TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG

TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG
Daftar Radioterapi


__ADS_3

Sekitar jam tujuh, seorang Dokter datang dan menyapa Kak Ranti..


" Selamat Pagi..! " Sapanya dengan senyum ramah..


" Selamat Pagi Dok, " Ucap Kak Ranti. Aku melirik untuk mengetahui siapa yang datang.


" Perkenalkan saya Dr. Ali, penggantinya Dr. Yanuar, " Ucapnya memperkenalkan diri.


" Baik Dokter, "..


" Bagaimana keadaannya pagi ini? "..


" Dari semalam BAB terus Dok, " Aku menjawab cepat.


" Sering tidak? "..


" Sering Dok, lebih dari lima kali, " Jawabku.


" Oh ya sudah, nanti saya resepkan obatnya ya, "..


" Semangat dong Mbak, " Dokter Ali melirik kearahku.


" Hehe, iya Dok, pengen cepat pulang, " Ucapku berusaha tersenyum walau samar.


" Harus semangat ya Mbak, sebentar lagi juga bisa pulang, yang penting sekarang Mbak Ranti bisa jalan dulu. Nanti setelah itu bisa pulang, " Ucapnya.


Setelah berbincang beberapa menit, Dr. Ali pamit. Dan tidak lama kemudian, Dokter bedah datang.


Setelah menyapa, beliau menyarankan untuk Sinar di Departemen Radioterapi. Akupun mengiyakan, katanya untuk mengetahui apakah masih ada yang tertinggal atau tidak tumornya setelah di Operasi kemarin.


Tidak lama setelah Dokter Bedahnya pamit, sarapan pagi datang. Akhirnya aku menyuapi dulu Kak Ranti.


" Mbak, nanti ke Gedung Radioterapi ya, ini surat pengantarnya, " Ucap Suster Irma.


" Baik Sus, " Jawabku. Aku mengambil surat pengantar itu dan meletakannya di atas lemari.


" Kamu makan saja dulu Dek, " Ucap Kak Ranti.


" Tapi nanti kesiangan tidak? " Tanya ku.


" Udah gak apa apa, yang penting kamu sarapan dulu, " Kak Ranti selalu khawatir kalau aku belum sarapan.


" Ya sudah aku beli dulu, " Ucapku. Aku beranjak dan keluar ruangan. Banyak orang berhilir mudik kesana kemari, Suster dan Dokter juga sama. Aku menghela napas pelan, kuayunkan kakiku menuju Lift berada, terlihat Nursetation masih lengang, hanya ada dua orang Suster yang sedang mencatat di atas mejanya. Kulirikan mataku ke arah kanan dan kiri, tempat ini membawaku ke masa dimana Dr. Afandi ada di sampingku dan mengajakku untuk sarapan.


" Astagfirullah, " Aku tersandung. Ya Allah, ternyata aku berjalan sambil melamun, aku segera mengusap wajahku. Ternyata aku sudah melewati Lift dan akhirnya aku turun lewat tangga.


Aku turun terburu buru agar cepat sampai, karena hari sudah menunjukan pukul delapan. Tujuanku adalah membeli bubur ayam dan membeli air mineral, tapi aku juga harus segera membeli popok takutnya Kak Ranti masih BAB.


Setelah membeli bubur, aku langsung membeli air mineral. Tapi aku mengurungkan niatku untuk membeli popok, karena kalau membeli popok dulu sepertinya waktunya tidak cukup.


Mentari pagi mengiringi perjalananku pulang, keringat mengucur di pelipisku, aku mengusapnya. ' Lumayan, hitung hitung olahraga, ' Batinku.


Aku kembali masuk ke Gedung A, dan mengantri di depan Lift. Lift terbuka, mengutamakan yang keluar dulu. Beberapa dari mereka yang berseragam Dokter yang telah bergantian sift, ada juga OficeBoy yang terlihat tenang berjalan keluar.


Aku memperhatikannya satu persatu dan kedua terakhir adalah Dr. Elvira.


" Dokter..! " Aku memanggilnya lirih, malah sepertinya hanya gumaman.


Dr. Elvira meliriku sekilas, tapi kemudian membuang muka dan berlari dari hadapanku dengan cepat. Aku terus memperhatikannya sampa dia keluar dari pintu sebelah kiri.


" Ayo jalan Mbak, " Dari belakang ada yang menepuk pundakku. Aku terlonjak dan langsung mengikuti masuk ke dalam Lift. Tapi, ketika orang yang tadi menepuk pundakku masuk, Lift berbunyi dan itu tandanya kelebihan.

__ADS_1


" Mbaknya sih, tadi malah bengong, sya lagi terburu buru, " Ucapnya kesal. " Maaf Pak, " Ucapku pelan. Kemudian aku menunduk, merasa bersalah. Dan si Bapak tadi langsung memencet tombol Lift lagi dan kembali keluar. Perasaanku menjadi tidak enak gak karuan, apalagi orang orang yang berada di dalam Lift sepertinya memperhatikanku semuanya.


Lift terbuka di setiap Lantai gedung A, dan tiba saatnya Lift terbuka di Lantai lima. Aku keluar dengan rasa bersalahku, kejadian barusan masih terbayang bayang. Ketika tiba di belokan, aku hampir saja tertabrak sama orang yang lewat. Kalau sekarang, bukan aku yang salah tapi seseorang itu yang sepertinya sedang jalan dengan tidak memperhatikan sekitarnya. Sepertinya dia sedang mencari kamar.


" Astagfirullah, "..


" Eh, maaf, maaf, " Ucapnya.


" Bapakk, " Ucapku. Ternyata, orang itu adalah Bapak bapak yang tadi berada di Lift. Hufftt..


" Oh ya Mbak, maaf ya. Kalau boleh tahu Kamar 518 di sebelah mana ya? " Tanyanya.


" Oh, di depan Pak, kebetulan saya juga disana, " Jawabku.


" Terimakasih Mbak, " Ucapnya. Kemudian aku berjalan lebih dulu di ikuti si Bapak dibelakang dan aku masuk ke Kamar 518.


" Terimakasih Mbak, " Ucapnya lagi.


" Iya, sama sama Pak, "..


...****************...


" Cepetan makan dulu Dek, tadi Suster sudah nanyain lagi, " Baru saja aku duduk, Kak Ranti sudah memberitahukan lagi tugasku.


"Nanyain apa Kak? "..


" Daftar Sinar nya, " Jawabnya. Kalau sudah begini, nafsu makanku sudah hilang. Aku memang paling tidak bisa yang namanya di buru buru.


" Ya sudah, aku ke sana aja dulu, " Ucapku. Aku mengambil gelas pelastik dan mengisinya dengan air mineral, kemudian meneguknya hingga tandas.


" Makan aja dulu Dek, " Ucap Kak Ranti. Kak Ranti juga pasti khawatir, karena hari sudah mulai siang dan aku belum sarapan apa apa.


" Tidak apa apa Kak, nanti saja, " Aku langsung beranjak dan tidak lupa membawa map yang berisikan data data Kak Ranti, aku juga tidak Lupa membawa surat pengantarnya.


" Permisi Pak, kalau Gedung Radioterapi di sebelah mana ya? " Sebelum keluar Gedung A, aku bertanya pada Security yang ada di pintu keluar.


" Mbaknya lurus aja dari sini, belok sedikit, lurus lagi, belok kiri lurus, nanti ada namanya, " Ucapnya.


" Baik Pak, terimakasih, " Ucapku. Aku keluar Gedung A dan mengikuti arah Security tersebut. Setelah belok kiri, aku memperhatikan setiap pintu yang berjejer di sana. Departemen Radiologi, ' Ini bukan ya? ' Gumamku. ' Oh tapi ini tempat waktu Rontgen.


Karena bingung, aku pun masuk dan mencari Security.


" Permisi Pak, kalau mau daftar Sinar di mana ya? " Tanyaku.


" Mbak salah alamat, " Jawab Securitynya ketus.


" Ya Pak kan saya cuma tanya, " Ucapku.


" Ya sudah, Mbak ke samping aja. Cari yang namanya Gedung Radioterapi, " Ucapnya.


' Dih Bapak, lagi PMS ya, ' Aku hanya bisa membatin. Kemudian aku berlalu begitu saja dan aku mencari lagi Gedungnya.


Benar saja, tidak jauh dari situ aku menemukan tempatnya. Aku masuk dan langsung di sambut baik oleh Securitynya.


" Mbak ada keperluan apa? " Tanyanya.


" Maaf Pak, saya mau daftar Sinar," Ucapku.


" Ada suarat pengantarnya? " Tanyanya lagi.


" Ini Pak, " Aku menyerahkan surat pengantarnya dan Securuty iyu menyerahkan nomor antrian.

__ADS_1


" Mbak tunggu di panggil ya, " Ucapnya.


" Baik Pak, Tarimakasih, " Ucapku.


Kemudian aku mencari tempat duduk. Sementara Securitynya memberikan surat pengantar Sinarnya ke petugas resepsionis.


Terlihat banyak sekali pengunjung dengan keadaannya yang bermacam macam. Ada yang sedang menahan mual. Ada juga yang duduk di kursi roda dengan selang kateter di sampingnya. Dan masih banyak lagi pengunjung, mungkin pasiennya yang sedang Sinar itu aku belum pasti paham.


" Ting.. Nong..., nomor antrian 198 menuju loket satu, " Setelah beberapa menit me nunggu, terdengar suara panggilan yang membuatku sedikit kaget. Akupun langsung menuju resepsionis.


" Silahkan duduk, " Ucap resepsionisnya ramah.


" Terimakasih, " Jawabku. Aku pun duduk di kursi yang telah disediakan.


" Ini yang mau Sinarnya siapa Mbak? " Tanyanya.


" Kakak saya, " ..


" Ohh, silahkan di isi dulu formulirnya, " Resepsionisnya memberikan satu lembar formulir yang harus aku isi. Benar saja, data data Kak Ranti sangat di perlukan.


" Mbak, kakaknya pakai Jaminan apa? "..


" Pakai Jaminan Kesehatan dari Pemerintah, jawabku.


Setelah selesai mengisi Formulirnya, aku memberikannya kepada Resepsionis itu.


" Sudah selesai Mbak, " Ucapku.


" Ya sudah, bawa FhotoCopyan KK sama KTP nya tidak Mbak, "..


" Iya bawa, " Akupun menyerahkan beberapa kelengkapan data diri Kak Ranti termasuk Jaminan Kesehatannya, karena itu sangat penting.


Setelah kelengkapan data diri, Resepsionisnya menerangkan sedikit tentang Sinar.


" Jadi begini ya Mbak, saya terangkan dulu apa itu sinar. Sinar atau juga di sebut dengan Radioterapi atau Terapi Radiasi adalah Prosedur medis untuk menangani penyakit kanker.


Aku sedikit terlonjak, ' berarti Kak Ranti itu terkena kanker, ' Batinku.


" Tujuannya adalah, untuk membunuh sel sel kanker, menghentikan pertumbuhan dan penyebaran sel kanker serta mencegah kambuhnya penyakit kanker tersebut, "..


" Berapa banyak waktu sinarnya, tergantung jenis kankernya dan tergantung seberapa besar sel kanker yang masih tersisa setelah Operasi, ..


" Dan ada juga efek sampingnya, seperti, Kelelahan, Kelainan kulit seperti kemerahan, iritasi, bengkak, melepuh, atau hitam seperti terbakar. Ada juga yang setelah beberapa minggu kulit bisa kering, bersisik dqn menipis,


" Ada lagi, yaitu kerontokan rambut, biasanya tergantung letak dimana Sinarny, kalau untuk kerontokan rambut tersebut bisa karena Sinarnya di area kepala,..


" Kehilangan nafsu makan, biasanya kondisi ini dialami pada Sinar di area kepala, leher, dan bagian perut,..


" Masalah pada mulut, seperti sariawan, gangguan pendengarang, juga diare,


" Tapi keluhan tersebut semuanya tergantung kondisi imun si Pasien ya Mbak, " Aku hanya manggut manggut saja karena memang sebenarnya masih belum terlalu paham,..


" Nanti Pasiennya di jadwalkan untuk fhoto ya Mbak, "..


" Baik, " Ucapku.


Setelah selesai aku kembali ke Ruangan, cacing di dalam perutku sudah berdemo dari tadi, mudah mudahan saja petugas resepsionisnya tidak mendengar cacing cacing yang berdemo.


Tapi, ketika melihat bubur yang sudah dingin, nafsu makanku kembali hilang..


**Bersambung..

__ADS_1


Terimakasih yang sudah setia membaca**..!


__ADS_2