yang bantuin Kakak, padahal biasanya petugas dari dapurnya ya..? " Jawab Kak Ranti keheranan.


" Kok bisa..? " Aku balik bertanya.


" Iya, dia juga bantuin Kakak makan.." Aku tambah heran. " Kakak tidak tanya, kenapa..?? " Tanyaku lagi. Kak Ranti menggeleng. Ya sudahlah, aku tidak mempermasalahkan lagi.


Hari ini kegiatannya adalah Ecocardio. Tapi dari pagi sampai siang belum ada panggilan, hingga jam dua Dr. Husein datang ke Ruangan.


" Mbak Ranti, sudah di Ecocardio belum. ? " Tanyanya.


" Belum Dokter " Jawab Kak Ranti.


" Tapi dari gedung PJT nya sudah di panggil dari tadi " Kata Dr. Husein. " Tapi, kok ke Ruangan tidak ada yang manggil ya. ? " Tanyaku.


Akhirnya Dr. Husein kembali ke luar, entah kemana. Sekitar jam empat sore Bu Tini datang ke ruangan.


" Mbak, Ranti., waktunya Ecocardio yuukk..! " Ucapnya.


Kak Ranti di dorong memakai bednya dan aku mengikutinya dari belakang. Setelah sampai di PJT, Bu Tini memberikan berkas berkasnya ke petugas di PJT, dan aku menunggunya lumayan lama juga.


Aku duduk melamun, karena menunggu itu bikin bosan. Ting.. Pesan masuk dari Dr. Ganteng.


" [Dek, lagi apa..?] " Tanyanya.


" [Aku lagi di Gedung PJT] " Balasku.


" [ Aku pulang dulu ya sayang ] " Balasnya lagi.


" [ Iya, hati hati di jalan ] "...


" [ Oke, I Love You ] "..


Aku tidak membalas lagi, diapun tidak ada mengirim pesan lagi. " Mbak, sudah " Tiba tiba Bu Tini menghampiriku, dia memberitahu kalau Ecocardionya sudah selesai.


Aku beranjak dari duduku dan mengikuti Kak Ranti dari belakang. Di perjalanan ada pesan masuk tapi aku abaikan dan aku pokus ke jalan.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2