
Tidak berharap balasannya, aku langsung memejamkan mata mencoba untuk tidur. Tapi, baru saja terpejam, dering ponselku menggema. Aku langsung menolaknya karena takut mengganggu Kak Ranti.
"[Jangan telfon, Kak Ranti sudah tidur]," Aku mengirimkan pesan lagi.
...****************...
"[ Siapa yang di hipnotis, Dek?]" Pesan dari Kak Arkan.
"[ Tidak ada ]" Aku baru ingat kalau Kak Ranti tadi bilang jangan beritahu orang lain.
"[ Beneran? Kamu baik baik saja Kan? ]"
"[ Iya ]"...
Tidak tahu Kak Arkan membalas apa lagi, aku langsung pergi tidur.
Pagi harinya, kepalaku terasa puaing, mungkin karena aku selalu terbangun ketika yidur. Aktifitas seperti biasa di pagi hari, sebelum berangkat ke Rumah Sakit. Pagi tadi juga aku mencuci baju terlebih dahulu.
****
Tanggal 23 Oktober 2012, harusnya Kak Ranti kontrol ke Radioterapi, tapi aku memutuskan untuk menundanya dulu, karena takut biayanya mahal.
Sambil menunggu Surat rujukan dari RSUD di Kampung, akhirnya kita istirahat dulu sekitar satu minggu, karena lagi tidak ada kontrol ke Poli apapun.
Mengisi hari senggangku, aku mengajak Kak Ranti ke Pasar untuk membeli beras sama sayuran untuk stok. Kebetulan kita bisa menyimpannya di Kulkas untuk stok beberapa hari.
Seriap hari memasak sayur untuk Kak Ranti, belasan macam sayuran kita rebus di satu wadah dan kita pakai untuk tiga kali makan.
Badan Kak Ranti terlihat sedikit berisi dan juga segar. Daripada sebelum konsultasi ke Dokter Gizi. Karena menu diet Kak Ranti yang pertama ternyata kurang untuk asupan gizinya, jadi Kak Ranti selalu merasa lemas dan tidak bertenaga.
Setelah konsultasi, porsi makannya di tambah dan harus lengkap, sayuran, protein hewani, protein nabati juga karbohidratnya jangan lupa.
Hampir semua sayuran aku beli, sampai aku hitung ada tiga belas sayuran yang aku masak kecuali brokoli, karena Kak Ranti merasa trauma dengan brokoli itu, takut produksi dahaknya berlebih lagi seperti waktu masih di rawat inap.
Aku sendiri sering masak, untuk menghemat pengeluaran. Karena, uang Kak Ranti semakin menipis walau hanya di pakai untuk membeli bahan makanan.
Selama satu minggu itu, aku merasa menantikan kabar dari Kak Arkan, entah kenapa perasaan berharap itu kembali muncul ketika aku sedang tidak ada kegiatan. Padahal aku sendiri yang melarangnya untuk jangan terlaku sering berkomunikasi.
Seperti hari ini, lagi santai santai, aku dan Kak Ranti hanya memainkan ponsel. Biasanya ada Vanes yang main, tapi Karena hari ini jadwal kontrol Bapaknya, aku jadi kesepian.
Triingg..
suara pesan masuk di ponselku. Aku mengkerutkan keningku karena nomor baru.
"[ Han, lu gimana sih, punya calon suami di abaikan. Hati hati loh, nanti dia balik lagi sama gua ]" Entah pesan dari siapa, akupun tidak menghiraukannya. Tapi hatiku merasa sedikit khawatir dengan Kak Arkan yang tidak ada kabar.
"[ Lu tahu gak, sekarang calon suami lu lagi liburan bareng kami ]" Entah pesan dari siapa ini, apa dari Dania? Tapi kok bahasanya seperti itu.
Sudahlah, mening aku abaikan saja. Kemudian ada pesan lagi dari Kak fitri. Dia memberitahu kalau surat rujukan dari RSUD sudah jadi. Dan akan diantarkan sama Bang Ilham. Kebetulan Bang Ilham yang mengambilnya ke Kampung.
__ADS_1
Pada hari minggunya, Bang Ilham datang di sore hari. Dia membawa surat rujukan itu dan juga beberapa cemilan yang sepertinya di bawa dari warungnya.
"Dek, bagaimana dengan Arkan?" Tiba tiba Bang Ilham bertanya seperti itu. Aku melongo mendengar pertanyaannya.
"Gak gimana gimana Bang," Jawabku setelah bebrapa menit tersadar dari keterkejutanku. Karena tidak biasanya Bang Ilham bertanya tentang hubunganku dengan Kak Arkan.
"Kata Kak fitri, di Kampung sudah tersebar berita tidak menyenangkan, kalau kamu kembali menolak pemberian dari Arkan,"
"Maksudnya gimana sih Bang, aku gak paham?"..
"Kamu bagaimana dengan Arkan? Katanya setelah kemarin Arkan kesini, dia di tolak sama kamu, dia bilangnya kalau kamu 'sok jual mahal',"..
Astagfirullah, aku tercengang mendengarnya, kenapa jadi seperti itu. Apa Kak Arkan kembali bilang sama Mamanya. Dan dari siapa kalau bukan dari Kak Arkan omongan itu.
"Kata siapa mereka Bang? Aku bukan menolak, tapi aku tidak mau pakai, kan takutnya di jambret, tahu di sini tuh rawan, kata Dr. Feni juga harus hati hati,"..
"Emang dia ngasih apa?"..
"Dia ngasih satu set perhiasan, dan di suruh memakainya, dia bilang itu sebagai permintaan maaf dari Mamanya," Bang Ilham sedikit terkejut.
"Terus gak kamu terima,"..
"Ada tuh, cuma gak aku pakai," Aku menunjuk paper bag yang kemarin Kak Arkan beri.
"Dek, apa gak sebaiknya kamu terima aja, langsung nikah sekarang sekarang ini,"
"Ya memang sih, tapi kaaihan sekarang Emak sama Bapak jadi menanggung malu. Karena katanya, lamaran sudah di terima tapi anaknya nolak terus. pokoknya banyak banget omongan yang bikin gak enak di hati,"..
"Lagian Bapak sih main terima aja," Ucapku lirih.
"Ya namanya orang tua Dek, dia juga bingung ada orang datang kerumah bawa hantaran. Mau di tolak, tapi Mamanya si Arkan bilang kalau kamu sudah mengiyakan,"..
"Loh, aku justru nolak, aku balikin lagi juga cincin yang dia kasih paksa,"..
"Terus bagaimana? Kasihan Emak sama Bapak Dek," Ucap Bang Ilham.
"Entahlah Bang, aku benar benar belum siap, lagian Kak Ranti juga masih lama loh di sini,"
"Lagian siapa yang menyebarkan semua itu? Yang tau hanya Kak Arkan sama Mamanya saja Bang," Lanjutku.
"Gak tau juga, masa si Arkan bilang ke siapa? Kalau Mamanya kan katanya lagi sakit,"
"Coba kita telfon ke Kak fitri," Lanjut Bang Ilham. Kemudian Bang Ilham memanggil Ka Fitri. Setelah terhubung, kita berbicara serius untuk mencari jalan keluar.
"Harusnya sih, si Arkan juga ikut ngobrol agar kita tahu permasalahannya dimana," Ucap Kak Fitri.
"Ya sudah kamu telfon si Arkan Dek," Ucap Bang Ilham.
Aku memanggil nomor Kak Arkan, biar bagaimanapun permasalahan ini harus segera di selesaikan agar tidak berlarut larut.
__ADS_1
"Hallo, Assalamu'alaikum," Jawaban dari seberang.
"Iya Wa'alaikum salam," Jawabku. Kemudian aku memberikan ponselnya ke bang Ilham.
"Hallo Kan, maaf nih mengganggu," Ucap Bang Ilham.
"Oh i..iya Bang," Hawab Kak Arkan teebata.
"Ini, kita ingin menyelesaikan permasalahan yang sekarang sedang heboh di Kampung,"
"Permasalahan apa ya?" Tanyanya.
"Masa tidak tahu, di Kampung itu semua sudah heboh. Saya mohon kalau kamu mau bersama Hana, tolong sabar dulu. Hana masih harus menemani Kakaknya berobat, tapi kalau kamu tidak mau sabar, ya sudah sayapun tidak bakal memberikan izin dari pada jadinya seperti sekarang ini,"
"Aku tidak tau apa apa Bang, beneran,"..
"Kata Hana yang tau kemarin kamu kesini cuma kamu sama Mama kamu,"..
"Ya sudah aku tanyakan dulu sama Mama nanti Bang," Ucapnya.
Panggilan berakhir, ku lihat Bang Ilham masih merasa kesal. Benar juga, siapa yang tidak kesal dengan omongan yang seolah olah aku mempermainkan Kak Arkan padahal kenyataannya tidak seperti itu.
"Ya sudah sekarang fokus aja dulu untuk kesembuhan Ranti, kamu tidak usah pikirkan yang lain lain dulu. Kalau untuk si Arkan, gimana jadinya nanti aja. Mau kita balikin hantarannya, balikin aja kepalang sudah ada berita seperti itu. Tidak usah merasa malu, kita memang orang tidak punya, tapi bukan berarti kita juga diam ketika di injak injak," Ucap Bang Ilham berapi api. Terlihat sekali kilatan amarahnya, padahal selama ini aku belum melihat dia semarah ini.
Kadang orang selalu memandang rendah ketika kita itu kekurangan harta, padahal harta itu bukan segalanya.
Sekarang aku akan tetap fokus kepada pengobatan Kak Ranti, untuk Kak Arkan jika memang jodoh tidak akan kemana.
Sekitar jam sembilan malam, Bang Ilham izin pulang. Takut keburu malam karena besok pagi harus belanja untuk keperluan warungnya.
Kak Ranti sudah tidur duluan beberapa menit setelah Bang Ilham keluar. Aku terus merasa gelisah, sudah mencoba memejamkan mata, guling kanan gulung kiri, semuanya serba salah. Akhirnya aku memutar sholawatan dari ponselku dan akupun terlelap entah jam berapa.
Pagi harinya, kepalaku membali merasa pusing. Tapi aku tetap menyiapkan semua keperluan Kak Ranti, sudah masak juga sarapan. Terakhir aku mencuci baju sekalian mandi. Setelah selesai mandi, aku menjemur di samping kamar mandi yang tidak terlihat oleh siapapun karena letaknya di pojok. Tapi baru saja mau keluar dr tempat menjemur, tiba tiba aku mendengar Kak Ranti berbicara dengan nada kesal, aku mengintip dan Hahh.. Kok ada Kak Arkan, dia sedang berbincang di depan pintu dengan Kak Ranti.
"Aku mohon Kak, beri aku kesempatan. Aku akan perbaiki,"..
"Kita memang orang gak punya Kan, tapi tidak seharusnya seperti ini. Aku paham Hana dari kemarin selalu nolak kamu, mungkin karena itu," Ucap Kak Ranti dengan nada kesal.
"Iya aku udah bilang sama Mama, dan Mama bilang dia hanya menceritakan sama Dania,"..
"Tolong ya Kak, kalau Hana sudah selesai tolong suruh temui aku di atas. Aku mau jelasin semuanya," Lanjutnya.
"Penjelasan apalagi? Kamu mau mohon mohon lagi?! Tolong jangan bikin dia tambah pusing, di sini dia juga sudah capek tiap hati harus bolak balik Rumah Sakit. Kalau dia sakit siapa yang mengantar saya,"..
"Plis kak, tolong bilangin ya, aku akan nunggu di atas," Sepertinya Kak Arkan mengabaikan perkataan Kak Ranti. Setelah pamit, dia terlihat menjauh dari pintu dan celingukan ke pintu kamar mandi kemidian dia pergi ke atas.
Aku segera keluar dari npersembunyianku, kemudian terburu buru masuk ke kamar.
Bersambung...
__ADS_1