TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG

TERJERAT CINTA DOKTER GANTENG
Kembalinya Kak Arkan


__ADS_3

Aku mengambil ponselku, dan melihat jam. Ternyata sudah jam lima lewat lima menit. Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan Kak Ranti masuk.


Kak Ranti shalat terlebih dahulu dan aku ke Kamar mandi.


...****************...


Selesai shalat subuh, aku menumbuk mestinon terlebih dahulu. Dan aku leluar untuk beli sarapan.


Aku mengedarkan pandangan ke kanan dan ke kiri ketika keluar dari pintu gerbang. Ada tukang nasi uduk dan ada juga warteg. Syukurlah, kalau untuk beli makan tidak harus jauh jauh.


Aku kembali lagi ke kontrakan setelah membeli satu porsi nasi uduk, dan terlihat Kak Ranti sedang memblender makanannya.


"Kamu makan aja duluan Dek," Ucap Kak Ranti.


"Emang belum selesai blendernya,"..


"Tinggal untuk bekalnya,"..


"Oh, ya sudah aku makan dulu,"..


Setelah makananku habis, aku segera membantu Kak Ranti makan. Kemudian bersiap untuk pergi ke Rumah Sakit lagi.


Sekitar setengah delapan, kita berangkat dan keluar dengan berjalan kaki menuju jalan besar untuk menunggu bajaj. Karena masih tidak mungkin harus jalan kaki, Kak Ranti masih terlihat kepayahan untuk jalan jauh.


Sesampainya di Rumah Sakit, aku langsung menuju UPPJ. Di sana sudah terlihat antrian yang mengular hampir sampai ke pintu ke luar. 'Sepertinya hari hariku akan di hadapkan antrian yang panjangseperti ini' Gumamku.


Aku bersabar menunggu di paling belakang. Setelah sepuluh menitan, akhirnya sampai bagianku.


"Mau kemana Mbak?" Tanya petugasnya.


"Mau ke URM," Jawabku. Aku memberikan fhotokopyan berupa, Kartu keluarga, Kartu Identitas Kependudukan Kak Ranti, Jaminan kesehatan, dan lain lain.


"Surat Rujukan dari RSUD nya mana Mbak?"..


"Yang ini bukan?" Tanyaku. Karena memang ada Surat Rujukan dari Kampung waktu untuk Rawat Inap.


"Bukan Mbak, coba Mbak minta surat Rujukannya dulu dari RSUD domisili Mbak," .. Akhirnya mengantri lamapun tidak membuahkan hasil.


Aku keluar dan menghampiri Kak Ranti yang sedang duduk di tepian teras UPPJ.


"Bisa gak Dek?"..


"Tidak bisa Kak, harus ada surat rujukan dari RSUD dulu. Padahal ini ada, tapi yang bagaimana lagi suratnya," Jawabku.


"Ya sudah, sekarang udah terlanjur kesini, gimana nanti di sana aja," Jawab Kak Ranti.


Sesampainya di URM, aku mengambil antrian untuk ke poli nya. Ketika di tanya pembayarannya aku mengatakan Umum. Dan aku membayar biaya pendaftarannya sebesar lima puluh ribu.


Setelah membayar, aku di arahkan untuk naik ke Lantai tiga bagian Neuro. Dan, ketika sampai di Lantai tiga Susternya sangat jutek, padahal aku tidak tahu salahku apa?


Menunggu memang sangat menjenuhkan, akhirnya aku membuka ponselku yang dari semalam aku matikan.


Benar saja, ketika di buka pesan berantai dan panggilan tak terjawab memenuhi pemberitahuan di ponselku.


Sembilan panggilan tak terjawab, semuanya dari Kak Arkan. Di mulai tiga pesan ketika malam dan pagi hari juga. Begitu juga pesan masuk, kebanyakan dari Kak Arkan.


"[Apa kabarnya, Dek?]"..


"[Dek, aku mau berbicara]"..


"[Dek, kenapa ponselnya mati]"..


Dan masih banyak lagi, aku langsung menutupnya dan mengembalikan ponselku ke tas selempangku.


Adzan dzuhur terdengar berkumandang walaupun samar samar.


"Sudah jam dua belas, kok belum di panggil Kak,?" Ucapku.


"Iya gak tahu juga," Jawabnya. Akhirnya aku membantu Kak Ranti untuk minum obat dulu, kemudian membantunya untuk makan.


Ponselku terus berdering dari tadi, tapi aku tidak menghiraukannya.


"Dek ponselnya bunyi terus,"..


"Biarin aja Kak, selesain dulu makannya," Jawabku.


"Kalau dari Arkan, angkat aja dulu kasihan, kamu enggak boleh seperti itu Dek,"..


"Iya gimana nanti Kak,"..


"Kamu ini,"..


"Hehee..

__ADS_1


Selesai membantu Kak Ranti makan, aku mengecek ponselku. Benar saja, enam panggilan tak terjawab dan satu pesan masuk.


"[ Dek, tolong di angkat dong]"..


Aku kembali mengabaikannya, tapi baru saja ponselku mau aku masukin ke tas, panggilan kembali masuk.


Hufftt, dari pada berisik, akhirnya aku angkat juga.


"Hallo, Assalamu'alaikum," Ucapku sedikit ngegas.


"Wa'alaikumsalam," Jawabnya lembut.


"Iya, ada perlu apa ya, soalnya aku lagi di Rumah Sakit,"


"Apa kabarnya Dek?" Jawabnya.


"Oh Alhamdulillah baik, ada perlu apa? Aku tidak bisa lama lama, takut Kak Ranti keburu di pangil," Ucapku lagi. Kak Ranti menyikut lenganku, mungkin karena jawaban aku yang ketus.


" Memang masih di Rumah Sakit? Kata Bang Bagas kalian sudah pulang,"..


"Iya, ini masih harus kontrol dan terapi juga,"..


"Aku main ya kesitu, ada yang harus aku bicarakan,"


"Gak tau, soalnya pulang dari Rumah Sakitnya juga gak tentu,".


"Ya sudah nanti kalau sudah pulang, kasih tau aku,"..


"InsyaAllah," Jawabku.


"Sudah dulu ya, aku takut di panggil, Assalamu'alaikum"..


"Sebentarlah, aku masih kangen,"


Tapi aku tidak menghiraukannya. Aku langsung mematikan ponselku.


Setelah menunggu lama dan membuatku ngantuk, akhirnya di panggil juga nama Kak Ranti. Dan Dokternya menyarankan untuk ke Pulmo Paru besok. Jam empat sore, aku baru keluar Rumah Sakit. Kak Ranti terlihat sangat lelah.


"Cape banget ya Kak?" Tanyaku. Karena, dari wajah dan badannya juga terlihat sangat lelah.


"Duduk aja dulu yuk," Ajakku


"Tidak usahlah Dek, biar cepat sampai rumah. Nanti di bawa tiduran juga sepertinya pulih lagi," Jawabku.


Di perjalanan, aku berhenti dulu di Warung Nasi, aku membeli nasi bungkus juga air mineralnya.


Sesampainya di Kontrakan, terlihat Vanes sedang bermain bersama Kakaknya. Seperti hilang lelahku melihatnya. Entahlah dia memang menggemaskan membuat aku jadi betah aja.


"Haii.. Lagi apa nih?" Tanyaku.


"Lagi main Mbak, Mbaknya habis dari mana?"..


"Habis dari Rumah Sakit," Jawabku.


"Sudah pulang Mbak?" Tiba tiba Bu Yati keluar dari Kamarnya.


"Sudah Bu," Jawabku. Sedangkan Kak Ranti sudah masuk terlebih dahulu.


"Mau main Gak, Mbak mau masuk dulu," Ajakku.


"Jangan Ndok, Mbaknya cape baru pulang, nanti aja mainnya,"..


"Ya sudah Mbak masuk dulu ya,"..


Akupun masuk menyusul Kak Ranti, Kak Ranti sudah tiduran dan terlihat sangat lelah. Aku juga ikut merebahkan tubuhku, rasanya memang pegal sekali, menunggu dari pagi, sore baru pulang.


"Kamu gak makan dulu Dek?"..


"Nanti saja Kak, kalau habis mandi. Mau istirahat sebentar," Ucapku. Padahal sudah hampir jam lima sore.


"Ya sudah, Kakak mau mandi dulu," Ucapnya. Aku hanya menganggukan kepalaku. Untuk mengurangi rasa jenuh, aku memutar musik dari ponselku.


Rupanya, Kak Arkan belum menyerah, walaupun aku matikan ponsel dia tetap mengirim pesan dan juga memanggil terus terusan.


"[Dek, maafkan Abang, tadi Arkan maksa minta alamat rumah di situ]" Tiba tiba ada pesan masuk dari Bang Bagas.


"[Aku marah sama Abang]" Aku membalas pesannya.


"[Ya mau bagaimana lagi Dek, lagian juga apa salahnya dia calon suami kamu]"..


"[Tau lah Bang]"..


"[Kamu tidak boleh bersikap acuh begitu Dek, kamu harus bisa menerimanya. Ingat sebentar lagi dia jadi suami kamu]"

__ADS_1


"[Ya sudah, Abang yang jagain Kak Ranti di sini]"..


Mereka tidak tahu aku seperti apa, benar benar rasanya ingin pergi. Kenapa tidak ada yang mau ngertiin perasaanku. Mereka tahunya aku baik baik saja.


"Dek, mandi dulu mumpung kamar Mandinya kosong,"Tiba tiba saja Kak Ranti memanggilku. Aku yang membelakangi pintu jadi tidak tahu waktu Kak Ranti masuk. Aku cepat cepat menghapus air mataku.


"Iya Kak," Aku bangun dan mencari baju untuk ganti.


Aku mengguyur seluruh tubuhku, rasanya segar sekali. Tapi mengingat perkataan Bang Bagas tangisku kwmbali pecah.


Selesai mandi, aku langsung makan. Walau selera makanku sudah hilang. Sebenarnya ketika siang tadi perutku sudah terasa perih, tapi aku tidak makan karena kalau beli dulu makan takut keburu di panggil. Di tambah perkataan Bang Bagas tadi menambah mood ku hancur.


Selesai makan, waktunya membantu Kak Ranti makan seperti biasa. Waktu mau mencuci blender, ponselku tiba tiba berdering. Tapi tidak aku hiraukan, aku malah berlalu keluar untuk mencuci blender.


"Dek, itu tadi Arkan nelfon," Ucap Kak Ranti ketika aku membuka pintu.


"Biarin aja Kak," Jawabku. Kemudian aku menaruh belender di tempatnya.


"Tapi karena gak di jawab dia nelfon ke nomor Kakak,"..


"Teruss," Aku melongo mendengarnya.


"Dia sudah ada di sini, tapi di atas nungguin kamu, karena tadi Kakak bilang lagi cuci piring,"..


Aku pura pura sibuk menata blender, seterusnya melipat baju yang tadi aku angkat. Tapi, tiba tiba ada yang ngetuk pintu. Degg.. Jantungku seperti berhenti berdetak..


Aku mengubah posisi dudukku menjadi membelakangi pintu..


Tokk.. Tok.. Tok..


"Assalamu'alaikum," Benar saja itu suara Kak Arkan. Jantungku semakin berdetak kencang, entah apa yang aku rasakan sekarang.


"Wa'alaikum salam," Jawab Kak Ranti. Aku tetap membelakanginya.


"Dek..!" Kak Ranti seperti memberi kode agar aku yang buka pontunya. Tapi aku tetap tidal bergerak, dan akhitnya Kak Ranti yang membukanya.


"Maaf mengganggu waktunya Kak," Ucapnya.


"Iya tidak apa apa, orang lagi santai kok," Jawab Kak Ranti.


"Ya sudah masuk aja,"..


"Iya Kak, boleh.." Dia sepertinya memberi kode kepada Kak Ranti untuk memngajak aku berbicara.


"Dekk..!" Panggil Kak Ranti. Tapi aku tetap tidak bergeming. Hanya tanganku yang terus melipat baju sampai akhirnya selesai melipat bajunya.


"Dek, udah dulu ngelipetnya, nanti lagi,"..


"Iya, ini juga udah," Jawabku. Kemudian aku menaruh baju yang sudah di lipat itu ke dalam tas.


Aku membalikan badanku, ternyata Kak Arkan tidak ada.


"Susul dulu Dek," Ucap Kak Ranti.


"Males Kak," Jawabku acuh.


"Udah, jangan begitu," Kak Ranti sedikit menyolot. Mungkin dia juga sudah jengah dengan kelakuanku.


Dengan terpaksa aku keluar, dan ternyata Kak Arkan masih ada di dekat kamarku. Hanya saja tadi memang pintunya cuma terbuka setengah.


Dia tersenyum kwtika melihatku keluar, aku cepat cepat menundukan kepalaku. Karena siapa yang tidak akan terpesona dwngan ketampanan Kak Arkan. Jujur saja, masih ada sedikit rasa yang tertinggal untuknya, tapi semua itu sudah tertutup dengan rasa kecewa dan aku hanya tidak ingin berharap terlalu besar lagi.


Aku berjalan dengan pelan, kemudian Kak Arkan menarik tanganku, tapi aku langsung menepisnya.


"Maaf," Ucapku.


"Kamu apa kabarnya Dek?"..


"Alhamdulillah seperti ini,"Jawabku asal. Aku terus menundukan kepala sampai akhirnya sampai di atas.


Di atas ini terdapat kursi dan meja seperti layaknya Kafe, hanya saja sepetinya sudah tidak di pungsikan.


Dia menarik satu kursi dan menyuruh aku duduk.


"Terimakasih," Ucapku.


"Sebentar ya," Dia keluar dari ruangan ini. Aku menganggukan kepalaku. Ku edarkan pandangan ke sekeliling ruangan, ada beberapa orang mungkin lebih tepatnya keluarga yang sedang duduk santai sambil berbincang.


Tidak lama kemudian, kak Arkan kembali lagi dengan sebuah paper bag di tangannya.


"Dek, aku kesini sebenarnya di suruh Mama untuk meminta maaf," Ucapnya ketika dia sudah duduk di depanku.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2