
Terserah...! Aku bangun dari dudukku. Tapi Kak Arkan menarik tanganku dan aku kembali duduk.
" Apa lagi, " Ucapku dengan linangan air mata di pipiku.
******************
" Maaf Dek, kakak salah, Kakak tidak dari dulu mengungkapkan ini, "..
" Terus, apa yang membuat Emak dan Bapak menerimanya? "..
" Bukankah dari dulu Emak juga Marah sama Kakak? Tapi kenapa sekarang malah menerimanya? Apa ada paksaan, "..
" Tidak, aku tidak memaksa mereka, " Jawab Kak Arkan tegas.
" Mereka cuma ingin kamu cepat menikah, " Ucapnya lagi. Apa lagi ini? Apa tidak salah dengar? Huufftt, sepertinya telingaku bena benar panas mendengarnya..
" Maafin aku, aku tidak bisa menerima ini Kak, " Ucapku dengan bibir bergetar, linangan air mataku terus membasahi pipiku. Orang orang di sekitarku mendadak sepi, hanya ada Pak Nana di mejanya dan beberapa orang yang sedang berbincang di bangku yang agak jauh dari tempatku duduk.
" Tidak bisa Dek, kamu harus menerimanya, "..
Jawabanyya membuat aku geram, aku benar benar ingin berteriak, tapi aku masih bisa menahan diri agar tidak memalukan diri sendiri.
" Mohon maaf Kak, aku sudah punya pacar dan aku tidak bisa menerima ini, " Ucapku lagi. Aku mengatupkan kedua tanganku untuk memohon agar Kak Arkan bisa mengerti keadaanku.
" Dek, tidak usah berbohong, kamu hanya marah kan, karena aku bertunangan sama Dania. Aku memang bertunangan, tapi itu keinginan Dania sendiri dan hatiku tetap sama kamu, "..
" Oh iya, katanya Kakak bertunangan sama Dania, kenapa sekarang malah minta bertunangan denganku, "..
" Aku hanya bersamanya selama tiga bulan Dek, ternyata Dania hanya memanfaatkan aku, "..
" Aku tidak paham Kak, " Ucapku. Aku melirik ke arah pintu keluar dari lorong ICU. Terlihat Dr. Dafa berjalan tergesa gesa.
" Dokter.. " Ucapku.
" Sebentar Kak, " Aku meminta maaf kepada Kak Arkan dan aku berdiri menghampiri Dr. Dafa.
" Dokter..! " Aku memanggilnya sekali lagi. Kemudian dia berhenti sejenak.
" Mbak Hana! " Ucapnya. Sepertinya dia kaget sekali melihatku sampai menghampirinya. Ini adalah kesempatanku untuk menanyakan Dr. Afandi.
" Dr. Afan.. di, " Ucapku. Suaraku tercekat dan tidak bisa menahan tangisku. Air mata berdesakan keluar dari pelupuk mataku.
Terlihat raut wajahnya kebingungan, antara harus memberi tahu atau tidak.
" Dokterrr...! "..
__ADS_1
Aku melirik sebentar ke sekitarku. Terlihat Pak Nana dan Kak Arkan melihatku dengan tatapan yang tidak bisa ku artikan.
" Ayook, " Ucapnya. Dr. Dafa menarik lenganku, kemudian membawaku menuruni tangga dengan berjalan sangat cepat. Bukan berjalan lagi tapi seperti berlari. Kalau saja aku tidak di tuntun mungkin aku akan ketinggalan. Ini juga aku sangst kerepotan menyamakan langkahnya.
Aku tidak menghiraukan lagi Kak Arkan yang aku tinggal di ruang tunggu. Keinginanku untuk mengetahui keberadaan Dr. Afandi mengalahkan segalanya. Bahkan Kak Ranti juga aku tinggal. Tapi kalau ada apa apa nanti Pak Nana bisa menghubungi lewat nomor telefhon yang sudah aku simpan.
Sampai akhirnya dr Dafa membawaku ke Cafe tempat di mana aku dan Dr. Afandi pertama kali bersama.
" Silahkan duduk, " Ucapnya.
" Terima kasih Dokter, " Ucapku. Kemudian aku duduk dan Dr. Dafa memesan minuman juga roti hangat.
" Silahkan di minum dulu Mbak Hana, " Ucap Dr. Dafa ketika makanan juga minuman sudah tiba di meja.
Kemudian, aku meminumnya sampai hampir habis. Dr Dafa hanya menontonku saja. Dan dia hanya memesan air mineral saja.
" Dokteerr, di mana Dr. Afandi?, " Tanyaku. Air mataku kembali luruh. Aku terus terisak menunggu jawaban dari Dr. Dafa. Dia sangat lama merenung dengan menatapku iba.
" Dokteer, tolong kasih tahu aku, dimana dia Dokter.." Tangisku pecah, tapi Dr. Dafa masih tidak bergeming.
" Dokteerr, brakkk, " Aku sedikit menggebrak meja sampai dr Dafa kaget.
" Mbak Hana..! "..
" Saya mohon maaf, Mbak Hana..! "..
" Mbak Hana, please..! Pelankan suaranya ya, saya akan bicara baik baik. Tarik nafas dalam dalam, keluarkan perlahan terus berulang kali agar Mbak Hana merasa rileks." Aku pun mengikuti arahannya,. Benar saja setelah beberapa kali tarik nafas aku merasakan sedikit ketenangan.
" Sudah baikan? " Tanyanya. Aku mengangguk.
" jedi begini, Dr. Afandi sekarang ada di rumahnya lagi istirahat ya, dia..
" Dia kenapa dokter, " aku kembali memotong pembicaraannya.
" Dia tidak kenapa, dan jangan khawatir. Karena Fandi berpesan, kalau bertemu Mbak Hana untuk memberi tahu ini, " Dr. Dafa terlihat menarik nafas panjang.
" Kalau dia baik baik saja, dan soal hpnya dia banting karena Mbak Hana tidak kunjung membalas pesannya waktu terakhir kali. Dan untuk saat ini, Dokter yang memeriksanya menyarankan untuk tidak memberinya ponsel terlebih dahulu. Jadi saya mohon, Mbak Hana untuk bisa mengerti, " lanjutnya.
" Tapi bagaimana aku bisa bertemu dengannya Dokter, aku ingin bertemu dengannya, ingin tahu keadaannya Dr. Afandi. Tolong, bilangin maaf aku waktu itu aku kesal karena Meyra, "..
" Meyra?., Meyra itu istri saya Mbak Hana, apa Mbak Hana cemburu? " Tanyanya. Aku mengangguk pelan.
" Iya, Fandi akan sedikit menuruti apa yang Meyra katakan. Tapi, beberapa waktu ini, setelah dia kenal sama Mbak Hana dia kembali seperti hilang kendali, rasa cinta yang kuat dan rasa takut akan kehilangan Mbak Hana membuat emosinya tidak stabil lagi, "
Tapi, ketika Meyra menanyakan kenapa seperti itu lagi, dia tidak mau mendengarkannya lagi. Agar Mbak Hana tahu ya, kalau Meyra itusudah dianggap Kakak olehnya. Jadi jangan Merasa cemburu kepadanya. Saya saja yang menjadi suaminya cemburu banget di awal, karena Meyra sangat perhatian sama Fandi.
__ADS_1
Tapi setelah beberapa bulan kemudian saya sudah bisa terbiasa. Karena Fandi tanpa Meyra dia akan seperti kemarin lagi. Meyra orang terdekatnya selama dia sedang depresi berat, dan Meyra juga yang selalu menjaganya dari sebelum dia bertugas di Rumah Sakit ini.."..
Entah masuk atau tidak semua penjelasan Dr. Dafa ke memory otakku.
" Apa selama ini....
" Iya, selama ini dia sangat dekat dengan Meyra, istriku, " Dr. Dafa memotong pembicaraanku.
" Maksud saya selama ini dia depresi, tapi kenapa bisa bertugas, "..
" Dia sudah di nyatakan sembuh dua tahun yang lalu untuk depresinya hanya saja dia menjadi pendiam. Tapi semua itu its oke, tidak pernah mengganggu kinerjanya selama bertugas di sini. Hanya semenjak kenal sama Mbak Hana dia mulai kembali seperti itu. Sering banget dia marah marah lagi, sehingga dia harus kembali tinggal bersama saya agar Meyra bisa memantaunya dengan baik. "
" Apa karena aku? "..
" Tidak juga, karena dianya aja yang bucin sama kamu. Jadi membuat emosinya tidak terkontrol dengan baik, "..
Hufffttt.. Aku menarik nafas dengan kasar. Aku benar benar tidak paham dengan semua ini.
" Dokter, please aku ingin tahu kondisinya. Minta tolong bisa kan pakai ponselnya dr. Dafa untuk menelfonnya, "..
" Tidak bisa Mbak Hana, sekarang Mbak Hana fokus saja untuk kesembuhan Kakaknya. Dr afandi keadaannya baik baik saja, jd jangan di khawatirkan lagi, "..
" Tapi aku belum bisa tenang dokter, "..
" Sudahlah, sekarang fokus sama Mbak Ranti dulu. Mudah mudahan nanti Fandi bisa sembuh total dan bisa bertemu lagi, "
" Dan sekarang lebih baik pulang, ini sudah mau larut. saya juga harus pulang, Meyra sudah menunggu saya, "..
Drrtt.... Drrttttt.. Ponselku bergetar, tapi aku tidak peduli lagi.
" Saya bayar dulu ya, " Ucapnya. Kemudian, setelah membayar dr Dafa mengajakku untuk pulang.
Aku berjalan lunglai, Dr. Dafa juga tidak membawa aku untuk berjalan kencang lagi, dia berjalan mengikuti langkahku dari belakang.
" Sampai di sini saja dulu ya, Mbak Hana yang tenang fokus dulu untuk kesembuhan Mbak Ranti, "
" Terima kasih Dokter, " Ucapku lemah. Dr. Dafa mengangguk dan berlalu meninggalkanku.
Aku sangat malas untuk menaiki tangga yang berada di hadapanku. Tapi ini sudah malam dan tidak ada satu orang pun yang lewat. Aku terlonjak ketika suara Lift yang terbuka, dan di di dalamnya tidak ada satu orang pun. Tubuhku menegang, wajahku pasti pucat dan aku langsung menaiki tangga.
Aku benar benar panik dan sangat takut. Aku langsung masuk ke kamar mandi ketika sudah sampai di atas. Tidak mungkin juga aku masuk dengan keadaan wajahku yang kotor dan pasti juga mataku bengkak akibat menangis terus dari tadi. Bahkan ini terasa perih.
****************
Terlihat masih banyak orang di ruang tunggu, suasana masih ramai dan banyak pengunjung. " Kok tumben masih ramai, " Ucapku pelan. Kemudian aku mengambil ponselku dari kantong celana. " Haahh, kok baru jam sembilan siihh, katanya sudah malam, tapi kenapa di bawah tadi tidak ada orang sama sekali? Terus..?! Pasti Dr Dafa membohongiku, " Aku bermonolog.
__ADS_1
Bersambung....